Calonarang Dalam Upacara Pratistha Sudamala Bhumi

Calonarang adalah nama salah satu karya sastra di Bali, yang bersumber dari pemerintahan jaman Airlangga di Jawa Timur. Di Bali ada yang berbentuk prosa demikian juga berbentuk geguritan yang meceritakan Tating Mas dan Tating Rat. Tating Mas bertapa di Pura Kuburan atau Pura Kayangan mendapat penugrahan kesaktian dari Bhatari Durgha yang kemudian setelah kawin dengan raja Dirah sampai akhirnya menjadi beliau disebut Walunatang Dirah sedangkan Tating Rat bertapa di Pura Dalem mendapat penugrahan Dharma Kapamangkuan (ilmu kependetaan) dari Bhatara Siwa yang setelah diangkat menjadi pendeta kerajaan beliau bernama Empu Bharadah.

Aksara yang dipelajari oleh Tating Mas adalah Ongkara Sungsang, Tating Rat adalah Ongkara Ngadeg.

Selain Calonarang sebagai salah satu hasil karya sastra, calonarang juga berarti penokohan atau nama orang dalam lakon yang dikenal sebagai Ni Calonarang/Walu nateng dirah.
Calonarang dikenal juga sebagai bentuk garapan seni seperti: wayang pacalonarangan dan dalam pementasan drama tari yang disebut dengan Drama tari Pacalonarangan.

Cerita yang diangkat dalam pacalonarangan tidak lagi berkaitan dengan kisah calonarang pada umumnya, akan tetapi mengambil cerita lain seperti potongan babad: Basur, Ki balian Batur, dll yang didalamnya mengandung unsur mistik. Di dalam pementasannya ada unsur “pertaruangan”/pecentokan Ilmu Hitam dan Ilmu Putih yang disimbolisasikan dengan adanya: pengundangan, pengerehan, watangan hidup, adanya traktakan linggih ratu ayu, Pepatih, dan Ratu ayu/Rangda.

Upacara Sudhamala Bhumi Pratistha

Upacara Yajña dilakukan untuk  membangun semangat umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada alam dalam wujud pelestarian alam. Mendekatkan diri antara sesama diwujudkan dengan saling hormat menghormati dan yang paling utama adalah, mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Kata Śuddha berarti bersih, suci, murni, tak tercela, tak ternoda. Dalam Kamus Sinomim Bahasa Bali di jelaskan bahwa kata Sudhamala berarti menjauhkan kekotoran atau menghilangkan kekotoran. Sedangkan kata mala artinya kotor, noda, cemar kejahatan, cacat. 
Selanjutnya, kata ‘bumi’ dalam kamus Sanskerta berarti tanah, tanah negeri, sikap perawakan, tabiat, pokok, derajat. Kata Bumi dalam hal ini adalah negeri, dunia dengan segala isinya dalam wilayah materi.
Sedangkan istilah Prayascitta yang berarti sajian atau kurban, selamatan penebusan atau pengampunan dosa. Pratista juga disebut prayascitta berarti penebusan dosa, upacara penyucian, nama banten. Sedangkan dalam Kamus Sanskerta kata pratistha berarti posisi, suatu tempat kediaman, stabilitas, keamanan, yayasan, pondasi, pendukung, penyokong, ketenaran.

Pratistha Sudhamala Bhumi  dalam tulisan ini adalah Sudha bermakna pembersihan, mala bermakna kekotoran, bhumi bermakna alam, dan pratistha bermakna mendirikan atau ngadeg.

Sehingga Prasistha Sudhamala Bhumi adalah suatu usaha untuk menyucikan alam semesta berdasarkan atas upakara yajña agar alam semesta beserta isinya dapat langgeng, ajeg dan berdiri.

 

Drama Tari Pacalonarangan dalam Upacara Sudhamala Bhumi

Drama Tari Pacalonarangan dalam Upacara Sudhamala Bhumi Pratistha merupakan pementasan seni pertunjukan drama tari yang mengambil bentuk garapan Pacalonarangan dengan salah satu judul cerita Manik Angkeran. Cerita Manik Angkeran ini diambil sebagai refleksi keegoisan dan keserakahan manusia, ketika Manik Angkeran dan Dukuh Belatung bertempur karena kesalahpahaman yang mengakibatkan kekacauan di marcapada / dunia dengan memurtinya panca dhurga.

Panca Durgha adalah lima hal yang mengerikan merupakan wujud dari lima sakti dari  Panca Dewata seperti :

  1. Dewa Iswara terletak di timur, warna putih, saktinya Dewi Uma,
  2. Dewa Brahma terletak di selatan, warna merah, saktinya Dewi Saraswati.
  3. Dewa Mahadewa di barat, warna kuning, saktinya Dewi Saci.
  4. Dewa Wisnu di utara saktinya Dewi Sri.
  5. Dewa Siwa di tengah, warna manca warna, saktinya Dewi Parwati.

Kelima sakti dari Panca Dewata ini mengikuti Dewi Uma setelah mendapat hukuman menjadi Dhurga Dewi diantaranya,

  1. Sri Durgha menjadi angin putih lambang kekuatan akasa dari unsur panca mahabutha. Masuk ke tubuh manusia makanan, minuman dan melalui hidung, tenggorokan ke paruparu.
  2. Dari Durgha sebagai simbol teja dalam unsur panca mahabutha, masuk ketubuh manusia melalui semua lobang pantat, kulit, telinga dan lobang lain yang ada dalam tubuh manusia.
  3. Suksmi Dhurga, sebagai simbol bayu dalam unsur pancamahabutha menjadi angin kuning dan melekat pada debu masuk melalui makanan, minuman, dan nafas ke tubuh manusia.
  4. Raji Dhurga, sebagai simbol cair dalam unsur pancamahabuta masuk melalui air mandi dan air minum ke tubuh manusia.
  5. Dewi Durgha sebagai simbol pertiwi dalam unsur panca maha buta bertugas di tengah masuk ke dalam tanah berupa asap gunung atau embun beku dan akhirnya masuk dalam tubuh manusia. Dewi Dhurga masuk melalui ubunubun sedangkan pengiring beliau yang bernama Sang Kalika Maya masuk ke dalam tanah. Dewi Dhurga menguasai alam swah loka (Parama Siwa) sedangkan ajudan beliau yang bernama Sang Kalika Maya berada di bhur loka (Siwa). Selain itu Sang Kalika Maya akan selalu ada di kolong tempat tidur, karang perumahan, di tempat gelap, dekat pintu kamar atau puntu masuk pekarangan, di bawah bantal, dan teben tempat tidur.

 

Prosesi Drama tari Calonarang dalam upacara Pratistha Sudhamala Bhumi  merupakan implementasi dari upacara religi atau agama. Prosesi tersebut sebagai bentuk interpolasi ketiga gagasan religi yang bersinergi dan menjadi satu kesatuan yang utuh, sehingga terwujud struktural sistemik yang ada dalam setiap upacara yajña.
Berdasarkan prosesi ritual Sudhamala Bhumi memunculkan inspirasi pertunjukan Drama tari Pacalonarangan “ Manik Angkeran” dengan mempergunakn lima rangda sebagai seni pertunjukan
yang selalu berperan dalam kaitan aktivitas keagamaan sebagai media simbol akan kebesaran-Nya.

Prosesi Prastista Sudhamala Bhumi

Di dalam Prosesi Prastista Sudhamala Bhumi juga terdapat prosesi menanam atau mendem Upakara Panyegjegin Jagat (Panca Datu) di Catus Pata (perempatan Agung), sebagai suatu simbol keseimbangan yang mana Catus Pata Simbol porosnya dunia.

Setelah Prosesi Upacara Pangruatan dilanjutkan dengan pentas seni pertunjukan Pacalonarangan.
Prosesi pagelaran seni ini menghadirkan / “nedunin” pelawatan Ratu Ayu dan Nuur Sadeg Lan Pepatih, Sang Hyang Jaran, yang memakai lima tapakan (5 Ratu Ayu sasuwunan) dengan posisi Manca Desa, yang diakhiri dengan Panyamblehan Kucit Butuan. Memberi laba pada bhuta lan kala sebagai bentuk panyomya.

Dilanjutkan dengan renungan atau doa bersama ngrasttiang jagat dengan berbagai sarana upacara seperti banten, tirtha, petabuh, dan api.
Upacara Sudamala Bhumi Pratistha yang dilaksanakan masyarakat dipimpin oleh beberapa pendeta yang mewakili arah mata angin yang diangkat dari Lontar Aji Terus Tunjung adalah Wiku Catur Asrami terdiri dari 5 wiku yaitu :

  1. Wiku Grhasta, seorang wiku yang mengerti tentang asal dan tempat kembalinya manusia. Menggunakan doa lekasing sunya dharma anugrah dari Dewa Iswara.
  2. Wiku Bhiksuka, adalah wiku yang teguh beryoga hanya mencari isinya kekosongan, dalam doanya menggunakan saraswati kirana anugrah Dewa Brahma.
  3. Wiku Sukla Brahmacari, merupakan wiku yang mengerti isi dunia, menggunakan anugrah Dewa Mahadewa dengan doa Dhewa Sarat Dhyatmika.
  4. Wiku Sangkan Rare. Merupakan wiku yang bisa mengendalikan indriyanya. Menggunakan anugrah Dewa Wisnu dengan doa ratna padesa.
  5. Wiku Dwijendra merupakan wiku yang terlahir dari sinarnya Dewa Siwa Raditya. Wiku Dwijendra dalam melaksanakan upacara memakai doa wedha pragga.

Kesenian yang mendukung prosesi Upacara Pratistha Sudhamala Bhumi  tidak lepas dari aktivitas kesenian khususnya seni pertunjukan sebagai pelengkap upacara yang dikenal dengan wali, seperti

  1. Tari Panglembar,seperti tari Topeng Jauk dan Topeng Dalem Sidhakarya,
  2. Tari Baris Tombak,
  3. Tari Rejang Dewa,
  4. Tari Topeng wali yang mempergunakan penutup wajah dengan bentuk dewa-dewi, manuaia, binatang dan setan, serta
  5. Wayang Gedog, fungsinya adalah termasuk kesenian pelengkap upacara keagamaan.

 

Fungsi Calonarang dalam Upacara Pratistha Sudhamala Bhumi

Pratistha Sudhamala Bhumi yang direfleksikan dalam pamentasan dramatari calonarang adalah sebuah keyakinan atau kepercayaan (sraddha). Agama memberikan pengetahuan tentang tujuan hidup dan menempuh jalan yang benar serta memberikan penghargaan terhadap hidup sesudah mati. Agama juga bisa menjadi motivasi didalam berbuat suatu kebajikan, sehingga agama dipakai suatu pegangan hidup karena akan dapat memberikan ketentraman hati dan membebaskan manusia dari kegelapan dalam hidup ini. Dalam agama Hindu di kenal dengan adanya Panca Sraddha atau lima kepercayaan pokok umat Hindu.

Panca Sraddha terdiri dari : Percaya dengan adanya Tuhan, Atma (roh), Karmaphala (hukum sebab akibat), Punarbhawa (Reingkarnasi), dan Moksa (suatu keyakinan terhadap adanya kebebasan dari ikatan duniawi atau kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut “Suka tanpa wali duka”.)

Dalam sistem ajaran agama Hindu sradha mempunyai fungsi dan kedudukan dalam kerangka dharma, sebagai bentuk isi agama Hindu. Sradha sebagai alat atau sarana dalam mengantar manusia menuju Tuhan. Pengertian ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut “Sraddha satyam ajoyati (Deva sradha orang akan mencapai Tuhan). Sraddham satyeprajapatih (Tuhan menetapkan dengan sradha menuju kepada satya)

Upacara Sudhamala Bhumi Pratistha yang direfleksikan dalam drama tari pacalonarangan “Manik Angkeran” adalah sebuah bentuk dari Widhi tattwa dan Karma tattwa untuk mencapai kesempurnaan jagadhita dan moksa.

Di samping itu upacara ini juga befungsi sebagai media dan refleksi akan prosesi Sudhamala bhumi pratisha yaitu usaha pengruwatan bumi yang tengah “ Bersedih” karena keserakahan Manusia. Dengan pementasan Seni dapat membuat penikmat senang, dengan rasa senang inilah timbul ayu/kebahagiaan, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi sudhamala bhumi pratistha ini tidak semata Upacara seremonial semata akan tetapi lebih jauh dapat meningkatkan kepedulian terhadap alam dan sesama mahluk ciptaan-Nya sebagai mahluk sosial dan spiritual.

Drama Tari Pacalonarangan juga suatu usaha menyomya (metralisir) sifat-sifat negatif dan memohon keselamatan agar dapat mencipatakan keharmonisan dalam kontek Trihita karana.

Selanjutnya tujuan upacara ini juga menuntun jalan fikiran Krama untuk memperdalam kepercayaan (sradha) kepada Tuhan. Di samping juga berfungsi sebagai penyomya Bhuta Kala agar kembali menjadi Dewa.

Drama tari pacalonarangan dalam Pratistha Sudhamala Bhumi  secara umum merupakan prosesi pangruatan Panca Durga yang disomya menjadi Panca Dewi sebagai Sakti dari Sanghyang Panca Dewata

yaitu; Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa. Dengan Panca Kosika, yaitu Sang Kosika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusya, dan Sang Pratanjala. Sang Kosika keluar dari ibu jari sebagai lambang wadah (pradana) Sang Garga keluar sebagai lambang roh (purusa). Sang Metri keluar dari jari tengah sebagai Brahma. Sang Kurusya keluar dari jari manis sebagai Bhatara Wisnu. Sang Pratanjala keluar dari kelingking sebagai Sang Hyang Mahadewa. Sang Siwa Karana menjadi Panca Siwa, berhak untuk meruat seisi alam semua dan disuruh berbuat tapa oleh Bhatara Guru.

Uraian di atas menjelaskan bahwa fungsi religius dari upacara Pratistha Sudhamala Bhumi  yang direfleksikan dalam drama tari pacalonarangan sebagai usaha pengruwatan dan peleburan mala dari semua yang ada baik itu alam mikrokosmos dan makrokosmos.
Sehingga dunia menjadi seimbang ini difisualisasikan dengan menanam banten panyegjeg, penggunaan Wiku Catur Asrama ditambah Wiku Dwijendra dalam prosesi upacara dan dalam pementasan diwakilkan dengan lima orang pepatih sebagai simbol panca dewata agar Sang Batur Kalika dengan Panca Durga dapat somiya.

Drama tari Calonarang ini berfungsi sebagai penyomya bhuta kala agar kembali menjadi Dewa / Dewi. Selain itu juga dikatakan bahwa Bhuta kala memiliki kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif, dan dapat mengganggu kehidupan manusia. Pengaruhpengaruh negatif tersebut menurut ajaran agama Hindu dapat ditanggulangi dengan yajña terutama Bhuta Yajña yang di Bali disebut dengan upacara Pacaruan, seperti halnya pada saat upacara Pratistha Sudhamala Bhumi ini.

 

Makna Drama Tari Pacalonarangan pada Upacara Pratistha Sudhamala Bhumi

Teologi merupakan pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat tuhan, dasar kepercayaan kepada Tuhan dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci). Teologi hindu juga disebut brahmavidyà yang di dalamnya sudah mencakup pengertian teologi yang sangat luas dan dalam. Pada susastra Hindu berbagai atribut penggambaran Tuhan tampak dalam dua pandangan yang berbeda, yakni Tuhan yang berpribadi (Personal God) dan Tuhan yang tidak berpribadi (Impersonal God).

Pementasan pacalonarangan yang mengambil lakon Manik Angkeran mengisahkan tentang keegoisan Manik Angkeran dan Ki Dukuh Belatung yang menyebabkan pemurtian panca Dhurga disimbolkan dengan hadirnya lima sosok Ratu Ayu distnakan dalam traktak/trajangan. Dengan pemurtian panca dhurga dunia menjadi kacau dan tidak seimbangnya alam makrokosmos dan mikrokosmos.

Makna dalam Drama tari pacalonarangan dalam upacara Pratistha Sudhamala Bhumi merupakan upaya membangun keharmonisan manusia dengan Tuhan melalui jalan : Bhakti, dengan sesama manusia (Punia), dan manusia dengan lingkungan (Asih).
Berbagai kelengkapan upacara dalam prosesi ini merupakan suatu perwujudan secara simbolisasi adanya suatu keseimbangan hubungan solidaritas antara alam mikro dengan alam makro yang secara rinci telah diwariskan di dalam Tri Hita Karana yang dalam hal ini merupakan implementasi dari konsep palemahan, yang di aktualisasikan kedalam berbagai tradisi keberagaman.

Di samping itu, sebagai media penyadaran bagi Krama untuk kembali kepada ajaran kebenaran, yang di dalamnya sarat akan nilai sosial religi, yang meliputi rasa kebersamaan, pengendalian diri, patuh terhadap hukum alam, serta tetap mempertahankan keselarasn palemahan Desa Pakraman.

 

18
Des
2016
18
Des
2016