Kepercayaan Balian Usada & Ketakson di Bali

Istilah dukun tidak hanya di kenal dikalangan daerah tertentu saja melainkan diseluruh Indonesia sehingga beranekaragam kekayaan tentang ilmu pedukunan yang dimiliki di Indonesia. Kalau di Bali, dukun disebut balian.
Kata balian berasal dari kata wali (b = w) yang artinya kembali. Dari kata wali lalu menjadi kata walian atau balian yang artinya orang yang dapat mengembalikan kondisi tubuh seseorang seperti dalam keadaan sebelum sakit. Sehingga masyarakat Bali sangat percaya dengan keberadaan balian di tengah-tengah masyarakat.

Balian atau yang sering disebut sebagai jero dasaran merupakan suatu fenomena keberagamaan ala masyarakat animistik dan dinamistik yang masih mewarnai umat Hindu Bali. Ini tidak hanya terlihat pada masyarakat tradisional, melainkan mulai tampak dalam masyarakat modern.

Ketika peran daya nalar manusia sudah mulai tak bisa memenuhi keinginan, ketajaman akal sudah mulai tumpul dalam memecahkan masalah, ketika rasio sudah tidak bisa memuaskan keinginan jasmani dan rohani, maka kecendrungan untuk mendapatkannya hanya ada di dunia magis.

Itulah nunasang, matuunan, termasuk dalam menjalankan upacara keagamaan, khusunya aspek ritual.

Manusia yang terimbas bau modern kini justru cenderung mengagumi dunia klenik, takut salahang Bhatara, pemastu, yakni tradisi turun-temurun yang tunduk di bawah himbauan dunia imaji, tentunya sangat jauh dari dunia nalar manusia. Segala jenis penyifatan ilusif manusia tersebut merupakan suatu kejadian ada dan tiada, sering terlihat dalam dunia sekarang.

Kebiasaan meluasang atau nunasang secara tidak langsung menjadi kredo yang tidak bisa punah di tengah gencatan arus jaman, sebaliknya justru kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan kebutuhan primer.
Sering terjadi ketika masyarakat agraris mengalami permasalahan berat, terutama dalam menjalankan kegiatan keagamaan mereka dalam memuaskan keingintahuannya.

 

Kepercayaan pada Zaman Purba

Dalam zaman Purba, kita dapati beberapa jenis kepercayaan pada alam pikiran kehidupan kuna, antara lain yaitu

(1) Kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan alam. Manusia memandang alam sekelilingnya dan merasakan diri kecil dan rendah. Manusia mencari perlindungan kepada kekuatan-kekuatan alam dan meminta pertolongan di dalam kehidupannya. Kekuatan alam disekeliling manusia dibayangkan sebagai manusia juga, tetapi dengan kekuasaan dan kekuatan yang jauh lebih besar.

(2) Kepercayaan terhadap kekuatan sakti/gaib (dinamisme). Manusia melihat sekelilingnya banyak keajaiban dan keanehan. Hal – hal yang luar biasa itu disebabkan menurut anggapannya oleh sesuatu kekuatan sakti/gaib. Pada manusia terdapat tempat-tempat timbunan sakti seperti : kepala, rambut, air ludah, kuku, darah dan tembuni. Pada benda-bendapun dianggap ada tempat timbunan sakti seperti benda-benda pusaka, jimat dan lain-lain. Kepercayaan seperti itu disebut fetisme.

(3) Kepercayaan terhadap adanya jiwa (animisme). Alam pikiran sederhana menganggap bahwa semua yang bergerak dan benda-benda tertentu lainnya adalah berjiwa. Matahari bergerak adalah berjiwa, air bergerak adalah berjiwa dan lain-lain. Kepercayaan seperti ini disebut animisme.

(4) Kepercayaan terhadap roh – roh. Alam pikiran sederhana percaya, bahwa alam sekitarnya itu penuh dengan roh baik dan roh jahat. Suatu hutan rimba yang gelap penuh kegaiban, dianggapnya penuh dengan berbagai roh. Roh-roh itu dianggap mendiami batu tumbuh-tumbuhan, pohon besar, simpangan jalan dan terutama sekali mendiami kuburan. Ada juga anggapan roh-roh itu tinggal di dalam tubuh binatang tertentu misalnya pada harimau, pada buaya, pada cecak. Roh-roh juga dianggap tinggal di lingkungan rumah tangga. Roh digambarkan dalam dua sifat yaitu ada yang baik dan ada yang jahat.

(5) Kepercayaan terhadap orang kemasukan roh (syamanisme). Kepercayaan yang umum pada pikiran sederhana adalah orang bisa mengundang roh dan juga roh sesorang bisa pergi ke dunia roh. Kepercayaan yang demikian disebut syamanisme.

Sekarang timbul suatu pertanyaan;

Apakah sudah ada sistem pengobatan pada zaman purba/kuna?

Walaupun tidak ada keterangan tertulis, namun secara analogis dapat diyakini bahwa pada zaman itu sudah ada suatu sistem pengobatan. Sesungguhnya secara instingtif pengobatan itu sudah ada sejak adanya manusia.
Dahulu kala manusia sederhana tinggal di gua-gua alam oleh karena mereka belum mengenal pembuatan rumah. Mereka mencari perlindungan kepada alam. Mereka hidup dari hasil perburuan dan makan buah-buahan serta ikan-ikan dari kali.

Mereka memerlukan air; maka itu gua-gua tempat tinggalnya sering dijumpai pada tebing-tebing dipinggir kali. Mereka telah mengenal api untuk melindungi dirinya dari udara dingin. Mereka juga mengenal sistem pengobatan dengan menggunakan daun-daunan. Bila mereka luka misalnya karena perkelahian dengan binatang-binatang buas, maka lukanya ditempel, dijampi dengan daun-daunan yang dikunyahnya terlebih dahulu.

Dapat dibayangkan pula bahwa sistem pengobatan dengan mempergunakan air ludah, telah terdapat pada masa kuna karena ludah merupakan tempat timbunan sakti. Pengobatan dengan sistem pawang pun rupa-rupanya sudah ada sejak itu. Sistem pengobatan dengan menggunakan cara-cara meminta pertolongan kepada roh-roh terutama meminta kepada roh nenek-moyang, sudah dikenal pula pada masa itu, karena menurut pengetahuan kepurbakalaan sistem pemujaan roh nenek moyang telah dikenal sejak zaman prasejarah.

 

Siapa yang melakukan pengobatan pada zaman  dahulu di Bali ?

Berdasarkan teori anthropologi, bahwa kehidupan masyarakat prasejarah dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih dari lingkungan mereka dan yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan misalnya kekuatan pisik, keberanian luar biasa, kemampuan berhubungan dengan dunia gaib.

Untuk di Bali, pada masa dahulu datang seorang Maha Rsi yaitu “Padanda Sakti Wawurauh“. Beliau seorang yogi dan seorang sastrawan, beliau juga adalah seorang mistikus besar. Beliaulah mengembangkan lebih lanjut sistem pengobatan usada di Bali dikaitkan dengan mistik – putih yang kini terkenal dengan “angēn balian sakti”.

Dengan pengembangan ini, maka muncullah berbagai jenis usada di Bali yang jumlahnya sangat banyak antara lain: usada kurantabolong, usada cukildaki, usada banyu, usada tarupramana, usada babahi, usada tenung.

Sistem pengobatan usada di Bali, berkaitan pula dengan sistem keagamaan yaitu beberapa aspek agama Hindu.
Aspek keagamaan yang sering berhubungan dengan sistem pengobatan usada adalah macaru dan melukat, sebagai suatu usaha untuk memulihkan kembali kesehatan si sakit. Sistem pengobatan usada di Bali bersumber pada Ayurweda dan Atharwaweda yang dikembangkan oleh mistikus-mistikus besar dimasa lalu. Kenyataan inilah yang terlihat di Bali sekarang di samping juga ada sistem pengobatan katakson yang merupakan kelanjutan dari alam pikiran Prasejarah.

 

Di dalam kepercayaan masyarakat balian- balian yang ingin mendapat panugrah mengobati kebanyakan mohon panugrah di Pura Dalem. Balian yang mendapat panugrah Pura Dalem biasanya mempunyai pesimpangan Bhatara Dalem di rumahnya dan linggih pepatih bhatara Dalem yaitu Ratu Nyoman Sakti Pengadangan.

Di dalam kandapat tokoh Ratu Nyoman Sakti adalah tokoh yang allround dalam arti beliau adalah penguasa dan black dan white magic, sebab itu kepada beliaulah para balian minta perlindungan atau bantuan. Disamping itu dikenal lagi yaitu tokoh Ratu Gde Nusa atau sering disebut Ratu Gde Macaling.

 

Jenis – jenis Balian

Balian yang dikenal di Bali secara garis besar dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu :

1. Balian Usada

Balian Usada adalah balian yang pada dasarnya mengutamakan penggunaan pengetahuan mengenai teknik pengobatan dan jenis-jenis obat-obatan. Pengetahuannya didapat dari mempelajari berjenis-jenis usada antara lain Lontar Usada, Lontar Bodagama, Boda kecapi dan sebagainya yang pada umumnya memuat soal-soal therapi menentukan jenis penyakit dan soal-soal obat yaitu obat apa yang cocok untuk suatu penyakit. Jadi usada itu garis besarnya memuat soal bagaimana menentukan jenis penyakit dan menentukan obatnya.

Untuk mendapatkan kemanjuran dari pengobatannya itu pengetahuan soal jenis penyakit dan jenis obat-obatan itu saja belum dianggap cukup sebab pada umumnya balian usada mempelajari Kandapat (detail kandapat disini) mulai dari Kandapat Rare, Bhuta, Dewa dan Sari atau sejenis kandapat lainnya seperti Anggastya Prana, Kuranta Bolong, Sundari, ding, Purwa Bhumi Kemulan, Welanda Kateng dan sebagainya.

Untuk mempelajari dan “ngerangsuk” (dapat menghayati betul-betul) kandapat ini diperlukan pengendalian diri berupa puasa dan beberatan (pantangan) puasa tidak makan minum, tidak mengajak istri dalam waktu tertentu dan sebagainya. Puasa dan beberatan ini bertujuan untuk penyucian diri sehingga kekuatan ilmu kandapat itu betul-betul  menyatu pada dirinya.

Balian usada mempelajari usada agar mengetahui khasiat dari benda-benda ramuan obat dan mempelajari kandapat sebagai sarana-sarana “ngurip” atau memberikan kekuatan pada obat itu dengan bantuan saudaranya yang empat.

 

2. Balian Ketakson

Yang dimaksud dengan balian ketakson pada umumnya adalah balian yang minta bantuan roh-roh halus, dewa, gamang, pitara, bhuta dan sebagainya dengan jalan membiarkan dirinya dimasuki, atau dipengaruhi sehingga tampaknya seperti orang trance atau setengah sadar serta bisa menangkap firasat atau petunjuk dari roh atau kekuatan gaib dari luar itu.

Dengan jalan mendapat penjelasan dari kekuatan gaib dari luar inilah dia bisa mengetahui apa sakit si pasien serta apa obatnya.

Balian-balian ketakson umumnya lebih reaktif kelihatan bisa begitu cepat mengetahui sakit seseorang sehingga cepat terkenal, tetapi biasanya juga cepat punah kemanjurannya.

