Jalan Yoga & Penyatuan Siwa-Buddha dalam Lontar Candra Bhairawa


Dari berbagai pelaksanaan yang ada dalam agama Hindu pelaksanaanya terjadi perbedaan-perbedaan akan tetapi tidak berdistorsi dengan sumber ajaran aslinya, yaitu Weda. Hindu dikenal dengan sebutan agama universal dan fleksibel. Perbedaan tata cara pelaksanaan kegiatan keagamaan dalam Hindu di masing – masing daerah menjadikan Hindu agama yang unik. Dalam agama Hindu dianut oleh berbagai lapisan masyarakat dan juga Sekte / Paksa Hindu. Berbagai aliran garis perguruan tersebut telah memberikan warna tertentu dalam Hindu, seperti Siwa-Siddhanta, Pasupata, Bhairawa, Wesnawa, Bodddha atau Sogata, Brahmana Rsi, Sora atau penyembah Surya, Ganapatya atau penyembah Ganesha.

Dalam artikel ini kita akan mengulas suatu karya sastra yaitu dari Lontar Candra Bhairawa yang tergolong klasik memiliki banyak pengetahuan. Sumber data yang dipakai bahan kajian merupakan koleksi Gedong Krtya yang disurat dalam lontar berbentuk prosa. Ulasan tentang Candra Bhairawa yang mengandung konsep Karma Marga, Bhakti Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga melahirkan konsep Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa, bentuk pengabdian jalan untuk mendekatkan diri kehadapan Tuhan.

Kisah yang mengungkapkan bagaimana dua maharaja dari dua kerajaan berbeda memberikan ajaran kepada rakyat masing-masing dengan cara berbeda.

Pertama, Maharaja Candra Bhairawa dari Kerajaan Dewantara memberikan ajaran kepada rakyatnya dengan memerintahkan mereka untuk selalu menjalankan nilai-nilai keagamaan di dalam diri tanpa adanya tempat suci dan persembahan yadnya yang ke hadapan Tuhan. Maharaja Candra Bhairawa mengajarkan rakyatnya melakukan Yoga Sanyasa yaitu pencarian Tuhan dalam diri sendiri.

Kedua, Maharaja Yudhistira dari dari Kerajaan Hastinapura mengajarkan kepada rakyatnya untuk selalu mengutamakan pembangunan tempat suci dan persembahan yadnya dan tidak lepas dari pelaksanaan Karma Sanyasa.

Konsep ajaran kedua paham ini pada ajaran tattwa Siwa-Budha. Lontar Candra Bhairawa sebagai karya sastra yang memiliki nilai filsafat yang tinggi dan mampu menjadi tuntunan umat manusia. Akan tetapi, sedikit masyarakat yang paham dan mengerti tentang nilai filsafat yang terkandung dalam Lontar Candra Bhairawa.

Dalam khazanah Bali sinkretisme konsep Siwa-Budha banyak dijumpai dalam keberadaan beberapa aspek diantaranya Hyang Ardesuari, Meru Tumpang Solas, Wayang Lemah dan juga Kain Putih Kuning. Hal inilah yang sangat menarik untuk dibahas untuk mendapatkan pengetahuan yang tinggi tentang Sinkretisme Siwa Budha dalam Lontar Candra Bhairawa.

Sinkretisme dalam beragama Hindu adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan benar salahnya suatu agama, yakni suatu sikap yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Bagi yang menganut paham ini semua agama dipandang baik dan benar.

Dalam konsep Siwa-Budha terdapat konsep Keutamaan. Dalam Konsep Siwa dikenal dengan istilah Paramasiwa, kemudian dalam konsep Budha dikenal dengan istilah Sri Bajrajnana. Dalam lontar Candra Bhairawa, kedua konsep tersebut dituls demikian:

Sri Bajrajnana ti suddha, ring Budhapaksa linuwih,Yan ring Siwapaksa sira, Hyang Paramasiwa lewih, Dwi tunggal Sira Kalih, Ong Hrih ring aksara mungguh, Huriping Bhur, Bhwah, Swah, Utama ning Sastra Aji, Kaangen suluh, Kastawa ring Madyaphada

Sri Bajranana yang Suci, Budha Tattwa yang Utama, Hyang Siwa Tattwa, Hyang Paramasiwa beliau Keberadaan Beliau Tunggal, Ong dan Hrih Aksara Sucinya, Bertempat di Bhur, Bwah, Swah, Sungguh utama keberadaan beliau, Dijadikan tuntunan hidup, Menjalani kehidupan di muka bumi.
(KCB, I : 1 Gdong Krtya)

Dalam lontar Candra Bhairawa terungkap wacana yang sangat penting yaitu wacana keutamaan dalam konsep Siwa dan Budha. Ada kemiripan konsep seakan sama antara Parama Siwa dalam Siwa Tatwa dengan Adi Budha dalam Budha Tattwa.

Konsep Tunggal atau Satu dijadikan istilah bersatunya konsep Siwa dengan konsep Budha. Dia merupakan penggabungan antara dua hal yang berbeda menjadi satu, di mana kedua unsur tersebut tidak bisa dibedakan satu dengan lainnya. Dalam paham Siwa dikenal konsep Siwa-Dhurga manunggal-nya kekuatan Durgha sebagai saktinya Siwa, sedangkan dalam paham Buddha dikenal dengan konsep Adhi Budha-Pradnyapharamitha sebagai saktinya. Penggalan teks berikut juga menunjukkan bersatunya Karma Sanyasa ring Yoga Sanyasa sebagai 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, seperti kutipan berikut:

Minab suba titah Widhi, Pacepuk Kharma Sanyase, Lawan Yoga Sanyase, Reh mula kapatut tunggal,Tan siddha pacing sampurna, Yan tan sami pada weruh,Kadi Siwa lawan Budha.

Sudah menjadi pesan Tuhan. Bertemunya Karma Sanyasa. Dengan Yoga Sanyasa. Karna mereka sungguhnya satu. Tidak bias dipisahkan. Jika tidak dipelajariri dengan seksama antara Siwa dan Budha.
(KCB, VIII. Gdong Krtya)

Siwa Budha merupakan konsep ajaran yang sama-sama percaya tentang moksa. Hal tersebut tersurat dalam Kakawin Candra Bhairawa. Ceritanya tergambar dalam adegan ketika Ida Sang Bhairawa mengadu ilmu dengan Sang Dharmawangsa. Keduanya sama-sama sakti dan mampu mendatangi alam sorga. Dalam ajaran Budha dipercaya bahwa Yoga Sanyasa mampu melepaskan roh Raja Bhairawa menuju alam sorga, sama halnya dengan Raja Yudistira yang dipercaya mampu juga melepaskan rohnya menuju alam sorga, seperti dalam kutipan berikut:

Sesampune manyingakin indike punika, raris Maharaja Bhairawa malinggih masemadhi lan manunggaling Bayu, Sabha lan Idep Ida. Atman Ida medal macuet lan ngarereh ka Yama Loka, raris kapolihang atman Maharaja Yudhistira. Raris kajuk lan kawaliang malih ka angga sariran Ida, Yudhistira murip malih. Ida raris malinggih saling madepan.
Mojar maharaja Yudhistira, ‘uduh Maharaja Bhairawa, sayuakti jaya kawisesan Ida. Titiang dahat kasub idik kawisesan Ida. Sane mangkin timbalan tyange sane ngalaksanayang indike sane pateh Ring Ida. Raris medal nuju Yama Loka titiang pacang manangkep Ida

Setelah melihat kejadian tersebut, kemudian Raja Bhairawa duduk bersemedi dan memulai melakukan japa mantra. Rohnya kemudian keluar menuju alam lain (nirwana). Bertemulah dia dengan roh Raja Yudistira. Roh Yudistira ditangkap kemudian dikembalikan ke tubuh Yudistira dan duduk saling berhadapan.
Berkatalah raja Yudistira’ wahai Raja Bhairawa, memang sungguh hebat kesaktian anda. Saya sangat kagum melihatnya. Sekarang giliran saya yang melakukan hal yang sama. Silakan Anda menjuju alam nirwana sorga neraka dan saya yang akan menjemput Anda.
(KCB, I : 56 Gdong Krtya)

Kutipan di atas merupakan dialog antara Yudistira dengan Maharaja Bhairawa menggunakan kesaktianya melepaskan diri menuju alam sunia (sorga). Alam yang tidak nyata secara fisik dan dipercaya merupakan tempat bagi orang yang telah meninggal sesuai dengan karma yang diperbuat.

Paralelisme Agama Siwa dan Agama Budha.

NoKonsepSiwaBuddha
1UtamaParambrahma/ Parama Siwa
/ moksa
Pranawajnana/ Pranajyotirupa/
Parama Budha/ Advaya
/sunya
Advaya-Jnana Divarupa
2TunggalSiwa dan Durga/
Shiva Shakti
Adhi Budha dan Pradnyaparamita
(Advaya dan Advayajnana).
3Tri PurushaParama Siwa (niskala),
Sada Siwa (sakalaniskala),
Siwa (sakala)
Budha Vajrasattwa dan Awalokiteswara
dalam wujud wujud Dharmakaya,
Sambhogakaya, dan Nirmanakaya
4SorgaMoksa, SunyaSunya, Nirbana
5Tiga DewaTri Murti :
Brahma, Wisnu, Iswara
Ratnatraya : Sakyamuni, Lokeswara, dan Bajrapani
Ketiganya disebut juga Budha, Darma, dan Sangga
6Dewi Ilmu
Pengetahuan
SaraswatiPradnya Paramita
7PendetaDang AcaryaDang Upadhyaya
8Istilah namaSiwa (Shiva)Jina, Budha, Sogata.

Konsep Ketuhanan dalam ajaran Siwa-Budha

Dalam lontar Candra Bhairawa disebutkan Niwerti Marga lan Prawerti Marga sebagai jalan utama dalam menjalankan dharma.

  • Wastra putih (kain putih) kaitanya dengan Prawerti Marga atau kaitanya dengan Siwa Tattwa,
  • Wastra kuning (kain kuning) kaitanya dengan Niwerti Marga atau jalan Budha Tattwa.

Lontar Candra Bhairawa mempunyai kaitan dengan lingkungan sistem budaya yaitu kebudayaan Bali, secara antropologis konsep-konsep yang terkandung di dalamnya merupakan komplek ide-ide yang dapat dikatagorikan sebagai wujud kebudayaan ideal. Penceraian unsur-unsur naratif tokoh-tokohnya merupakan cermin wujud kebudayaan sebagai suatu komplek aktifitas manusia dalam lingkungan sosial.

Penceritaan Candra Bhairawa dilatari dua konsepsi dasar yang kontras antara Siwa dan Buddha, tetapi keduanya dilukiskan membentuk keseimbangan dengan berorientasi kepada suatu tujuan yang sama yaitu kebebasan jiwa dari ikatan duniawi atau disebut Moksa. Tuntunan hidup untuk mencapai tujuan seperti tersebut adalah ilmu kelepasan.

Untuk melaksanakan serta mewujudkan cita-cita itu seseorang harus melalui tingkatan atau disebut dengan Sanyasa yaitu dengan jalan Yoga Sanyasa dan Karma Sanyasa. Yoga Sanyasa yaitu jalan untuk mencapai kebebasan jiwa di dalam nirwana yaitu dengan mengutamakan kebangkitan jiwa yang tulus dan paling dalam, melakukan Samadhi dan menekuni ajaran filsafat ketuhanan. Sedangkan Karma Sanyasa yaitu jalan mencapai kebebasan jiwa dengan mengutamakan wujud pelaksanaan upacara lahiriah, membuat bangunan-bangunan suci, serta perwujudan arca dewa-dewi dalam berbagai manifestasinya.

Perbedaan itu digambarkan lewat karakteristik penokohan Raja Candra Bhairawa dan Dharmawangsa. Tokoh Candra Bhairawa digambarkan sebagai penganut Buddha Mahayana, sedangkan tokoh Dharmawangsa penganut Siwa (Hindu). Pengaruh ajaran Tantrayana atas keduanya memungkinkan terjadinya peleburan dalam bentuk sinkritisme Tantrisme Bhairawa-Siwa-Buddha, atau lebih dikenal dengan sebutan Siwa-Buddha. Dalam pengertian ini konsep Siwa-Buddha merupakan perwujudan yang diakui sebagai prinsip tertinggi, dengan Siwa dan Buddha sebagai aspek-aspeknya.

Tokoh Candra Bhairawa yang disebut juga dengan gelar Sri Maharaja Dewantara, Mahajina, Sri Adiguna, atau Gelar Kehormatan Perama Jagat Guru. Digambarkan sebagai Raja keturunan bangsawan yang amat sakti dan tekun dalam ilmu dan amal agama. Beliau menganut paham Buddha Mahayana dari aliran Bajrayana (Badjradhara). Pandangan dan kepercayaanya dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Percaya akan adanya dewa tertinggi yang disebut dengan Sri Maharaja Jinapati (Buddha).
  2. Dewa bersemayam dalam diri manusia, disebut jiwa.
  3. Dewa menjadi sumber kekuatan yang menggerakkan jiwa di dalam diri manusia.
  4. Badan di anggap tidak mempunyai arti apa-apa tanpa jiwa karena akan lenyap bila telah mati. Jenasah dibakar atau dikubur saja.
    Pengungkapan di atas memberikan gambaran sekilas tentang sistem nilai dan pandangan hidup yang tercermin dalam penokohan Candra Bhairawa. Baginya tidak ada dewa di tempat lain, yang ada hanya ada dalam diri sendiri. Ia hanya menyembah Sri Maharaja Jinapati, nama lain Buddha, yaitu dewa tertinggi. Karena itu, ia menyembah dewa yang ada dalam dirinya sendiri.

Atas dasar sistem kepercayaan tersebut Maharaja Bhairawa menganggap tidak perlu membuat banguanan suci sebagai tempat melakukan persembahan, baik untuk persembahan umum yang disebut dengan pura, khayangan, maupun untuk persembahyangan keluarga seperti sanggah dan mrajan. Beliau menolak kepercayaan dengan sistem banyak dewata atau banyak dewa yang hanya dianggap sebagai pendorong emosi keagamaan. Segala bentuk pelaksanaan upacara dengan Sesajen atau banten yang sangat rumit dianggap sebagai sesuatu yang amat menyusahkan dan melelahkan.

Dilain pihak ajaran Bhairawa oleh Maharaja Yudhistira dianggap sangat ekstrem, bertentangan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Di mata Yudhistira, sebagai tokoh ksatrya penegak hukum kebenaran dharma, hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang dapat mengancam keselamatan bangsa dan negaranya.

Pertentangan paham itulah yang menyebabkan mereka melakukan perang.

Raja Candra Bhairawa adalah tokoh simbolis Tantrayana Bhairawa Buddha Mahayana yang mempunyai karakteristik yang bersifat menghidupkan. Karakteristik ini dapat dilihat pada penokohan tokoh Candra Bhairawa terhadap perang, ketika tokoh tersebut menyerukan kepada seluruh prajuritnya dalam menghadapi serangan para pasukan Pandawa dan Hastinapura untuk meletakan senjata dan berpikir jernih. Maharaja Candra Bhairawa memutuskan untuk menghadapi sendiri musuh yang hebat dan perkasa itu dengan wajah yang amat tenang. Beliau tidak bermaksud melakukan pembunuhan dalam perang, melainkan mengadu kekuatan imani yaitu kesucian batin melaui perang untuk mencapai kebebasan jiwanya dari ikatan duniawi.

Dari pernyataan itu jelas bahwa Maharaja Candra Bhairawa tidak mengenal konsep perang yang bermakna membunuh secara fisik. Karena itu pula, tampak bahwa tokoh tersebut berpantang akan perang atau pembunuhan seperti pada umumnya dilakukan oleh tokoh ksatriya lain, dalam hal itu tokoh ksatriya Pandawa dan Kresna. Beliau juga menolak sistem Catur Wangsa seperti brahmana, ksatriya, waisya, sudra yang didasarkan atas faktor keturunan, demikian juga bentuk perkawinan poligami seperti yang dilakukan Panca Pandawa. Beliau tidak setuju menggunakan tipu muslihat atau akal yang licik untuk memenangkan peperangan, seperti yang dilakukan Kresna. Karena itu, tampak bahwa tokoh Raja Candra Bhairawa menempuh jalan melebur segala bentuk permusuhan dan kekerasan atau pembunuhan dengan perdamaian dan persahabatan.

Perdamaian yang kekal dan abadi berdasarkan atas dharma merupakan tujuan hidup yang paling inti. Hal tersebut diperoleh berkat ajaran dharma yang didapatkan dari Dharmawangsa yang diakui sebagai titisan Dewa Dharma. Akhirnya Maharaja Candra Bhairawa berguru kepada Maharaja Dharmawangsa. Berkat ajaran dharma seperti di atas, Raja Candra Bhairawa menyatakan mengubah pendirianya dan tunduk kepada ajaran dharma yang dianggap sebagai hukum krodat Tuhan Yang Maha Esa.



Sumber :
Sinkretisme Siwa Budha dalam Lontar Candra Bhairawa
Oleh : I Made Dian Saputra dan I Nyoman Suarka
Jurnal Kajian Bali, Universitas Udayana
p-ISSN 2088-4443 # e-ISSN 2580-0698

Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT