Budaya dan Adat Bali

Budaya dan Adat Bali Masyarakat Bali selalu menjadi salah satu elemen terpenting dalam setiap aspek kehidupan di pulau yang sering disebut sebagai pulau dewata ini. Perpaduan antara agama Hindu Dharma dan adat istiadat setempat telah banyak menghasilkan karya seni yang unik, “hidup” dan sarat dengan tradisi yang dapat dengan mudah kita temukan di setiap sudut Pulau Bali. Pura-pura indah yang dibangun berdasarkan kisah-kisah magis yang ajaib, ritual keagamaan yang diadakan berdasarkan kalender kuno diikuti oleh ratusan hingga ribuan orang mengenakan pakaian adat merupakan pemandangan sehari-hari yang akan kita temukan di pulau yang keindahannya tak tertandingi ini.

Warisan Tradisi dari Para Leluhur Orang Bali

sangat erat kaitannya dengan warisan tradisi dari para leluhur orang Bali dan kehidupan relijius masyarakat Hindu. Keduanya telah memiliki akar sejarah yang demikian panjang dan mencerminkan konfigurasi ekspresif dengan dominasi nilai dan filosofi relijius agama Hindu. Dalam konfigurasi tersebut tertuang aspek berupa esensi keagamaan, pola kehidupan, lembaga kemasyarakatan, maupun kesenian yang ada didalam masyarakatBali. Mayoritas masyarakat Bali menganut ajaran Hindu yang mempunyai kerangka dasar dengan meliputi tiga hal; filsafat, upacara, dan Tata Susila. Pola kehidupan masyarakat Bali sangat rigid dan terikat pada norma-norma baik agama maupun sosial. Dalam konteks norma agama misalnya, setiap pemeluk Hindu Bali wajib untuk melaksanakan sembahyang atau pemujaan pada pura tertentu diwajibkan pada satu tempat tinggal bersama dalam komunitas, dalam kepemilikan tanah pertanian diwajibkan dalam satu subak tertentu, diwajibkan dalam status sosial berdasarkan warna, pada ikatan kekerabatan diwajibkan menurut prinsip patrilineal.Struktur adat budaya dan tradisi rumah masyarakat Bali dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu pemukiman pola kosentris seperti yang terjadi pada masyarakat Bali yang tinggal di pegunungan dan pemukiman menyebar seperti yang terjadi pada masyarakat Bali yang berada di dataran rendah. Pada pola kosentris, desa adat yang menjadi titik sentral. Sedangkan pada pola menyebar, desa terbagi-bagi kedalam satu kesatuan wilayah yang lebih kecil yang disebut Banjar.Menurut Adat dan tradisi budaya Bali ada tugas-tugas tertentu secara jelas akan ditangani oleh perempuan, dan lainnya diperuntukkan bagi laki-laki. Dalam kegiatan adat dan budaya Bali ,peran jenis kelamin dibedakan. Baik laki-laki dan wanita .Dimana wanita hanya menari sedangkan pria memainkan gamelan. Tapi sekarang Anda dapat melihat beberapa pelukis wanita, pemahat, dan pengukir.

Suku Bali warisan dari Jaman Bali Kuno

Suku orang Bali yang dalam bahasa Bali disebut Anak Bali, Wong Bali, atau Krama Bali merupakan etnis yang mendiami pulau Bali. Pulau ini dikenal sebaga Pulau Dewata yang berada di timur Pulau Jawa. Menurut cerita, dahulu kala ada sebua kerajaan di pulau ini dan mengembangkan Kebudayaan Hindu.
Penduduk asli suku Bali Aga ini bermukim di pegunungan karena masyarakatnya menutup diri dari pendatang yang mereka sebut dengan Bali Hindu, yaitu penduduk keturunan Majapahit. Selain itu, masyarakatnya juga menganggap bahwa daerah di pegunungan adalah tempat suci karena daerah tersebut banyak sekali puri dan kuil yang dianggap suci oleh masyarakat Bali.
Selain suku Bali Aga yang ada di Bali timur, ada pula suku Bali Majapahit. Suku ini berasal dari pendatang Jawa yang sebagian besar tinggal di Pulau Bali khususnya berada di dataran rendah. Masyarakat suku Bali ini berasal dari masyarakat Jawa pada kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu. Mata pencaharian dari masyarakat suku ini adalah bercocok tanam. Suku ini juga menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.


