- 1Konteks Sosio-Spiritual Lontar Tutur Janantaka
- 1.1Dekadensi Moral, Hukum Karmik dan Patologi Kosmis di Angantaka
- 2Botani di Hutan Pringgalet dan Tanda Cacat Bawaan (Candala)
- 3Teologis Siwa-Brahma dan Purifikasi Hutan Pringgalet
- 4Asal-Usul Kutukan Tumbuhan Tertentu
- 4.1Kasus Jempiring Alit (Tuludnyuh) dan Sarikonta
- 4.2Cempaka Alit (Taru Base) dan Gantimun
- 5Klasifikasi Kayu dalam Sistem Arsitektur Bali
- 5.1Aturan Khusus Taru Brahmana
- 5.2Aturan Khusus Taru Ksatria
- 5.3Klasifikasi Kayu Khusus Bangunan Lumbung dan Dapur
- 5.4Taru Wangsa Dewa dan Brahmana Swargga
- 6Terjemahan Lontar Tutur Janantaka
Teologis Siwa-Brahma dan Purifikasi Hutan Pringgalet
Kerusakan hutan Pringgalet akibat timbunan jasad penderita lepra menimbulkan dampak kosmis yang meluas. Kebisingan dan hawa panas dari bumi menembus lapisan sapta patala, menimbulkan kepanikan pada Dewi Bumi (Bhatari Pretiwi) serta membuat punggung naga kosmik Sanghyang Ananta Bhoga kepanasan. Hal ini memicu kemarau panjang, kerusakan ekosistem, serta kelaparan hebat di dunia.
Melihat bencana kosmis ini, Sanghyang Prameswara (Dewa Siwa) tergerak oleh rasa iba. Beliau mengutus Dewa Brahma, untuk turun ke Bali menemui Mpu Wita Dharma di Silayukti. Dewa Brahma menyampaikan titah agar Mpu Wita Dharma segera pergi ke hutan Pringgalet untuk melaksanakan upacara penyucian bumi (pamretista bhumi kamalan) demi memulihkan keharmonisan dunia.
Mpu Wita Dharma menuruti perintah tersebut dan melakukan perjalanan spiritual ke hutan Pringgalet. Setibanya di perbatasan hutan yang gersang dan tertutup kabut tebal akibat aura kematian, beliau memutuskan berteduh di bawah pohon. Di sana, dua pohon yang tumbuh di tepi jalan, yakni pohon Bayur dan pohon Gampinis, secara ajaib menunjukkan perilaku layaknya manusia.
Mereka mengangkat dahan-dahannya untuk menyembah (manadhat manganjalyan) dan menyambut kedatangan sang pendeta dengan penuh rasa hormat serta penyerahan diri (bhaktam). Melalui kedua pohon pembuka jalan ini, Mpu Wita Dharma menyampaikan misinya untuk menyucikan seluruh wilayah hutan agar kayu-kayu tersebut terbebas dari kutukan lepra dan layak digunakan oleh manusia sebagai bahan bangunan suci maupun rumah tinggal.
Mendengar kabar gembira tersebut, Bayur dan Gampinis bergegas menyebarkan berita ke seluruh pelosok hutan. Seketika itu pula, keluarlah segala jenis makhluk halus, siluman, dan roh halus yang selama ini bersemayam di dalam kegelapan pohon-pohon tersebut.
Penampakan mereka sangat mengerikan dan menjijikkan, mewakili berbagai bentuk astral negatif seperti tonya, kowok, mamdhi, gregek tonggek, wong samar, bhuta, kala, pisaca, danawa, wil, preta, raksasa, dan dengen. Mereka datang berbondong-bondong menghadap Mpu Wita Dharma sambil memikul persembahan berupa hasil hutan, umbi-umbian (phala bungkah), buah-buahan (phala gantung), serta aneka jenis bunga sebagai tanda bakti dan permohonan penyucian.
Mpu Wita Dharma menolak untuk mengonsumsi persembahan tersebut sebelum ritual penyucian dilakukan, karena seluruh sesaji itu masih mengandung kotoran sisa lepra. Beliau kemudian mengambil sikap meditasi (maprayoga) dan mengumandangkan mantra suci, yaitu Sanghyang weddha maha wirocana siddhi, untuk memanggil kekuatan pembersih dari Sanghyang Wirocana. Dari dalam wadah suci (Siwambha), beliau memercikkan air suci kehidupan (tirtha mretta Siwambha) ke seluruh arah hutan.
Seketika, pancaran air suci tersebut melebur segala bentuk rupa menyeramkan dari para roh halus. Jiwa-jiwa yang terperangkap dalam wujud bhuta kala seketika berubah wujud menjadi dewa, apsara, dan apsari, lalu kembali ke alam surgawi di bawah perlindungan Sanghyang Sangkara dan Bhatara Iswara.
Hawa panas yang menyiksa bumi langsung sirna, digantikan oleh kesejukan yang menjalar hingga ke dasar bumi, menenangkan Bhatari Pretiwi dan Sanghyang Ananta Bhoga, serta memulihkan kesuburan tanah spiritual Bali.



