Kaputusan (Ajaran) Aji Maya Sandhi

Om Awighnam Astu Namo Sidham. Inilah Beliau Hyang Maya Sandhi yang mewejangkan beberapa ajaran kepada para murid beliau, menguraikan tentang permulaan teijadinya dunia ini. Adapun isi pembicaraan beliau adalah sebagai berikut: Duhai ananda para muridku dengarkanlah kata-kataku yang isinya menguraikan tentang kelengkapan suatu ajaran dan janganlah kalian tiada menaruh kepercayaan, karena ini adalah anugrah dari… Detail

Tata Cara Mendem Sawa dan Pelaksanaan Ngaben Sederhana

Dari beberapa penelusuran terhadap Lontar di Bali, ngaben tidak selalu besar biayanya. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan sawa wedhana. Sebelum sampai pada uraian pokok, perlu juga dikemukakan pengertian dasar… Detail

Filosofi dalam Tutur Lontar Bubuksah & Gagakaking

Cerita Bubhuksah dan Gagakaking merupakan sebuah karya sastra keagamaan. Sebagai sebuah cerita yang bernafaskan religius mengutarakan tentang cita-cita dan hakikat pembebasan jiwa menuju alam murni yakni Moksa. Lontar Tutur Bubuksah merupakan salah satu kesusastraan populer yang berkembang sekitar pertengahan abad ke-14 di zaman Majapahit dan berkembang sampai ke Bali. Naskah Tutur Bubuksah sebagai satu karya… Detail

Shiwa-Buddha di Kitab Sang Hyang Kamahayanikan

Kitab Sang Hyang Kamahayanikan merupakan kitab kuno yang bersifat Tantris. Memuat ajaran jalan pembebasan (moksha), Kependetaan serta tata aturan hubungan Guru/Nabe dan murid (aguron-guron). Shiwa dan Buddha adalah dua agama yang lahir di Bharatawarsa. Untuk mengungkap perkembangan Shiwa dan Buddha, tampaknya tidak dapat dilepaskan dari evolusi agama Hindu terutama pada zaman Brahmana. Mengingat ajaran Shiwa… Detail

Kala Purana

Om Awighnamastu, Iti kalapurana, maka purwaka Sanghyang Çiwa ring swarga Çiwaloka, kawuwusen Bhatara Çiwa, hana putranira kalih siki laki-laki, kang panuwa Sanghyang Kala, kadi tapning raksasa warnanira, kang ari Sanghyang Pancakumara ngaranira, kari raré, apekik warnanira, sira Bhatara Kala duk mijil sandyawéla, ri dina wrespati, pon, wara wayang. Sang Hyang Pancakumara duk mijil sedek prabata,… Detail

Turunnya Bhatara Tiga dalam Tutur Barong Swari

Naskah Tutur Barong Swari mengadung ajaran tatwa yang dikemas dalam cerita mitologi, mengandung nilai teologi hindu Bali. Naskah ini merupakan naskah yang beraliran siwaistik.  Tutur Barong Swari menceritakan mengenai Dewi Uma yang turun kedunia menjadi Dewi Durga yang sudah berganti nama menjadi Dewi Rohini, menuju tempat yang sunyi di tengah-tengah hutan rimba, di bawah pohon… Detail

Lontar Piwelas Untuk Pengasihan (Guna-Guna)

Lontar Piwelas adalah jenis lontar kediatmikan yang tergolong ilmu hitam. Piwelas adalah kata bahasa Bali yang berarti pengasihan. Lontar tersebut tidak hanya memuat aji pengasihan atau guna-guna, tetapi juga ilmu hitam yang lainnya, yaitu aji pengiwa dan pangliyakan. Aji pengasihan atau guna-guna yang dimaksud adalah: Piwelas Ni Rangdéng Dirah Piwelas Bhatara Ghana Piwelas Jarring Sutra… Detail

Lontar Tutur Katattwaning Aksara di Raga

1b. Ong awighnamāstu. Nihan upadesa warahakna ring sisya, aywa karěnga dening wong len, lwir ira sang hyang niskala, tan parupa, tan pakarnna, tan padesa, alinganira taking wěnang, tinudhuh, apan tan wěnang tinarka, sira kapralina ning dewa kabeh, paraba durllabha dahat. Hana ta isor ring niskala, nada, nga, ranira, tan pawarnna, tuwun hana rupa mantra, lwir… Detail

Pangruat (Penebusan Dosa) dalam Lontar Cempaka Gadang

Dalam Lontar Cempaka Gadang, upacara korban dengan mempersembahkan binatang bertujuan untuk pangruat, yaitu membersihkan roh leluhur yang dianggap berdosa. Selain itu, pangruat bertujuan untuk mengharmoniskan kembali keadaan alam beserta isinya. Lontar Cempaka Gadang memuat cerita tentang pangruat, yaitu menceritakan Dewi Ratna Cempaka Gadang yang mempunyai sifat jahat dan menggunakan ilmu hitam untuk menyebarkan wabah penyakit… Detail

Pelaksanaan Upakara Caru Labuh Gentuh

Caru labuh gentuh merupakan jenis upakara, banten atau sesajen yang digunakan di dalam upacara bhuta yadnya, untuk menetralisasi alam semesta bhuwana alit dan bhuwana agung menjadi harmoni, Suatu kurban suci yang bertujuan untuk menyucikan tempat (alam beserta isinya), memelihara dan memberikan penyupatan kepada para bhuta kala dan makhluk-makhluk yang dianggap lebih rendah dari pada manusia…. Detail