Runtutan Upakara dan Pelaksanaan Ngaben


Tujuan Upacara Pangaskaran

Upacara pengaskaran (Inisiasi) memisahkan pengaruh suksma sarira terhadap antah karana sarira (roh). Inisiasi dilakukan terhadap adegan (simbul atman atau roh atau purusa atau antah karana sarira) dengan melaksanakan dwijati terhadap roh yang meninggal, bukan jasadnya. Dwijati ditandai dengan acara pemetikan adegan.
Urutan upacara pengaskaran adalah sebagai berikut:

  1. Ngeringkes kajang, digulung oleh pemangku dg penglingsir dan keluarga. Letakkan kembali di Bale Pengajuman.
  2. Sang Pemuput melakukan:
    1. Ngarga Tirta
    2. Surya Sewana
    3. Ngangge Giri Pati Stawa
    4. Ngangge Brahma Stawa.
  3. Untuk pengabenan welaka tingkat madya dan kanista boleh menggunakan tirta sudah puput (wiweka jnana).
  4. Mujanin pedudusan selengkapnya
  5. Tirta yang dibuat Sang Pemuput:
    1. Manah toya (jika belum manah toya ditempat toya). Membuat tirta pemanahan (manah toya) tiga kali pada tirta jun (air klebutan) dengan panah dan bunga teratai.
    2. tirta pareresik, tirta pengajum kajang, tirta pengringkes kajang, Tirta pasupati kajang dan pasupati adegan.
    3. tirta penembak. Air (tirta) ini dicari oleh keluarga pada tengah malam di air klebutan.
    4. tirta pebersihan, tirta saji, tirta pemerasan, tirta pengentas, tirta pralina, tirta penyaeb, utik gni pemrelina (Korek api dan kayu api khusus dipakai nyulut api pertama di pemuhunan).
  6. Memercikkan tirta ke kajang dan adegan.
  7. Ngutpeti Dewa Damar Kurung sampai selesai
  8. Ngutpeti Butha Petra
  9. Nguweci Desa, lalu mesirat keluhur dengan astra Sriyambhawantu.
  10. Puja ngumpulang Dewa termasuk Hyang Prajapati
    1. Aturin Dewa Pratista
    2. Aturin udanjali dan pedudusan selengkapnya
  11. Puja “Banten Penebusan” sampai selesai pemuktiannya
  12. “Lukat Sang Atma Banda”, ngeseng rebegeding atma petra dening puja “Merta Karani”
  13. Angesahakna sang atma petra saking banten krayunan, surupakna maring adegan, didasari dengan puja pengupeti atmapetra, dan rangsukakna mantra “Unapa Bhiseka” selanjutnya disambung dengan Puja Ayantu Atma Petra paweha “Diyus Kamaligi”, lanjut Puja Tigantu, Tisthantu, lalu henengakna sang atma.
  14. Lanjut “memuja keluhur”, ngaturang “puja pejaya-jaya” kehadapan Bethara dengan “Pradnya Paramitha”.
  15. Nama Pengaksaran. Tuduhan sang Atma dening idep, muspa ring Betara Surya, Sang Hyang Prajapati, Betara Guru, dan kehadapan Betara Siwa Dharma untuk memohon penugrahan sebagai sisya pengaskaran serta memohon Nama Pengaskaran.
  16. Penapakan: Memanggil sang atma untuk dibersihkan. Berikan wangsuh pada nilah, nyuwun kehadapan Betara Siwa Dharma kasinanggeh Dang Guru, kemudian ditapak dengan penuntun Surya (Sapta Ongkara) tidak dengan kaki sang pemuput, hanya dengan kekuatan jnana.
  17. Mepetik. Ambil “pengerebodan” tiwakin kepada adegannya, kemudian mengambil gunting, bunga tunjung putih, lalang seset mingmang (panca mustika) idep megunting rambutnya secara panca muka, kenyataannya secara simbul megunting ampyagnya sebanyak 5 kali. Bekas guntingannya dimasukkan kedalam blayag dan diisi kwangen. Kemudian diberikan eteh-eteh pedudusan selengkapnya.
  18. Kemudian dautaknya sang atma maserana bunga kalpika, melaksanaka Puja Pengesengan, agar menjadi ongkara sungsang nunggal kelawan sang pemuput mengaran ongkara madumuka. Seolah-olah sudah menunggal sang Sisya kelawan dangguru. Kemudian berikan tirta penglukatan, pebersihan dan puja pejaya-jaya, puja Pitra Byah, nama pitra, rangsukan mantra ke jero, jaya-jaya dengan Mantra Swaha Swada, pengidepnia sudah disaksikan oleh para leluhurnya yang telah berstana di pisang jati , selanjutnya mesirat di pisang jati.
  19. Kemudian nguncarang Puja Gangjantu, Jagrantu, dan nguncarang Puja Dewa Pitara Pratistha, pangidepnia sang pemuput, disuruh Dewa Pitara mengingat sanak keluarganya, disinilah baru disertakan membaca Mpu Plutuk Aben dan Pustaka Adhi Parwa.
  20. Selanjutnya Sang Pemuput mesirat keluhur, Ngaturang Dewa Buktem, serta Muktiang ke Dewa, kemudian mujanin Saji Dewa Tarpana, pemuktian saji kepada Dewa Pitara.
  21. Selanjutnya mujanin banten bebangkit (kalau ada). Kalau tidak ada, hanya banten pengadang-ngadangnya saja, sampai selesai pemuktian.
  22. Nguncarang Puja Pemerelina Butha.
  23. Malih mesirat keluhur, jaya-jaya ring Betara ngangge Puja Indrani Kesama Jagatnatha.
  24. Selanjutnya keluarga dituntun pengubaktiannya kehadapan:
    1. Sang Hyang Surya
    2. Sang Hyang Prajapati
    3. Sang Hyang Siwa Dharma
    4. Dewa Pitara
  25. Terakhir Sang Pemuput memberikan pewisik kpd Dewa Pitara. Dilanjutkan Puja Pengelepas Dewa Pitara agar kembali ke Sangkan Paraning Dumadi. Kalau upacara pengabenannya memakai upacara matetangi, maka tidak memakai puja pengelepas, hanya memakai puja pesimpen.
    1. Hanya Pandita yang sudah medwijati dan mapulanglingga yang diperkenankan muput pengaskaran. Pinandita ekajati tidak wenang ngaskara. Apabila dilanggar maka „nyumuka”.
    2. Setelah pengaskaran dilanjutkan dengan „pejayan-jayan” dan pebaktian seluruh keluarga.
    3. Dilanjutkan Pemerasan dan tarpana saji, dimana adegan dan kajang mengelilingi banten pemerasan diikuti oleh sanak keluarga semua termasuk cucu dan buyut.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Buku Terkait
Baca Juga