Runtutan Upakara dan Pelaksanaan Ngaben


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Login

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Ngaben dalam bahasa Bali berkonotasi halus yang sering disebut dengan Palebon, yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanam ke dalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.

Tujuan dari upacara ngaben adalah agar ragha sarira cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu panca maha buthadi alam ini dan bagi atma dengan selamat dapat pergi ke alam pitra. Oleh karenanya, ngaben sesuangguhnya tidak bisa ditunda-tunda. Mesti meninggal segera harus diaben.

Landasan filosofis ngaben bisa diuraikan secara umum dan secara khusus. Landasan Landasan pokok ngabensecara umum adalah lima kerangka agama Hindu, yang disebut Panca Sradha. Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah: Brahman, Atman, Karmaphala, Samsara, dan, Moksa. Sedangkan secara khusus ngaben dilaksanakan karena cinta yang mendalam terhadap leluhur dan pembebasan dosa.

Upacara ngaben sebagai simbol pembayaran utang kepada leluhur sarat akan nilai, norma, dan etika sosial kemasyarakatan dan bersifat religius adalah representasi dari sikap seorang anak yang hormat, berbakti, dan cinta kasih kepada leluhurnya. Upacara ngaben merupakan perwujudan dan pengejewantahan sradha dan bhakti seorang anak kepada orang tua atau leluhurnya.

Ngaben sering dipersepsikan dengan arti negatif yaitu “ngabehin” (berlebihan). Ada pula yang menyebut “ngabin” atau nampa. Ada juga yang mengartikan “Ngabuin” (menjadikan abu. Ngaben asal katanya “Api”, mendapat prefix ang menjadi “ngapi”, kemudian mendapat suffix “an” menjadi “ngapen”. Kemudian terjadi perubahan fonem P menjadi B menjadi ngaben.

Upacara Ngaben merupakan proses pengembalian unsur Panca Maha Butha kepada Sang Pencipta. Kekuatan Panca Maha Butha menciptakan adanya “Stula Sarira” yaitu Pertiwi (kulit), Teja (darah daging), Akasa (urat-urat), Bayu (tulang belulang), Apah (sumsum). Ada juga yang mengartikan lain, ngaben berasal dari kata beya (biaya atau bekal). Dari ngaben muncul kata meyanin atau ngabeyanin yang disingkat menjadi ngaben. Ngaben juga disebut sebagai Pitra Yadnya (Lontar Yama Purwana Tattwa). Pitra artinya leluhur atau orang yang mati, yadnya adalah persembahan suci.

Runtutan upacara Pitra Yadnya :

  1. Upacara Atiwa-tiwa
  2. Upacara Pengabenan
  3. Upacara Pemukuran (Penyekahan)
  4. Upacara Pengelemijian
  5. Upacara Pengrorasan (pada pengabenan)
  6. Upacara Nilapati (ngunggahang Betara Hyang)

Tahapan ini dapat diringkas menjadi empat bagian yaitu:

  1. Atiwa-tiwa
  2. Pengabenan
  3. Pemukuran/Penyekahan/Pengerorasan
  4. Nilapati.

Upacara Atiwa-tiwa memiliki tatanan upacara sebagai berikut:

  1. Ngeringkes (Upacara mebersih dan penyucian atau ngeringkes).
  2. Upacara menghaturkan Saji Pitra
  3. Upacara Pepegatan
  4. Upacara Pengiriman
  5. Upacara Pengrorasan

UPACARA ATIWA-TIWA

Asal kata Atiwa-tiwa: Ati = berkeinginan, Awa = terang atau bening atau bersih. Artinya: Keinginan melaksanakan pebersihan dan penyucian jenasah dan kekuatan Panca Maha Butha-nya. Atiwa-tiwa juga disebut upacara melelet atau upacara pengeringkesan. Merupakan upacara pebersihan dan penyucian secara permulaan thd jenasah dari kekuatan Panca Maha Butha. Dikenal dengan Puja Pitara utk meningkatkan kesucian Petra menjadi Pitara.

