Filosofi dalam Tutur Lontar Bubuksah & Gagakaking


Cerita Bubhuksah dan Gagakaking merupakan sebuah karya sastra keagamaan. Sebagai sebuah cerita yang bernafaskan religius mengutarakan tentang cita-cita dan hakikat pembebasan jiwa menuju alam murni yakni Moksa. Lontar Tutur Bubuksah merupakan salah satu kesusastraan populer yang berkembang sekitar pertengahan abad ke-14 di zaman Majapahit dan berkembang sampai ke Bali. Naskah Tutur Bubuksah sebagai satu karya atau peninggalan kebudayaan berisi cerita tentang sinkretisme antara agama Siwa dan Budha. Dengan demikian bahwa naskah ini isinya bersifat keagamaan yang mengandung ajaran filosofis yang mendalam. Gambaran adanya sinkretisme agama Siwa dan Budha.

Cerita ini menjadikan dualisme pandangan di kalangan masyarakat bahwa cerita kehidupan Bubuksah dan Gagaking tersebut benar terjadi dan disisi lain ada yang berpandangan bahwa cerita tersebut merupakan imajinatif karya sastra keagamaan yang sarat akan nilai-nilai dan tuntunan  untuk  menjalankan kewajiban (swadharma).

Deskripsi dari kedua tokoh utama mengisyaratkan bahwa harus konsekuen, teguh, taat, terhadap kebenaran yang diyakini. Dalam ajaran agama Hindu keadaan semacam ini disebut dengan istilah satya. 
Bubuksah, satya terhadap brata-nya sampai harus memakan daging apa saja yang masuk keperangkapnya dan Gagakaking, satya terhadap brata-nya hanya makan dedaunan yang serba suci (paham Sudha Sridanta). Selain itu, ditunjukkan juga satya sebagai sumber utama mendapatkan sorga.

Dalam pandang yang lebih luas, satya juga berarti janji. Bagi yang mengetahui arti kata “janji” terlahir untuk melakukan kewajiban. Janji adalah ketetapan hati dari seorang pemuja kepada dewanya.

Bubuksah Gagakaking dalam cerita ini memiliki perbedaan karakter yang nampak jelas digambarkan melalui dua tokoh utama tersebut. Keduanya bersaudara kandung mengalami problema hidup bersama, berguru pada guru yang sama kemudian bertapa pada tempat yang sama pula.

Perbedaan karakter barulah tampak jelas digambarkan setelah mereka mandiri dan mendirikan “pasraman” sebagai tempat untuk bertapa dan memahami hakikat hidupnya. Sang kakak, Gagakaking, memilih tempat di barat menghadap ke timur seolah-olah menyongsong dan memuja matahari. Sedangkan sang adik, Bubuksah, memilih tempat di timur menghadap ke barat seolah-olah menyongsong dan memuja bulan.
Gagakaking adalah sebuah nama yang diberikan oleh gurunya setelah diangkat sebagai murid. Yang mengandung pemahaman sebatang tangkai kayu yang kurus kering. Di balik nama tersebut terkandung makna tattwa atau paham yang dilakoninya secara konsisten. Gagakaking melakukan tattwa brata kesucian yang disebut paham Sudha Sridanta. Paham ini selalu berlandaskan pada kesucian lahir batin yang mendasarkan darmanya pada tat wam asi. Ia berkewajiban membersihkan dan menyucikan (nyudha) mikrokosmos maupun makrokosmos.

Oleh karena itu, ia merasa wajib “ngurip” atau menghidupkan dan atau memelihara apa yang ada dan tumbuh hidup di alam ini. sebagaimana hakikat matahari yang senantiasa dipuja, terbit dengan sinar yang indah, menerangi dan memberi kehidupan di dunia ini. Karakter ini ditampakkan oleh Gagakaking dalam kebiasaannya sehari-hari mulai dari pemilihan tempat tinggal di puncak gunung yang sepi dengan membuat taman bunga yang indah dengan kehidupan satwa yang harmonis serta melakukan brata hanya memakan dedaunan untuk menyambung hidupnya sehingga tubuhnya kurus kering (aking). Kebiasaan-kebiasaan ini menyiratkan bahwa karakternya yang menonjol adalah menghidupkan dan memelihara serta kesucian yang diasahnya secara konsisten dalam usaha mencapai tingkat hakiki dan mulia yakni mencapai adining suwung atau Moksa (kebebasan yang abadi).

Gagakaking sesungguhnya adalah seorang pendeta yang sangat saleh. Perasaan Gagakaking tidak terbiasa dengan kekerasan, kematian dan pembunuhan. Oleh karena itu, ia sempat kebingungan dalam menghadapi kedatangan maut ketika mau dimangsa oleh harimau. Ia terbiasa dengan tresna yakni suatu perasan cinta kasih yang berlebihan baik terhadap lingkungannya maupun pada dirinya sendiri. Dengan perasaan mengayomi, lalu memusatkan perhatiannya atas imajinasi semacam itu sampai-sampai mengorbankan kenikmatan hidupnya hingga badannya kurus kering. Membunuh baginya adalah penghalang besar untuk mencapai alam murni.

Ia harus menekuni brata itu dengan susah payah sambil memupuk cinta kasih pada lingkungannya. Di mata rohaniawan ini, dunia ini penuh dengan fantasi kemewahan yang menjanjikan kenikmatan-kenikmatan hidup. Ia berusaha menghindarinya dan berusaha meninggalkan dunia maya ini. Hingga suatu ketika ia ingin menyadarkan Bubuksah, adiknya, bahwa yang dinikmatinya itu adalah maya adanya. Bila ia renungkan perilaku yang demikian, maka satu-satunya tanggapannya adalah rasa kasihan terhadap Bubuksah yang dianggap masih tinggal di dunia palsu dan masih terguncang-guncang dalam gelombang kenikmatan jasmaniah. Bagi Gagakaking, perjuangan batin melawan kebutuhan jasmaniah menyebabkan ia berpendapat bahwa dengan paham Sudha Sridanta ia dapat mencapai tujuan hidupnya dan untuk menaklukannya itu ia bersandar pada kekuatan spiritual.

Gagakaking yang suka berpantangan, serba suci ternyata keliru menganggap kedatangan harimau ganas itu sebagai penghalang yang mengganggu ibadahnya. 

Setelah mengamati karakter Sang Gagakaking, berikut karakter Sang Bubuksah.

Bubuksah juga mengikuti kakaknya bertapa untuk mencapai cita-citanya yang terakhir yakni mencapai kebebasan atau Moksa. Berbeda dengan kakaknya, Gagakaking, ia mengambil tempat di sebelah timur menghadap ke barat seakan-akan menyongsong peredaran bulan dari pananggal pisan sampai purnama.

Nama “Bubuksah” mengandung arti si rakus atau si pelahap yang berasal dari bahasa Sanskerta, Bubukṣaḥ yang berarti nafsu makan, selera makan yang besar, lapar. Makna yang terkandung di balik nama tersebut adalah kebebasan terhadap perilakunya sehari-hari yang mengisyaratkan bahwa ia selalu berusaha menghindarkan keterikatan.

Ia lebih mengutamakan kebebasan yang dalam tattwa Buddha disebut Samyadnyana.

Karakter ini lebih menonjolkan lascarya, yakni tentang keberanian dan keikhlasan dalam menghadapi segala persoalan hidup. Yang menjadi dasar adalah keseimbangan, tenang dalam segala kondisi. Ia tak pernah takut menghadapi kematian tetapi juga ia sangat menghargai hidupnya karena itu ia melakukan brata bherawa yang sangat taat. Salah satu kebiasaannya adalah memakan apa saja yang masuk ke dalam jerat yang dipasangnya.

Sang Bubuksah berpendapat bahwa bila ingin mencapai hasil yang sempurna dalam melakukan kewajiban di kehidupan ini haruslah didasari oleh keadaan jasmani yang sehat seimbang. Konsep lascarya yang ditunjukkannya yakni saat mengalami ujian dari harimau. Bubuksah pasrah, rela, sedikit pun tidak merasa takut akan kematian, siap mati suatu saat (tyaga pati) walaupun sang harimau memperlihatkan gigi dan cakarnya yang tajam, suaranya yang mengaum. Kematian baginya adalah pembebasan dari cengkeraman waktu (kala) dan siklus kehidupan.

