Lontar Bali – Warisan dan Tradisi Manuskrip Masyarakat Bali

Lontar sebagai manuskrip masyarakat Bali telah mengangkat citra tradisi peradaban Bali di tengah-tengah intelektualitas peradaban dunia.  Manuskrip lontar adalah suatu produk budaya Bali yang kaya makna dan meberikan citra keluhuran dan keunggulan jagat pemikiran masyarakat Bali yang melahirkannya.
Warisan dan tradisi lontar telah berusia cukup tua. Di Bali banyak dijumpai lontar yang berumur tua yang memiliki nilai sejarah, filsafat, agama, pengobatan, sastra, dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya.

Pewarisan tradisi lontar di Bali berlanjut dari generasi ke generasi. Sebagai tradisi yang hidup manuskrip lontar Bali didukung bahan-bahan baku yang cukup, penulisan lontar yang masih berlangsung, kegiatan pembacaan yang masih semarak, dan penelitian teks naskah lontar yang semakin meningkat.

Klasifikasi manuskrip lontar telah dapat memberikan citra wujud fisik peradaban berkarakter naskah lontar yang ada di Bali. Wujud fisik naskah lontar yang disebut pengetahuan-pengetahuan lain oleh kalangan peneliti pernaskahan di Bali dikelompokkan karena menguraikan pengetahuan tertentu, seperti :

  1. Pengetahuan kearsitekturan, diberi nama Astakosali, Astakosala, Asthabhumi, Wiswakarma, dan yang lain.
  2. Lontar memuat kode etik arsitektur tradisional seperti Dharmaning Sangging, dan yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan seperti lontar Pamlaspas.
  3. Naskah leksikografi dan tata bahasa seperti lontar Adiswara, Ekalavya, Kretabasa, Suksmabasa, Cantakaparwa, Dasanama, atau pun ada yang memakai judul Krakah seperti Krakah Sastra, Krakah Modre dan yang lainnya.
  4. Lontar Ekalawya dan Dasanama tidak saja memuat daftar kata, tetapi malah memuat sejumlah makna sinonim. Sedangkan lontar Krakah antara lain memuat uraian beserta makna dari suatu istilah dalam naskah-naskah tertentu.

Naskah hukum juga ditemukan dalam dunia lontar di Bali. Beberapa yang penting adalah lontar Adigama, Dewagama, Kutara Manawa, Purwadhigama. Lontar lontar hukum yang lebih banyak bercorak Bali di antaranya Kretasima, Kretasima Subak, Paswara, dan awig-awig.

Lontar yang memuat pengetahuan astronomi biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. Lontar jenis ini banyak dijumpai. Banyak menguraikan masalah-masalah pertanian seperti penentuan iklim, hari baik atau buruk untuk suatu pekerjaan, sampai dengan penentuan hari-hari baik untuk upacara keagamaan.

Lontar-lontar yang ada di Bali umumnya bercorak Siwaistik, adalah sebagai berikut :

  1. Lontar-lontar Tattwa. Lontar-lontar jenis ini memuat ajaran Ketuhanan, di samping itu juga ajaran tentang penciptaan alam semesta, ajaran tentang Kalepasan dan sebagainya. Lontar yang tergolong jenis ini antara lain: 1) Bhuwanakosa, 2) Ganapatitattwa, 3) Jñanasiddhanta, 4) Bhuwana Sangksepa, 5) Sang Hyang Mahajñana, 6) Tattwajñana/Jñanatattwa, 7) Wrhaspati Tattwa, 8) Siwagama, 9) Siwatattwa, 10) Gong Besi, 11) Purwabhumi Kamulan, dan lain-lain.
  2. Lontar-lontar Sesana (Etika). Lontar-lontar jenis ini berisi ajaran tentang etika, kebijakan tuntunan untuk menjadi orang dharma sadhu, dan yang termasuk jenis lontar ini yaitu : 1) Sarasamuscaya, 2) Slokantara, 3) Siwasasana, 4) Wratisasana, 5) Silakrama, 6) Jñana Prakreti, 7) Pancasikşa, 8) Rsi Sasana, 9) Putra Sasana, dan lain-lain
  3. Lontar-Lontar Yajña. Lontar-lontar tentang yañja banyak sekali jenisnya. Umumnya lontar ini berisi petunjuk-petunjuk tentang pelaksanaan yajña (korban suci), baik mengenai jenis banten atau sesajennya, perlengkapannya dan sebagainya.
  4. Lontar-lontar Puja. Lontar-lontar puja erat sekali kaitannya dengan lontar-lontar Yajña. Kalau lontar Yajna berisi petunjuk-petunjuk pelaksanaan Yajna, maka lontar puja berisi puja untuk menghantarkan Yajña dalam upacara agama. Lontar-lontar ini juga dijadikan pegangan oleh para Wiku/Pedanda pada waktu memuja dan muput upacara agama. Lontar lontar Puja ini antara lain1) Weda Parikrama, 2) Surya Sewana, 3) Arghapatra, 4) Puja Ksatrya, 5) Puja Mamukur, 6) Kajang Pitra Puja, 7) Kusumadewa, 8) Catur Weda Sirah, (9) Puja Pasang Lingga, 10) Argha Patha, dan lain-lain.

