Kalepasan (Moksha) dalam Lontar Ganapati Tattwa

Ada tiga prilaku orang yang ingin mencapai kebebasan yaitu sakala (berbadan Triguna; satwa, rajas dan tamas) kewala suddha (melepaskan diri dari kebahagiaan duniawi), dan malinatwa (tak ternoda oleh keterikatan duniawi di anggap Siwa Suci). Selanjutnya ada tiga sarana agar orang mencapai kebahagiaan bathin yaitu Wairagyaditraya (memiliki pengetahuan tinggi), Pararogya
(meninggalkan keterikatan duniawi), Dhyanaditraya (pemusatan pikiran/samadi dengan melakukan pranayama secara teratur). Selanjutnya jalan kalepasan terdiri dari sembilan dan kesepuluh, jika melalui kesembilan jalan maka akan terlahir lagi kedunia dan jika melalui jalan kesepuluh akan manunggal atau bersatu dengan Paramasiwa dan tidak kembali lagi kedunia. Pada bagian ini lebih
menekankan agar diketahui akibat adanya berbagai macam kelahiran mahkluk di dunia ini, baik tumbuhan, hewan dan terlebih manusia. Dengan demikian sudah dapat memberikan jawaban adanya reinkarnasi/punarbhawa.

Cara Kalepasan yang sempurna menurut Lontar Ganapati Tattwa dapa dicapai dengan melaksanakan beberapa tahapan-tahapan yang penting untuk dilakukan. Adapun tahapan-tahapan agar tercapainya suatu kalepasan yang terdapat dalam Lontar Ganapati Tattwa, dapat disajikan seperti berikut.

Syarat Utama sebelum Mempelajari Ilmu Kalepasan

Konsep kalepasan secara terinci diuraikan dimulai pada sloka ke 40, tetapi sebelum tahapan sloka ini hendaknya seseorang memahami tentang berbagai pengetahuan yang sempurna, menguasai pengetahuan sempurna artinya seseorang sudah tidak dipusingkan lagi tentang asal-mula adanya dunia dan asal mula dilahirkan, serta kemana arah tujuan hidup sesungguhnya seperti diuraikan pada sloka sebelumnya yang menceritakan tentang proses terciptanya dunia alam semesta (makrokosmos) dan dunia manusia (mikrokosmos).

Sebelum mempelajari konsep kalepasan hendaknya seseorang memiliki sradha atau keyakinan yang  penuh kesadaran, bahwa dalam menumbuhkan kesadaran tidak cukup dengan mempelajari kitab-kitab suci, melainkan dengan praktek langsung dengan selalu mengutamakan sikap penyerahan Diri kepada Tuhan yaitu serlalu ingat dan Bhakti setiap saat dalam keadaan apapun kepada Tuhan. Terkait dengan hal itu, kesadaran yang dimaksud dalam Lontar Ganapati Tattwa, hendaknya seseorang sudah memiliki kemantapan didalam diri bahwa hakikat sesunguhnya bukan materi, kebahagiaan ataupun keinginan akan tetapi segala arah tujuan hidupnya adalah bersatu atau manunggal dengan Siwa sebagai asal mula segalanya. Ciriciri orang yang memiliki sradha ini
diantaranya seperti disebutkan pada sloka berikut:

Labha bhedajnana sisyah sraddhadano jotendriyah,
dharmatma vratasampanno gurubhaktir visevacah.
Kunang ikang sisya wenang warahaken ri sanghyang bhedajnana,
sisya sraddha ring dhana, jitendriya, tuwi mahun ta ya kagawayan ing dharma kinahan dening brata,
mwang bhakti maguru kunang, nahan luwirnya, ikang yoga pajaraken ri sanghyang bhedajnana, ndya ta (Ganapati Tattwa. Sloka.
42 halaman.15)

Terjemahan;
Adapun murid yang dapat diberikan pengetahuan tentang Sanghyang Bhedajnana adalah murid yang punya iman terhadap dana (sedekah), orang yang dapat mengendalikan nafsunya, dan mereka yang bersungguh-sungguh hendak  melaksanakan Dharma, melaksanakan Bratha (mengurangi kepentingan hidup di dunia ini), dan pada murid yang bhakti berguru.
Apa umpamanya? Adalah Yoga yang diajarkan oleh Sanghyang Bhedajnana

 

Murid yang iman terhadap dana diartikan adalah yang murah hati, selalu bersedekah baik materi maupun non materi, tidak pelit terhadap apapun, tidak boleh merasa memiliki atas
segala yang ada pada dirinya tetapi jika dibutuhkan orang lain seraya dengan senang hati akan membantunya.
Bersungguh-sungguh melaksanakan Dharma adalah murid yang tahu akan kwajiban dan selalu mengutamakannya, bukan kepentingan pribadi yang dipakai dasar, tetapi segalanya karena petunjuk kebenaran dengan selalu berpikiran benar, berperilaku benar, berkata benar sesuai petunjuk kebenaran dalam kitab suci.

Melaksanakan Brata yang dimaksud adalah berbagai aturan berata seperti yama dan niyama dilaksanakan dengan sungguhsungguh.
Bhakti terhadap guru yang dimaksud adalah murid yang selalu memperhatikan, mendengarkan dan melaksanakan segala petunjuk dan arahan dari seorang guru dengan tanpa memandang bagaimana dan siapa guru itu, yang dipandang adalah guru sebagai perwujudan dari Tuhan didunia, sehingga tiada membedakan Tuhan dan Guru. Melayani guru dengan tulus ikhlas dan penuh kesadaran akan menghantarkan pada pencapaian spiritual tingkat tinggi, sehingga siap untuk menerima segala  macam pengetahuan termasuk konsep kalepasan yang sangat diangap rahasia
dan disucikan.

Rahasia Kelepasan (moksha) yang dimaksud karena menyangkut ajaran hakikat hidup dan jika tidak memiliki keimanan yang tebal akan tidak berguna ajaran itu, seperti seorang anak kecil yang tidak memiliki pengetahuan tentang emas (jika diibaratkan ajaran ini adalah emas), maka ketika diberikan emas oleh seseorang akan dipakai mainan dan tidak dirawatnya karena dia belum memiliki arti nilai dan fungsi emas.

Begitu juga ajaran dalam Lontar Ganapati Tattwa ini, jika salah penerapannya akan menjadi sombong dan takabur sehingga menjadi manusia yang sesat bahkan sangat membahayakan kehidupan, karena segala rahasia sudah dipahami dan setelah dipahami hendaknya dirahasiakan lagi dan dijadikan sebagai tuntunan untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan / Moksha bukan menjadi sebaliknya jika tidak memiliki sradha akan menjadi orang yang takabur, congkak dan semaunya sendiri.

Memiliki Kesucian Batin

Kesucian batin adalah sarana berikutnya setelah yang diatas.
Kesucian bathin sangat mendukung didalam proses mempelajari ilmu kalepasan. Dengan kesucian bathin maka akan didapatkan suatu keadaan pikiran yang cemerlang sehingga hendak memikirkan apapun akan bisa diperoleh segala yang diangankan.

Ada tiga jalan untuk mencapai kalepasan dalam Lontar Ganapati Tattwa dijelaskan seperti antara lain:

  1. Sakala yaitu jalan mencapai moksa semasih memiliki ikatan triguna.
  2. Kewala Suddha yaitu jalan mencapai kalepasan dengan meninggalkan kenikmatan duniawi.
  3. Malinatwa yaitu jalan kalepasan dengan melepaskan diri dari triguna, Manowijnana (alam pikiran dan kebijaksanaan) tidak lagi terikat oleh waktu, hening sepi tidak ada lagi yang tidak suci yang dinikmati sehingga disebut Siwa Nirmala. Sesudah mantap keheningan Manowijnana, bebas dari nafsu, bersih tanpa halangan, pikiran menjadi sepi hening dan cemerlang, tidak ada yang menghalangi. Keadaan yang demikian disebut Paramasuddha.

Adanya penjelasan sloka-sloka tentang berbadan triguna (satwa, rajas dan tamas) artinya memiliki sarana tubuh atau hidup yaitu manusia saja yang punya sifat triguna, jika roh yang menempati badan triguna atau berwujud manusia sudah terbebas dari triguna yaitu memalingkan bahwa badan ini tiada berarti bagi hakikat diri, ini dilakukan didalam latihan dan praktik yoga setiap saat sehingga pikiran tiada dikacaukan lagi oleh keadaan badan dan didapatkan suatu konsentrasi disetiap nafas kehidupannya dan dengan keadaan ini maka kesucian akan didapatkan. Orang yang sudah meninggalkan kepentingan keduniawianlah yang dianggap Siwa Suci.

Menjadi suci bukan untuk mencari kehormatan melainkan untuk kerahayuan jagad dan itu saat ini amat jarang yang memahaminya. Dengan keadaan ini terciptalah kesucian bathin, sehingga akan mampu melaksanakan segala ajaran kalepasan dengan sempurna.

Sarana Agar Mencapai Moksa

Untuk mencapai keberhasilan dalam mengolah kebatinan, dalam Lontar Ganapati Tattwa menyebutkan ada beberapa bagian yang perlu diperhatikan. Mengolah batin sangat diperlukan dalam mendalami spiritual, karena dengan menguasai kebatinan, maka seseorang akan merasa tenang didalam melakoni hidup dan kehidupan. Keseimbangan dalam kebatinan sangat mutlak diperlukan didalam mendalami berbagai ilmu termasuk didalamnya ilmu-ilmu rahasia seperti yang terdapat dalam Lontar Ganapati Tattwa.

Pada Sloka Ganapati Tattwa dapat dipahami bahwa agar mendapatkan Moksha terlebih dahulu memiliki kebebasan bathin.  Kebebasan batin terutama bagi pendeta agar mencapai hasil yang baik melalui tiga tahapan. Tahapan itu diantaranya

  1. Hendaknya seseorang memiliki pengetahuan yang luas/tinggi (Wairagyaditraya).
  2. Hendaknya orang meninggalkan kesenangan hidup dalam arti materi dinomor duakan tetapi spiritual diutamakan (Parawairagya).
  3. Seseorang hendaknya selalu mengingat Tuhan atau tansah eling marang Gustine rino klawan wengi (ingat pada Tuhan siang dan malam), sarananya agar melakukan yoga selalu dengan baik (Iswarapranidhana) dengan demikian maka kebebasan batin akan didapatkannya sebagai sarana untuk mendapatkan kalepasan.

Kesucian Pikiran sebagai Kunci Keberhasilan Mencapai Kelepasan /Moksha

Selain kebebasan batin, untuk mencapai suatu keberhasilan dalam mempelajari kalepasan, maka sebagai dasarnya adalah kesucian pikiran.
Dalam melatih agar pikiran menjadi suci tidaklah sulit, sebab sudah banyak aturan yang dituliskan dalam ajaran seperti pengendalian diri dengan mengekang hawa nafsu diantaranya dengan menganggap bahwa bukan materiil sebagai dasar memperoleh kepuasan, tetapi selalu berbuat kebajikan demi mendapatkan tujuan hidup sesungguhnya yaitu bersatunya Atman dengan Brahman.

Hal demikian jika dipraktekkan maka pikiran akan selalu tersucikan karena tidak dibebani oleh benda-benda materi. Semua materi dianggap hiasan hidup bukan tujuan hidup. Setelah berpandangan demikian maka pikiran mantap untuk menghadapi segala bentuk kehidupan termasuk menghadapi kematian dengan rasa bangga sehingga sikap konsentrasi akan terjadi dan membuahkan keberhasilan.

Mendapatkan Kesucian Diri

Kesucian diri sangat diperlukan dalam mendapatkan kalepasan dengan baik. Dalam Lontar Ganapati Tattwa yang menjadi panutan untuk penyucian diri adalah perilaku Sang Sadaka. Adapun perilaku Sang Sadaka didalam kehidupan sehari-harinya selalu melakukan pemujaan kepada para dewa-dewa seperti surya sevana, tetapi selain itu Sang Sadaka juga melakukan praktik-praktik Yoga.

Yoga yang dijalankan oleh Sang Sadaka ialah selalu setia menjalankan titah Widhi dengan sikap dan prilaku yang disandarkan pada kebenaran sesana, selalu konsentrasi dengan penuh kesadaran dalam setiap detak jantungnya diserahkan kepada kaki padma Tuhan. Perilaku inilah yang perlu dijadikan teladan didalam mencapai kalepasan.

Jika dalam Lontar Ganapati Tattwa ada tekhnik yang sangat rahasia dan bahkan tidak boleh disebarkan karena sifatnya rahasia. Rahasia yang dimaksud bahwa apabila tekhnik ini disebarkan tanpa mengetahui tata caranya atau metodenya dengan benar akan menimbulkan kematian dengan segera. Hal ini beralasan karena mantra mengandung unsur-unsur magis, jika matra pelepasan dipakai tidak sesuai aturannya maka tidak menutup kemungkinan yang memantra akan terlepas rohnya dan tak dapat kembali, oleh karena jika ingin memantra hendaknya mencari seorang guru
pembimbing.

Sebelum Memilih Jalan Kalepasan

Sebelum memilih jalan kalepasan, seorang sadhaka terlebih dahulu agar mengetahui dasar-dasarnya sehingga pilihan itu merupakan kebutuhan bukan keharusan sehingga akan dilakukan dengan penuh kebahagiaan. Dengan dasar pengetahuan yang benar, maka dalam melakukan kalepasan akan membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan hidup yaitu moksa.

Apabila salah didalam melakukan kalepasan, maka resikonya akan menjelma kembali atau reinkarnasi. Akibat akibat yang ditimbulkan karena kesalahan dalam melakukan kalepasan dalam kelahirannya didunia akan membawa pada posisi kelahiran sesuai jalan mana yang ditempuh disaat melepaskan atmanya.

Berawal dari tidak mengetahui apa-apa kemudian murid spiritual hendaknya mengetahui segala apa yang ada di dunia ini atas kehendak Tuhan. Pengetahuan ini perlu diketahui, mengingat pemantapan pada pengetahuan tentang keberadaan alam sangat mendukung didalam oleh kebathinan sehingga menjadikan diri mantap dan tidak dibingungkan lagi oleh keadaan materi.

 

Baca Juga : Cara Melepas Atma untuk mencapai Moksha

 

 

14
Des
2016
14
Des
2016