Kepercayaan Animisme bagi orang primitif

Animisme  berasal dari bahasa Latin “anima”  yang artinya  nyawa, roh  atau sukma. Maksudnya   ialah kepercayaan  bahwa setiap  benda  itu mempunyai roh, baik pada benda hidup maupun benda mati. Kadang-kadang juga disebut  orang dengan serba sukma. Mereka percaya  kepada roh, dan juga memuliakannya. Sebab mereka berkeyakinan bahwa roh itu dapat memberi manfaat kepada kehidupan manusia, serta dapat di minta pertolongannya bagi kehidupan manusia di dunia ini.

Animisme di anggap sebagian dari bagian kepercayaan primitif. Selain itu, kepercayaan primitif yang secara periodisasi sejarah berada di masa sebelum kelahiran agama lain lazimnya menyisakan hal yang masih berakar kuat hingga saat ini.

Terkait dengan nama animisme, Honig berpendapat bahwa nama tersebut baru di cetuskan oleh ilmuwan yang berada pada kurun sejarah sesudahnya. Ilmuwan hanya berusaha mensintesiskan fenomena keberagamaan saat itu & kemudian menamakannya dengan istilah yang demikian.

Masyarakat primitif tidak pernah memberikan nama pada kepercayaan yang di anutnya. Mereka hanya meyakininya dengan sepenuh hati serta menjalankan ajaran yang di gariskan dalam kepercayaan tersebut. 

Misalnya : orang  menyembah pohon beringin,  disebabkan karena mereka percaya bahwa  pohon beringin  itu ada rohnya, dan dapat membantu  kepada mereka dalam hal-hal  yang mereka kehendaki. Demikian pula  penyembahan terhadap benda-benda lain seperti  batu-batu  besar, arca, gunung, bintang, pohon-pohon besar dan lain-lain.

Maka apabila  dipandang dari bentuknya, animisme itu boleh juga disebut  agama,  karena animisme  mempunyai sifat-sifat  yang menyerupai sifat-sifat agama, misalnya :

  • Dalam animisme, orang mempercayai kepada barang yang gaib dan barang-barang yang bersifat
  • Memuja dan memuji kepada kekuatan dan kekuasaan yang  maha tinggi untuk mendapatkan limpahan kasih sayang dan kebahagian hidupnya.
  • Insyaf akan kelemahan manusia, sehingga mereka dengan rela dan patuh menyandarkan  diri kepada kekuatan gaib  (roh ) tersebut.

Di samping animisme itu  mempunyai sifat-sifat keagamaan, animisme juga merupakan filsafat (pandangan hidup)  bagi orang-orang  primitif, sebab animisme  juga mencoba  menerangkan dengan akal  pikiran segala kejadian yang dihadapi oleh orang primitif.

Dan ternyata  hasil fikiran atau keterangan mereka itupun banyak yang dapat memberikan kepuasan kepada jiwa  pengikut-pengikutnya. Bahkan animisme juga mempunyai teori sendiri  tentang macam-macam penyakit dan penyembuhannya.

 

Dimana Terdapat Animisme?

Animisme banyak  kita jumpai pada  berbagai bangsa di dunia ini,  terutama pada masyarakat primitif. Misalnya suku-suku  bangsa di Afrika Selatan, Tengah dan Barat hampir semuanya animisme  kecuali  daerah-daerah  yang sudah kemasukan pengaruh agama.  Juga di benua Afrika, pada suku Indian di Amerika  Utara sejak  Columbus mendarat  di negara  tersebut hingga sekarang masih tetap memeluk animisme.  Demikian pula pada penduduk-penduduk asli di Australia serta bangsa-bangsa  di kepulauan   samudra Pasific dan masih banyak lagi.

Di Indonesia juga  masih banyak suku-suku bangsa yang memeluk Animisme. Ini misalnya pada suku Kubu, Sakai, Semindo, Pasemah, Batak, Mentawai, juga di Kalimantan, Sulawesi, Irian dan  pula masih banyak lagi. Bahkan di Jawa dan Bali  yang masyarakatnya boleh dikatakan sudah agak  maju  masih banyak juga yang memeluk  animisme.

 

Bentuk-Bentuk Animisme

Manusia memiliki kesadaran bahwa betapapun hebatnya ia, ada satu zat yang memegang kendali pada seluruh kejadian di alam semesta yang di diaminya. Naluri itu kemudian di representasikan dalam suatu kepercayaan yang masih sangat terkontaminasi oleh pola pikir umum yang berlaku di masyarakat.