Nganten Keris, Jalan Keluar Untuk Keabsahan Status Sosial

Kehidupan umat Hindu di Bali sesungguh memiliki banyak hal-hal unik yang tidak mudah dimengerti, lebih-lebih yang ditonjolkan hanya karakteristik upacara dan upakaranya saja serta hanya berlaku terbatas pada ruang lingkup desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan) masing masing yang tidak seragam. Sahnya perkawinan secara adat dan menurut Agama Hindu apabila telah disaksikan oleh Tri… Detail

Tradisi Ngoncang, Wujud Kebersamaan dan Keharmonisan (Tri Hita Karana)

Sejak dulu hingga kini, Tradisi ngoncang ini dikenal sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya, sesuai dengan yang tertuang dalam ajaran Agama Hindu yakni Tri Hita Karana. Seiring dengan berjalannya waktu, kini tradisi ini pun semakin jarang ditemui di Masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi ngoncang dilaksanakan… Detail

Pelaksanaan Perkawinan Menurut Tradisi dan Adat-istiadat Bali

Tatacara pelaksanaan pewiwahan dalam tradisi dan adat-istiadat Bali sangatlah beragam. Bagi krama desa adat Bali yang ada di daerah Bali, tradisi yang paling umum dilakukan adalah upacara “mekalah-kalahan” atau upacara “mesakapan” yang didalamnya terdapat upacara bhuta yadnya (mabyakala) dan upacara dewa yadnya (prayascita dan mejaya-jaya). Tradisi adat dan budaya Bali yang ada di perantauan, telah… Detail

Arsitektur Rumah Tradisional Bali

Menciptakan keselarasan dan keharmonisan serta integrasi yang menyeluruh antara mikrokosmos (buana alit) dan makrokosmos (buana agung) berlandaskan pada tata kehidupan sosial yang religius, merupakan pandangan hidup masyarakat Hindu di Bali. Pandangan ini di wujudkan juga dalam budaya masyarakat Hindu khususnya di Bali terutama dalam penataan bangunan tempat tinggalnya. Perwujudan bangunan perumahan di Bali sangat kompleks dan… Detail

Perkawinan “Padagelahang”, alternatif bagi perkawinan Nyentana

Salah satu fase penting hidup manusia dalam bermasyarakat adalah perkawinan. Dikatakan penting karena perkawinan dapat mengubah status hukum seseorang. Semula dianggap belum dewasa dan dengan dilangsungkannya perkawinan dapat menjadi dewasa atau yang semula dianggap anak muda (deha) dengan perkawinan akan menjadi suami istri (alaki rabi), dengan berbagai konsensus yuridis dan sosiologis yang menyertainya. Bentuk perkawinan… Detail

Budaya Rendah Hati Bukan Rendah Diri

Tat twam asi. Dia, itu, adalah AKU juga. Karena di dalam dia, di dalam masing-masing mereka. Di dalam setiap ciptaanku adalah AKU. Karena itu, semua kamu, semua manusia adalah bersaudara. Semua makhluk manusia adalah bersaudara, satu dalam kemanusiaan, satu dalam berbumi dan satu dalam alam semesta. Hormat kepada diri sama artinya dengan hormat kepada orang… Detail

Menyame Braya, Persaudaraan dalam Perbedaan

Masyarakat Bali dalam menghayati penyamabrayan mengibaratkan bahwa kehidupan sosial yang plural dalam relasinya itu ibarat sebuah pohon: bahwa akar pohon diibaratkan adalah Tat Twam Asi (Aku adalah Kamu: manusia pada hakekatnya adalah satu), batangnya adalah vasudewam khutumbhakam (kita semua adalah keluarga), menyama braya adalah cabangnya, sedangkan daun, bunga dan buah adalah kerukunan. Hanya dengan memiliki… Detail

Estetika Seni Tari Joged Bumbung

Media gerak menjadi sangat penting dalam suatu bentuk tari. Bali sudah memiliki pola pakem tari yang khas. Mengapa gerak ini menjadi penting untuk pembahasan bentuk seni joged, hal itu tidak terlepas dari konsumsi indah yang dibutuhkan agar mampu menghibur dan laris diperjualkan. Atas dasar konsep indah itu kemudian menjadikan pakem pola gerak tarian Bali mengalami… Detail

Ketimpangan Hak Hutan Adat vs Hutan Negara Terhadap Sumber Daya Alam

Masyarakat Indonesia sudah memiliki aturan hukum berdasarkan prinsip kearifan lokal atau pandangan hidup masyarakat yang dikenal dengan hukum adat sebagai aturan yang luhur sampai ke generasi penerus mereka. Aturan dalam hukum adat mengatur pula mengenai penguasaan, dan pemanfaatan sumber daya alam, yang merupakan bagian dari penguasaan harta kekayaan masyarakat, yang mana dalam sisi penguasaannya masyarakat… Detail

Memaknai Nyepi sebagai tujuan hidup umat Hindu (Bali)

Mewujudkan kesejahteraan lahir batin atau Jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini telah dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135. Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña…. Detail