Balian kjetakson umumnya tidak banyak mau mempelajari usada, tetapi suka nakti atau ndewaeraya ke Pura-pura atau ketempat-tempat yang angker. Balian ketakson juga menggunakan beberatan-beberatan (pantangan-pantangan) untuk menjaga kesucian dirinya. Oleh karena itu tubuhnya sudah biasa dimasuki oleh roh-roh gaib kadang-kadang macam-macam roh dan bhuta kala juga bisa masuk, dan andaikata demikian maka berhati-hatilah kalau terjadi salah masuk.

Umumnya kecuali balian metetuun (yang biasa memanggil roh-roh orang yang sudah meninggal) umumnya balian itu hanya bisa memberikan satu kekuatan gaib saja yang memasuki dirinya.

Baik balian usada maupun balian ketakson bisa juga menjadi spesialis-spesialis, tetapi kebanyakan balian ketaksonlah yang bersifat spesialis sehingga menurut spesialisasinya dapat disebutkan beberapa diantaranya sebagai berikut : balian bebai, balian buduh, balian berung (luka), balian lung (patah tulang), balian lelipi (ahli menyembuhkan gigitan ular), balian pengeleakan dan sebagainya. balian usada kalau menyalah gunakan kandapatnya bisa juga menjadi balian pengeleakan. Pada umumnya balian usada itu bersifat balian umum.


 

Dalam ilmu Balian aksara dipergunakan panca aksara, tri aksara, dwi aksara, aksara bijaksana, dan aksara modre sebagai sebuah simbol berperanan menambah kekuatan magis religius usada di Bali.

Setiap balian usada mesti menguasai tentang pembuatan, fungsi, makna dan cara penggunaan aksara suci Bali tersebut sebagai sarana dalam pengobatan dan mempercepat proses pengobatan pasiennya.

Oleh karena itu para balian ini harus mempelajari dengan benar dan sungguh-sungguh tentang tulisan dan makna dari masing-masing aksara tersebut dan tata cara penggunannya. Jikalau salah dalam penulisannya dan pemanfaatnya serta ritual yang mengiringinya akan menimbulkan akibat yang tidak diinginkan baik oleh baliannya sendiri maupun pasiennya.

Dan hampir disetiap pengucapan mantra dari balian menggunakan kata Om, yang dalam Hindu dikenal dengan kekuatan Sanghyang Widhi, seperti simbol aksara A-U-M (OM). Kalau di Bali OM tersebut disimbolkan dengan OMKARA yang merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, yang terdiri dari nada merupakan simbol Sang Parama Siwa, paragayan purusa;  arda chandra berbentuk bulan sabit, simbol Sang Hyang Siwa; Windu berbentuk bulatan, merupakan simbol Sang Hyang Sadasiwa, dan ulu candra biasanya dipakai menyegaukan huruf-huruf gaib.

Serta jika dilihat dalam fungsi aksara lebih kompleks dipakai dalam pangider-ider (arah mata angin sebagai simbol kosmologi Hindu), dengan simbol senjata, wama, dan aksara. Mata angin di sini secara kosmologi merupakan arah keluhuran, kesucian, keindahan dan kebenaran. Oleh karena itu, konsep mata angin ini tidak dapat dipertukarkan satu sama lain, baik warna, aksara, lambang, dan sebagainya. Inilah yang dijadikan dasar bagi sebagaian balian untuk melakukan pengobatan.

Balian secara umum mengunakan mantra-mantra yang masih ada kaitannya dengan dewa-dewi Hindu yang terdapat dalam teks-teks Hindu yaitu dasa aksara yang dicakupkan pada panca akasara dan dicakupkan menjadi tri aksara dan dicakupkan menjadi dwi aksara menjadi rwa bhineda dan dicakupkan menjadi eka aksara dan eka aksara tersebut adalah Hyang Tunggal (Ida Sang Hyang Widi Wasa).

 

09
Jul
2017
09
Jul
2017