Lontar Tutur Kumara Tattwa

Lontar Tutur Kumara Tattwa merupakan salah satu dari ribuan naskah yang diwarisi masyarakat Bali saat ini. Tutur Kumaratattwa berisi ajaran filosofis tentang mengapa manusia menderita dan bgaimana manusia melepaskan diri dari penderitaan itu. Dalam Tutur Kumaratattwa (2003 : 65) dijelaskan bahwa Bhatara Kumara berperan sebagai seorang pengembala. Ia tinggal sendiri di sebuah lading pengembalaan bernama Argakuruksana. Karena sudah lama berada di tempat pengembalaan itu, Bhatara Kumara merasa bosan. Ia menganggap apa yang dialami dan lakukannya di lading pengembalaan itu tiada sebagai sebuah kepapaan hidup. Ia bukan mengembalakan sapi, tetapi ia mengembalakan Dasendria (sepuluh nafsu), yang termanifestasikan dalam bentuk batin, cita-cita berlebihan menyebabkan kerja, budi berlebihan menimbulkan sikap suka mencela, hasrat berlebihan menimbulkan kerakusan, suara berlebihan menimbulkan keangkaraan, kekuatan berlebihan menimbulkan suka menipu, pikiran berlebihan menimbulkan kebingungan, omongan berlebihan berakibat suka mencerca, lupa berlebihan berakibat tidak tahu sumbernya, perjalanan berlebihan berakibat tujuan yang tidak jelas. Menurut Bhatara Kumara, semua itu merupakan sumber-sumber penderitaan yang muncul akibat Dasendria (sepuluh indria).

Nafsu indria (kama) merupakan salah satu musuh (ripu) dari enam musuh (sadripu) yang ada di dalam diri setiap orang. Sadripu (enam musuh) terdiri atas kama (nafsu), lobha (serakah, rakus), krodha (marah), mada (mabuk), moha (kebingungan), matsarya (iri hati, dengki). Keenam musuh (sadripu) itu timbul akibat sifat-sifat manusia yang berlebihan. Keenam musuh itu menjauhkan manusia dari kebahagiaan hidupnya dan merupakan sumber kesengsaraan bagi kehidupan manusia.

Menurut dalam Lontar Tutur Kumara tattwa, dasendria (sepuluh nafsu) di dalam diri manusia menyebabkan sepuluh macam kotoran yang dinamakan dasamalaDasamala merupakan raja nafsu yang tiada lain adalah Dasamukha (Rahwana). Nafsu itu akan terus mengalir membelenggu kehidupan manusia. Dalam ajaran agama Hindu dijelaskan adanya tuntunan susila yang mengingatkan kita untuk selalu mengendalikan nafsu atau keinginan-keinginan tersebut tetapi bukan mematikannya. Sebab dengan tidak mematikan keinginan-keinginan itu, maka setiap orang masih memiliki gairah hidup, semangat hidup, namun keinginan-keinginan itu perlu dikendalikan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan mengendalikan keinginan tersebut, setiap orang akan selalu sadar pada dirinya (Raka Mas, 2002 : 39).

Tutur Kumara tattwa menjelaskan bahwa meruat kepapaan (dosa) akibat dasamala itu bukanlah hal yang mudah. Begitu pula ada delapan kekuatan dalam diri manusia yang dapat membuat hidup manusia menjadi papa, yang dinamakan astadewi atau pracanamaya, yaitu terdiri atas : (1) jayasidi adalah kekuatan pikiran yang bersikukuh pada kemampuan diri berlebih, senang dipuji, tak mau mengalah, (2) caturasani adalah suka mengumbar kehendak, suka mencela orang lain, (3) namadewi adalah sifat egois, suka mengutuk, berlagak kuasa, (4) mahakroda adalah adalah suka marah, suka berbohong, buta hati dan sangat kasar, (5) camundi adalah suka berkata berbelit-belit, tidak tetap pendirian, tidak berbakti, menang sendiri, (6) durgadewi adalah berpikir ruwet, tidak cermat, selalu berperilaku jahat, (7) sirni adalah suka bersenang-senang, batinnya hampa, tidak mau berpulang pada diri sendiri, suka mengaku-ngaku; dan (8) wighna adalah penuh nafsu, suka berkata melambung tunggi, suka menghina kebaikan, selalu bingung.

Kedelapan sifat tersebut di atas membuat manusia berada dalam kepapaan, selalu diselimuti kesulitan-kesulitan karena batin manusia dibuat goyah, mimbang, dan ragu. Untuk mengantisipasi pengaruh sifat-sifat astadewi, Tutur Kumaratattwa menjelaskan ada delapan cara pembersihan batin agar telepas dari pengaruh kotor, yang dinamakan astalingga, yaitu : (1) sudha adalah penyucian pikiran, (2) sphatika adalah menenangkan pikiran, (3) sunya adalah mengosongkan pikiran, (4) mahatana adalah memikirkan hal-hal yang luhur, (5) prabhaswara adalah membawa pikiran memenuhi alam semesta, (6) nirawarana adalah membawa pikiran tiada terbatas, (7) nirmala adalah menghindarkan pikiran dari hal-hal kotor, dan (8) niskala adalah membuat pikiran tidak goyah.

Bhatara Kumara telah meninggalkan astadewi sebagai sumber kepapaan yang membelenggu batinnya dengan cara menerapkan astalingga. Kemudian, Bhatara Maheswara menganugrahkan delapan sifat kemuliaan kepada Bhatara Kumara, yaitu (1) saraswati adalah kemampuan dan pengetahuan untuk memahami ajaran agama, (2) laksmi adalah kemampuan untuk membedakan hal yang baik dan buruk, (3) upeksa adalah peka mengatasi kesulitan, (4) karuna adalah saying kepada semua mahluk, (5) mudita adalah bersikap simpati dan adil, (6) santa adalah bertutur kata manis, (7) prajna adalah mengutamakan kebaikan, (8) parimita adalah sadar kepada diri sendiri sebagai sesuatu yang terbatas adanya.

 

Pembebasan Sempurna dalam Lontar Tutur Kumaratattwa

Sebagaimana dikisahkan dalam naskah Kumara Tattwa setelah Sang Hyang Kumara mendapatkan kekuatan dari Bhatara Guru, maka Sang Hyang Kumara menghilang dan tidak dapat diketahui keberadaannya oleh para dewata. Sementara itu, Bhatara Jati Niyasa melakukan pemujaan kepada Bhatar Guru, maka itu Bhatara Jati Nitiyasa pun berhasil mendapatkan kesaksian sebagaimana Sanghyang Kumara. Karena itu, Bhatara Jati Nityasa bertemu dengan Sanghyang Kumara. Begitu pula, Bhatara Guru juga menunggal bersamanya. Wujud penunggalanNya merupakan kekosongan , alam kekosongan (sunyapada) dimana budi tak terikat waktu (buddhi niskala). Dia merupakan sumber adanya asal dan tujuan. Hal itulah yang disebut dengan Pembebasan Sempurna dalam Lontar Tutur Kumaratattwa.

Dalam Tutur Kumaratattwa (2003 : 76), ada tiga perwujudan Tuhan, yaitu SiwaSadasiwa, dan Paramasiwa. Hakikat Siwa diumpamakan matahari membayangi air di dalam tempayan. Sadasiwa bagaikan matahari bersinar. Paramasiwa bagaikan langit. Ketiganya akan saling bersambut. Siwa adalah jiwa dari tubuh, sumber tunggal yang berwujud banyak. Sadasiwa merupakan yang tunggal, tetapi menyerap dan menyusupi segalanya, bagaikan api dalam bara memenuhi tungku. Paramasiwa merupakan hal yang tak terbayangkan, tidak berwujud. Siwa adalah segala yang memenuhi alam semesta. Dia adalah jiwa Brahman. Sadasiwa menyerap dan melimuti seluruh kelahiran, menebar dan menggaib dalam setiap mahkluk. Paramasiwa tak terbayangkan dan meresap dalam seluruh mahluk, berada dalam unsur tetapi bukan unsure itu sendiri, berada dalam tubuh tetapi bukan tubuh itu sendiri, ada di alam kosong tetapi tidak kosong. Siwa merupakan sumber segala yang ada. Sadasiwa menguasai segalanya. Paramasiwa adalah hakikat yang tertinggi. Dia akan menjadi nyata dan terkira apabila perwujudan-Nya yang rahasia dalam pikiran dibayangkan dalam batin dan dapat diperbanyak. Dia akan menjadi nirbana jika wujud-Nya hilang dalam kaheningan batin, diri dan di alam semesta.

 

Hubungan Susila Dengan Tutur Kumaratattwa

Relevansi kajian Tutur Kumaratattwa terhadap kehidupan bangsa dan Negara masa kini adalah bahwa dalam keadaan bangsa dan Negara yang dilanda krisis berkepanjangan telah membawa berbagai dampak negative dalam berbagai kegidupan masyarakat. Peradaban manusia meluntur sehingga manusia seolah-olah tidak lagi beradab tetapi menjadi biadab. Pembunuhan, pembakaran, perampokan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya muncul di mana-mana. Rasa kemanusiaan, moral, dan budi pekerti seperti telah tenggelam ditelan keserakahan nafsu. Manusia cenderung kepada pola kehidupan materialistis, mengejar artha (kekayaan) dan kama (nafsu) tanpa memperdulikan dharma. Manusia lupa akan jati dirinya. Untuk membangkitkan kembali kesadaran manusia pada jatidirinya, maka teks-teks suci sangat berperan penting dalam kegiatan pencerahan perasaan bakti dan sebagai penuntun konsentrasi pikiran menuju sebuah kebenaran. Hal ini disebabkan Tutur Kumaratattwa mengandung ajaran agama, susila, tuntunan hidup, serta pelukisan kebesaran tuhan dalam berbagai manifestasiNya. Dalam ajaran susila kita mengenal cara mengndalikan diri dan menjaga hubungan antar sesama seperti berikut :

Tatwan Asi

Tatwam Asi mengajarkan bagaimana kewajiban kita mengasihi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Inilah dasar utama untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan makmur. Tatwan Asi selalu mengamalkan cinta kasih bakthi dan rela beryadnya (berkorban).

Tri Kaya Parisudha dan Karma Patha

Tri Kaya Parisudha adalah tiga laksana yang benar menurut ajaran agama hindu yang masing-masing disebut kayika (tingkah laku yang baik), wacika (perkataan yang baik), manacika (pikiran yang baik). Tingkah laku, pikiran, perkataan, yang baik dapat dipelihara dengan karma patha, yaitu pengendalian. Dengan akal atau rasio yang dikaruniakan Tuhan kepada kita maka kita harus dapat mengendalikan tingkah laku dan perkataan melalui analisis logis tentang yang baik dan yang buruk. Justru dalam kemampuan membedakan antara yang baik, yang benar dan yang buruk atau yang jahat itulah letak kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain.

Dasa Nyama Bratha

Dasa Nyama Bratha adalah sepuluh macam pengendalian diri atau sikap mental. Dalam Saramucaya sloka 260 disebutkan sebagai berikut ; inilah brata sepuluh yang banyaknya yang disebut, Nyama, yang penciriannya : dana, ijiya, dhyana, swadhyaya, upasthanigraha, brata, mona, snana, itulah yang merupakan Nyama, yang masing-masing dapat dijelaskan.

  • Dana, yaitu rela berdana punia. Orang yang suka beramal akan mendapatkan imbalan jasa dari Tuhan Yang Maha Esa. Caranya mendapatkan sesuatu hendaklah berdasarkan Dharma, dana yang diperoleh karena berusaha hendaknya dibagi tiga, yaitu untuk memenuhi karma dan melakukan kegiatan dalam bidang usaha ekonomi agar berkembang kembali.
  • Ijiya, yaitu hormat kepada orang tua dan leluhur, menurut ajaran Tri Rna setiap orang wajib harus membyar hutang budhi kepada leluhur, orang tua, sebab mereka itulah menjadi jalan kelahiran kita kedunia dan menjadikan manusia berguna.
  • Tapa, yaitu melatih diri agar dapat mencapai ketenangan hati, ketentraman bathin . dalam Sarasamucaya 103 disebutkan, inilah yang harus diperhatikan baik-baik yaitu tapa hendaknya selalu dipegang teguh dan dilaksanakan dengan tekun.
  • Dharma yaitu, tekun memusatkan cita, rasa, dan karsa kepada Hyang widhi wasa. Tuhan bersifat maha kasih dan maha pemurah maka itu bagi mereka yang berbuat tentu akan mendapatkan imbalan sesuai dengan karma mereka.
  • Uphastananigraha, yaitu selalu mengendalikan hawa nafsu. Dalam Sarasamucaya 76 disebutkan, inilah yang tidak patut dilaksanakan yaitu membunuh, mencuri, dan berbuat zinah. Ketiganya itu janganlah dilakukan baik secara berolok-olok berseda gurau, baik dalam keadaan darurat atau khayalan sekalipun.
  • Bratha, yaitu mengekang diri terhadap makanan dan minuman atau taat kepada sumpah, kepada janji, sumpah merupakan pernyataan atau dinodai, bratha dalam arti tidak makan dan tidak minum dilakukan pada hari raya siwa ratri, pada hari raya nyepi tilem kesanga.
  • Upawasa, yaitu melaksanakan puasa, tidak makan dan tidak minum hari-hari tertentu hingga tercipta rasa dan karsa dapat terpusat dan tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mona, yaitu membatasi perkataan, tidak berbuat seenaknya, tidak ngobrol yang tidak menentu, dapat membedakan waktu bermain dan waktu bersungguh-sungguh.
  • Swadyaya, tekun mempelajari dan mendalami kitab suci dan pengetahuan lainnya yang berguna untuk meningkatkan taraf hidup dan meninggikan kebudayaan.
  • Upawasa, yaitu melaksanakan puasa pada hari-hari tertentu misalnya pada hari raya nyepi dan siwaratri.

 

DETAIL TENTANG LONTAR ADA DISINI

 

 

28
Mei
2017
28
Mei
2017