Sadangga Yoga dalam Wrhaspati Tattwa


Tahapan Yoga Dalam Wrhaspati Tatwa

Dalam Vrhaspati tatwa sloka 53 disebutkan ada enam cabang yoga, yang disebut dengan sadangayoga. Sadangayoga ini juga dapat dikatakan sebagai enam tingkatan yoga yang saling terkait, mengabaikan salah satu tingkatan yoga berarti menghancurkan sistem yoga itu dan itu berarti gagal. Bunyi dari sloka yang dimaksud adalah:

Nahan tang sadanga yoga ngaranya, ika ta sadhana ning sang mahyun Umangguhakena sang hyang wisesa denjika, pahawas tang hidepta, haywa ta iweng-iweng denta ngrengosang hyang aji, hana pratyahara yoga ngaranya, hana tarka yoga ngaranya, hana pranayama yoga ngaranya, hana dharanaya yoga ngaranya, hana tarka ngaranya, hana samadhiyoga ngaranya, nahan sadanga yoga ngaranya

Artinya:
Pratyahara (penarikan), Dhyana (meditasi), pranayama (pengendalian nafas), dharana (menahan), tarka (renungan), Samadhi (konsentrasi), itulah ke enam cabang yoga.Sadanga yoga menyatakan alat bagi orang yang ingin mencapai visesa. Pikiranmu harus tetap tanggap: tidak hanya mendengarkan ajaran suci. Patut kita ketahui prathyahara yoga, dhyana yoga, pranayama yoga, dharana yoga, tarka yoga, dan samadhi yoga.
– (Vrhaspatitattwa: 53)

1. Pratyahara yoga

Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwasloka 54 di uraikan sebagai berikut:

Ikang indriya kabeh winatek sangkeng wisayanya,

ikang citta budhi manah tan wineh maparan-parana,

kinemitaken ing citta malilang, yeka pratyaharayoga ngaranya

Artinya :
Pratyahara (penarikan diri) artinya indriya dari obyeknya, dengan upaya dan pikiran yang tenang. Semua obyek indria harus ditarik dari obyeknya dan manah tidak diperbolehkan bergerak kesana kemari. Ia harus dijaga oleh citta yang murni. –
Vrhaspati tatwa 54

Pratyahara ini berarti penarikan. Yang ditarik disini adalah menarik indra dari objek kesukaanya. Masing-masing indra memiliki objek kesenangan sendiri-sendiri dari objek kesukaanya, missal mata suka akan rupa dan warna yang indah, dan benci rupa dan warna yang buruk indra penciuman suka bau yang harum dan benci bau yang busuk dan ketiga indra yang lainya memiliki objek kesenanagnnya sendiri. Indra-indra inilah yang perlu ditarik dari objek yang disenanginya dan yang dibencinya lalu diarahkan kedalam diri.

Dengan pikiran yang terkendali konsentrasi jiwa dapat dilaksanakan dengan baik, semua keinginan untuk keperluan pribadi dan panca indria harus dikontrol.Ibarat seekor penyu yang menarik kepalanya dan anggota badannya, supaya jiwa menjadi harmonis dan seimbang.

Disaat seseorang itu mengahadapi suatu kesulitan dalam hidupnya janganlah terlarut dalam kesedihannya itu, sebaliknya ketika seseorang mendapatkan kebahagian janganlah terlalu dipuji-puji. Hal baik kita terima dengan senang hati, hal burukpun kita terima dengan senang hati.Demikianlah orang yang memiliki keseimbangan jiwa dalam menghadapi suka dan duka.Selain pengekangan terhadap panca indria penegkakangan terhadap jiwa perlu dilakukan sehingga jiwa dapat bersatu dengan atman. Dengan bersatunya atman dan jiwa, maka yang maha tahu akan menampakkan dirinya.

2. Dhayana yoga

Ikang jnana tan pangrwa-rwa, tatan wikara, enak heneng-heneng nira, umideng sad tan kawarana, yeka dhyanayoga ngaranya.

Artinya :
Dhyana (meditasi) adalah yoga yang terus menerus memusatkan pikiran kepada suatu bentuk yang tak berpasangan, tak berubah damai dan tidak bergerak.
Vrhaspati tatwa 55

Pengetahuan yang indah tak berpasangan tidak berubah indah dan tenang, tetap stabil, tanpa selubung yang demikian itulah Dhyana yoga

Dhyanayoga atau meditasi adalah keadaan pikiran dimana pikiran merupakan keberadaan yang mutlak yang tidak melakukan tindakan. Atman adalah sumber kekuatan yang tak terbatas dan kebijaksanaan dalam diri manusia dan Dhyana atau meditasi adalah alat untuk berhubungan dengan kebijaksanaan tertinggi.

Para Rsi Hindu mengatakan bahwa ketika pikiran tidak melakuakan apa-apa, pikiran dapat memasuki tahap kesadaran super atau turiya dan menyadari penyatuan dengan Tuhan. Setelah seseorang itu mencapai turuya maka seseorang tersebut dapat dikatakan telah mencapai moksa, terbebas dari siklus kelahiran dan kematian. Seseoarang yang dapat mencapai turuya ketika masih berada adalam tubuh manusia disebut dengan Jivanmukti.

Dhyana bukanlah suatu tindakan yang dapat dilakukan oleh seseorang, namun sebuah phenomena yang muncul dengan spontan dan tidak disadari ketika pikiran tidak berpikir atau berada pada tahap tidak melakukan tindakan. Meditasi dan konsentrasi dapat dibedakan dengan sifatnya yang tidak terintrupsi.Konsentrasi diibaratkan dengan menuangkan air sedangkan Meditasi diibaratkan menuangkan minyak. Keduanya kan jatuh pada tempat yang sama, namun jatuhnya air tidak akan selancar minyak. Air memiliki kecendrungan untuk berpencar menjadi titik-titik air, sehingga mengakibatkan aliran yang tidak bias.

3. Pranayama yoga

Ikang sarwadwara kabeh yateka tutupane, mata, irung, tutuk, talinga,ikang vayu huwus inesep nguni rumuhun, yateka winetwaken maha waneng wunwunwn, kunang yapwan tan abhyasa ikang vayu mahawane ngkana, dai ya winetwaken mahawaneng irung ndan saka sadiki dening mawetwaken vayu, yateka pranayamayoga ngaranya.

Artinya:
Pranayama (pengatuaran nafas) ialah menutup semua jalan keluar nafas dari batok kepala (pada saat meninggal). Semua jalan keluar harus ditutup mata, hidung, mulut, telinga.Nafas yang telah ditarik dikeluarkan melalui batok kepala. Jika orang tidak mengeluarkan nafas dengan cara ini, maka nafas ajkan keluar melalui hidung. Tapi ia hanya mengeluarkan sebagian kecil dari nafas itu. Inilah yang dinamakan pranayamayoga.
Vrhaspati tatwa 56

Pranayama berarti pengaturan pernapasan yang lancar panjang dan dalam.Manfaat dari peranayama ini adalah untuk membantu menghilangkan pikiran yang tidak diinginkan. Sehingga mempermudah kita untuk berkonsentrasi dan bermeditasi. Para Rsi mengatakan nafas yang pendek dan teratur akan meningkatkan aktifitas mental, yang menghasikan pikiran yang tidak diinginkan yang akan merusak pikiran.

4. Dhrana yoga

Hana ongkara sabda umunggwing hati, yateka dharanan, yapwan hilang ika nora karengo ri kala ning yoga yateka sivatma ngaranya, sunyawak bhatara siva yan mangkana yeka dharanayoga ngaranya.

Artinya :
Omkara yang merupakan sifat siva harus ditempatkan dalan hati penuh dengan tatva. Karena Omkara dipegang terus maka dinamakan “menahan” dhrana. Suara Omkara bertempat dihati. Orang harus memusatkan pikiran kepadanya.Bila lenyap dan tidak didengarkan saat beryoga dinamakan Sivatman. Dalam keadaan seperti itu Bhatara Siva dikatakan dalam keadaan kosong. Inilah dharanayoga.
Vrhaspati tatwa  57

Dharanayoga artinya menguasai indria dibawah pengawasan manah (pikiran) dan memusatkan pikiran pada objek meditasi. Objek dari konsentrasi dapat berupa gambaran dari dewa, sebuah mantra, nafas dan yang lainnya.

5. Tarka yoga

Kadi akasa rakwa sang hyang paramartha, ndan ta palenanira lawan akasa, tan han sabda ri sira, ya ta kalingan ing paramartha,papada nira lawan awing-awang malilang juga, yeka tarka yoga ngaranya.

Artinya:
Tarka (renungan) ialah terus menerus memusatkan pikiran kepadaNya yang wujudnya sangat halus, tetap dan tenang dan hening.
Vrhaspati tatwasloka 58

Engkau harus mengetahui bahwa paramartha sangat halus. Tetapi juga ada bedanya dengan yang halus itu yaitu bahwa paramartha tanpa suara.Itulah penjelasan paramartha yang dapat dipersamakan dengan akasa.Ia suci. Itulah yang disebut tarka yoga.

6. Samadhi

Ikang jnana tanpopeksa, tan panggalpane, tan hana kaharep nira, tan han sinadhyanira, alilang tan kawaranan juga, tatan pakahilang, tatan pawasta ikang cetana, apan mari muhidep sira ikang sarira, luput saking catur kalpana.Catur kalpana ngaranya, wruh lawan kinaweruhan, pangawruh lawan  nahan yang caturkalpana ngaranya, ika ta kabeh tan hana ri sang yogisvara yateka Samadhi ngaranya. Nahan yang sadanga yoga ngaranya, pinaka jnana sang pandita matangyang kapangih sang hyang visesa, ika kayogiswaran mangkana, yateka karaksan ring dasasila.

Artinya :
Samadhi (konsentrasi) ialah terus menerus merenungkan-Nya sebagai yang mutlak, tidak dapat dijelaskan, tanpa nafsu, tenang, tak berubah dan tanpa ciri.Jnana (pengetahuan) itu mutlak, tak dapat dijelaskan, tanpa nafsu, tanpa tujuan, suci, tak berselubung, dan tidak terbinasakan.Cetana ini tidak bertujuan.Ia tidak memiliki kesadaran fisik. Ia bebas dari catur kalpanaCatur  kalpana artinya pengetahuan dan yang diketahui, sarana untuk mengetahui dan orang yang mengetahui. Itulah keempat kalpana.Semua ini tidak ada padayogisvara.Inilah yang dinamakan samadhiyoga. Sadangayoga ini harus dimiliki oleh seorang pandita. Dengan demikian orang akan mencapai visesa. Sifat yogisvara ini harus ditunjang oleh kesepuluh kebajikan.
Vrhaspati tatwa 54

Samadhi merupakan tahap terakhir yoga baik tahapan menurut Wrhasapati Tattwa dalam Sadanggayoga, maupun tingkatan yoga menurut Rsi Patanjali dalam Astangayoga. Samadhi adalah “penyatuan dengan dengan Tuhan”. Dalam sebuah Samadhi yang sadar seorang akan mencapai  kekuatan super-natural (yang disebut dengan siddhi) dengan kekuatan dari latihan yoga.

Kesadaran super Samadhi secaraumum terdapat dua jenis:Salvikalpa Samadhi dan Nirvikalpa SamadhiSalvikalpa berarti “terpisah” dan Nirvikalpa berarti tidak ada pemisahan. Dalam salvikalpa Samadhi para pemuja mempertahankan sebuah identitas yang terpisah (hubungan subyek-obyek) dari Tuhan. Dalam Nirvikalpa Samadhi hubungan subyek-obyek berakhir dan seorang pemuja itu menjadi satu dengan Tuhan.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

HALAMAN TERKAIT
Baca Juga