 

NILAI ABSTRAK LONTAR

Fungsi dan kedudukan lontar dalam masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan sistem kepercayaan dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali. Lontar bagi masyarakat Bali adalah kitab suci yang selain disucikan tetapi juga dipelajari untuk dijadikan pegangan hidup sehari-hari (suluh nikang prabha). Ada hari khusus untuk menghormati dan menyucikan lontar, yaitu hari Puja Saraswati.

Puja Saraswati mendapat tempat istimewa bagi umat Hindu di Bali sehingga masuk ke dalam sistem kalender Bali. Hari/Dina dan Wuku peringatan Puja Saraswati ditempatkan pada hari terakhir yaitu hari Sabtu (Saniscara) dan, yaitu terakhir Watugunung. Hari-hari yang ditandai dengan mengumpulkan benda benda pusaka lontar.

Puja Saraswati ditandai dengan kegiatan membuat Candi Aksara atau Candi Pustaka (mengumpulkan lontar-lontar terpilih) yang dijadikan sthana Sang Aji Saraswati, dan kemudian orang Bali melakukan pemujaan pada pagi hari. Pada malam hari (semalam suntuk) melakukan pembacaan dan menyanyikan sastra-sastra lontar yang terpilih. Sang Hyang Aji Saraswati, Hyang
Wagiswari disimbolkan bersthana dalam aksara suci. Lontar-lontar suci disthanakan sebagai candi Tastra Saraswati (candi pustaka, candi bahasa, candi sastra, ataupun candi aksara) adalah tempat suci Saraswati. Aksara menjadi badan Sang Hyang Aji Saraswati.

 

TRADISI MENULIS PADA LONTAR

Sebelum menghasilkan goresan-goresan artistik aksara Bali di atas daun lontar perlu dipahami apa yang dimaksud dengan Aksara Bali sebagai lambang bahasa. Maksudnya melalui Aksara Bali-lah bahasa sebagai unsur universal dari kebudayaan itu terdokumentasikan. Aksara Bali adalah lambang bahasa yang telah mengambil fungsi dan peran sebagai lambang identitas masyarakat Bali. Aksara Bali adalah wahana atau sarana untuk mengungkapkan segala hal tentang kebudayaan Bali

Dalam tradisi penulisan lontar, seorang pengawi atau penyalin sebelum memulai menggoreskan pangrupak di atas lempiran lontar mereka biasanya melakukan ritual kecil memohon anugerah ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati, sidha sidhi kasaraswaten, dengan puja pembuka,

Om Sang Hyang Saraswati Gumelar”, dan puja-puja runtutannya. Hakekat menulis adalah yogaksara/yogasastra, praktek sprritualitas mengasah dan mempraktekkan seluruh kemampuan intelektual dan kualitas intuitif, kehalusan rasa hingga; terjadinya irama pernafasan yang teratur, jernih, dan murni.

Sebagaimana dinyatakan dalam lontar Tutur Saraswati, Hyang Yogiswara filosofinys berstana pada kedua mata penulis lontar, Bhagawan Mredhu berstana pada kedua tangan penulis, dan Baghawan Reka berstana pada ujung pangrupak.

Dengan cara ini mereka meyakini berhasil menciptakan teks lontar utama dan memiliki jiwa (ruh suci). Karena itu pula, seorang penulis lontar berusaha keras agar tidak mematikan aksara atau ngucek (mencoret-coret) aksara. Mereka percaya manakala hal ini terjadi berakibat buruk pada dirinya sendiri, seperti dipercaya akan berumur pendek. Mencoret sandangan aksara yang berada di atas pangawak (badan pokok aksara) seperti ulu akan berakibat buta atau daya ingat berkurang; mencoret taleng/taling dan bisah/wisah berakibat pancet (sakit pinggang), dan melangkahi aksara akan berkibat bodoh.

Kepercayaan ini menjadikan lontar yang ada kelihatan tulisannya sealu bersih, rapi, dan tampak seperti tidak ada kesalahan penulisan. Tidak pernah ada aksara Bali yang dicoret. Seandainya terjadi salah tulis, penulis membubuhkan dua sandangan (pangangge) aksara, sehingga aksara yang salah tulis tidak berbunyi (mati). Sandangan yang lazim dipakai adalah ulu dan suku. Karenanya  jamak dijadikan bahan pemeo dituturkan dalam masyarakat Bali, bagaikan orang beraksara memakai dua sandangan suara, masuku (memakai suku) dan maulu (memakai ulu) itu artinya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, artinya sudah mati.

Bagaimana halnya kalau dilakukan pembacaan terhadap lontar yang banyak ditemukan aksara mati?

Pembaca lontar harus tanggap, cepat-cepatlah melirik aksara berikutnya yang menjadi sambungan aksara di depannya.

Secara tradisi seorang pengarang karya sastra Bali (pangawi), seorang penedun (penyalin) lontar adalah beliau-beliau para steak holders bahasa dan sastra dan aksara Bali sendiri. Dalam aktivitas penulisan lontar para steak horders ini menyiapkan bahan-bahan yang utama seperti:

(1) pepesan (daun tal siap tulis), (2) pangrupak (pisau tulis) , (3) pelican (alat penjepit lembaran lontar yang akan di tulis terbuat dari bambu kecil yang dilubangi hingga tembus pada kedua

sisinya), (4) serbuk tinggkih (serbuk bakar dari buah kemiri) ataupun serbuk buah naga sari yang dibakar sebagai bahan penghitam goresan aksara Bali di atas daun lontar sehabis ditulis, (5) bantalan kasur kecil sebagai alas menulis, (6) dulang kayu (sejenis meja yang bundar) sebagai meja tulis, (7) penggaris dan pensil (bagi penulis yang tidak yakin akan mampu menghasilkan urut-urutan aksara Bali yang lurus, rapi, dan bersih), (8 ) panakep dari kayu, bambu, atau uyung (seseh pohon enau), (9) kapas atau kain halus untuk menggosok dan membersihkan bekas-bekas material penghitam, (10) sesajen seperlunya, dan (11) pangrupak (pisau tulis).

Jenis-jenis pangrupak dipakai menggores lontar disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan; yaitu pangrupak dengan kelancipan 45 derajat untuk menulis aksara Bali, pangrupak dengan kelancipan 8 derajat untuk membuat prasi (menggambardi atas daun lontar), dan pangrupak kelancipan sedang (kurang lebih 1drajat), lebar, dan tajam untuk memotong rontal.

Pangrupak memiliki tiga mata sisi yang tajam untuk menghasilkan karakter aksara Bali yang ideal. Aksara Bali yang memiliki kakuub (karakter) wayah dan ngatumbah/matan titiran (bundar, lembut, halus, dan mengagumkan). Masing-masing pangrupak juga memakai hiasan beragam  pada panggeh/pati (sejenis warangka dalam keris), ada yang menyerupai pendeta, patung Hanoman, burung merak, atau aksara Ongkara, dan yang lainnya.

Menulis di atas daun lontar dengan pangrupak memerlukan keterampilan teknik menulis yang khusus. Keterampilan yang satu ini sangat memperhatikan posisi tangan saat menggores lontar.Tangan kiri berada di posisi bawah untuk menghalasi atau memegang lontar dan tangan kanan berada di posisi atas memegang pangrupak serta menggerakkan jari-jemari tangan sedemikian rupa.

Jempol/ibu jari dan jari tengah tangan kanan adalah penjepit lembut pangrupak, telunjuk penekan halus saat menggores bentukan aksara. Jempol tangan kiri yang posisinya di sebelah kiri bertugas mendorong-dorong pangrupak hingga terjadi pergerakan mengarah ke sebelah kanan lontar. Sedangkan dua jemari tangan kanan lainnya, jari manis dan kelingking membantu menjaga kesetabilan, berfungsi mensupalai energi kelembutan sehingga tangan tidak mudah lelah.

Menggoreskan aksara Bali dari kiri ke arah kanan harus mencermati ruang-ruang di antara tiga lubang yang ada di kiri, tengah, dan kanan. Terdapat empat garis yang tersedia di atas rontal. Mulailah menulis dari garis yang memiliki ruang paling sempit, dengan aksara digantung pada garis yang telah disediakan. Perhatikan lebar ruang yang disediakan di antara garis-garis yang tersedia.

