Tutur Janantaka

Teo-Ekologi Kayu dan Arsitektur Bali dalam Lontar Janantaka


Terjemahan Lontar Tutur Janantaka

1b. Ong Awighnam Astu Nama Sidem. Nihan Tatwa Janantaka ngaran, restinira Sanghyang Witta Dharmma, ring Silayukti Bangsul, kawruhakna. Brahmaputro labhate brahman, brahmanam bhiksu seewah, pramanawanandha dharmmah, sidhi yhogi mahajnanam. Kawuwusen Bhatara, anuwuh hana wangsa brahmana gotra, subhiksuka wangsanya, parama, purusa dharmma, wimala, pasajnanira Sri Mpu Maha Witta Dharmma, Sanghyang Mahadewa panngeran nira waneh, pandhita paramartha, putusing anja, sidhi wakya pangadganira, tuhun Bhatara skala, asram eng Silayukti rikeng bhanwa Bangsul, antyan katmyaning patapanira, mindha wekasing brahma kahyangan.

Terjemahan :
Semoga tanpa halangan dan berhasil. Inilah kebenaran hakiki (tatwa) yang bernama Janantaka, buah ciptaan Sanghyang Witta Dharmma di Silayukti, Bali, agar diketahui. Putra Brahma memperoleh kebajikan utama, menjadi bhiksu Siwa yang agung, memegang kebenaran yang membawa kebahagiaan, serta memiliki kemampuan yogi yang tinggi dalam ilmu pengetahuan suci. Dikisahkanlah Bhatara yang menurunkan garis keturunan wangsa Brahmana, keturunan yang membawa kemakmuran, utama, menjalankan kewajiban utama, suci murni, bernama Sri Mpu Maha Witta Dharmma, yang juga digelari Sanghyang Mahadewa. Beliau adalah pendeta yang memahami hakikat tertinggi, putus dalam pengetahuan spiritual, bertuah setiap ucapannya, bagaikan Bhatara yang kasat mata (sekala), berparahyangan di Silayukti di wilayah pulau Bali. Tempat pertapaannya sangat menenteramkan hati, bagaikan puncak kahyangan Brahma.


2a. Padhanira suci nirmmala, tan hana malanya, saksat amretta swabhawaning asrama, umisrama ring swargga kahyangan, mangka kotamanya nguni, tambening hana gotra brahmana wangsa ring Bali tekeng Jawa dwipa nguni, sapa ngundurira Sang Ratu Bali pulina, Maya Danawa, oyeng bata bang, iwekasan kang predesa mwang kadatwanira, haneng bata anyar, inaranan Bedha Ulu, tumka katekeng mangke. Kottaram natam angantakam, parthi wana mabhu lokam, panca patyam panca dandhan, lara pye ilaptakam. Kalinganya, hana ta ratwing Bangsul, pasajnanira, Siraryya Parthiwa, maha bala, panca patih pamong swanagaranira.

Terjemahan :
Kedudukan Beliau sangat suci murni, tanpa ada noda, bagaikan air suci amerta sifat dari tempat pertapaan itu, yang mengalirkan ketenteraman bagai surga kahyangan. Demikianlah keutamaannya dahulu, awal mula adanya garis keturunan wangsa Brahmana di Bali hingga di Pulau Jawa purba. Yaitu setelah dikalahkannya Raja Pulau Bali bernama Maya Danawa, yang hancur berkeping-keping, sehingga kemudian daerah desa dan istananya berada di Bata Anyar, dinamakan Bedulu, sampai dengan sekarang. Di masa lalu ada seorang raja yang memerintah, menguasai dunia fana, dibantu oleh lima patih dengan lima tugas, namun ditimpa wabah penyakit yang menular. Maksudnya, ada seorang raja di Bali yang bernama Siraryya Parthiwa, yang sangat kuat, dibantu oleh lima orang patih yang mengasuh negaranya.


2b. Patih mapatih Rangga Kadheyam, Dmung Aryya Adipatman, mantranam rangganam gunam, kanuruhan Dmang Dmung Wiuryyam. Kalinganya, hana pretameng gunanya, apan pepek para dipatinya, patih mapatih, Rangga, Dmang Dmung, Tumenggung. Rangga katamanan cuntaka, aternahan lepya, gring cukil daki, apan atangnyan samangkana, uduh aom sira sang angrenga, wasitaning kata aywa tama yong budhinta, ridonya sangkana, kang tinemunya, phalaning subha asubha karmma nguni, ri panadmanya, tan pangidep pwa rasaning agama, tan pabhudi prekretti, tan pasima krama, tapwanana kasilan, kewala wimoha angkara,

Terjemahan :
Para patihnya yaitu Rangga Kadheyam, Dmung Aryya Adipatman, menteri-menteri yang cakap, serta Kanuruhan Dmang Dmung Wiuryyam. Maksudnya, mereka memiliki kecakapan yang utama, karena lengkaplah para pemimpinnya; patih, rangga, demang, demung, dan tumenggung. Namun sang Rangga kemudian ditimpa kekotoran (cuntaka), menderita penyakit kusta (lepya) dan penyakit kulit menular (cukil daki). Mengapa bisa demikian? Wahai dengarkanlah, kisah cerita ini janganlah dijadikan keraguan di dalam pikiranmu, mengenai asal mulanya. Apa yang dialaminya adalah buah dari perbuatan baik dan buruk (subha asubha karma) di masa lalu dalam penjelmaan hidupnya, karena tidak menuruti ajaran agama, tidak berbudi pekerti, tidak menaati tata krama, tidak memiliki susila, melainkan hanya dipenuhi kebingungan dan keangkuhan,


3a. dursila, sahananing ulah tan yhogya, inulahakenya ring rat, tan senggaha sor luhur, apan tan pasasana tan susila, mangdohi dharmma, mangkana agung dosanya, mahabhara sinandangnya, teka raka patinya, naraka loka dinunungira, pinilara de sang wateking cikrabala kingkara bhuta, pinanca bhaya, lwirnya, ginseng maring kawah gni, kinla aneng jambangan tambangan tamra, tan mari dinandha-dandha, tinibaken maring aweci, banu latek, bla gadabah, andadi sira hentiping kawah. Iwekasan, uwus tutug sengkernya, yata inangkida mwah, sakeng kawah kinon mangjanma, maring madhcyapada, kari luluh, kasaputan dening ngaweci,

Terjemahan :
berperilaku buruk, segala tingkah laku yang tidak patut dilakukan di dunia, tidak membedakan bawah dan atas (tidak tahu sopan santun), karena tidak memegang ajaran hukum dan kesusilaan, menjauhi kebenaran (dharma). Begitu besar dosanya, sangat berat beban yang dideritanya, hingga menemui kematiannya. Alam nerakalah yang ditujunya, disiksa oleh kawanan mahluk bawah karun (cikrabala kingkara bhuta), ditimpa lima bahaya (panca bhaya), seperti: dipanggang di dalam kawah api, direbus di dalam kawah tembaga, tiada henti-hentinya dihukum, dicampakkan ke neraka aweci yang penuh air lumpur mendidih, hancur lebur bagaikan kerak kawah. Akhirnya setelah habis masa hukumannya, barulah diangkat kembali dari kawah neraka itu dan diperintahkan menjelma kembali ke dunia fana (mercapada), namun masih membawa sisa-sisa kehancuran dan diselimuti oleh dosa neraka aweci,


3b. panusupa ring angganya, jabajro, yata ikang weci, wakasan, matemahan lara kalepyan, gring ila, cukil daki, satupanya, metu gring jara marana, salaginya maurip, tan hanang usada angde warasnya, ta nora wenang tinambanan, dening manusa pada apan pangjanmaning wwang sumala papa, mati dursila, ngasta, dusta, ngasu munhung, nglangkahing karang ngulu, sad tetayi, mwang sakaranya kabeh, tan antuk panglukatan de sang Brahmana, pandhita Siwa Bhudha, Bhujangga, mangkana rahat lara bhara tinmu sinandhangnya, salaginya urip mangke. Wuwusan kuttara, sang prabu Parthiwa, kinabehan.

Terjemahan :
menyusup ke dalam tubuhnya, luar dan dalam, noda neraka itu pada akhirnya menjelma menjadi penyakit kusta (kalepyan), penyakit kusta menular (gring ila), dan penyakit kulit kronis (cukil daki). Bersamaan dengan itu muncul pula penyakit tua dan mematikan (jara marana). Selama hidupnya tiada obat yang mampu menyembuhkannya, tidak dapat diobati oleh sesama manusia karena itu adalah penjelmaan orang yang penuh noda dan nista, mati dalam keadaan durjana, mencuri, merampok, berzina, melanggar batas wilayah suci (nglangkahing karang ngulu), melakukan enam perbuatan kejam (sad tetayi), serta segala macam dosa lainnya. Mereka tidak mendapatkan penyucian (panglukatan) dari Pendeta Brahmana, baik Siwa, Buddha, maupun Bhujangga. Begitu berat penderitaan yang harus diterimanya selama masa hidupnya sekarang. Demikianlah dikisahkan kelanjutannya tentang Sang Prabu Parthiwa beserta seluruh bawahannya.


4a. Sukskamana ti duhkah, maha wighna murtya papan, patakan cuntaka pumnam, sarwwa narajagat pumnam. Kalinganya, antyanta mahanara sukska twas nira, kaduhkitan, ridenya maha wighna swangga sarira nira kinabehan, ridening mana di ikang mala papa ptaka, mwang cuntaka, apan taya wenang maka pamari sudaning cuntaka ika kabewh, ridonyan paripumna waluya jati, umangguhaken kadirggahyusan, kumwa sawadwa nagaranira, kinabehan, astu untu ikang ambek, sangkaya wekasing hyang tuduh, umawak widhi jati, paren sida ruwat mala papa patakanya, lebur sagunging desa, mwang dandha upadrawa, temahan kawitan nira nguni, yata ritelas ira sang prabhu,

Terjemahan :
Pikiran diliputi duka mendalam, rintangan besar mewujud dalam dosa, kekotoran dan malapetaka memenuhi, seluruh rakyat di dunia ikut merana. Maksudnya, sangat sedih dan menderita hati Beliau, duka yang mendalam karena rintangan besar menimpa seluruh tubuh jasmani mereka semua, yang disebabkan oleh menumpuknya noda, dosa, malapetaka, serta kekotoran (cuntaka). Karena tiada yang mampu membersihkan kekotoran itu semua agar kembali suci murni seperti sediakala dan memperoleh umur yang panjang bagi seluruh rakyat negaranya. Semoga atas kehendak dari Sang Hyang Widhi (Tuduh), yang mewujudkan takdir sejati, bersama-sama berhasil dilebur segala noda, dosa, dan malapetaka tersebut, serta dibersihkan dari segala kutukan dan bencana yang menimpa seluruh desa, agar kembali seperti keadaan para leluhurnya dahulu. Demikianlah setelah Sang Prabu


4b. umangen-angen, yata sigra inajnanira, rakriyan mapatih mawreddha, inutus denira umarek, rijengira Sanghyang maha pangempwan maka sajna Mpu Witta Dharmma, sang wasu prapta tumurun mareng Bali, tumut sesanakanira, kang mangaran Sanghyang Gni Jaya, umadeg ratu ing banwa Bangsul, akadatwan haneng giri Lempuyang, rumaksa kang banwa. Kunang sira Sanghyang Witta Dharmma, awesma, haneng Tulikup, manguna sramamwah haneng giri Canditiga, ingaranan Silayukti, irika unggwangnira pasang yoga samadhi, Sanghyang Wirocaha ginengira nityakala, amatitis sida,

Terjemahan :
merenung, maka segeralah Beliau memerintahkan rakriyan patih tua, diutus oleh Beliau untuk menghadap ke hadapan Sanghyang pendeta agung yang bernama Mpu Witta Dharmma, yang baru saja datang turun ke Bali bersama saudara-saudaranya, di antaranya yang bernama Sanghyang Gni Jaya yang bertahta menjadi raja di pulau Bali, beristana di Gunung Lempuyang untuk menjaga pulau tersebut. Adapun Sanghyang Witta Dharmma bertempat tinggal di Tulikup, serta membangun pertapaan pula di Gunung Canditiga yang dinamakan Silayukti. Di sanalah tempat Beliau melakukan yoga dan samadhi. Ajaran Sanghyang Wirocana (Matahari/Cahaya Sejati) yang Beliau agungkan senantiasa, guna mewujudkan keberhasilan,


