Wrati Sasana

Wreti Sasana – Pedoman Sang Wiku, Sulinggih dan Pemangku

Salah satu naskah lontar yang menempati posisi sentral dalam diskursus etika kepanditaan adalah Lontar Wrati (Wreti) Sasana atau Brati Sesana. Naskah ini merupakan bagian dari genre sastra Sasana atau Sila, yang secara khusus mengkodifikasikan aturan perilaku, disiplin spiritual, dan sanksi metafisik bagi mereka yang menapaki jalan kesucian atau kepanditaan. Aktualisasi ajaran Panca Yama Brata, Panca… Detail

rwa bhineda

Kajian Lontar Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra

Salah satu mahakarya tekstual yang memuat kedalaman esoteris yang luar biasa adalah naskah Tegesing Warah Rwa Bhineda Tan Pasastra. Naskah aslinya, menggunakan idiom Tantrik yang padat makna, mengindikasikan bahwa teks ini pada awalnya diajarkan melalui tradisi lisan (parampara) dari seorang guru (Nabe) kepada muridnya (Sisya) sebelum akhirnya dikodifikasi ke dalam rontal. Artikel ini bertujuan untuk… Detail

Pawintentan Sastra Saraswati

Pawintenan Sastra – Inisiasi Spiritual dalam Tradisi Hindu Bali

Dalam diskursus teologi, ontologi, dan mistisisme Hindu Bali, tubuh manusia diyakini sebagai relasi kosmis yang dikenal dengan terminologi mikrokosmos (Bhuwana Alit) dan makrokosmos (Bhuwana Agung). Akses menuju kesadaran kosmis dan sinkronisasi antara dua dunia ini tidak dapat dicapai secara instan; ini  difasilitasi melalui serangkaian ritus transisi, purifikasi, dan inisiasi secara rahasia dikenal sebagai ritual Pawintenan…. Detail

usana dewa

Arsitektur Spiritual dalam Naskah Tutur Usana Dewa

Tutur Usana Dewa merupakan pedoman yang mengatur tata letak bangunan suci (pelinggih) di area Kahyangan serta panduan detail pelaksanaan upacara keagamaan, seperti pemlaspas, pecaruan, dan ritual penyucian. Selain aspek teknis upakara, naskah ini memberikan penekanan kuat pada etika, moralitas, dan kewajiban spiritual seorang pamangku sebagai perantara Hyang Widhi. Pemahaman yang komprehensif terhadap Tutur Usana Dewa… Detail

Pecaruan Eka Sata

Caru Penebus Alahing Dewasa Ala

Untuk mengatasi atau menetralisir (nyomia) Alahing Dewasa (hari buruk) ketika sebuah upacara terpaksa harus dilaksanakan pada hari tersebut (karena keadaan mendesak atau Cuntaka ), biasanya digunakan sarana Caru Penebus atau Banten Pemunah. Pelaksanaan Caru Penebus Alahing Dewasa (seperti Caru Eka Sata Ayam Brumbun yang dijelaskan sebelumnya) dilakukan dengan aturan waktu dan kondisi khusus. Caru ini… Detail

Pecaruan Eka Sata

Tata Cara Pemangku Nganteb Pecaruan Eka Sata

Caru Eka Sata adalah kurban suci yang digunakan untuk mengharmoniskan lingkungan pekarangan seperti areal perumahan, tempat suci dll. Kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang sering menimbulkan gangguan serta bencana, tetapi dengan Bhuta Yadnya ini maka kekuatan – kekuatan tersebut akan dapat melindungi secara niskala kehidupan manusia dan lingkungannya. Caru Eka Sata mempunyai 2 fungsi, yaitu secara sekala… Detail

Tutur Gong Wesi

Tutur Gong Besi, Pinugrahan dari Bhatara Dalem

Gong Besi adalah termasuk lontar tutur yang besrifat Siwaistik. Lontar ini tergolong muda dan kemungkinan besar ditulis di Bali. Ditilik dari isinya, lontar ini isinya lebih dari satu, hal ini dapat dimengerti karena adanya kebiasaan dari para penyalin lontar memasukan beberapa materi dalam satu lontar. Pokok-pokok isinya dapat disampaikan sebagai berikut : Bagian yang berisi… Detail

Puja Mantra (Stava, Stuti, Stotra dan Sehe)

Penggunaan Puja Mantra (Stava, Stuti, Stotra dan Sehe)

Pūjāstava tidak dapat dilepaskan dengan teologi Hindu pada umumnya. Untuk itu penguasaan terhadap mantra-mantra Veda maupun pūjā, stuti, stava, stotra atau sêhê sangat mendukung pemahaman terhadap teologi tersebut. Pemahaman terhadap teologi Hindu hendaknya juga diikuti dengan upaya untuk menyucikan diri pribadi sebagai sarana untuk merealisasikan pemahaman dan penghayatannya itu. Penyucian yang mantap akan membuka atau… Detail

Lontar Sundarigama

Lontar Sundarigama – Tatacara Pelaksanaan Upacara Yadnya

Isi dari lontar ini adalah tatacara pelaksanaan upacara agama, yang merupakan sabda bhatara guru (Siwa) kepada para pendeta yang menjadi penasehat raja. Karenanya Sundarigama dipandang sebagai tradisi suci yang patut diwariskan secara turun-temurun dan patut disampaikan kepada setiap umat dan krama bali, agar wilayah tempat dilaksanakan upacara menjadi tentram dan kehidupan warga/rakyat pun menjadi sejahtera…. Detail

Piodalan Tumpek Landep

Pelaksanaan Upacara dan mantra Piodalan Tumpek Landep

Pelaksanaan Tumpek Landep di era globalisasi membawa keunikan tersendiri. Masyarakat Hindu mengupacarai segala jenis reralatan atau teknologi yang mendukung aktivitas keseharian. Hari Raya Tumpek Landep tersebut dirayakan setiap saniscara (sabtu) kliwon wuku Landep. Tumpek landep termasuk dalam upacara yang berdasarkan pawukon (wuku) sehingga peringatannya jatuh setiap enam bulan sekali menurut kalender Bali (210 hari). Kata… Detail