Animisme  ternyata dapat menimbulkan berbagai ragam kepercayaan. Adapun  macam-macam  kepercayaan tersebut  dapat kita  kelompokkan menjadi 4 golongan yaitu :

 

1)  Kepercayaan dan Penyembahan  kepada Alam (Natureworship)

Hampir setiap suku bangsa primitif menganut kepercayaan ini. Mereka percaya dan memuja kepada matahari, bulan, bintang, udara, api, tanah, karena  mereka menyadari  benar-benar akan  faedah dari   alam tersebut. Mungkin tak seorangpun akan memungkiri akan guna tersebut.  Coba kalau kita lihat bangsa Mesir   ±  5000 tahun yang lalu ; bangsa India pada ±  4000 tahun yang lalu semuanya beragamakan  kepercayaan kepada benda alam ini. Dan sampai sekarangpun masih nyata juga bekas-bekasnya (seperti nama-nama  dewa mereka Surya= dewa matahari, Pratiwi = dewa bumi,  Agni = dewa api dan lain-lain). Semua nama-nama  itu tidak lain adalah untuk menyebut dan  memuliakan benda-benda   tersebut.

 

2) Kepercayaan dan Penyembahan kepada benda-benda ( folishworship)

Fetisy berasal dari  kata  feitico (bahasa Portugis) yang artinya jimat,  Fetisj-worship juga disebut  dengan “dinamisme”  yaitu anggapan bahwa  tiap-tiap benda itu  mempunyai kekuatan  gaib, baik  pada benda hidup  maupun pada  benda mati (asal kata dinamo = kekuatan). Selanjutnya  mereka beranggapan, barang siapa yang memakai  atau mempergunakan  benda itu akan  terhindar dari mala  petaka dan  kesengsaraan hidup, misalnya : sakitnya menjadi sembuh, kebal dari  senjata tajam dan lain-lain. Bahkan dapat juga  mendatangkan  beberapa kebaikan seperti banyak  rejeki, disayangi wanita dan lain-lain.

Adapun  benda-benda yang  dianggap  berkekuatan gaib  ialah :

  1. Batu :  batu akik untuk cincin, dapat berkhasiat bagi para pemakainya
  2. Besi :   besi digunakan  untuk jimat, disebut : wesi-aji.
  3. Api :    misalnya pembakaran mayat di Bali dan India, karena api dianggap mempunyai kekuatan yang istimewa.
  4. Air :    Misalnya, seorang dukun mengobati dengan air yang sudah diberi mantra. Orang Hindu tiap tahun mandi di sungai Gangga dan lain-lain.
  5. Bagian-bagian tubuh manusia : misalnya rambut, kepala, dianggap mempunyai  kekuatan gaib.
  6. Tumbuh-tumbuhan : misalnya rotan yang dua  bukunya berhadap-hadapan atau bertemu. Biasanya disebut dengan penjalin petuk dan dianggap bertuah.

 

3)   Kepercayaan dan penyembahan kepada binatang (animalworship)

Bintang juga dianggap  mempunyai kekuatan  gaib. Bintang-bintang tersebut dipuja-puja, karena  dianggapnya dapat memberi keselamatan,  kemanfaatan  bagi hidupnya. Bintang-bintang tersebut antara lain :

  1. Lembu  :   di puja  oleh Mesir dan orang India
  2. Ular      :   di puja  oleh orang India
  3. Buaya, harimau, tikus dan lain-lain

 

4) Kepercayaan dan penyembahan kepada  roh nenek moyang (ancestor-worship)

Hampir setiap  bangsa primitif  di dunia ini melakukan penyembahan kepada  roh nenek moyang mereka percaya bahwa orang-orang yang sudah mati rohnya masih  tetap ada dan  masih dapat dirasakan keberadaanya oleh manusia. Maka tidak jarang orang yang  mengadakan peringatan  bagi si-mati yaitu  selamanya 3 hari, 7 hari, 100 hari dan seterusnya dengan tujuan memberi sajian kepada roh-roh itu.

Adapun bagi kelopok tertentu, yang percaya pada roh yang baik, dapat dipanggil oleh  seseorang tertentu untuk diminta  pertolongannya. Orang tertentu  tersebut dinamakan orang perantara (medium).

Medium ini ada dua macam yaitu :

  1. Ziener, yaitu medium yang sifatnya aktif. Di dalam memanggil roh nenek moyang dia bersemedi untuk  mengeluarkan rohnya sendiri, kemudian  roh itu pergi sebentar untuk menemui roh lain untuk meminta  Setelah kira-kira  sepuluh menit  atau lebih,  maka kembalilah roh  tersebut ke dalam  badan yang ditinggalkan tadi, dan kemudian memberikan penjelasan kepada siapa yang  membutuhkan berdasarkan  petunjuk dari roh yang ditemuinya.
  2. Syaman, yaitu medium yang bersifat pasif, kadang-kadang disebut dengan dukun prewangan. Dalam menjalankan tugasnya,  syaman  bersemedi  atau mengisap kemenyan, atau  menari-nari, sehingga  menjadi mabuk. Kemudian ia mengeluarkan rohnya sendiri dan mencari orang lain  yang baik supaya masuk ke dalam  jasmani yang ditinggalkan roh tadi. Roh  baru ini  kemudian  memberikan keterangan-keterangan kepada siapa yang membutuhkan. Maka dari itu  tidaklah aneh  apabila kata-kata  dan suaranya kadang-kadang sangat berbeda dengan suara semula, misalnya : agak  pelan-pelan, kurang  terang, parau, mendehem sedikit-sedikit dan sebagainya.

 

19
Mei
2016
19
Mei
2016