Dengan kata lain, bahwa Bubuksah rela mengorbankan dirinya sendiri sebagai pengorbanan suci terhadap sesuatu yang memerlukan, terutama mengorbankan jiwanya, darah dan daging yang berifat jasmaniah yang mana sebelumnya harimau berkata bahwa dia (harimau) mau memakan daging manusia dalam menjalankan brata-nya. Itulah inti ajaran mahati dana atau sarira dana.

Sebagaimana dalam uraian di atas bahwa cita-cita akhir kedua paham itu adalah pembebasan jiwa atau moksa. Keduanya mengejar cita-cita ini dengan caranya sendiri. Ujian inilah nantinya akan membuktikan tingkat kemurnian jiwa yang telah dicapai. Dasar pijakannya adalah seorang yang telah mencapai keadaan rohani tanpa kejahatan serta kekotoran logika tentunya tak tersedia tempat bagi rasa takut. Hal inilah yang dikaitkan dengan tyaga pati. Hal ini dimenangkan oleh Bubuksah. Ia membunuh tetapi bukan atas dasar kejahatan melainkan berdasarkan pada paham pembebasan dan peningkatan harkat dari makhluk hidup.

Dengan latar ini sesungguhnya Bubuksah telah menanam pengabdian kepada makhluk hidup karena itulah kalau ada makhluk lain yang pantas menyebabkan kematiannya, ia pun menyambutnya dengan ikhlas. Di sinilah makna sebuah keberanian dan pemahaman tentang hukum evolusi roh.

Bagian menariknya, yang menguji Bubuksah dan Gagakaking adalah Bathara Guru, tidak lain, Siwa sendiri.

Secara keseluruhan episode-episode dalam teks Tutur Bubhuksah lebih menekankan pada suatu ajaran atau doktrin. Ikhtisar cerita mengisyaratkan pengesahan terhadap suatu doktrin tertentu dalam hal ini ajaran Siwaisme dan Budhisme. Kedua ajaran ini masing-masing dilaksanakan oleh para pendeta Siwa dan pendeta Budha. Kedua pendeta ini (Siwa dan Budha) sama-sama digolongkan ke dalam wangsa brahmana.
Para pendeta Buddha (bukan bhiksu) yang digolongkan dalam kaum brahmana yang diafirmasikan lewat teks Bubuksah yang menganut konsep ajaran Bhatara Guru (Guruistik). Dalam konsep ini Bhatara Guru (Siwa) adalah dewa yang tertinggi seperti yang terdapat dalam bagian teks (33.b). Ketika menyinggung masalah Siwa dan Budha bahwa ada perbedaan konsep dalam ajaran Budha (umumnya) dengan Wajrayana yang mana Bubuksah sebagai representasi dari para pedanda Buddha di Bali yang bersumber dari ajaran Bhatara Guru (Guruistick sources). Pada akhirnya Gagangaking dan Bubuksah mewakili Pedanda Sewa Sogata yang dihormati sebagai manifestasi Bhatara Guru.

Inilah yang membedakannya  dengan ajaran Buddha yang lain. Memang terlihat bahwa Bubuksah adalah seorang bhairawa tanpa ragu-ragu memakan apa saja yang masuk ke dalam perangkapnya. Namun, Bubuksah lebih bersifat Siwaistis seperti halnya juga terdapat dalam Tantu Panggelaran.

Kenyataannya jelas bahwa dalam konsep bhairawa Bubhuksah di sini tidak menghancurkan atau dipertentangkan dengan tokoh yang lain hanya berbeda cara dalam menempuh tujuan hidup. Salah satu ciri perbedaan seorang bhairawa adalah perilakunya dalam menjalankan tapanya pada sebuah tempat. Sifat bhairawa yang dilakoni oleh Bubuksah dilakukannya dengan penuh kesadaran semata-mata untuk memperbaiki jiwa makhluk yang dimakannya itu agar lebih baik atau segera bertemu dengan Siwa sebagai yang paling berhak menerimanya kembali dan bukan menghancurkan.


Sumber

STAH Dharma Nusantara Jakarta
I Made Jaya Negara S.P
Dian Syanita Utami Dewi
Untung Suhardi



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga