Jalan Yoga & Penyatuan Siwa-Buddha dalam Lontar Candra Bhairawa


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Paralelisme Agama Siwa dan Agama Budha.

No Konsep Siwa Buddha
1 Utama Parambrahma/ Parama Siwa
/ moksa
Pranawajnana/ Pranajyotirupa/
Parama Budha/ Advaya
/sunya
Advaya-Jnana Divarupa
2 Tunggal Siwa dan Durga/
Shiva Shakti
Adhi Budha dan Pradnyaparamita
(Advaya dan Advayajnana).
3 Tri Purusha Parama Siwa (niskala),
Sada Siwa (sakalaniskala),
Siwa (sakala)
Budha Vajrasattwa dan Awalokiteswara
dalam wujud wujud Dharmakaya,
Sambhogakaya, dan Nirmanakaya
4 Sorga Moksa, Sunya Sunya, Nirbana
5 Tiga Dewa Tri Murti :
Brahma, Wisnu, Iswara
Ratnatraya : Sakyamuni, Lokeswara, dan Bajrapani
Ketiganya disebut juga Budha, Darma, dan Sangga
6 Dewi Ilmu
Pengetahuan
Saraswati Pradnya Paramita
7 Pendeta Dang Acarya Dang Upadhyaya
8 Istilah nama Siwa (Shiva) Jina, Budha, Sogata.

Konsep Ketuhanan dalam ajaran Siwa-Budha

Dalam lontar Candra Bhairawa disebutkan Niwerti Marga lan Prawerti Marga sebagai jalan utama dalam menjalankan dharma.

  • Wastra putih (kain putih) kaitanya dengan Prawerti Marga atau kaitanya dengan Siwa Tattwa,
  • Wastra kuning (kain kuning) kaitanya dengan Niwerti Marga atau jalan Budha Tattwa.

Lontar Candra Bhairawa mempunyai kaitan dengan lingkungan sistem budaya yaitu kebudayaan Bali, secara antropologis konsep-konsep yang terkandung di dalamnya merupakan komplek ide-ide yang dapat dikatagorikan sebagai wujud kebudayaan ideal. Penceraian unsur-unsur naratif tokoh-tokohnya merupakan cermin wujud kebudayaan sebagai suatu komplek aktifitas manusia dalam lingkungan sosial.

Penceritaan Candra Bhairawa dilatari dua konsepsi dasar yang kontras antara Siwa dan Buddha, tetapi keduanya dilukiskan membentuk keseimbangan dengan berorientasi kepada suatu tujuan yang sama yaitu kebebasan jiwa dari ikatan duniawi atau disebut Moksa. Tuntunan hidup untuk mencapai tujuan seperti tersebut adalah ilmu kelepasan.

Untuk melaksanakan serta mewujudkan cita-cita itu seseorang harus melalui tingkatan atau disebut dengan Sanyasa yaitu dengan jalan Yoga Sanyasa dan Karma Sanyasa. Yoga Sanyasa yaitu jalan untuk mencapai kebebasan jiwa di dalam nirwana yaitu dengan mengutamakan kebangkitan jiwa yang tulus dan paling dalam, melakukan Samadhi dan menekuni ajaran filsafat ketuhanan. Sedangkan Karma Sanyasa yaitu jalan mencapai kebebasan jiwa dengan mengutamakan wujud pelaksanaan upacara lahiriah, membuat bangunan-bangunan suci, serta perwujudan arca dewa-dewi dalam berbagai manifestasinya.

Perbedaan itu digambarkan lewat karakteristik penokohan Raja Candra Bhairawa dan Dharmawangsa. Tokoh Candra Bhairawa digambarkan sebagai penganut Buddha Mahayana, sedangkan tokoh Dharmawangsa penganut Siwa (Hindu). Pengaruh ajaran Tantrayana atas keduanya memungkinkan terjadinya peleburan dalam bentuk sinkritisme Tantrisme Bhairawa-Siwa-Buddha, atau lebih dikenal dengan sebutan Siwa-Buddha. Dalam pengertian ini konsep Siwa-Buddha merupakan perwujudan yang diakui sebagai prinsip tertinggi, dengan Siwa dan Buddha sebagai aspek-aspeknya.

