Piodalan Alit di Perumahan

Tingkatan Pelaksanaan dan Upakara Banten Piodalan

Dalam studi teologi Hindu Bali dan praktik ritual di lapangan, sering terjadi reduksi pemahaman di mana upacara Odalan (Piodalan, Pujawali, Petoyan) dipandang semata-mata sebagai aktivitas persembahan materi (material offering-centric). Pandangan ini, yang sering dikritik karena hanya berfokus pada Bebantenan saja, mengabaikan dua pilar fundamental lainnya dalam kerangka Tri Kerangka Agama Hindu, yaitu Tattwa (filosofi) dan Susila… Detail



Pranila Pemugaran Pelinggih

Tata Laksana dan Upakara Pemugaran (Pralina) Pelinggih

Dalam struktur teologi Hindu yang diterapkan dalam kebudayaan Bali, setiap entitas material yang telah disucikan — mulai dari Sanggah, Merajan, hingga Pura Kahyangan Jagat — tidak dipandang sekadar sebagai tumpukan batu bata, kayu, dan paras. Bangunan-bangunan ini diyakini memiliki “jiwa” atau entitas spiritual yang dihidupkan melalui serangkaian ritual penyucian yang kompleks. Eksistensi bangunan suci ini… Detail



Melukat

Ritual Melukat untuk Penyembuhan Gangguan Psikosomatik

Dalam lanskap kesehatan masyarakat Bali yang unik, konsep penyakit dan penyembuhan tidak pernah beroperasi dalam ruang vakum biologis semata. Kesehatan dipandang sebagai sebuah kondisi homeostasis dinamis atau keseimbangan (equilibrium) yang rapuh antara unsur mikrokosmos (bhuana alit — tubuh manusia) dan makrokosmos (bhuana agung — alam semesta). Ketika harmoni ini terganggu, penyakit bermanifestasi. Sistem medis tradisional… Detail



Pelaksanaan Natab Banten Otonan

Pedoman Pelaksanaan Natab dan Tetandingan Upakara Otonan

Dalam arsitektur spiritualitas Hindu Bali, kehidupan manusia dipandang sebagai sebuah perjalanan siklis yang tidak berhenti pada satu titik kelahiran biologis semata. Kelahiran manusia ke dunia (Mayapada) merupakan momen krusial pertemuan antara Atma (percikan keilahian) dengan Panca Maha Bhuta (lima elemen alam) yang membentuk Stula Sarira (badan kasar). Oleh karena itu, pemeliharaan kesucian dan penyelarasan energi… Detail



Pecaruan Eka Sata

Caru Penebus Alahing Dewasa Ala

Untuk mengatasi atau menetralisir (nyomia) Alahing Dewasa (hari buruk) ketika sebuah upacara terpaksa harus dilaksanakan pada hari tersebut (karena keadaan mendesak atau Cuntaka ), biasanya digunakan sarana Caru Penebus atau Banten Pemunah. Pelaksanaan Caru Penebus Alahing Dewasa (seperti Caru Eka Sata Ayam Brumbun yang dijelaskan sebelumnya) dilakukan dengan aturan waktu dan kondisi khusus. Caru ini… Detail



Berbagai Jenis Ulap Ulap Pelinggih dan Bangunan Bali

Ulap-ulap merupakan media dan simbol sakral yang ada dalam kebudayaan Hindu di Bali. Ulap-ulap terbuat dari secarik kain putih dengan berisikan tulisan Aksara Suci (Aksara Modre), gambar dewa-dewi dan juga gambar sejata yang diyakini memiliki kekuatan magis. Ini memberikan pemahaman bahwa dewa/dewi yang bersangkutan memiliki otoritas terhadap bangunan yang sedang dibangun. Dari sudut pandang religi,… Detail



Tata Cara Mendem Sawa dan Pelaksanaan Ngaben Sederhana

Dari beberapa penelusuran terhadap Lontar di Bali, ngaben tidak selalu besar biayanya. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan sawa wedhana. Sebelum sampai pada uraian pokok, perlu juga dikemukakan pengertian dasar… Detail



Tata Cara Mengubur Ari-ari

Tata Cara Mengubur Ari-Ari Sesuai Tradisi Bali

Perawatan ari-ari merupakan bagian terpenting setelah bayi lahir, bahkan menjadi prioritas sebelum merawat tubuh bayi. Ritual proses mendem ari-ari sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur orang tua. Setelah bayi terlahir, upacara dan upakara yang dibuat adalah berupa : Dapetan, Penyeneng dan Jerimpen. Sesajen tersebut, sesuai dengan daerah tertentu (loka dresta). Disebutkan dalam Dharma Kahuripan bahwa… Detail



Pecaruan Eka Sata

Tata Cara Pemangku Nganteb Pecaruan Eka Sata

Caru Eka Sata adalah kurban suci yang digunakan untuk mengharmoniskan lingkungan pekarangan seperti areal perumahan, tempat suci dll. Kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang sering menimbulkan gangguan serta bencana, tetapi dengan Bhuta Yadnya ini maka kekuatan – kekuatan tersebut akan dapat melindungi secara niskala kehidupan manusia dan lingkungannya. Caru Eka Sata mempunyai 2 fungsi, yaitu secara sekala… Detail



Bhatara Śri Rambut Sedana

Tradisi Pemujaan untuk Bhatara/i Śri Rambut Sedana

Bagi kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, Ida Batara Rambut Sedana atau Peradah atau Dewi Śri adalah manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai dewa kemakmuran dan kekayaan kepada manusia yang dirayakan setiap piodalan rambut sedana tepatnya Buda Cemeng Klawu dilaksanakan dipemerajan keluarga, pura kahyangan tiga desa pakraman maupun pura kahyangan jagat. Pemujaan terhadap-Nya berawal dari perkembangan dan… Detail