Berkosentrasi dan menciptalah dengan perasaan halus, lembut, tenang, dan senang. Goresan simbol aksara yang pertama sangat mempengaruhi besar kecil dan kehalusan aksara berikutnya. Karena itu jagalah hati, cerdaskan intuisi dan intekstualitas yang dimiliki. Bernafaslah yang teratur. Lemah lembut dalam ketenangan hati yang menakjubkan. Sekali-kali nikmati bunyi irama yang ditimbulkan oleh goresan yang dibuat. Berirama mengkhusukkan.

 

Proses Pembuatan Lempiran Lontar

Lontar terbuat dari daun alami pohon Tan/Rontal. Lontar mempunyai kekuatan yang luar biasa, dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama, berabad-abad.

Bagi masyarakat Bali lontar memiliki karakater atau wibawa tersendiri, taksu (kekuatan ilahi), dan dihormati sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin. Kualitas lontar yang penulis citrakan itu tidak lepas dari dasar-dasar budaya atau karakter peradaban dan keyakinan masyarakat Bali yang melahirkannya. Di samping itu semua, Lontar Bali dibuat dengan cara yang saksama, dalam teknologi tradisional. Kesabaran yang tinggi, berada dalam suasana yang khusuk akan menghasilkan lempiran lontar sehelai demi selehelai.

Dibangun atas dasar keyakinan, ketekunan, dan kedisiplinan. Proses pembuatan daun lontar ini dapat disajikan berdasarkan pengalaman penulis meneliti prosesi pembuatan lempiran lontar dan bahan bacaan yang ada.

Pada kesempatan ini penulis sarikan impormasi pembuatan lempiran daun lontar sebagaimana yang dilakukan oleh Ida I Dewa Gde Catra di Rumah Pintar Ttradisional di ujung Timur pulau Bali, bilangan jalan Untung Surapati, Subagan, Amlapura.

Berikut penulis sarikan teknik tradisional Prosesi Pembuatan Lempiran Lontar Bali seperti yang dilakukan budayawan lontar asal Puri Sidemen Karangasem ini.

Ida I Dewa Gde Catra (pelaku prosesi pembuatan lempiran lontar yang paling produktif sampai hari ini di Bali) menyebut helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran. Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbetuk blanko dihasilkan melui proses khas teknologi tradisi Bali selempir demi selempir sehingga menghasilkan pepesan, satu bendel berjumlah 100 lempiran. Inilah lempiran lontar kosong yang siap ditulisi. Dinyatakan pula pembuatan lempiran lontar memakan waktu yang relatif lama, rumit, membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tujuannya adalah agar mendapatkan mutu lempiran yang baik, bertahan dalam waktu yang panjang, mudah ditulisi, serta bentuknya yang indah dan rapi.

 

Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan, seniman lontar memperhatikan jenis pohon rontal yang akan dipetik daunnya. Pohon rontal yang baik adalah telah berumur lebih dari 3 tahun, tumbuh di tanah yang mengandung kapur atau berzat kapur, tanah bebatuan seperti tanah lahar, tanah di tepi laut, mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore, pernah disadap niranya, tidak banyak mengandung sagu. Pohon rontal yang tumbuh di tanah yang subur, daunnya kurang baik dibuat pepesan karena berdaun tebal, berserat besar-besar dan kaku.

Masyarakat Bali membedakan pohon rontal atas dua jenis, yaitu rontal luh (betina) yang dapat menghasilkan buah atau tuak (nira) dan rontar muani (jantan) yang tidak menghasilkan buah. Rontal muani terkadang juga dapat menumbuhkan  bunga akan tetapi tidak pernah jadi buah. Demikian pula jenis dan kualitas daun pohon rontal berbeda-beda.

Pohon Rontar yang daunnya luwes, kenyal, berserat halus disebut juga ron tal taluh (telor). Pohon rontal yang daunnya tebal berserat kasar dan kaku seperti kulit binatang disebut ron tal belulang. Sedangkan pohon lontar yang helai daunnya panjang dan lebar disebut pohon ron tal dolog (menyerupai senjata dolog, yaitu sejenis golok yang panjang).

Daun tal yang dipilih untuk prosesi pembuatan pepesan berkatagori panyaja (muda atau menengah). Usia daun tal penyaja di samping dikatahui dari katagori hijau daunnya juga ditandai dari posisi kecondongan pelepahnya kurang lebih 45 drajat, semua ujungnya panjut (merapat dan sedikit mengering).

Sedangkan lontar yang masih muda berupa busung (janur) ataupun yang sudah berupa danyuh/wayah (tua) tidak dimanfaatkan sebagai lempiran pepesan.

 

Pemetikan daun tal untuk pepesan menggunakan joan anggetan (galah ujungnya memakai pisau), daun tal yang berbentuk kipas kangget (dipotong dan dicari ) hanya bagian tengah saja tidak lebih dari empat sampai dengan enam helai setiap satu pelepah daun tal.

Mengingat daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi, maka proses pengeringannya agar benar-benar kering seperti yang diinginkan tentu memakan waktu yang cukup lama. Harus dijemur di tempat yang terang dan dilakukan beberapa kali, sehingga benar-benar renyah (kering benar).

Musim petik yang baik pada sasih kasanga- kadasa (seputar bulan Maret – April) yang disebut kreta masa, dan sasih katiga-kapat (seputar bulan September – Oktober) yang disebut gegadon. Pada bulan-bulan ini adalah musim kemarau, saat mana matahari bersinar panas dan suasana langit terang benderang.

Bilah daun tal kering petik yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang, lebarnya sesuai,permukaan rata tidak tuludan (berlekak-lekuk), seratnya halus, tidak berbintik-bintik, dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis.Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak).

Bilah daun tal kering petik yang sudah kasit (dilepaskan lidinya) dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa kemudian kakum (direndam) selama tiga minggu. Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbahu  kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari, pagi, dan sore.

Pada minggu kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali, hingga air kum benarbenar bersih, tidak berbuih, dan tidak berbahu lagi. Ngekum (merendam) daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya, agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap.

Tiga minggu prosesi ngekum tal telah berlalu. Daun tal diangkat dan di diguyur air bersih, dijemur, ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering.Dua hari dua malam dianginanginkan untuk tiga bulan kemudian baru direbus. Merebus daun tal kering petik memerlukan alat perebus, seperti panci besar, tunggu, kayu api, dan air cukup dan dijaga dengan saksama.Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran, kayu wong, kulit pangkal pohon kelapa, batang kantewali, daun sambiroto, umbi gadung diparut.Rempah-rempah seperti lada, merica, jebug harum, jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk.

 

Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Saat prosesing perebusan, setiap kali air rebus menyurut petugas harus menambahkan air secukupnya hingga berlangsung lima enam jam. Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. Daun tal yang dianggap telah masak, biarkan jangan langsung diangkat agar dingin dengan sendirinya.

Setelah dingin angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh. Agar lebih cepat kering, lontar dibolak balik selembar demi selembar.

Setelah merata kering, diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah, kemudian dayuhin (diangin-anginkan) di tempat yang teduh.Tiga puluh sampai dengan lima puluh lembar lontar disatukan, diikat ujung, tengah, dan pangkalnya.

Disimpan di tempat yang aman terhindar dari sinar matahari, ujan, hawa panas berlebihan. Lama menyimpan tiga empat bulan, semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik.

Blagbag, pres tradisional lontar dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak.

Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan ronggarongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan.

Caranya, daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjempit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masingmasing.

Setelah berjumlah seratus, disela dengan penampang kayu (pandalan),  demikian juga selanjutnya hingga penuh sesuai kapasitas blagbag.

Kemudian pasak dipasang, beberapa hari lontar mengalami pemampatan, pasak pun longgar. Disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat.

 

Proses ini dilakukan berminggu-minggu kadang bulanan, hingga rontal benar-benar lurus dan rata. Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari

daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan, diisi lubang sebasar jarum. Mal ditempal di atas daun tal,jarum pirit (paser tradisioanal Bali) ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri, kanan, dan tengah.

Mirit, melubangi lontar di samping kiri, kanan, dan tengah tepat di titik ujung pirit. Lontar yang telah mapirit (berlubang) dimasuki lidi (jelujuh) agar tidak

mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya.

Langkah-langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit), nyerut (mengetam), dan nyepat (menggaris). Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. Nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi.

Sedangkan nyepat adalah tindakan terakhir prosesi pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak (pisau tulis tradisional Bali).

 


Baca Juga :

 Lontar Tutur Kumara Tattwa |  Kalepasan (Moksha) dalam Lontar Ganapati Tattwa  |   Isi Lontar Siwa Banda Sakoti  |  Lontar Leak Bali dan Jenis Pengleakan |  


 

12
Jun
2017
12
Jun
2017