Kepercayaan Balian Usada & Ketakson di Bali


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


Istilah dukun tidak hanya di kenal dikalangan daerah tertentu saja melainkan diseluruh Indonesia sehingga beranekaragam kekayaan tentang ilmu pedukunan yang dimiliki di Indonesia. Kalau di Bali, dukun disebut balian.
Kata balian berasal dari kata wali (b = w) yang artinya kembali. Dari kata wali lalu menjadi kata walian atau balian yang artinya orang yang dapat mengembalikan kondisi tubuh seseorang seperti dalam keadaan sebelum sakit. Sehingga masyarakat Bali sangat percaya dengan keberadaan balian di tengah-tengah masyarakat.

Balian atau yang sering disebut sebagai jero dasaran merupakan suatu fenomena keberagamaan ala masyarakat animistik dan dinamistik yang masih mewarnai umat Hindu Bali. Ini tidak hanya terlihat pada masyarakat tradisional, melainkan mulai tampak dalam masyarakat modern.

Ketika peran daya nalar manusia sudah mulai tak bisa memenuhi keinginan, ketajaman akal sudah mulai tumpul dalam memecahkan masalah, ketika rasio sudah tidak bisa memuaskan keinginan jasmani dan rohani, maka kecendrungan untuk mendapatkannya hanya ada di dunia magis.

Itulah nunasang, matuunan, termasuk dalam menjalankan upacara keagamaan, khusunya aspek ritual.

Manusia yang terimbas bau modern kini justru cenderung mengagumi dunia klenik, takut salahang Bhatara, pemastu, yakni tradisi turun-temurun yang tunduk di bawah himbauan dunia imaji, tentunya sangat jauh dari dunia nalar manusia. Segala jenis penyifatan ilusif manusia tersebut merupakan suatu kejadian ada dan tiada, sering terlihat dalam dunia sekarang.

Kebiasaan meluasang atau nunasang secara tidak langsung menjadi kredo yang tidak bisa punah di tengah gencatan arus jaman, sebaliknya justru kebiasaan itu menjadi sebuah kebutuhan yang setara dengan kebutuhan primer.
Sering terjadi ketika masyarakat agraris mengalami permasalahan berat, terutama dalam menjalankan kegiatan keagamaan mereka dalam memuaskan keingintahuannya.

Kepercayaan pada Zaman Purba

Dalam zaman Purba, kita dapati beberapa jenis kepercayaan pada alam pikiran kehidupan kuna, antara lain yaitu

(1) Kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan alam. Manusia memandang alam sekelilingnya dan merasakan diri kecil dan rendah. Manusia mencari perlindungan kepada kekuatan-kekuatan alam dan meminta pertolongan di dalam kehidupannya. Kekuatan alam disekeliling manusia dibayangkan sebagai manusia juga, tetapi dengan kekuasaan dan kekuatan yang jauh lebih besar.

(2) Kepercayaan terhadap kekuatan sakti/gaib (dinamisme). Manusia melihat sekelilingnya banyak keajaiban dan keanehan. Hal – hal yang luar biasa itu disebabkan menurut anggapannya oleh sesuatu kekuatan sakti/gaib. Pada manusia terdapat tempat-tempat timbunan sakti seperti : kepala, rambut, air ludah, kuku, darah dan tembuni. Pada benda-bendapun dianggap ada tempat timbunan sakti seperti benda-benda pusaka, jimat dan lain-lain. Kepercayaan seperti itu disebut fetisme.

(3) Kepercayaan terhadap adanya jiwa (animisme). Alam pikiran sederhana menganggap bahwa semua yang bergerak dan benda-benda tertentu lainnya adalah berjiwa. Matahari bergerak adalah berjiwa, air bergerak adalah berjiwa dan lain-lain. Kepercayaan seperti ini disebut animisme.

(4) Kepercayaan terhadap roh – roh. Alam pikiran sederhana percaya, bahwa alam sekitarnya itu penuh dengan roh baik dan roh jahat. Suatu hutan rimba yang gelap penuh kegaiban, dianggapnya penuh dengan berbagai roh. Roh-roh itu dianggap mendiami batu tumbuh-tumbuhan, pohon besar, simpangan jalan dan terutama sekali mendiami kuburan. Ada juga anggapan roh-roh itu tinggal di dalam tubuh binatang tertentu misalnya pada harimau, pada buaya, pada cecak. Roh-roh juga dianggap tinggal di lingkungan rumah tangga. Roh digambarkan dalam dua sifat yaitu ada yang baik dan ada yang jahat.

(5) Kepercayaan terhadap orang kemasukan roh (syamanisme). Kepercayaan yang umum pada pikiran sederhana adalah orang bisa mengundang roh dan juga roh sesorang bisa pergi ke dunia roh. Kepercayaan yang demikian disebut syamanisme.

Sekarang timbul suatu pertanyaan;

Apakah sudah ada sistem pengobatan pada zaman purba/kuna?

Walaupun tidak ada keterangan tertulis, namun secara analogis dapat diyakini bahwa pada zaman itu sudah ada suatu sistem pengobatan. Sesungguhnya secara instingtif pengobatan itu sudah ada sejak adanya manusia.
Dahulu kala manusia sederhana tinggal di gua-gua alam oleh karena mereka belum mengenal pembuatan rumah. Mereka mencari perlindungan kepada alam. Mereka hidup dari hasil perburuan dan makan buah-buahan serta ikan-ikan dari kali.

Mereka memerlukan air; maka itu gua-gua tempat tinggalnya sering dijumpai pada tebing-tebing dipinggir kali. Mereka telah mengenal api untuk melindungi dirinya dari udara dingin. Mereka juga mengenal sistem pengobatan dengan menggunakan daun-daunan. Bila mereka luka misalnya karena perkelahian dengan binatang-binatang buas, maka lukanya ditempel, dijampi dengan daun-daunan yang dikunyahnya terlebih dahulu.

Dapat dibayangkan pula bahwa sistem pengobatan dengan mempergunakan air ludah, telah terdapat pada masa kuna karena ludah merupakan tempat timbunan sakti. Pengobatan dengan sistem pawang pun rupa-rupanya sudah ada sejak itu. Sistem pengobatan dengan menggunakan cara-cara meminta pertolongan kepada roh-roh terutama meminta kepada roh nenek-moyang, sudah dikenal pula pada masa itu, karena menurut pengetahuan kepurbakalaan sistem pemujaan roh nenek moyang telah dikenal sejak zaman prasejarah.

Siapa yang melakukan pengobatan pada zaman  dahulu di Bali ?



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT