Sulinggih menjadi murid

Ketika Sulinggih Menjadi Murid


“Seorang Sulinggih yang Diam-Diam Belajar dari Anak Kecil tentang Ketulusan”

Mengisahkan perjalanan batin seorang Sulinggih yang selama bertahun-tahun mendalami kitab suci dan mengajarkan kebijaksanaan kepada umat. Namun, melalui tindakan-tindakan sederhana seorang anak desa bernama Made — seperti menolong tanpa pamrih, berbagi dengan ikhlas, memaafkan, dan selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain — beliau menyadari bahwa makna ketulusan sejati tidak hanya dipelajari dari kitab, melainkan dari teladan hidup. Pada akhirnya, sang Sulinggih mengakui bahwa guru terbesar dalam hidupnya bukanlah seorang cendekiawan atau tokoh besar, melainkan seorang anak kecil yang mengajarkan kebajikan melalui perbuatan, bukan kata-kata.

Bagian 1 – Pertemuan dengan Guru Kecil

Di sebuah griya tua di pedalaman Bali, hiduplah seorang sulinggih yang sangat dihormati masyarakat. Orang-orang memanggil beliau Ida Gede Hanoman.

Setiap hari, sejak sebelum matahari terbit, halaman griya sudah dipenuhi umat yang datang dari berbagai desa. Ada yang memohon tirta untuk upacara, ada yang meminta nasihat tentang keluarga, ada pula yang hanya ingin duduk beberapa saat demi memperoleh ketenangan.

Beliau mendengarkan semuanya.

Dengan suara lembut.

Dengan mata yang teduh.

Dengan senyum yang hampir tak pernah berubah.

Banyak orang berkata bahwa beliau adalah sosok yang telah mencapai kebijaksanaan. Bahkan para pemangku muda sering datang hanya untuk mendengar wejangan beliau mengenai dharma, kesabaran, dan makna hidup.

Namun tidak seorang pun tahu bahwa jauh di dalam hati, Ida Pedanda masih sering bertanya kepada dirinya sendiri.

“Apakah aku benar-benar telah memahami ketulusan?”

Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali malam tiba.

Beliau telah mempelajari ribuan lontar.

Menghafal mantra-mantra suci.

Memimpin ratusan upacara yadnya.

Namun semakin banyak yang dipelajari, semakin beliau merasa bahwa ketulusan bukan sesuatu yang dapat ditulis di atas daun lontar.

Ia harus dialami.


Suatu sore, ketika hujan baru saja reda, seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun datang ke griya bersama neneknya.

Namanya Made.

Tubuhnya kurus.

Kulitnya legam karena sering bermain di sawah.

Rambutnya sedikit acak-acakan.

Ia mengenakan baju putih yang sudah mulai pudar warnanya.

Neneknya datang meminta tirta untuk suaminya yang sedang sakit.

Sementara sang nenek berbincang dengan salah satu pengayah, Made berjalan-jalan di halaman griya.

Ia memperhatikan bunga-bunga yang berguguran.

Semut yang mengangkat remah-remah canang.

Seekor kupu-kupu kuning yang hinggap sebentar di bunga cempaka.

Tak lama kemudian, Made melihat seekor anak burung jatuh dari sarangnya.

Burung kecil itu masih belum bisa terbang.

Ia mengepak-ngepakkan sayap mungilnya sambil mengeluarkan suara lirih.

Tanpa berpikir panjang, Made berjongkok.

Ia mengangkat burung itu dengan kedua telapak tangannya seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.

Ida Pedanda yang kebetulan sedang berjalan menuju bale dangin menghentikan langkahnya.

Beliau memperhatikan anak kecil itu dari kejauhan.

Made tidak memanggil orang dewasa.

Tidak mencari pujian.

Tidak berteriak agar semua orang melihat perbuatannya.

Ia hanya memandang burung kecil itu dengan wajah penuh rasa kasihan.

“Ayo… jangan takut…”

bisiknya pelan.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia menemukan pohon tempat sarang burung itu berada.

Karena terlalu tinggi, ia mengambil sebuah bangku kecil dari dekat bale.

Naik perlahan.

Berjinjit.

Dengan sangat hati-hati ia mengembalikan anak burung itu ke sarangnya.

Begitu selesai, ia tersenyum sendiri.

Lalu berjalan pergi.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Ida Pedanda memperhatikan semuanya.

Beliau tersenyum.

Namun entah mengapa, senyum itu disertai rasa haru yang sulit dijelaskan.

Beliau bertanya dalam hati,

“Kalau aku yang menemukan burung itu… apakah aku akan melakukan hal yang sama? Atau aku akan memanggil orang lain agar dianggap peduli?”

Pertanyaan itu membuat beliau terdiam cukup lama.


Beberapa hari kemudian, Made datang lagi.

Kali ini bukan karena upacara.

Ia hanya menemani neneknya mengantar sayuran hasil kebun sebagai ungkapan terima kasih kepada griya.

Selesai membantu, Made duduk sendirian di bawah pohon mangga.

Ia membuka bekal kecil yang dibawanya.

Isinya hanya nasi putih dan sedikit sambal.

Belum sempat ia makan, datang seekor anjing kurus yang tampak kelaparan.

Made menatap anjing itu.

Lalu tanpa ragu membagi nasi yang dimilikinya menjadi dua.

Setengah untuk dirinya.

Setengah lagi untuk anjing itu.

Anjing tersebut melahap makanan dengan lahap.

Made tertawa kecil melihatnya.

Padahal setelah itu, dirinya sendiri makan sangat sedikit.

Ida Pedanda kembali melihat semua itu.

Beliau mendekat perlahan.

“Made.”

“Iya, Ratu.”

“Kenapa kamu memberikan makananmu?”

Made mengangkat bahu.

“Soalnya dia lapar.”

“Kalau kamu nanti lapar?”

“Aku masih bisa tahan.”

“Kalau besok tidak ada makanan?”

Made kembali mengangkat bahu.

“Ya… besok dipikir besok.”

Jawaban itu sederhana.

Sangat sederhana.

Tetapi bagi Ida Pedanda, kata-kata itu terasa jauh lebih dalam daripada banyak kalimat yang pernah beliau baca di dalam lontar.

Beliau tersenyum.

“Siapa yang mengajarimu begitu?”

Made menjawab sambil tertawa kecil,

“Ibu.”

“Lalu apa kata ibumu?”

“Ibu bilang… kalau kita punya dua, kasih satu. Kalau cuma punya satu, lihat dulu siapa yang lebih membutuhkan.”

Ida Pedanda tidak segera menjawab.

Beliau memandang anak kecil itu cukup lama.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan berubah.

Selama bertahun-tahun beliau mengajarkan tentang welas asih.

Namun hari itu, beliau merasa baru saja melihat welas asih yang hidup.

Bukan dalam kitab.

Bukan dalam ceramah.

Melainkan dalam tindakan yang dilakukan tanpa berpikir tentang balasan.

Dan tanpa disadari, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi seorang sulinggih, beliau merasa sedang menjadi seorang murid.



BACA JUGA