5a. ning langgeng haywanikanang jagat karwa, haneng Bangsul, tekaning sapangisinya, sarwwa prani sarwwa tumuwuh, sarwwa dadi, dumadi janma manusa, umangguhaken, suka sadya rahayu, salawas nira sang nipuna kalih, andiri haneng Bangsul, matangnya rahayu paripumna. Siapa taya sira kalih, kojara, sira ratu kaping rwaning mandiryya aji Bali, Sanghyang Genijaya, kalawan antenira panengah, apanlah, Sanghyang Mpu Witta Dharmma, pangaranira waneh, brahmarsi Wirocanajati pangadeganira, maha suci nirmala agenanira, nyata Sanghyang Dwijendra kapretama pasenggahanireng rat, ngapa kalinganya, Dwije, ngaran,

Terjemahan :
keselamatan yang kekal bagi kedua alam di Bali beserta seluruh isinya; segala mahluk hidup, tumbuh-tumbuhan, dan segala yang tercipta termasuk penjelmaan umat manusia, agar memperoleh kebahagiaan, kedamaian, dan keselamatan selama kedua orang suci yang bijaksana tersebut bertahta di Bali, sehingga keadaan menjadi rahayu paripurna. Siapakah sesungguhnya kedua beliau itu? Dikisahkan, Beliau adalah raja kedua yang memerintah di Bali yaitu Sanghyang Gni Jaya, bersama adik penengahnya yang bernama Sanghyang Mpu Witta Dharmma (nama lainnya). Beliau bertahta sebagai Pendeta Brahmana (Brahmarsi) berwujud Wirocana sejati, kedudukan Beliau sangat suci murni, dan di dunia Beliau dikenal dengan sebutan Sanghyang Dwijendra yang pertama. Apakah arti dari kata Dwijendra? Dwije berarti


5b. pandhita, maka purohitanikang jagat, sira juga wenang amrettanin g halajagat, sirajuga wenang halaning jagatraya, magawe kanirmmala. Ndya pangaran Sang Bhupalaka, magawe kaparipumnan, langgeng urip ikang nagara, amukti, suka wiryya wibhawa. Mangkana kalinganika sang Rwa sanak, sang pandhita mwang nathaning jagat, saturun-turun mandiryya, riwekasan tingeran Sanghyang Dwijendra Sakti, yatika musteka pastika maring Bangsul, mwang prejurit Jawa, kwehnya sawatara, samas diri, maniwi padeganira Sanghyang Gnijaya Sakti,

Terjemahan :
pendeta, yang menjadi pendeta penasihat (purohita) dunia. Beliau pulalah yang berwenang memberikan air kehidupan (amerta) atas keburukan dunia, Beliau pula yang mampu melebur keburukan jagat raya demi menciptakan kesucian murni. Adapun raja (Bhupalaka) bertugas mewujudkan kesempurnaan, menjaga kelangsungan hidup negara, menikmati kebahagiaan, kejayaan, dan kewibawaan. Demikianlah hubungan kedua bersaudara tersebut, antara sang pendeta dan sang penguasa dunia, yang turun-temurun bertahta. Di kemudian hari Beliau digelari Sanghyang Dwijendra Sakti, yang menjadi permata utama di pulau Bali, beserta para prajurit dari Jawa yang jumlahnya sekitar empat ratus orang, semuanya mengabdi di bawah tahta Sanghyang Gnijaya Sakti,


6a. bima sakti bhayu mangkana bisekanira, sumendi ratu maring Bangsul, wetning inutus de yayahira, padhuka nira Bhatara Guru, Sanghyang Pasupati pasenggahanira ring rat, akayangan haneng gunung yang, dukaneng Yawa mandhala, hyang haneng Maha meru, duking jambu dwipa, Sanghyang hyangning hyang dukaneng Giri Raja, ngaran, Gunung Agung maring Bangsul. Kunang Bhatara Gnijaya Sakti, kang pretama akayangan maring Adri Karang, ngaran, Lempuyang ngaluhur, tan milu sira tinengeran Sanghyang Dwijendra, apan tan hana pandhita purohita dulurnira, sira juga anak padhuka Bhatara prame Swara, kinwam mandiryya ratu mareng Bangsung, sira ingiring tekaping

Terjemahan :
yang bergelar Bima Sakti Bhayu, yang menggantikan tahta raja di Bali, dikarenakan diutus oleh ayahandanya, Paduka Bhatara Guru yang bergelar Sanghyang Pasupati di dunia, yang berstana di Gunung Hyang ketika berada di tanah Jawa, berstana di Mahameru saat berada di Jambudwipa, dan menjadi Dewanya para Dewa ketika berada di Giri Raja yaitu Gunung Agung di Bali. Adapun Bhatara Gnijaya Sakti adalah yang pertama kali berstana di Adri Karang yang bernama Lempuyang Luhur. Beliau tidak ikut digelari Sanghyang Dwijendra karena Beliau bukanlah pendeta purohita (penasihat spiritual), melainkan Beliau adalah putra Paduka Bhatara Parameswara yang diperintahkan untuk bertahta menjadi raja di Bali. Beliau diiringi oleh


6b. para ratu, ksatriya, bata mantri roaring banwa Bangsul, nimitaning akeh hananya para menak, ksatriya, aryya, wesya, maring Bangsul, mangkana kottara kanda nireng nguni. Walyan purwwa canam tatwam, parthiwam ratu manggalam, angantaka swa praja nakam, jara marana lepyasca. Kalinganya, waluyakna kang kata muwah, pangulu sira sang ratu parthiwa, premuka sang andiryyeng angantaka, katamanan lara jara marana, kinabehan tekaning bata mantri, papatih, wadwa peka. Lingira sang ratu, ring sang patih matuha, ndah ta kita kamung patih matuha, ndak mangke juga ingulun, umutus kita, lungha maring Silayukti, umarek ri padanira Sanghyang Mpu Wawu prapta,

Terjemahan :
para raja, ksatria, dan para menteri di wilayah pulau Bali. Itulah sebabnya mengapa ada banyak golongan bangsawan, ksatria, arya, dan wesya di Bali; demikianlah kisah sejarah zaman dahulu. Kembalilah pada kisah semula tentang kebenaran, sang raja Parthiwa yang membawa keselamatan, namun rakyat dan negaranya terancam binasa oleh penyakit tua, kematian, dan kusta. Maksudnya, dikisahkan kembali pemimpin mereka yaitu Sang Ratu Parthiwa, penguasa utama di Angantaka, yang ditimpa wabah penyakit tua dan mematikan (jara marana), beserta seluruh menteri, patih, dan rakyat jelatanya. Berkatalah sang raja kepada patih tua: “Wahai engkau patih tua, sekarang juga aku mengutusmu pergi ke Silayukti, untuk menghadap ke hadapan Sanghyang Mpu yang baru datang,”


7a. bhiseka Sanghyang Witta Darmma, antyan katisayaning kasutapanira, yogya sira anglukat, ikang wwang sumala papa, kadi kami mwang kikta tiki sadaya, haturakna pangasrayan pinakeng ulun, pareng lawan kita kabeh, samapta tang wwang sapraja angantaka, malaku urip, sidaning rwat ikanang wighna papa ptaka, hilanganing lepyaning Sarara, maka don iccha nira Sanghyang pangempwan dateng ku, ri pinakeng hulun, iki kabeh. Mangkana huna desanira sang prabhu Parthiwa. Satur sembah sira patih matuha, angiring sajnanira sang prabhu, tumuli mamwit lumampah datengeng ngasrama, ring Silayukti. Tan titanen lampah ireng awan, wawang prapta ta sira ring asrama Silayukti,

Terjemahan :
yang bergelar Sanghyang Witta Dharmma. Sangat utama kekuatan pertapaannya, sangat patut Beliau menyucikan (anglukat) orang-orang yang penuh noda dan nestapa seperti diriku dan kalian semua. Sampaikanlah permohonan perlindungan dari diriku bersama dengan kalian semua, seluruh rakyat di wilayah Angantaka, memohon kelangsungan hidup agar berhasil dilebur segala rintangan, dosa, dan malapetaka ini, serta hilangnya penyakit kusta dari tubuh jasmani. Tujuannya adalah memohon belas kasih dari Sanghyang Pendeta Agung agar sudi datang kepadaku dan kita semua di sini.” Demikianlah perintah dari Sang Prabu Parthiwa. Patih tua pun menghaturkan sembah, menaati perintah sang raja, kemudian memohon izin untuk berjalan menuju pertapaan di Silayukti. Tidak diceritakan perjalanannya di jalan, segeralah ia tiba di pertapaan Silayukti.


7b. kaadang Sanghyang Mpu Witta Dharmma, huwus sira camana, patirtha gocarana, glarira kawi rocanan, henti maha mretta parimbhawanira, tumingali dateng sira rakriyan patih matuha, sadara mengenes lampah ira, nadpada panganjali, ri padanira Sang Yatiwara, sarwwi karengha saturane sira, dhuh sang tabe ya, singgih sanghyang maha pengempwan, ksamakna kawula, sang maha widwan, doning prapta umarek, andha kasinan matan. Amuwus sira Sanghyang Witta Dharmma, uduh, tambuh manira, ripakanira sang wawu prapta, sangkeng ndi sangkanta, paran paksanta umareng sun, haneng asrama.

Terjemahan :
Kebetulan Sanghyang Mpu Witta Dharmma baru saja selesai melakukan pembersihan diri (camana) dan persembahyangan dengan air suci, menerapkan ajaran suci Wirocana. Pancaran kewibawaan bagai air suci amerta membayang dari diri Beliau. Beliau melihat kedatangan rakriyan patih tua yang berjalan dengan penuh hormat dan sedih, menghaturkan sembah anjali dengan bersujud di kaki Sang Pendeta Agung (Yatiwara), seraya menyampaikan maksud kedatangannya: “Duhai mohon ampun, hamba menghadap Sanghyang Pendeta Agung, maafkanlah hamba yang bodoh ini atas kelancangan datang menghadap untuk memohon belas kasih.” Berkatalah Sanghyang Witta Dharmma: “Wahai, aku belum mengenalmu yang baru datang ini. Dari manakah asalmu, dan apakah maksud tujuanmu datang menemuiku di pertapaan ini?”


8a. hatisaya madurggama arusit, apan tan kasabeng wwang, mangkana wuwus nira Sanghyang wawu prapta. Umatur sira sang pinaka duta mwah, singgih pakanira, sajna Sanghyang sinuhun, ingwang iki, pinaka patih matuwa, deranak sang Yatiwara, tuhan ingsun Sri Prabu Parthiwa, pasajnanira sumendi haneng nagara Angantaka, doning nghulun prapta ngke, umarek ri jeng Sanghyang sinuhun, marmmara Sreddha tumedhun mara mareng nagara Angantaka, asunga pangruwating mala, papa ptaka, cuntaka, maka gleh lebuh, angga sarira ranak Sanghyang sinuhun sang natha, tumutang ulun, patih, bata mantri, mwang jana peka kinabehan,

Terjemahan :
“Pertapaan ini sangat terpencil dan sulit dijangkau, karena jarang dilewati oleh orang-orang.” Demikianlah sabda Beliau yang baru datang itu. Sang utusan pun hatur sembah kembali: “Daulat Paduka Sanghyang yang dijunjung, hamba ini adalah patih tua dari hamba Tuanku Sang Yatiwara, yaitu gusti hamba Sri Prabu Parthiwa yang bertahta di negara Angantaka. Maksud hamba datang ke mari menghadap di hadapan Sanghyang yang dijunjung, adalah dengan ketulusan hati memohon agar Paduka berkenan turun mendatangi negara Angantaka untuk memberikan penyucian atas segala noda, dosa, malapetaka, dan kekotoran (cuntaka) yang mengotori tubuh jasmani putra Sanghyang yang dijunjung yaitu sang raja, termasuk hamba, para patih, para menteri, serta seluruh rakyat jelata semuanya,”


8b. apan kaparanan cukil daki, lepya jara marana, mangkana saturan ingulun, moga kadhyaksan de Sanghyang-hyang Sinuhun, maha pangempwan. Astam nodesa widwam, sanmata santosa citam, nugranam wara pawakyanti, tannolaha tape Subham. Kalinganya, irika pasabdha dharmma jara Sanghyang maha Mpu Dharmma, uduh bapa kita patih matuwa, yan mangkana kayo-jari sira, samangke tan arep, ulun dumarangkana, asunga pangruwat iking sumala cuntakane kitga makabehan, makadi sira sang narapati Parthiwa, apan tan yhogya, saksana linukat malanya, yan durung tutug bhisama maka sengkernya,

Terjemahan :
“karena kami semua ditimpa penyakit kulit kronis, kusta, serta penyakit tua dan mematikan. Demikianlah permohonan hamba, semoga disaksikan dan dikabulkan oleh Sanghyang yang dijunjung, Pendeta Agung.” Sang pendeta yang bijaksana mendengarkan dengan penuh perhatian, dengan hati yang tenang dan damai, menyampaikan sabda anugerah yang utama, agar mereka menjalankan tapa yang membawa kebajikan. Maksudnya, di sanalah Sanghyang Maha Mpu Dharmma menyampaikan sabda kebenaran: “Wahai bapak patih tua, jika demikian hal yang engkau sampaikan, untuk saat ini aku belum bisa pergi ke sana guna memberikan penyucian atas segala noda kekotoran kalian semua, terutama bagi sang raja Parthiwa. Karena tidaklah patut seketika itu juga dibersihkan nodanya jika belum genap masa hukuman dari kutukan tersebut,”


9a. Sapananman, apan wekasing ila, tan yogya winosadan, anghing sayogyanta, kinabehan mangke, reka wenang kita pangasraya maring hyang adi suksma, sadhara po kita mangke makabehan, amanguna tapa brata lawan samadhi, umiring sira tuhanta, tuminggali ikang greha kadatwan, lawan predesanta kunang, luhunga ta kita krigan umungsira wana giri, pringga jurang, amanguna pakwan, nutugaken sengker ring patapan, rwang tahun lawasta matapa brata angeng yoga samadhi anghing aywana urip kaprihanta, pangsrayanta ring hyang nama prame Swara, pati juga palakunana, ri sampun kita pejah,

Terjemahan :
“sebagai penjelmaan akibat sisa-sisa dosa masa lalu, tidak patut langsung diobati. Melainkan yang paling patut kalian lakukan semuanya sekarang adalah memohon perlindungan kehadapan Sang Hyang Widhi yang Maha Gaib (Hyang Adi Suksma). Hendaklah dengan tulus ikhlas kalian semua sekarang melaksanakan pertapaan (tapa brata) dan samadhi, mengikut gustimu, meninggalkan istana kerajaan serta desa wilayahmu. Lebih baik kalian bersama-sama mengungsi ke dalam hutan di pegunungan, ke tebing-tebing jurang yang curam, membangun tempat tinggal sementara (pakwan) untuk menggenapi masa hukuman di tempat pertapaan itu. Selama dua tahun lamanya kalian harus bertapa brata, melakukan yoga dan samadhi, namun janganlah kehidupan duniawi yang engkau cari. Mintalah perlindungan kepada Sang Hyang Parameswara, bahkan jika kematian yang harus dihadapi. Setelah kalian mati nanti,”


9b. sahananta kang kataman lara ila, jara marana, ika kabeh, astu mawaluya kita muwah, manadi ta wreksa, agung alit, magantya kawandhanta kala irika ingsun asung panglukatan, ri kita kabeh, ndah hana mangke pasung ningulun, suruh pucang kinangan, dumdhumana, swang siji, kalawan banu pawitra, inumakna, nimitaning wawang sira angmasi antaka, panglaris Sanghyang atma, kanan ta tumkeng dalem kapat ndan paenaka pangjanmanta mwah wekasan, mangkana, adan panuliha ta kita mangke, warahakna ring tuhanta, wara nugrahangkwari sira kabeh, mangkana wara wakya Sanghyang Witta Dharmma,

Terjemahan :
“kalian semua yang ditimpa penyakit kusta, penyakit tua dan mematikan itu, semoga kalian menjelma kembali menjadi tumbuh-tumbuhan (pohon-pohonan) baik yang besar maupun yang kecil. Berubahlah wujud jasmanimu, dan pada saat itulah aku akan memberikan penyucian (panglukatan) kepada kalian semua. Nah, inilah sekarang pemberianku: sirih dan pinang yang telah diramu (kinangan), bagikanlah masing-masing satu buah, beserta air suci pembersih (banu pawitra) untuk diminum. Hal itu akan mempercepat kalian menemui kematian (lepas dari penderitaan), guna memperlancar jalannya Sang Hyang Atma agar langsung menuju alam suci, dan jadikanlah penjelmaanmu kembali di kemudian hari menjadi lebih baik. Demikianlah, sekarang kembalilah engkau dan sampaikanlah kepada gustimu tentang anugerah yang aku berikan kepada kalian semua.” Demikianlah sabda mulia dari Sanghyang Witta Dharmma,


10a. maha dewa, tinarima denira sang mapatih matuwa, Sreddha nugraha Bhatara, maneher sira amit mantuk, moreng Angantaka nagara, sarwwi amundut pasung nugraha nira Sanghyang Mpu Witta Dharmma, tan kawarnmeng awan, tucapen sampun prapta ri nagara nira, Angantaka, laju umarek ri sang prabhu, sapari purnna denira ngutarakenang kata, para wakya Sanghyang Mpu Witta Dharmma, ikang panugrahan sampun ingaturaken ri sang prabhu, antyanta tusta kayunira sang narapati, pareng para tanda rakriyan, lawan para jana makabehan, presama aptya manguna tapa brata,

Terjemahan :
sang pendeta agung. Anugerah dari Bhatara tersebut diterima dengan penuh rasa syukur dan ketulusan oleh sang patih tua. Ia pun segera memohon izin untuk pulang kembali ke negara Angantaka sambil membawa pemberian anugerah dari Sanghyang Mpu Witta Dharmma. Tidak diceritakan perjalanannya di jalan, dikisahkan ia telah tiba di negaranya, Angantaka, lalu segera menghadap ke hadapan sang raja. Dengan sangat jelas dan lengkap ia menyampaikan seluruh sabda dan petunjuk dari Sanghyang Mpu Witta Dharmma. Pemberian anugerah tersebut telah dihaturkan kepada sang raja, sehingga sangatlah senang hati sang raja, bersama-sama dengan para pejabat (tanda rakriyan) serta seluruh rakyat semuanya, mereka sepakat untuk melaksanakan tapa brata,


10b. yasa mawana wasa sira kabeh. Wuwusan ri kalaning werahayu, lumampah ta sira sang prabhu Parthiwa, iniring dening wakwehing papatih, para mantri, tekaning wadwanira makabehan, sirsanya desa pinaranya, ikang wana pringga, parswanikang giri, hatisaya madurggama, hana ta lwah agung pinanggih, patala dalemnya nimita inaranan jurangnya malangit, irika ta sira kabeh araryyan, padha amangun kuwu, haneng wanapring matub, walwa, marmma ingaranan predesa Pringgalet. Sapraptanira ri unggwanya kang winuwus nguni presama anadhah banu kalawan suruh kinangan, pasungira Sanghyang maha pengempwan Witta Dharmma nguni,

Terjemahan :
melakukan kebajikan dengan hidup mengasingkan diri di dalam hutan (wana wasa). Dikisahkan pada hari yang baik (dewasa ayu), berangkatlah sang Prabu Parthiwa dengan diiringi oleh segenap patih, para menteri, hingga seluruh rakyatnya semuanya. Daerah yang dituju adalah hutan yang lebat di lereng pegunungan yang sangat sulit dijangkau. Di sana mereka menemukan sebuah sungai yang sangat besar dengan tebing yang sangat dalam, sehingga jurang tersebut dinamakan “Jurang Malangit”. Di sanalah mereka semua berhenti dan bersama-sama membangun tempat berteduh (kuwu) di dalam hutan bambu yang rimbun, sehingga daerah itu kemudian dinamakan Desa Pringgalet (Pringgabaya/Pringgalet). Setibanya mereka di tempat tersebut, mereka bersama-sama meminum air suci dan memakan ramuan sirih (kinangan) pemberian dari Sanghyang Pendeta Agung Witta Dharmma dahulu,


11a. tumuli presama manguna tapa brata, yasa, mangkana polah nira, hnengakna sakareng. Astam dwiwarsa tapasrama, palatra samapta bharah, brasta swa pejah samodayah, nirwasesa para wasah. Kalinganya, nda tucapa tatwa sampun dwiwarsa, lawas nira, amangun tapa brata, brasta pejah sahananya, ikanang wwang kagringan ika, makadi sira sang prabhu Parthiwa, mwang bata mantri nira sadaya, huwus padha pinendeming kasithi drani, mawastu sangar ikang bhumi, sinurupan dening sawa cuntaka, ila lepya, cukil daki, ika kabeh, makiris ikang sarwwa tumuwuh, haneng pritiwi, trena taru lata, gulma, stawara janggama,

Terjemahan :
kemudian bersama-sama melaksanakan tapa brata dan perbuatan suci. Demikianlah keadaan mereka, mari dikesampingkan sejenak. Setelah dua tahun lamanya melaksanakan pertapaan, habislah sudah segala beban penderitaan, semuanya mati tanpa sisa akibat kehancuran penyakit tersebut. Maksudnya, dikisahkan secara hakiki setelah dua tahun lamanya mereka melaksanakan pertapaan, habislah mati semuanya orang-orang yang menderita penyakit tersebut, termasuk sang Prabu Parthiwa beserta seluruh menterinya semua. Jasad mereka telah dikuburkan di dalam tanah (bumi), sehingga mengakibatkan bumi menjadi angker (sangar) karena dimasuki oleh mayat-mayat yang penuh kekotoran penyakit kusta dan penyakit kulit menular itu semua. Hal itu menyebabkan layu dan keringnya segala mahluk hidup yang tumbuh di atas bumi, baik rumput, pohon, tumbuhan merambat, semak-semak, mahluk yang diam maupun yang bergerak,


11b. padha ta ya kapanasan, akweh pejah ri sapangadeganira, apan kaletuhan dening lemeh nikang sawaning wwang mati, malarapan gring ila lepya. Mangke titanem, sawanira sang prabhu, lawan sawaning patih bata mantri nira kinabehan dening toru-taru, lwirnya, sawanira sang prabhu Prathiwa, tumuwuh tang toru nangka. Sawanira rakriyan patih matuha, tumuwuh ikang tahen jati. Sawanirang Dmung, tumuwuh ikang taru wungu. Sawanirang Aryya, tumuwuh ikang taru kladyan mwang bendha. Sawanirang para manca, prebkel kabeh,

Terjemahan :
semuanya layu kepanasan, banyak yang mati di tempat tumbuhnya karena tercemar oleh tanah kuburan dari mayat-mayat orang yang mati akibat penyakit kusta tersebut. Sekarang dikisahkan penjelmaan dari jasad (sawa) sang raja beserta jasad para patih dan menterinya semua menjadi pohon-pohonan, yaitu: dari jasad sang Prabu Parthiwa tumbuhlah pohon nangka. Dari jasad rakriyan patih tua tumbuhlah pohon jati. Dari jasad sang Demung tumbuhlah pohon wungu (tangi). Dari jasad sang Arya tumbuhlah pohon kladyan dan pohon benda. Dari jasad para manca dan perbekel semuanya,


12a. tumuwuh ikang taru bengkel lawan bayur, bentenu, kadengdeng, pulet, kutat, kapundung, cruring. Sawanikang pretandana, tumuwuh tang taru rencek, presama kahananan precihna candala, ri puhunira, lwir candalanya, bang kulitan, prok, brek, hati uliran ring gedonya, hana ri sekamya, hana ri wahnya, ri jronya kunang, hana puwer, hana pedhitan, ungkuk baringkukan, mangkana katon malanya, cihnaning cuntakanya, ri pangjanmaning wwang katamanan udrawa anandanga kara ila, cuntaka lenyan laginya urip mangdadi janma nguni, maneher kari kang letuh ginawanya mangjadma muwah. Sreddham prameswaran jnanam,

Terjemahan :
tumbuhlah pohon bengkel, bayur, bentenu, kadengdeng, pulet, kutat, kapundung, dan cruring. Dari jasad para petugas tanda (pretandana) tumbuhlah semak belukar (taru rencek). Semuanya membawa tanda-tanda kecacatan (candala) pada bagian batangnya, seperti: kulitnya berwarna merah bercak, lapuk, busuk, bagian dalam batangnya berulir-ulir ulat, ada pada kulit arinya, ada pada buahnya, maupun di bagian dalamnya terdapat lubang, bengkok, dan berkerut-kerut. Demikianlah tampak noda kecacatannya sebagai tanda kekotorannya, akibat penjelmaan orang yang ditimpa kutukan menderita penyakit kusta dan kekotoran lainnya sewaktu hidup menjadi manusia dahulu, yang mana kekotoran itu masih terbawa ketika mereka menjelma kembali menjadi tumbuh-tumbuhan. Dengan ketulusan atas pengetahuan suci dari Parameswara,


12b. brahma sya duta karanam, manggalam pu wita dharmmah, suddanam sarwwa taru kyam. Kalinganya, kocarana hyang mami, prameswara, awelas hyun tumona prewrettining kanana manana, linepan dening wighna, jara marana, ndah sigra hyang mami, andhuta ngunadesa, ri ranakira Bhatara Brahma, umara maring mrecapada, banwa Bangsul, tumka mareng Sanghyang maha bangempwan, Witta Dharmma, asung wara nugraha, kamnaning sayogya sang maharsi, asunga tirtha panglukatan skala niskala, maka pamretista bhumi kamalan, kasasaban, kacampuran, umilangaken sarwa papa pataka, danda upata, upadrawa maring rat, tan wihang Bhatara Brahma,

Terjemahan :
Brahma menjadi utusan yang melaksanakan, membawa keselamatan bersama Mpu Witta Dharmma, menyucikan segala jenis pepohonan. Maksudnya, dikisahkan Beliau, Sang Hyang Parameswara, merasa sangat iba melihat keadaan hutan belantara yang diliputi oleh rintangan, penyakit tua, dan kematian. Maka segeralah Beliau mengutus putra Beliau, Bhatara Brahma, untuk turun ke dunia fana di pulau Bali, menemui Sanghyang Pendeta Agung Witta Dharmma, untuk memberikan anugerah agar sang maharsi bersiap-siap membuat air suci penyucian (tirtha panglukatan) secara sekala dan niskala, guna membersihkan bumi yang tercemar (kamalan), tertimpa wabah penyakit (kasasaban), dan kekotoran (kacampuran), serta melenyapkan segala dosa, malapetaka, kutukan, dan bencana di dunia. Bhatara Brahma tidak menolak perintah tersebut,


13a. di nuta dera yayah nira, sira sanghyang pramaswara. Wamnanen lampahira Bhatara Brahma, mahawan hyun, saksana dateng, ri anak ira, sanghyang maha mpu Witta Dharmma, haneng pasraman Silayukti, ndan pasabdha Bhatara Brahma, aum ranaku hyang Witta Dharmma, renge praya mami, datenge ri kita, huna desaning hyangira, Bhatara prameswara, haneng Swargga Siwapada, umutusa ri sira mangke, sayogya kita mangke dumatingi wana pringalet, asunga tirtha, mretta Swambha, pangruwatan bhumi kamalan, mwang ikang sarwa tumuwuh, taru lata gulma, pring galiran, pucang tirisan, hane jaka, katekaning

Terjemahan :
karena diperintahkan oleh ayahandanya yaitu Sang Hyang Parameswara. Kisahkanlah perjalanan Bhatara Brahma yang mengendarai angin, seketika itu juga tiba di hadapan putranya, Sanghyang Maha Mpu Witta Dharmma di pertapaan Silayukti. Berkatalah Bhatara Brahma: “Wahai anakku Hyang Witta Dharmma, dengarkanlah maksud tujuanku datang menemui engkau. Ini adalah perintah dari Dewamu, Bhatara Parameswara di Surga Siwapada, yang mengutusmu sekarang agar engkau mendatangi hutan Pringgalet untuk memberikan air suci merta Siwambha sebagai penyucian bumi yang tercemar beserta segala yang tumbuh di sana; baik pohon, tumbuhan merambat, semak belukar, bambu hutan, pinang, kelapa, enau, hingga


13b. sarwa cara-cara, puspita, samanta, kinabehan, apan malemeh ika kabeh dening sawaning waang cuntaka, ila lenya, kajara maranan, sinuruning ksithi dhrani, tumus tekeng sapta patala, mapanas gigirira hyang ananta Bhogga, makadi sira Bhatarining lemah, kapetengan pwa sira, ika matangyan masangar ikang jagat kabeh tekapnya, samangkana nimitan ta mangke, sayogya pwa kita pengempwan asunga tirtha panglukatan, tirtha mretta Siwambha, pinuja parikrama, aywa tan kedep siddhi pangastu hyang mami, ndan jaya kunang, ri huwus sama ruwat mala papa ptaka nikang sarwwa taru, sarwwa tumuwuh kabeh ring mandhala, kweh maka gunanya,

Terjemahan :
segala jenis bunga-bungaan yang semuanya ikut tercemar karena tanahnya dikotori oleh jasad-jasad orang yang mati dalam keadaan cuntaka akibat penyakit kusta menular tersebut. Kekotoran itu meresap ke dalam bumi hingga menembus ke tujuh tingkatan dunia bawah (sapta patala), sehingga membuat panas punggung Sanghyang Ananta Bhoga serta Bhatari Gayatri (Dewi Tanah) yang merasa kegelapan. Itulah sebabnya mengapa dunia ini menjadi angker semuanya oleh hal itu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya engkau selaku pendeta agung memberikan air suci penyucian, tirtha merta Siwambha yang dipuja sesuai tata caranya. Janganlah ragu, akan manjur doa restu yang kuperintahkan ini. Dan setelah berhasil dilebur segala noda, dosa, dan malapetaka dari segala pepohonan serta tumbuh-tumbuhan semuanya di wilayah ini, maka akan ada banyak sekali kegunaannya,”


14a. kamnanya wenang ginawe lakar sala, pura, paryyangan, umahing dewa, Bhatara, kalawan wenang maka paturwaning janma manusa, mwang kandang, badaning sarwwa pasupatik winang, yogya pinilih pasang nikang taru, pinanta panta, hanutakna silaniking janma manusa apan japhat sajawa kadewa, mwang kalabhuta, mangkana dengan asor kalawan luhur, sayogya kalawan tan sayogya, hungwanya, makadi ikang taru sarwwa wah, sarwwa sekar, sarwwa saddhi, kang sayogya ginawe panca phala raka rakaning sarwwa bebanten, mwang rwanya ginawe sarwwa palawa, sekarnya dadi wewangining widhi widana, dadi payasan, dadi pabhakyaning janma manusa, yan panembaha ring dewa,

Terjemahan :
“di antaranya adalah dapat digunakan sebagai bahan bangunan balai, pura, parahyangan tempat stana para Dewa-Bhatara, serta dapat pula digunakan sebagai tempat tidur manusia, maupun kandang tempat kurungan bagi segala hewan ternak. Hendaklah dipilih secara tepat penempatan kayu-kayu tersebut, dikelompokkan sesuai dengan peruntukannya bagi kehidupan manusia, karena hal itu berhubungan dari dunia manusia hingga alam para Dewa dan alam para Bhuta. Demikian pula pembagian antara bagian bawah dan atas, yang patut dan tidak patut penempatannya. Terutama bagi pohon-pohon yang menghasilkan buah, bunga, dan dedaunan yang suci, yang patut digunakan sebagai panca phala (lima jenis buah) untuk pelengkap sarana upakara bebanten, daunnya dadi palawa (hiasan daun), bunganya menjadi keharuman upacara ritual, dadi hiasan, serta menjadi sarana bhakti bagi umat manusia ketika menyembah para Dewa,”


14b. ring pitara, ring Bhatara hyang kawitanya sowang-sowang, mangkana carmmanya, wed, akar, kalawan pucuk mwang daunnya, tkaning rerawenya lawan wijinya, kweh gunanya, maka usaddhining wwang kaknanan lara wighna, sarupaning laran janma manusa, haneng mayapada iki, mangkana, inosadan tekapnya, mangkana wisayaning sarwwa tumuwuh, sarwwa mletik haneng bhumi, ika taya kabeh, wenang pinrestista knanta mangke ring bhuwanandha Bangsul, iki kabeh, aywa kapalang. Kunang asing-asing masampe, nora mayun tumut anadhaha tirtha siwambha, mretta panglukatan, rikita mangke, maneher tan hilang teluhnya, katekeng wekasan, ton yogya ginawe sapari krama wawangunan,

Terjemahan :
“kepada para leluhur (pitara), kepada Bhatara Hyang Kawitan mereka masing-masing. Demikian pula kulit batangnya, umbinya, akarnya, pucuknya, dedaunannya, hingga ranting dan bijinya memiliki banyak kegunaan sebagai obat (usada) bagi orang yang ditimpa penyakit dan rintangan, serta segala jenis penyakit manusia di dunia fana ini; demikianlah semuanya dapat diobati olehnya. Begitulah kegunaan dari segala yang tumbuh dan tumbuh di atas bumi ini semuanya, yang mana harus engkau sucikan (prapesta) sekarang di pulau Bali ini semuanya, janganlah tanggung-tanggung. Adapun barang siapa yang meremehkan atau tidak mau ikut memohon air suci merta panglukatan darimu sekarang, maka kekotorannya tidak akan pernah hilang sampai akhir zaman, dan tidak patut kayu dari pohonnya digunakan untuk membuat bangunan suci ritual,”


15a. rowang upa subhaning sarwwa bebanten, apan waluya nganggo wwang cuntaka ila pwa yata, roangkana yogya piteketa knanta ri saroanta janma. Te wreksa te phalah, puspe te karmroanyajnekah, salam dewaro paryyaro linggaro, podrawa rourcyat. Kalinganya, ikang taru-taru, ikang sarwwa phala gantung, yadyapi phala bungkah kunang, kurowa ikang sarwwa sekar, ikang durung linukatan, de sang Brahmarsi, laju ginawe salu, uroahing dewa, wohnya, sekarnya, ginawe sakaraning widhi wehana, hinaturaken roaring dewa, ika nimitaning kopadrawab dening dewa. Ikang wwang mangkana prewretinya, tan papgatan aroanggih lara, bhaya, gati sangsara. Mangkana wara-warah Bhatara Brahma,

Terjemahan :
“atau pelengkap keindahan sarana bebanten, karena hal itu sama saja dengan menggunakan barang yang terkena kusta yang kotor. Demikianlah hendaknya nasehat ini engkau sampaikan kepada seluruh umat manusia. Pohon itu, buah itu, dan bunga itu yang digunakan untuk upacara yadnya, jika dipakai membuat tempat pemujaan Dewa atau lingga tanpa disucikan, akan mendatangkan kutukan penderitaan. Maksudnya, pohon-pohon, segala jenis buah yang menggantung maupun buah yang tertanam di dalam tanah, begitu pula segala jenis bunga-bungaan yang belum disucikan oleh sang Pendeta Brahmana (Brahmarsi), lalu langsung digunakan untuk membuat balai, rumah stana Dewa, buah dan bunganya digunakan sebagai sarana upakara ritual yang dihaturkan kepada para Dewa; hal itulah yang menyebabkan datangnya kutukan (upadrawa) dari para Dewa. Orang yang berperilaku demikian tidak akan putus-putusnya menemui penyakit, bahaya, dan kesengsaraan hidup. Demikianlah nasehat dari Bhatara Brahma,”


15b. yayah dinira sanghyang Wawu Rawuh, maha Mpu Witta Dharmma, sigra manerobah sang inajnan, sarwwi hatur ira, tarwihang ranak Bhatara, neher roarowit, sadina ika juga lumaris laropahira, Sanghyang maha pengemwan, kunang sira Bhatara Brahma, ri huwus nira sinembah, dening tanaya, mur ta sira, mantuking swargga kayangan ira, henengakna sakareng. Tucapa laropahira, Sanghyang Wawa rawuh, kesah saking pasramanira silayukti, umara roaring kanana pringga durggamoa, kang mangaran pringalot, wawang teka, roangadeg sira ri pinggir ikang awan, saroipaning alas, katon denira, sawilasaning wana oruk,

Terjemahan :
ayahanda dari Beliau Sanghyang Wawu Rawuh (Mpu Witta Dharmma). Segeralah melaksanakan tugas Beliau yang diperintahkan itu, seraya berkata: “Hamba tidak menolak perintah Paduka,” kemudian memohon izin. Pada hari itu juga segeralah berjalan Sanghyang Pendeta Agung melaksanakan tugasnya. Adapun Bhatara Brahma, setelah disembah oleh putranya, Beliau pun menghilang kembali ke surga kahyangan Beliau; mari dikesampingkan sejenak. Kisahkanlah perjalanan Sanghyang Wawu Rawuh yang berangkat meninggalkan pertapaannya di Silayukti, menuju ke dalam hutan lebat yang curam dan sulit dijangkau yang bernama Pringgalet. Seketika tiba di sana, Beliau berdiri di pinggir jalan di dekat hutan, tampak oleh Beliau keadaan hutan yang suram,


16a. tan pacaya, tistisa ruksa, apan kasanguban dening kukusing bhumi karoalan, mur sakweh nikang dewaning kanana, marmmara makuru aking sakweh nikang tumuwuh, awelas hyun ira Sanghyang maha pangempwan, nyata umangen angen ta sira, pararyyan panepining alas. Sah wreksah bayur gampinisya, sanadhat manganjalyan, sanggraha nogattha dwijam, sampurnna tita ta bhaktam. Kalinganya, i sedheng Sanghyang wawu prapta, hana taru tumuwuh, samipaning wana, masisi pinggiring wratmara, rong siki, mangaran taru bayur lawan taru gampinis, yata sigra sira, matur sumanggraha ring Bhatara wawu dateng, wruh sira met wilasa, rarasing kajanma manusan,

Terjemahan :
tidak bercahaya, dingin mencekam, dan kering karena diselimuti oleh kabut kekotoran bumi. Pergilah menjauh seluruh Dewa penjaga hutan itu, sehingga menyebabkan kurus dan keringnya segala tumbuh-tumbuhan. Merasa sangat iba hati Sanghyang Pendeta Agung melihatnya, sehingga Beliau merenung dan beristirahat di tepi hutan tersebut. Pohon bayur dan gampinis menghaturkan sembah anjali, menyambut kedatangan sang pendeta, memperlihatkan bhakti yang sangat sempurna. Maksudnya, di saat Sanghyang Wawu Prapta berada di sana, ada pohon yang tumbuh di dekat hutan di pinggir jalan sebanyak dua buah, bernama pohon bayur dan pohon gampinis. Keduanya segeralah menghaturkan sembah menyambut kedatangan Beliau yang baru tiba, mereka mengerti bagaimana memperlihatkan rasa hormat bagaikan sifat manusia,


16b. yayan panatya bahkti, saha sembah, hatur nira. Ompujan puspa myan wreksah, hana dhama bhawan punah, ksama wamam maha widwam, nugranam sahitta marah. Kalinganya, singgih pukulun, Bhatara sang wawu dateng, tingali pangastutyaning hulun ri jeng ta, pwang hulun tahen inacarana, nistuta ndaweg ta ampura de hyang wawu dateng, moga sang nugraha, ri pinakeng ngulun, taru papa sangsara. Nah pamadhana hatur nirang wreksa karwa, ki bayur mwang gampinis. Mangrenga ta Sanghyang wawu dateng, katisaya twas nira mangrenga mwang umulat wilasa kalawan satur nirang taru kalih, nahan umujar Sanghyang wawu prapta, sira Mpu Witta Dharmma.

Terjemahan :
serta menunjukkan rasa bhakti yang tulus disertai sembah. Perkataan mereka: “Hamba yang berupa pohon menghaturkan puja dan bunga, memohon agar tempat ini dipulihkan kembali dari kehancuran, maafkanlah hamba wahai Sang Pendeta Agung yang bijaksana, berikanlah anugerah penyucian kepada kami.” Maksudnya: “Daulat Tuanku, Bhatara yang baru datang, lihatlah doa pujian hamba di kaki Paduka. Hamba ini hanyalah pohon yang tidak beradab dan nista, mohon dimaafkan oleh Paduka yang baru datang, semoga sudi memberikan anugerah kepada hamba, pohon yang papa dan sengsara ini.” Demikianlah ungkapan kata dari kedua pohon itu, si bayur dan si gampinis. Mendengar hal itu, Sanghyang Wawu Dateng merasa sangat tersentuh hatinya mendengar dan melihat ketulusan serta perkataan kedua pohon tersebut, maka berkatalah Sanghyang Wawu Prapta, Mpu Witta Dharmma:


17a. Uduh kita wreksa, wruh mangartha basa kajanman, manusa, antyan suka twas ingsun mangrenga, mwang umulat sawilasanta, sumambrama ring kami, yan dateng mangke, ingkene, ri kahananta wreksa, sapunpunan makabehan manadi kananan agung mahangker, madurggama kunang, pahenak ta denta mangke mangreha huna dcsa mami, ri kita karwa. Praptang ku teki, sumungsung ajnanira Bhatara hyang mami prameswara, kinon angruwat kita kanana makabehan, umilangaken papa malanta, didine wenang kita, ginawe lakar sarwwa wewanguaan, salu, pura paryyangan, umahing janma manusa, kayangan dewa, pitra. Kunang godong ta, woh ta, skarta,

Terjemahan :
“Wahai kalian pohon, kalian mengerti arti dari bahasa penjelmaan manusia. Sangat senang hatiku mendengarnya dan melihat ketulusanmu menyambut kedatanganku yang baru tiba sekarang di sini, di tempat keberadaanmu wahai pohon, beserta seluruh wilayah hutan agung yang angker dan curam ini. Tenangkanlah hatimu sekarang mendengarkan petunjukku kepadamu berdua. Kedatanganku ke mari adalah untuk melaksanakan perintah dari Dewaku, Bhatara Parameswara, diperintahkan untuk menyucikan (angruwat) kalian seluruh isi hutan ini, melenyapkan dosa dan nodamu, agar kalian dapat digunakan sebagai bahan segala bangunan; baik balai, pura, parahyangan, rumah tempat tinggal manusia, maupun parahyangan para Dewa dan leluhur. Adapun dedaunanmu, buahmu, bungamu,”


17b. mwang dadi upasubhaning widhi widhana, maka tadhahaning janma kabeh, pasaji ring dewa, mwang resi, Bhatara, mangkana margganta lepas saking atma sangsara, wenang manadma kita tembe, witta manadi janma manusa, rerencekta, matemahan patik wenang wohta manadi panca maha bhuta, sekarta manadi dewata, gandanta manadi apsar, apsari, mangka pamantuka maring Swargga, wenang sinembah dening jagat kabeh, mangkana sayogya age kita umarahaken sakadhang baryyanta, sarwwa tumuwuh kabeh, lamakane padha prapta umareki mami ngke, nadhaha tirtha panglukatan, aja maswe, mangkana wuwus nira Sanghyang maha pangempwan Witta Dharmma, tinarima de ki wreksa bayur mwang gempinis,

Terjemahan :
“dapat pula digunakan sebagai hiasan upacara keagamaan, sarana sesajen bagi umat manusia semuanya, serta sebagai persembahan kehadapan para Dewa, Resi, dan Bhatara. Dengan cara demikianlah jalannya engkau lepas dari kesengsaraan roh (atma sangsara). Kalian berhak menjelma kembali di kemudian hari, bermula menjadi manusia; ranting-ranting kecilmu menjelma menjadi pembantu yang setia, buahmu menjelma menjadi panca maha bhuta, bungamu menjelma menjadi dewata, keharumanmu menjelma menjadi apsara-apsari (bidadara-bidadari), yang mana hal itu membawa kalian kembali pulang ke surga sehingga patut disembah oleh seluruh dunia. Oleh karena itu, segeralah engkau beri tahu seluruh kerabatmu dan segala tumbuh-tumbuhan semuanya agar semuanya datang menghadap kepadaku di sini untuk memohon air suci penyucian (tirtha panglukatan), janganlah lama-lama.” Demikianlah sabda Sanghyang Pendeta Agung Witta Dharmma, yang diterima dengan baik oleh pohon bayur dan gampinis,


18a. tumuli mamwita sira, lumampah awara-warah, wakya Sanghyang wawu prapta, geger pwa ikang kabeh, sapangisining alas. Matwan sarwwa to brahman, te wreksa latajanggamah, dhethe-dheta bhuta kale, pisace wyo jadma saryah. Kalinganya, ksana untu sakweh nikang brahmatma suksmeng taru-taru lata gulma, stawara janggama, kinabehan, arupa taya mleca kabeh, lwirnya, arupa tono, kowok, mamdhi, gregek tonggek, wong samar saprekaranya, kabeh, hana arupa bhuta, kala, pisaca, danawa wil, hana pretta, hana raksasa, dengen, sakrigan kabeh, umarek ri jeng Sanghyang pengempwan, sagana-gananya padha sowang,

Terjemahan :
kemudian mereka memohon izin untuk berjalan menyebarkan berita mengenai sabda Sanghyang Wawu Prapta tersebut. Maka gegerlah seluruh isi hutan itu. Segala mahluk hidup, pohon, tumbuhan merambat, mahluk bergerak, roh-roh bhuta, kala, pisaca, mewujud menampakkan diri untuk disucikan. Maksudnya, seketika itu juga seluruh roh kedewaan yang tersembunyi di dalam pohon, tumbuhan merambat, semak-semak, mahluk diam maupun bergerak semuanya keluar menampakkan wujud kasarnya yang menakutkan, seperti: berwujud memedi, kowok, tonggek, orang samar, dan segala jenis mahluk halus lainnya semuanya; ada yang berwujud bhuta, kala, pisaca, raksasa jahat (danawa wil), preta, raksasa besar, dengen, semuanya berbondong-bondong datang menghadap di kaki Sanghyang Pendeta Agung sesuai dengan kelompoknya masing-masing,


18b. menggep manganjali, saha papundutan, mwang jungjunganya, sarwwa phala bungkah, sarwwa phala gantung, lawan shananing sarwwa sekar inaturakenya, maka sanggraha, dinaksina kniya, pamlaku panglukatan, sumala papanya, mangdadya wanaspati raja. Sreddha umojar sang sinembah, Om kamung atman kinabehan, samangke tan yogya kadi kami, mahara, riking gunanta, bungkah ta woh ta, puspan ta kunang, apan kari karaketan dening letuhing pasarira wita, cuntaka, apan durung rinuwat de sanghyang tirtha mretha Siwambha, yata pwang tirtha, pasarira, hyang mami siwa nirmmala, maneher kari ya cemer ta kita, mne yan huwus ta kita lukata mangke, tekeng kawekas.

Terjemahan :
mereka menghaturkan sembah anjali dengan membawa persembahan yang dipikul dan dijunjung di atas kepala berupa segala jenis buah-buahan yang tertanam di tanah, buah-buahan yang menggantung, serta segala jenis bunga-bungaan yang dihaturkan sebagai persembahan upakara (daksina) untuk memohon penyucian atas segala noda dan dosa mereka agar dapat menjelma menjadi penguasa hutan (wanaspati raja). Berkata pulalah Beliau dengan penuh kasih yang disembah: “Om, wahai kalian roh semuanya, untuk saat ini belumlah patut bagiku untuk menikmati hasil upayamu, baik umbimu, buahmu, maupun bungamu, karena semuanya masih melekat kekotoran dari asal jasmanimu yang noda (cuntaka) disebabkan belum disucikan oleh air suci merta Siwambha. Air suci itu adalah perwujudan dari Dewaku, Siwa yang suci murni. Oleh karena itu kalian masih dalam keadaan kotor, namun jika kalian telah disucikan sekarang, maka hingga akhir zaman,”


19a. wekas mulih kapawitranta, maran wenang kadi kami panadhaha gunanta, manganggo sakawisayanta, adan pwa kita panadhaha askara rikami mangke, byakta hilang malanta, cuntaka ila lepyanta. Tlas mangkana, manembah ta kabeh, ikang brahmaning wreksa, ndan sigra maprayoga sirang sanghyang wawu rawuh, magelar kramanya, umuncarana sanghyang weddha maha wirocana siddhi, inastutinira Sanghyang tirtha mretta Siwambha, wus pretista sapari krama. Paripurnna denira asunga tirtha, sumirat saking Siwmbha kundha kipatra. Japa siddhi maha sktam. Purwwaka weddha recanam, patunah klesa lepyanam, ila lara wighna purnnam. Kalinganya, saka prebawa Sanghyang mantra,

Terjemahan :
“kalian akan kembali ke keadaan suci purba, sehingga barulah patut bagiku atau yang lainnya untuk menikmati hasil upayamu serta menggunakan segala kegunaanmu. Oleh karena itu, bersiaplah kalian menerima upacara penyucian (inaskara) dariku sekarang, niscaya akan lenyap segala nodamu, kekotoran kusta dan penyakit kulitmu.” Setelah demikian, menyembahlah mereka semuanya roh-roh pepohonan tersebut. Maka segeralah Sanghyang Wawu Rawuh melakukan yoga, menerapkan tata caranya, melafalkan mantra suci Weda Maha Wirocana Siddhi, memuja Sanghyang Tirtha Merta Siwambha hingga selesai sesuai dengan upacaranya. Sempurnalah Beliau dalam membuat air suci, yang memancar dari wadah periuk suci (Siwambha kunda). Mantra japa yang manjur berkekuatan besar. Weda purba dilafalkan, melenyapkan noda penyakit kusta, rintangan dan penyakit disembuhkan dengan sempurna. Maksudnya, atas kekuatan dari mantra suci tersebut,


19b. Swastyastu japa sidhi, lewih mawisesa, mijil Sanghyang weddha, purwwaka sakti, hinarccha-manira, Sanghyang wirocana, sirajuga wnang ngruwata, sakwehing mala leteh, letuh, ila ptaka, gring lepya, jara marana, ksana lukat, mulih purnna jati hening nirmmala, mari ya arupa kala kali jyoti, samangke matemahan jati, ikang mleccha, bhuta pisaca, danya, danawa, raksasa, pamantuka maring dewsata, durgga mantuka, matemahan dewati, apsara, ikang maya bhawa siluman, waluya jadma jati, mangkana tlas huwus dengen sama mantuka maring Swargga, huwus pwa ya, pretista linukat, binresihan tekaning.

Terjemahan :
“Semoga selamat atas mantra japa yang manjur dan berkekuatan sangat utama.” Keluarlah ajaran suci Weda purba yang sakti, yang memuja Sanghyang Wirocana. Beliau pulalah yang berwenang melebur segala jenis noda kekotoran, kecacatan, dosa malapetaka, penyakit kusta, serta penyakit tua dan mematikan. Seketika itu juga semuanya disucikan, kembali ke keadaan suci murni semula, tidak lagi berwujud mahluk bawah yang menyeramkan. Sekarang semuanya kembali ke wujud aslinya yang mulia; para mleccha, bhuta, pisaca, danawa, dan raksasa kembali menjadi kedewatan. Roh Durga kembali menjadi dewi dan bidadari (apsari), segala mahluk siluman kembali menjadi mahluk yang suci sejati. Demikianlah setelah roh-roh halus (dengen) semuanya dikembalikan pulang ke surga setelah selesai disucikan dan dibersihkan beserta seluruh


20a. mandhala nikang alas, yaya hilang sangarnya, uwus siniraman tirtha mretta Siwambha, matis taya angganira Bhatari pritiwi, trus tekang patala, ri kahanan nira Sanghyang Ananta Bhoga, matis pwa ya. Astam brastam wighnam punah, sarwwa wreksa suka purnnam, muktang klesa ila rogam, kotaram sarwwa puspenam. Kalinganya, ri huwus paripurnna ruwat malanikang sarwwa taru, kabeh, sing tka jeng Sanghyang maha pangempwan, tucapa muwah, prapta brahmanikang sarwwa taru puspita, maka guna sari-sarinya, adulur sakrigan, praptanya sakeng airsanya desa, sakeng banjaran santun, nga, presama durgga nirupa maya siluman, anembah ri padanira Sanghyang.

Terjemahan :
wilayah hutan tersebut, sehingga lenyaplah keangkerannya (sangar) setelah diperciki air suci merta Siwambha. Menjadi sejuklah tubuh jasmani Bhatari Pertiwi (Dewi Bumi) hingga menembus ke dalam dunia bawah, tempat keberadaan Sanghyang Ananta Bhoga ikut menjadi sejuk pula. Segala rintangan telah hancur lebur, seluruh pepohonan bersuka cita dengan sempurna, terbebas dari penderitaan penyakit kusta, keutamaan bagi segala bunga-bungaan. Maksudnya, setelah selesai dengan sempurna penyucian noda dari segala pepohonan semuanya yang datang menghadap Sanghyang Pendeta Agung, dikisahkan kembali datanglah roh-roh dari segala tumbuhan berbunga yang menghasilkan sari madu, mereka datang berbondong-bondong dari arah timur laut, dari daerah taman bunga (banjaran santun), semuanya mewujud dalam bentuk siluman yang menyeramkan, menyembah di kaki Sanghyang


20b. maha pangempwan, amalaku lukat, hantyanta kagila-gila rupanya, sawarnna uler bijal, mreng krimi, kutuning walantaga, paka rupanya, mwang Srepa wyala sandi, tan kena winilang kwehnya, sama kabina-bina rupanya, aglis padha linukat kabehnya, tatas hilang wisarjjawa klesanya maluya waluya jati, paripurnna, atmahan hyang, widhyadhari, hana dewata dewati, pangisining swargga pada. Titanen, kapungkur, hana brahmanikang jempiring lit, mandeg pwaya, tan harep umara, nadhaha tirtha panglukatan, pareng lawan sarikonta, wihang pwa sira karwa, dadi kroddha kakanya, di japiring agung,

Terjemahan :
Pendeta Agung untuk memohon penyucian. Sangatlah mengerikan wujud rupa mereka; ada yang berwujud seperti ulat bulu yang menjijikkan, ulat pohon, kutu walantaga, serta berwujud ular berbisa yang melilit-lilit, tidak terhitung banyaknya dan semuanya berwujud aneh serta menakutkan. Dengan cepat semuanya disucikan oleh Beliau, sehingga seketika itu juga lenyaplah segala penderitaan nodanya dan mereka kembali ke wujud aslinya yang suci sempurna menjelma menjadi dewa-dewi, widyadari (bidadari), serta mahluk suci penghuni alam surga. Kisahkanlah yang tertinggal di belakang, ada roh dari bunga jempiring kecil (kaca piring kecil) yang berhenti dan tidak mau maju untuk memohon air suci penyucian bersama dengan bunga sarikonta. Keduanya menolak untuk disucikan, sehingga membuat marah kakaknya yaitu bunga jempiring besar,


21a. rrata pinaid sinundung aken hantenya, kang mangaran ni japiring alit, tiba ya ring lemah, tiningalan denira Sanghyang maha pangempwan, wawu dateng, mojar ta sira, ring kipuspa jampiring agung aja mangko, denta, sarosa, akon niarinta jempiring alit malukata mangke, apan hana karepira, maneher suka liniputing hala, matangyan harep linukat malanya, katuhwan kang mangkana nora winang lukaten, mangke arinta ni jampiring alit, mari sira maharan jempiring alit, ni tuludnuh pangarangnya, wastu ta sira maneher papa, tan yhogya anggenen widhi widhana,

Terjemahan :
yang kemudian menyeret dan mendorong adiknya yang bernama si jempiring kecil itu hingga jatuh ke tanah. Hal itu terlihat oleh Sanghyang Pendeta Agung yang baru datang, maka berkatalah Beliau kepada si bunga jempiring besar: “Janganlah engkau bersikap kasar demikian menyuruh adikmu si jempiring kecil untuk disucikan sekarang. Karena jika ia sendiri memang menghendaki dan suka diliputi oleh keburukan sehingga tidak mau dibersihkan nodanya, maka sesungguhnya yang demikian itu tidak boleh dipaksakan untuk disucikan. Sekarang adikmu si jempiring kecil ini, tidak lagi bernama jempiring kecil, melainkan namanya sekarang adalah ‘Ni Tuludnuh’ (bunga sungsang/tanpa guna). Aku kutuk ia menjadi tanaman yang papa, tidak patut digunakan sebagai sarana upacara keagamaan,”


21b. Syapa wwang manganggea sira puspa, makadi babanten, jah tas mat manemu hala papa wkasan. Mangkana juga ika sekar nira, astu pasari uler, maka cihnaning lctuh, mwang kita sari konta, dosanta, wihang yan kinon malukata mangke, wastu sarining sekarta, pinanganing krimi, gadgad mreng, nora wsenang anggenen banten, kawkasan, mangkana sapa siddhi Sanghyang Wawu rawuh. Ri wus samangkana hana ta ya prapta muwah, ikang maya mahireng, dedet kadi megha, brahmaning taru-taru saking wayabya, byakta kruta kala rupa, sawndhawa sira, tinakwananta, de sanghyang Maha Witta Dhannma, ling nira, syapa paka aranta, kita iki kinabehan,

Terjemahan :
“Barang siapa manusia yang menggunakan bunga itu sebagai sarana upakara bebanten, niscaya hidupnya akan menemui keburukan dan kepapaan di kemudian hari. Demikian pula bunganya, aku kutuk agar senantiasa dipenuhi ulat sebagai tanda kekotorannya. Dan engkau bunga sarikonta, dosamu adalah menolak ketika diperintahkan untuk disucikan sekarang, maka aku kutuk sari bungamu agar senantiasa dimakan oleh ulat, kutu, dan hama pohon, serta tidak akan pernah boleh digunakan sebagai sarana bebanten sampai akhir zaman.” Demikianlah kutukan sakti dari Sanghyang Wawu Rawuh. Setelah hal itu, datanglah kembali sekelompok bayangan hitam yang gelap gulita bagai awan mendung, yaitu roh-roh pepohonan yang datang dari arah barat laut, menampakkan wujud yang kejam dan menyeramkan bersama dengan kerabatnya. Mereka ditanya oleh Sanghyang Maha Witta Dharmma, sabda Beliau: “Siapakah namamu kalian ini semuanya,”


22a. krura kara kala rupanta, sumawur kang premuka, brahmaning wreksa maya hireng, singgih pakulun hyang sinuhun, wsatek kala wreksa pwa nghulun patih Bhatara, kunang pangaran mami saganan tyeki, pangulun mami, ki kalampwak, mahanten mami, kali cung, mahanten kalikukun, mahanten kalimoko, mahanten kaliki, Sreddha Sanghyang asung nugraha, angruwat mala ptaka ninghulun mangke, iccha sira sanghyang asunga pangruwating diyu mala, papa ptaka, uwus ingaskara, paripumna, jati dewata muwuh, umantuk ta ya maring Sanghyang Sangkara. Ri huwus sangkana, umyang swara karenga, lwir hampuhan, Sangkaring airsa, mawanti-wanti kadi surak gambira, krura kannma, prebhawaning wreksa mrik,

Terjemahan :
“yang berwujud kejam bagai kala ini?” Menjawablah pemimpin mereka, roh pepohonan dari bayangan hitam: “Daulat Tuanku Sanghyang yang dijunjung, hamba semua ini adalah golongan roh pohon-pohon liar (kala wreksa) yang menjadi pengawal Bhatara. Adapun nama hamba beserta seluruh kelompok ini; pemimpin hamba bernama Ki Klampwak (jambu hutan), adik hamba bernama Kalicung, adik hamba Kalikukun, adik hamba Kalimoko, dan adik hamba Kaliki. Dengan ketulusan hati hamba memohon agar Sanghyang sudi memberikan anugerah penyucian atas segala noda dan malapetaka hamba sekarang.” Atas belas kasih Beliau, Sanghyang memberikan penyucian atas noda raksasa dan dosa malapetaka mereka, setelah selesai disucikan (ingaskara) dengan sempurna, mereka kembali menjadi dewa yang suci dan kembali pulang ke hadapan Sanghyang Sangkara (Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan). Setelah hal itu, terdengarlah suara gemuruh yang riuh bagai suara ombak dari arah timur laut, bersahut-sahutan bagai sorak kegembiraan yang riuh, mewujud dari kekuatan roh pepohonan yang berbau harum,


22b. brahmanira maya pretta, bhiru rupanira kabeh, tan kena winilang kweh nira, padha sumungken ta ya natpada, ri padanira pangempwan, inajnanta sira kabeh, dera Sanghyang wawu dateng, syapa pakan ta, wawu prapta, ndi kahananta makabehan, sangapa puspatanta, warah hulun duga-duga, mangkana patakwanira sang pangempwan. Sumawur brahman maya rupa pretta premuka, sajna Sanghyang sinembah, maha pangempwan, hulun teki, brahmaning taru mrik makabehan, Sanghyang airsanya, ri parswaning giri raja, kahanan mami tumuwuh, aran wana candana, mangke prapta, anda tirtha, pangruwatan malaningulun sadaya, sida lepasa sakeng blegadabah, luluh kasaputan papa ptaka,

Terjemahan :
roh-roh mereka berwujud bayangan preta (roh lapar) yang tampak ketakutan semuanya, tidak terhitung banyaknya. Semuanya bersujud menyembah di kaki Sanghyang Pendeta Agung. Mereka semua ditanya oleh Sanghyang Wawu Dateng: “Siapakah kalian yang baru datang ini? Dari manakah asal tempat tinggal kalian semuanya, dan siapakah namamu? Katakanlah kepadaku dengan sejujurnya.” Demikianlah pertanyaan dari sang Pendeta Agung. Menjawablah pemimpin roh yang berwujud preta tersebut: “Daulat Tuanku Sanghyang yang disembah, Pendeta Agung, hamba semua ini adalah roh dari segala pepohonan yang berbau harum dari arah timur laut, di lereng gunung agung (giri raja) tempat hamba tumbuh yang bernama hutan cendana. Sekarang hamba datang untuk memohon air suci penyucian atas segala noda hamba semua, agar berhasil lepas dari siksa neraka, kehancuran, dan selimut dosa malapetaka,”


23a. cuntaka, mangkana saturira makabehan, Sreddha nugraha Sanghyang maha pangempwan Witta Dharmma, pinasung nira tirtha mretta Swambha pangaskara, dinyus, mulih waluya jati, dewata muwah, umantuk maring Bhatara Iswara, meta kasaktian ri Bhatara Siwa, mangkana pretista nira kinabehan, malwaran preyoga Sanghyang maha pangempwan. Dadi hana prapta muwah, anladi, angantun-antun, basa nora umantepi polahnya, ika maya brahmaning taru campaka alit, karo lawan brahmaning taru gantimun, umatur ta ya, amalaku panglukatan, apan huwus henti ikang karyya, sampun.

Terjemahan :
“serta kekotoran (cuntaka).” Demikianlah permohonan mereka semuanya. Atas kemurahan anugerah dari Sanghyang Pendeta Agung Witta Dharmma, diberikanlah mereka air suci merta Siwambha untuk upacara penyucian, mereka dibersihkan sehingga kembali ke wujud aslinya yang suci menjadi dewata kembali, lalu pulang kehadapan Bhatara Iswara untuk memohon kekuatan suci kehadapan Bhatara Siwa. Demikianlah penyucian mereka semuanya dilakukan, setelah selesai yoga pertapaan dari Sanghyang Pendeta Agung. Tiba-tiba datanglah kembali dengan berjalan ragu-ragu dan tertinggal di belakang, serta memperlihatkan tingkah laku yang tidak mantap, yaitu roh dari pohon cempaka kecil bersama dengan roh dari pohon mentimun hutan (gantimun). Mereka menghaturkan sembah memohon penyucian, padahal upacara ritual telah selesai dilaksanakan, dan telah


23b. tlas ikang tirtha mretta Siwambha, tan pantujupamalaku nira, apan kasep dahat, ri denya tan duga-duga tuwas sira, alah parccaya ri Sanghyang maha widwan wawu prapta. Wawang wuwus nira Sanghyang wawu prapta, ih ta kita kamung taru kalih, dahat kasepa kita praptangke, tan antuk gatinta, pamalaku panglukatan, apan huwus putusing karyya mami, maneher sumala ptaka kita, mari kita mangaran campaka lit, taru base pangaranta mangke, kumwa kita sawiji muwah, apan tan gumanti praptanta, mangkana kita mangke mangaran taru gantimun, sama-sama tan sayogya kita ginawe lakar salu-saluning wwang, umahing dewa,

Terjemahan :
habis air suci merta Siwambha tersebut. Permohonan mereka tidak menentu karena mereka datang sangat terlambat disebabkan ketidakseriusan hati mereka dan kurang percaya kehadapan Sanghyang Pendeta Agung yang baru datang. Seketika itu juga berkatalah Sanghyang Wawu Prapta: “Wahai engkau kedua pohon, sangat terlambat engkau datang ke mari, tidak akan berhasil maksud tujuanmu memohon penyucian karena upacaraku telah selesai dilaksanakan. Maka dari itu engkau tetap dalam keadaan penuh noda dan malapetaka. Engkau tidak lagi bernama cempaka kecil, melainkan pohon sirih (taru base) namamu sekarang. Dan engkau yang satunya lagi, karena engkau datang tidak tepat waktu, maka engkau sekarang dinamakan pohon mentimun hutan (gantimun). Kalian berdua sama-sama tidak patut digunakan sebagai bahan bangunan balai tempat tinggal manusia maupun sebagai stana para Dewa,”


24a. yan hana wwang umurug, mangangge paumahan, wastutan pegating gring lara hedan, lawan gring kamaranan, yan ginawe paryyangan, umahing dewa, murikang dewa malalis dinapa nira sang aniwi, tana manggih rahayu katkeng wekasan, mangkana prasantin Bhatara wawu dateng. Widwan pretiste puje, sangskara wreksa kananah, tisto pretisto ti purnnam, bhasamanca krettam widwsam. Kalinganya, ndah ta ya wuwusan mangke, sampun pretista ikang homa, pamujanira Sanghyang maha mpu Witta Dharmma, sang wawu dateng, smpun tlas karuwat samalaning taru, ring alas pringalot, jurang rejeng parung, yadyapi ikang tumuwuh, maring swamdesa, ring nagara krama, tan.

Terjemahan :
“Jika ada manusia yang melanggar dengan menggunakannya sebagai bahan bangunan rumah tinggal, aku kutuk agar mereka ditimpa penyakit gila (hedan) yang tidak putus-putusnya serta penyakit yang mematikan. Dan jika digunakan untuk bangunan parahyangan tempat stana Dewa, maka pergilah Dewa itu menjauh dan menjadi marah kepada orang yang menyembahnya, sehingga tidak akan pernah menemui keselamatan sampai akhir zaman.” Demikianlah keputusan dari Bhatara yang baru datang. Sang pendeta yang bijaksana telah menyelesaikan upacara pemujaan, menyucikan pepohonan di hutan, menetapkan penyucian dengan sempurna, memberikan sabda ajaran yang bijak. Maksudnya, dikisahkan sekarang telah selesai disucikan upacara korban suci (homa) dan pemujaan dari Sanghyang Maha Mpu Witta Dharmma, sang pendeta yang baru datang. Telah selesai dilebur segala noda kekotoran dari pepohonan di hutan Pringgalet, di jurang-jurang dan tebing-tebing curam, termasuk segala yang tumbuh di wilayah pedesaan maupun di kota-kota, tanpa


24b. senggahen kweh nira yata winilang, sinanggraha maha Mpu, phala bungkah lawan phala gantung, phala osaddhi, maka bhojananira, mwang sarwwa puspa maka camananira mangkana harsa twas nira Sanghyang pangampwan, ananggapi ripunya dana sanggraha nikang wreksa. Ri wus nira amukti, tang sarwwa phala bhoga, nda panguna desa ta sira muwah, asung warah kretta nugraha, irikang sarwwa taru kabeh, mwang ikang cara-cara sarwwa skar, wuwus nira. Om te wrewreksah puspiteyah, susilanca tat gatham, kosalan kosali tistan, catur angsaja catur swam. Kalinganya, uduh ta kita kamung wreksa kabeh, mwang ikang cara-cara sarwwa skar, sakwehmu inangaskarangku, pasumungkem.

Terjemahan :
terkecuali semuanya telah dihitung dan diterima oleh sang Maha Mpu. Buah-buahan yang tertanam di tanah maupun buah yang menggantung serta buah obat-obatan dijadikan makanan Beliau, dan segala jenis bunga-bungaan digunakan sebagai sarana pembersihan diri Beliau (camana). Begitu senang hati Sanghyang Pendeta Agung menerima persembahan tulus (punya dana) dari pepohonan tersebut. Setelah Beliau menikmati segala suguhan buah-buahan tersebut, maka Beliau memberikan petunjuk kembali, menyampaikan ajaran anugerah keselamatan kepada seluruh pepohonan semuanya beserta segala tumbuhan berbunga, sabda Beliau: “Om, wahai kalian pepohonan dan tumbuhan berbunga, jalankanlah perilaku yang baik sesuai dengan tempatmu, tetapkanlah aturan tata bina bangunan (kosala-kosali) bagi keempat golongan wangsa masing-masing.” Maksudnya: “Wahai kalian pohon semuanya serta segala jenis bunga-bungaan, kalian semua telah aku sucikan (ingaskara), maka bersujudlah,”


25a. ta kita ri aku, panembah ta kita, apan hulun dhanggurwi Swara, ngentasa kita sakeng papa cuntaka, krananta wenang kita anadma muwah, maring catur wangsaning janma manusa, mwang ring sarwwa dewa, kammanta wnang ginawe lakar, winangun sarwwa kosala-kosali lawan upa subhaning sarwwa yajna, hanuta kasusilan, pretataning dewa, kalawan manusa, samangkana margganta, sinembah dening loka, aja sira angadakaken krahang-krihing, angadakaken sebel kandel, apan tunggal sangkanta, lawan ikang manusa, wangsa sakeng Bhatara Brahma, nimita brahman pwa kita kabeh, rengen dharmma pawisika. Om ewam brahman mahatmane wisamaye loke narsyanah, sangkaram narbhawesca,

Terjemahan :
“kalian kepadaku, menghaturkan sembah, karena aku ini adalah perwujudan dari Guru Suci (Dang Guru Iswara) yang menyeberangkan kalian dari dosa kekotoran (cuntaka), sehingga kalian berhak menjelma kembali ke dalam empat golongan wangsa manusia (catur wangsa) maupun di alam para Dewa. Kegunaanmu adalah boleh digunakan sebagai bahan bangunan yang dibangun berdasarkan aturan tata bina bangunan (kosala-kosali) serta sebagai pelengkap keindahan segala upacara yadnya, menuruti susila kesopanan bagi para Dewa maupun manusia. Dengan cara demikianlah jalannya engkau dihormati oleh dunia. Janganlah kalian menimbulkan kegaduhan atau membawa kekotoran yang berat, karena asal mulamu adalah sama dengan manusia, yaitu keturunan dari Bhatara Brahma; itulah sebabnya kalian semua disebut roh (brahman). Dengarkanlah bisikan kebenaran ini. Om, demikianlah roh agung berada di dunia yang penuh perbedaan bagi umat manusia, mengalirkan kesucian hidup,


25b. iswarah saktikan siwam, hredhesma ni kandah. Kalinganya, utpti Bhatara Brahma, Resti nira umawak ikang atma, sumaputing bhuwana, mwang sarwwa janma, dma de Bhatara hyang mami prameswara, manadi ta sira taru-taru, tumuwuh ring Bhatari pritiwi, mawit, mapang, magodong, makembang, mawoh, Bhatara maweh kasaktin, urip Bhatara Iswara, nahan ring hredaya pasimpenanira. Inutpti Bhatara Brahma, dresti sira umawaki atma maya ri sarwwa tumuwuh, sarwwa dadi dumadi, sarwwa maltik, ring bhuwanandha, nimitantahen pasenggahanta, pangaran kayu, ngaran kahyun, mangkana.

Terjemahan :
Iswara memberikan kekuatan Siwa, berstana di dalam lubuk hati yang terdalam. Maksudnya, ciptaan dari Bhatara Brahma mewujud menjadi roh (atma) yang menyelimuti jagat raya beserta seluruh mahluk hidup, atas kehendak dari Dewaku Bhatara Parameswara, sehingga menjelmalah engkau menjadi pohon-pohonan yang tumbuh di atas bumi (Bhatari Pertiwi), memiliki batang, dahan, dedaunan, bunga, dan buah. Bhatara memberikan kekuatan hidup dari Bhatara Iswara, yang mana hal itu tersimpan di dalam lubuk hati. Diciptakan oleh Bhatara Brahma, ciptaan Beliau menjiwai roh yang gaib pada segala yang tumbuh, segala yang tercipta dan berkembang di alam semesta, sehingga itulah sebabnya kalian disebut ‘kayu’, yang mengartikan ‘kahyun’ (kehendak/pikiran); demikianlah adanya.


26a. dumadi Bhatara inutus Bhatara Guru, magawe kahatmyan nikang bhuwanandha, nahan kawruhakna panumadyanta. Mangke hana pawekasku, ri kita taru makabehan, apan uwus pinari suddha, kita kabeh, wenang meta tata wilasaning dewa mwang manusa, kamnanta wenang silih halap, raksa rumaksa ri janma kabeh, apa kalinganika, hanutkna sagana gananta, magehakna sawangsanta, sowang-sowang, aywa salah surup, salah pasang unggwananta, ginawe lakar, salu salu paumahaning manusa, mwang umahing dewa, sanggar, pura, paryyangan kunang, mwang sapretekaning wong pejah, yata den pasulurakna unggwananta, wenang kalawan nora wenang, kalinganya,

Terjemahan :
Jelmaan tersebut diperintahkan oleh Bhatara Guru untuk menciptakan keharmonisan alam semesta; itulah yang harus diketahui tentang asal mula penjelmaanmu. Sekarang ada nasehatku kepada kalian seluruh pohon semuanya, karena kalian semua telah disucikan, maka kalian berhak digunakan untuk keperluan upacara para Dewa maupun manusia. Kegunaanmu adalah untuk saling melengkapi dan saling menjaga bersama seluruh umat manusia. Maksudnya, ikutilah kelompokmu masing-masing, pegang teguhlah kedudukan bangsamu masing-masing, jangan sampai salah menempatkan atau salah memasang posisi tempatmu ketika digunakan sebagai bahan bangunan; baik untuk balai rumah tinggal manusia, maupun bangunan tempat suci para Dewa seperti sanggah, pura, parahyangan, hingga untuk keperluan sarana upacara orang mati (pengabenan). Hendaklah disesuaikan penempatannya antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan, maksudnya:


26b. kita taru nangka, wenang kita dadi ratuning taru kabeh, prabhu nangka pangaranta, kita mamisesa, ikang taru shananya. Kita taru jati, wnang kita mamatihi, patih jati pangarananta, wnang patih pangwesanta, ring sahananing taru iki kabeh. Muwah kita taru sentul, kita mannenga mantri mukya, sang mantri comel pangarananta amisesa, ikang taru rencek. Kita taru ungu, nga, tangi, dmung mangke pangadeganta, dmung ungu pangarananta, wnang kita mangreh ikang taru kabeh. Kita taru taep aryya sinatriyan pangadeganta. Kita taru bayur, bengkel, gampinis, bentenu, kula wisuddha, prebekel pangadeganta mangreh.

Terjemahan :
“Engkau pohon nangka, engkau berhak menjadi rajanya segala pohon semuanya, ‘Prabu Nangka’ namamu, engkau yang menguasai seluruh jenis pepohonan lainnya. Engkau pohon jati, engkau berhak menjadi patihnya, ‘Patih Jati’ namamu, engkau bertugas sebagai patih yang mengatur seluruh jenis pepohonan ini semuanya. Dan engkau pohon sentul, engkau berkedudukan sebagai menteri utama, ‘Sang Mantri Comel’ namamu yang menguasai golongan semak belukar (taru rencek). Engkau pohon ungu (tangi), berkedudukan sebagai demung sekarang, ‘Demung Ungu’ namamu yang berhak memimpin pepohonan semuanya. Engkau pohon taep, berkedudukan sebagai golongan Arya Ksatria. Engkau pohon bayur, bengkel, gampinis, dan bentenu adalah golongan yang suci, berkedudukan sebagai perbekel (pemimpin desa) yang memimpin”


27a. ikang taru rencek, tkaning picang tmsan, hano jaka, pring galiran. Lawanta waneh, lwir ikang taru wangsa Brahmana ri loka, tumuwuh ring alas, brahmana wana prasta ngaran. lwirnya, dhamulih, kwanitan, kajimas. Taru brahmana nagara, grehasta padhanya, slampitan, camplung, bonisari, ika kabeh. tan wenang ginawc salu, paturwaning manusa, ginawe sesakaning salu-salu, mwang salimar, sunduk, likah, salwir pinasang ring sor, tan wenang, sayogyanya, ginawe sanggar, pura, paryyangan, lumbung, dapur, maka abah-abah ring luhur, maring dulwan, mamakuh wnang, mangkana kengetakna. 0.

Terjemahan :
“golongan semak belukar, hingga pohon pinang, kelapa, enau, dan bambu hutan. Adapun yang lainnya, seperti jenis pohon yang termasuk golongan wangsa Brahmana di dunia yang tumbuh di dalam hutan dinamakan ‘Brahmana Wana Prasta’, yaitu: pohon dhamulih, kwanitan, dan kajimas. Pohon yang termasuk golongan Brahmana kota (Grehasta) kesamaannya adalah: pohon slampitan, camplung, dan bonisari; itu semuanya tidak boleh digunakan untuk membuat balai tempat tidur manusia, tidak boleh digunakan untuk kerangka bawah balai-balai, maupun untuk balok pengancing (sunduk), likah, dan segala yang dipasang di bagian bawah tidaklah diperbolehkan. Yang paling patut adalah digunakan untuk membuat bangunan sanggah, pura, parahyangan, lumbung padi, maupun dapur, tetapi dipasang sebagai kerangka bagian atas, diletakkan di bagian hulu (utama), atau digunakan sebagai tiang pengukuh (memakuh) itu diperbolehkan; demikianlah hendaknya diingat dengan baik.”


27b. Ikang taru sinatriya, prabhu nangka, patih jati, mantri sentul, dmung ungu, aryya taep, kladhyan, wetning tumuwuhnya, ri sawaning sang katamanan lara ila, aywa ginawe umahing dewa, kewsala saluning janma manusa juga wang anghing awasakna candhalanya, yan kari mawa candhala, lwirnya, brekhati, boroknya tan tinutapan dening mpuning tangan, soca amneri song sunduk, amneri panuwun lambang, ika cihnaning kari candhalanya, tan yogya anggenen, yan anggen sanggah, pura, saksat asungsung wwang sakit ila, mangkana kojaranya. Muwah kawruhakna, ikang kayhu wangsa dewa, mwang brahmana swargga,

Terjemahan :
Adapun pepohonan golongan Ksatria, yaitu: Prabu Nangka, Patih Jati, Mantri Sentul, Demung Ungu, Arya Taep, dan Kladyan, dikarenakan asal mula tumbuhnya dari jasad orang yang ditimpa penyakit kusta, maka janganlah digunakan untuk membuat bangunan tempat stana para Dewa, melainkan hanya boleh digunakan untuk membuat balai tempat tinggal manusia saja. Namun harus diperiksa dengan teliti kecacatan batangnya (candala); jika masih membawa kecacatan seperti batangnya berlubang busuk, kulitnya cacat yang tidak mulus jika diraba oleh tangan, matanya (soca) tepat mengenai lubang sunduk atau mengenai balok lambang, hal itu adalah tanda masih membawa noda kecacatan penyakit kusta sehingga tidak patut digunakan. Jika dipaksakan digunakan untuk bangunan sanggah atau pura, maka hal itu sama saja dengan memuja orang yang menderita penyakit kusta; demikianlah penjelasannya. Dan ketahuilah pula, jenis kayu yang termasuk golongan wangsa Dewa dan Brahmana Surga,


28a. ikang yogya sinembah, ginawe umah-umahing dewa, sanggar, pura, paryyangan, maka prabhuning wewangunan, pamakuhan, nga, makadi ptaka, jejagul, tugeh, lwirnya taru piling, widhining taru kabeh, ngaran sanghyang Tunggal widhi. Candhana dewaning taru, ngaran, Bhatara Guru. Majagawu, nga, Bhatara Saddha Siwa. Padma sari, taru sari, bhujaga puspa, ika ngaran, brahmana Swargga. Campaka kuning, ngaran, bhatara Suryyaning taru. Campaka putih, Sanghyang Wulan ngaran. Warulot, Bhatara Bayu, ngaran. Gantawas Sanghyang Iswara, ngaran. Taru teja Sanghyang Brahma, ngaran. Kayu hireng, tgil kiyuh, Bhatara Wisnu, ngaran. Tangguli ktur.

Terjemahan :
yang sangat patut dihormati, digunakan untuk membuat bangunan-bangunan tempat stana Dewa, sanggah, pura, parahyangan, serta dijadikan sebagai bagian utama dari tiang bangunan (pamakuhan) seperti mahkota tiang (petaka), jejagul, dan tiang penyangga (tugeh). Di antaranya: pohon piling yang merupakan rajanya (widhi) segala pohon semuanya bernama ‘Sanghyang Tunggal Widhi’. Pohon cendana adalah Dewanya para pohon bernama ‘Bhatara Guru’. Pohon majagau dinamakan ‘Bhatara Sadha Siwa’. Pohon padmasari, taru sari, dan bhujaga puspa (nagasari) dinamakan ‘Brahmana Surga’. Pohon cempaka kuning dinamakan ‘Bhatara Surya’-nya pepohonan. Pohon cempaka putih dinamakan ‘Sanghyang Wulan’ (Bulan). Pohon waru lot dinamakan ‘Bhatara Bayu’. Pohon gantawas dinamakan ‘Sanghyang Iswara’. Pohon teja dinamakan ‘Sanghyang Brahma’. Kayu hitam (kayu hireng) dan tegil kiyuh dinamakan ‘Bhatara Wisnu’. Pohon tangguli ketur


28b. Sanghyang Mahasora, ngaran. Tangguli gending, Sanghyang mahadewa, ngaran. Kayu sidem, sanghyang Sambu, ngaran. Taru Sumba, Rudra, ngaran. Taru Kpelan, Bhatara Siwa, ngaran. Ika kabeh padha wenang ginawe umah dewa, sanggar, meru, lumbung, dapur. Mwang sarupaning kita taru mrik ambunta, umungguh ring wit, ring tuwed, ring carmma, ring sekar, ikataru apsara gandarwwa, ngaran, wenang ginawe abah-abah umah dewa, kalinganya, kengetakna pararaton ikang taru, paumahaning janma, ring bale, umah nten, paturwan, wenang kaprabhonya, prabhu nangke, pepatih jati,

Terjemahan :
dinamakan ‘Sanghyang Mahasora’. Pohon tangguli gending dinamakan ‘Sanghyang Mahadewa’. Kayu sidem dinamakan ‘Sanghyang Sambu’. Pohon sumba dinamakan ‘Dewa Rudra’. Pohon kepelan dinamakan ‘Bhatara Siwa’. Itu semuanya boleh dan berhak digunakan untuk membuat bangunan tempat stana Dewa, sanggah, meru, lumbung, maupun dapur. Dan segala jenis pohon yang memiliki bau harum, baik pada batangnya, pangkal akarnya, kulitnya, maupun bunganya, itu dinamakan golongan ‘Pohon Apsara Gandharwa’ yang berhak digunakan sebagai perlengkapan bangunan tempat suci para Dewa. Maksudnya, ingatlah dengan baik aturan tatanan penggunaan pepohonan tersebut untuk bangunan rumah tinggal manusia; baik untuk bangunan bale, rumah tinggal, maupun tempat tidur, yang mana bagian utamanya harus menggunakan kayu golongan Prabu Nangka dan Patih Jati,


29a. mantri rangga, sentul, dmung ungu, aryya, taep, kladyan, padha wnang jnengaken prabhu pamakuhan, wenang aywa pasang ri tebenan pajajarnya, ikang taru kottaman sakeng pamakuhan, ikang masoran wangsanya juga, maka doganya, pajajaranya. Mangkanajuga, yan maring lumbung, prabhunya, wangkal, patihnya, blalu, mantrinya, jttwet, miying kalmpwak. Yan ring dapur, wenang manneng prabhu, wangkal, patih klampwak, mantri juwet. Wenang maka abah-abah sarwwa taru kala kabeh, tekaning taru rencek, tlas.

Terjemahan :
menteri rangga (sentul), demung ungu, arya taep, dan kladyan, semuanya berhak dijadikan sebagai bagian tiang utama (prabu pamakuhan). Janganlah sekali-kali memasang kayu yang utama di bagian bawah (tebenan) atau sejajar dengan kayu yang lebih rendah derajat wangsanya. Kayu yang derajat wangsanya lebih rendah sajalah yang patut dipasang di bagian bawah atau sebagai penyeimbangnya. Demikian pula halnya jika untuk bangunan lumbung padi; rajanya (prabu) adalah kayu wangkal, patihnya kayu blalu, menterinya kayu juwet atau klampwak. Jika untuk bangunan dapur, yang berhak menjadi rajanya adalah kayu wangkal, patihnya kayu klampwak, dan menterinya kayu juwet. Serta boleh menggunakan perlengkapan dari segala jenis kayu liar (taru kala) semuanya hingga semak belukar (taru rencek). Selesai.


Sumber Lontar :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990)


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga