Daksina Linggih – Simbol (Nyasa) Tuhan dalam Tri Angga


Dalam Kamus Istilah Agama Hindu diuraikan bahwa Daksina adalah 1) kanan, selatan, 2) nama banten yang bentuknya/ pembuatannya berisi beras, kelapa, telor, peselan, bijaratus, pisang, dll. Dalam penataannya berfungsi sebagai hulu. Sedangkan Linggih berarti: tempat tinggal, santapan, kasta, dan melinggih berarti duduk. Jadi, dari definisi di atas dapatlah ditarik benang merah bahwa Daksina Linggih berarti sebuah banten yang berisi beras, kelapa, telor, peselan, bijaratus, pisang, dan kelengkapannyal, dan dalam penataannya berfungsi sebagai hulu dan linggih(tempat duduk) roh suci(Tuhan). Daksina Pelinggih atau Daksina Mepayas adalah Nyasa atau simbol Lingga Yoni, memang sangat unik dan lain daripada yang lain. Nilainya lebih tinggi daripada banten, misalnya banten pejati ada Daksina-nya, namun disini dia dipersembahkan bukan disembahyang. Daksina dengan segala perlengkapannya terdiri dari:... Selengkapnya


Canakya Niti Sastra – Ilmu Politik, Kepemimpinan dan Moralitas

Niti Sastra secara umum dikenal sebagai ilmu politik dan kepemimpinan. Akan tetapi sesungguhnya ajaran Niti Sastra tidak hanya mengajarkan ilmu politik dan kepemimpinan, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara membangun masyarakat yang sejahtera. Kata Niti Sastra memang sudah tidak asing lagi di kalangan tokoh terpelajar, akan tetapi bagi masyarakat yang awam masih terasa asing dengan kata ini. Pada masya... Selengkapnya

Runtutan Upacara Ngaben Arya Kubon Tubuh

Pandangan masyarakat tentang upacara ngaben masih dipersepsikan ngabehin atau pemborosan, artinya berlebihan, tanpa mempunyai uang lebih atau banyak orang tidak akan bisa ngaben. Ngaben dianggap selalu memerlukan biaya yang besar sehingga memerlukan kesiapan fisik maupun non fisik untuk melaksanakan upacara ngaben. Akhirnya, banyak warga yang tidak bisa ngaben, lantaran biaya yang terbatas. Akibatnya leluhu... Selengkapnya

Istilah dan Konsep Kegiatan Gotong Royong di Bali

Suatu asumsi dasar yang dijadikan patokan dalam artikel ini adalah bahwa masyarakat dan kebudayaan Bali sedang meng­alami proses perubahan, khususnya karena modernfsasi dan pembangunan. Atas dasar logika edukatif, perubahan suatu masyarakat dan kebudayaan pada hakekatnya akan membawa implikasi per­ubahan bagi sub-sistim masyarakat yang bersangkutan, baik sistim ekonomi, sistim teknologi, sistim kemasyarak... Selengkapnya

Implemantasi Tri Hita Karana untuk Harmonisasi dan Kedamaian

Tri Hita Karana mencakup pendekatan komprehensif dan holistik dalam menangani masalah perdamaian di Bali. Ini tidak hanya menangani sisi material atau ideasional dari perdamaian tetapi juga sisi transendental dan kosmologis. Tri Hita Karana berupaya menggambarkan orang Bali sepenuhnya, tidak hanya dari perspektif individu dan sosial, tetapi juga ekologis dan kosmologis. Kondisi manusia yang damai tidak hany... Selengkapnya

Pengobatan Bali dalam Lontar Usada Dalem

(1b) Ong Awighnāmāstu. Patngëran tlas ring kapatin, iti wariga dalëm, ning nghājñanā, hana pūrwwā bhumi ring bwanālit, apan hanājñanāntāgring tan kawaśa tinggal, tlas sanghyang urip wus atinggal. Malih yan wus karaśā tëtngëran mwang ngacicidrā, ikā druwā wwang mangkanā. Iti lwir rikang hoṣadhi. Nihan patngëraning wiṣya, lwirnyā, yen tan pabhayu, upas tahunan kaglarani, śa, wah ... Selengkapnya

Ala Ayuning Dewasa Menurut Lontar Wariga Dewa

1a. Om Swastyastu. Sad guna, gbogang wurip saptawara, pancawara, tang, pang, sadwara, lima-limahin, sisan, 5, dadi sesa. Dewasa, mnge, pepet, tmuang urip, saptawara, pancawara, petek dewa loka, 4, wisnu loka, 3, kubon loka brahma loka, 1. Lebur sangsa, temuang wurip, pancawara, saptawara, sasih, tang, pang, sadwara, gebog, dadyang sesa, jajarang, nem-nemmin, sisan, 6, dadi sesa. Dewa, kala, manusa, gumi, pa... Selengkapnya