Ngeringkes atau Ngelelet pengertiannya adalah pengembalian atau penyucian asal mula dari manusa yaitu berupa huruf-huruf suci sehingga harus dikembalikan lagi. Manusia lahir diberi kekuatan oleh Sang Hyang Widhi berupa Ongkara Mula, didalam jasad bermanifestasi menjadi Sastra Mudra, Sastra Wrestra (Nuriastra) dan Sastra Swalalita. Ketiga kekuatan sastra ini memberi makna Utpti, Stiti, Pralina (lahir, hidup, mati). Ketiga sastra ini kemudian bermanifestasi lagi memberi jiwa kepada setiap sel tubuh. Sebagai contoh Sastra Wrestra (Nuriastra) antara lain:

  • A = kekuatan pada Ati Putih
  • Na = kekuatan pada Nabi (pusar)
  • Ca = cekoking gulu (ujung leher)
  • Ra = tulang dada (tulang keris)
  • Ka = pangrengan (telinga)
  • Da = dada
  • Ta = netra (mata)
  • Sa = sebuku-buku (sendi)
  • Wa = ulu hati (Madya)
  • La = lambe (bibir)
  • Ma = cangkem (mulut)
  • Ga = gigir (punggung)
  • Ba = bahu (pangkal leher)
  • Nga = irung (hidung
  • Pa = pupu (paha)
  • Ja = jejaringan (penutup usus)
  • Ya = ampru (empedu)
  • Nya = smara (kama)

Tubuh manusia memiliki 108 Sastra Dirga (huruf-huruf suci) yang pada waktu meninggal sastra-sastra itu dikembalikan ke sastra Ongkara Mula atau disebut Ongkara Pranawa. Proses pengembalian ini disebut Ngeringkes yang memerlukan upacara dan sarana. Atiwa-tiwa sudah merupakan pensucian tahap permulaan, sehingga setelah atiwa-tiwa jenasah sudah bisa digotong dinaikkan ke paga atau wadah. Jika dikubur tanpa atiwa-tiwa sesungguhnya jenasah tidak boleh digotong, tetapi dijinjing karena masih berstatus Petra.

UPAKARA ATIWA-TIWA

  1. Upakara Munggah di Kemulan : Peras, soda, daksina, suci alit asoroh, tipat kelanan, canang suci.
  2. Upakara Munggah di Surya : Peras, soda, daksina, tipat kelanan, canang pesucian
  3. Upakara disamping jenasah : Peras, soda, daksina. Tipat kelanan. Banten saji pitara asele. Peras pengambean, penyeneng, rantasan. Eteh-eteh pesucian, pengulapan, prayascita, bayekawonan. Banten isuh-isuh, lis degdeg (lis gede), bale gading (Kereb Akasa).
  4. Upakara Pepegatan : Pejati asoroh, banten penyambutan pepegatan angiyu, sebuah lesung, segehan sasah 9 tanding.
  5. Upakara Pengiriman : Pejati lengkap 4 soroh (termasuk pekeling di Prajapati), Saji Pitra asele, punjung putih kuning, tipat pesor dan nasi angkeb, Peras Pengambean, segehan sasah 9 tanding.
  6. Upakara Pengentas Bambang : Pejati lengkap asoroh, tumpeng barak, soda barak ulam ayam biying mepanggang, prayascita, bayekawonan, pengulapan, segehan barak atanding.
  7. Upakara di Sanggah Cucuk : Pejati asoroh, canang payasan, banten peras tulung sayut.

UPACARA PENGABENAN MEWANGUN

Semua organ tubuh (sebagai awangun) memperoleh material upakara sehingga upakaranya banyak. Ngaben jenis ini diikuti dengan Pengaskaran.

Ada dua jenis:

  1. Upacara Pengabenan mewangun Sawa Pratek Utama, ada jenasah atau watang matah.
  2. Upacara Pengabenan mewangun Nyawa Wedana, tidak ada jenasah tetapi disimbulkan dg adegan kayu cendana yang digambar dan ditulis aksara sangkanparan.

Nyawa Wedana berasal dari kata Nyawa atau nyawang (dibuat simbul). Wedana = rupa atau wujud. Dengan demikian Nyawa Wedana artinya dibuatkan rupa-rupaan (simbolis manusia).



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan