Arsitektur Rumah Tradisional Bali

Menciptakan keselarasan dan keharmonisan serta integrasi yang menyeluruh antara mikrokosmos (buana alit) dan makrokosmos (buana agung) berlandaskan pada tata kehidupan sosial yang religius, merupakan pandangan hidup masyarakat Hindu di Bali. Pandangan ini di wujudkan juga dalam budaya masyarakat Hindu khususnya di Bali terutama dalam penataan bangunan tempat tinggalnya. Perwujudan bangunan perumahan di Bali sangat kompleks dan bervariasi seiring dengan perkembangan peradaban dan teknologi. Bangunan perumahan di Bali dirancang tidak hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan yang praktis, tetapi juga untuk mengekspresikan emosi atau ide-ide simbolik dan keagamaan sekuler.

Permukiman tempat tinggal masyarakat di Bali yang tradisional, menggunakan konsep Tri Mandala (nista, madya dan utama mandala) dan Tri Hita Karana. Semua ini bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi.  Penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang aktivitasnya dilakukan di utama mandala, hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan di madya mandala dan manusia dengan alam lingkungannya di lakukan di nista mandala.

 

Masyarakat tradisional di Bali berusaha untuk hidup berdampingan, selaras serta menghindari sifat pemaksaan atau pemerkosaan terhadap lingkungan, sehingga setiap unsur yang akan dirubah fungsinya selalu didahului dengan melakukan suatu penghormatan, dengan menyelenggarakan suatu uapacara tertentu sesuai dengan ajaran susila yang termuat di dalam ajaran agama Hindu. Pelaksanaan dari upacara-upacara penghormatan selalu di-lengkapi dengan sarana-sarana yang berupa upakara-upakara berbentuk sesajen sebagai pernyataan rasa bhakti terhadap sesama mahluk ciptaan.

Pada arsitektur tradisional Bali hal ini terlihat jelas dalam proses pembangunan yang selalu disertai dengan serentetan upacara, mulai dari proses, pencarian bahan (menebang kekayuan), penentuan lahan untuk bangunan (pekarangan) dengan upacara “nyukat karang” dan “mecaru” sebagai pernyataan permohonan untuk merubah fungsi site (lahan), upacara pembuatan standar ukuran (gegulak), upacara “ngeruak” sebagai pernyataan permohonan untuk mendirikan bangunan, upacara “memakuh” sebagai upacara perletakan batu pertama “nyejer daksina” sebagai permohonan keselamatan dan pengawasan kepada Begawan Wismakarma sebagai dewa para Arsitek tradisional Bali (undagi) agar selama proses pembangunan tidak ada gangguan dan kesalahan, upacara “pemelaspas” dan pengurip-urip sebagai pernyataan bersyukur atas terwujudnya bentuk baru, serta pengakuan dalam wujud tersebut memiliki kekuatan magis dan jiwa sebagaimana halnya manusia dan mahluk-mahluk lainnya.

 

Arsitektur rumah  tradisional bali

Arsitektur rumah  tradisional bali yang di latar belakangi oleh norma-norma agama, kepercayaan dan adat kebiasaan setempat, dalam pedoman pelaksanaannya terkandung berbagai aturan, ketentuan, ketetapan dan berbagai penataan lainnya yang merupakan faktor-faktor pelindung dalam perkembangannya. Perwujudan bangunan memakai sekala ukuran sesuai dengan Hasta Kosala-Kosali.

Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas.

Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Dimensi bangunan menggunakan ukuran anggota tubuh dari pemilik bangunan tersebut seperti: tangan, lengan dan kaki dengan maksud agar si pemilik dengan bangunannya secara psikologis menjadi satu dan akrab, kesesuaian rasa ruang, menghindari ketakutan pada skala ruang yang kebesaran. Dari unsur tangan skala ukuran berbentuk: a lengkal, a cengkal, a telek, a useran, a lek, a kacing, a musti, a sirang, a gemal, a guli tujuh, a nyari, a rai, a duang nyari, a tampak lima, petang nyari, a tebah, tampak lima. Dari unsur lengan ukuran berbentuk; tengah depa agung, tengah depa alit, a hasta. Dari unsur kaki ukuran berbentuk; a tampak, a tampak gandang.

 

Gegulak dan Jenis-Jenis Ukuran Bangunan Rumah Bali

Secara umum ada tiga istilah dalam ukuran bangunan rumah tradisional Bali, yaitu sikut karang, sikut natah dan dasar-dasar sikut gegulak. Sikut karang merupakan ukuran dari pekarangan rumah tradisional Bali yang perwujudannya lahir dari rentangan tangan si pemilik.

Dengan satuan pengurip (merupakan ukuran tambahan yang memberikan makna tertentu bagi pemiliknya). Sikut natah merupakan ukuran atau jarak antara bangunan satu dengan yang lain dalam satu pekarangan, dengan satuan utamanya a-tapak batis (panjang telapak kaki pemilik) dan satuan pengurip-nya a-ngandang (lebar telapak kaki).

Dan perhitungannya mengikuti aturan Astawara dari Wewaran seperti: sri-indra-guru-yama-rudra-brahma-kala-uma. Dan dasar sikut gegulak adalah metrik ukuran yang digunakan oleh tukang untuk membuat bangunan tradisional Bali. Pemakaian kata metrik dalam pengertian tersebut jelas kurang tepat, karena kata metrik sendiri telah mengandung suatu makna ’ukuran’.

Gegulak adalah pendimensian wujud bangunan yang di terjemahkan dari bagian-bagian fisik manusia kedalam bilah bambu yang manunjukkan rai (basic dimension). Untuk gegulak di gunakan satuan rai dari turunan ras-ras jari telunjuk. Ukuran rai ini merupakan kelipatan dari a- guli (ruas dari ujung jari telunjuk). Dengan demikian a- guli merupakan satuan dasar dari ukuran rai.

sikut rimah bali

 

Tabel 1. Hasil pengukuran antropometri orang Bali terhadap sikut (ukuran) karang didapatkan ukuran-ukuran sebagai berikut:

VariabelRerataStandar DeviasiRentangan
A depa agung (cm)214,68,75189 – 201
A depa madia (cm)208,298,82186 – 224
A depa alit/kebat (cm)172,547,87155 – 188
A depa alit/gemel (cm)156,156,73142 – 169
Depa tangkis83,494,5272 – 93
A penyengking77,035,4465 – 88,6
Hasta46,052,1543 – 51,4
Musti14,801,2612 – 17,5

 

Tabel 2. Data antropometri sikut natah dapat diuraikan sebagai berikut:

VariabelRerataStandar DeviasiRentangan
A tapak kaki25, 681,2624 – 28,8
Tapak Ngandang10,380,698,2 – 11,8
Sedemek10,130,947,8 – 12,6
Cengkeng sekilan17,801,2514,3 – 22
Lengkat20,241,1915,6 – 23

 

Tabel 3. Antropometri Satuan Dasar Sikut Gegulak.

VariabelRerataSdRentangan
Guli tujuh2,700,192,2 – 3
Guli madu1,910,341,3 – 2,8
Iyek0,490,100,3 – 0,75
A telek7,240,516 – 8,2
Nyari tujuh1,710,151,3 – 2
Useran tujuh1,480,161 – 1,8
Guli linjong2,710,202,3 – 3,2
Nyari kacing1,500,141,2 – 1,8
Tri adnyana7,230,516 – 8,2
Pitung gana8,300,646,9 – 9,5
Catur adnyana9,300,667,3 – 10,6
Siwa pramana10,200,757,6 – 11,6
Brahma sandi11,070,828,25 – 12,6
A sangga12,010,829 – 14

 

Teknik Konstruksi dan Material

Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan tri angga, yaitu sebuah konsep hierarki dari mulai nista, madya, dan utama.

Nista menggambarkan suatu hierarki paling bawah suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan di atasnya, atau dalam tiang kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung.

Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata. Atau plesteran akhir nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu.

Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela, dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia.

Utama adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.

Sistem konstruksi yang lain adalah sistem kelipatan dari tiang penyangga atau kolom terutama bangunan rumah tinggal atau bangunan umum.

Bale sakepat adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah empat buah, dengan konstruksi tiang kolom yang disatukan dalam satu puncak atap. Jadi tidak terdapat kuda-kuda.

Bale sakenam adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah enam buah dalam deretan 2 x 3 kolom.

Bale tiang sanga adalah sebuah bale (balai: red.) dengan tiang penyangga berjumlah sembilan dan biasanya dalam formasi 3 x 3.

Bale sakarolas atau bale gede adalah bale dengan tiang penyangga berjumlah dua belas dan biasanya dengan formasi 3 x 4. Sedangkan wantilan yang jumlah kolomnya berjajar dalam formasi 2 x 8 atau 2 x 12 sehingga bangunan memanjang mengikuti deretan kolomnya.

 

Pola Ruang Rumah Tinggal

Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakam satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu Gunung Agung.

Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dengan tempat pemujaan keluarga. Untuk memahami hierarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini, haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur, dan barat.

Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke Gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali disebut pamerajan. Untuk mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali.

  1. Angkul-angkul, yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya terletak di kauh kelod.
  2. Aling-aling, adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus ke dalam melainkan menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam. Aling-aling terletak di kauh kelod.
  3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
  4. Pamerajan, adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga memunyai pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola ruang.
  5. Umah meten, yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
  6. Bale tiang, sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
  7. Bale sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat biasanya terletak di kelod.
  8. Bale bangin, biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda-benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale dangin terletak di lokasi kangin.
  9. Paon, yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada kangin kelod.
  10. Lumbung, sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi, dan hasil kebun lainnya.

 

27
Jun
2017
27
Jun
2017