Tokoh Candra Bhairawa yang disebut juga dengan gelar Sri Maharaja Dewantara, Mahajina, Sri Adiguna, atau Gelar Kehormatan Perama Jagat Guru. Digambarkan sebagai Raja keturunan bangsawan yang amat sakti dan tekun dalam ilmu dan amal agama. Beliau menganut paham Buddha Mahayana dari aliran Bajrayana (Badjradhara). Pandangan dan kepercayaanya dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Percaya akan adanya dewa tertinggi yang disebut dengan Sri Maharaja Jinapati (Buddha).
  2. Dewa bersemayam dalam diri manusia, disebut jiwa.
  3. Dewa menjadi sumber kekuatan yang menggerakkan jiwa di dalam diri manusia.
  4. Badan di anggap tidak mempunyai arti apa-apa tanpa jiwa karena akan lenyap bila telah mati. Jenasah dibakar atau dikubur saja.
    Pengungkapan di atas memberikan gambaran sekilas tentang sistem nilai dan pandangan hidup yang tercermin dalam penokohan Candra Bhairawa. Baginya tidak ada dewa di tempat lain, yang ada hanya ada dalam diri sendiri. Ia hanya menyembah Sri Maharaja Jinapati, nama lain Buddha, yaitu dewa tertinggi. Karena itu, ia menyembah dewa yang ada dalam dirinya sendiri.

Atas dasar sistem kepercayaan tersebut Maharaja Bhairawa menganggap tidak perlu membuat banguanan suci sebagai tempat melakukan persembahan, baik untuk persembahan umum yang disebut dengan pura, khayangan, maupun untuk persembahyangan keluarga seperti sanggah dan mrajan. Beliau menolak kepercayaan dengan sistem banyak dewata atau banyak dewa yang hanya dianggap sebagai pendorong emosi keagamaan. Segala bentuk pelaksanaan upacara dengan Sesajen atau banten yang sangat rumit dianggap sebagai sesuatu yang amat menyusahkan dan melelahkan.

Dilain pihak ajaran Bhairawa oleh Maharaja Yudhistira dianggap sangat ekstrem, bertentangan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Di mata Yudhistira, sebagai tokoh ksatrya penegak hukum kebenaran dharma, hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang dapat mengancam keselamatan bangsa dan negaranya.

Pertentangan paham itulah yang menyebabkan mereka melakukan perang.

Raja Candra Bhairawa adalah tokoh simbolis Tantrayana Bhairawa Buddha Mahayana yang mempunyai karakteristik yang bersifat menghidupkan. Karakteristik ini dapat dilihat pada penokohan tokoh Candra Bhairawa terhadap perang, ketika tokoh tersebut menyerukan kepada seluruh prajuritnya dalam menghadapi serangan para pasukan Pandawa dan Hastinapura untuk meletakan senjata dan berpikir jernih. Maharaja Candra Bhairawa memutuskan untuk menghadapi sendiri musuh yang hebat dan perkasa itu dengan wajah yang amat tenang. Beliau tidak bermaksud melakukan pembunuhan dalam perang, melainkan mengadu kekuatan imani yaitu kesucian batin melaui perang untuk mencapai kebebasan jiwanya dari ikatan duniawi.

Dari pernyataan itu jelas bahwa Maharaja Candra Bhairawa tidak mengenal konsep perang yang bermakna membunuh secara fisik. Karena itu pula, tampak bahwa tokoh tersebut berpantang akan perang atau pembunuhan seperti pada umumnya dilakukan oleh tokoh ksatriya lain, dalam hal itu tokoh ksatriya Pandawa dan Kresna. Beliau juga menolak sistem Catur Wangsa seperti brahmana, ksatriya, waisya, sudra yang didasarkan atas faktor keturunan, demikian juga bentuk perkawinan poligami seperti yang dilakukan Panca Pandawa. Beliau tidak setuju menggunakan tipu muslihat atau akal yang licik untuk memenangkan peperangan, seperti yang dilakukan Kresna. Karena itu, tampak bahwa tokoh Raja Candra Bhairawa menempuh jalan melebur segala bentuk permusuhan dan kekerasan atau pembunuhan dengan perdamaian dan persahabatan.

Perdamaian yang kekal dan abadi berdasarkan atas dharma merupakan tujuan hidup yang paling inti. Hal tersebut diperoleh berkat ajaran dharma yang didapatkan dari Dharmawangsa yang diakui sebagai titisan Dewa Dharma. Akhirnya Maharaja Candra Bhairawa berguru kepada Maharaja Dharmawangsa. Berkat ajaran dharma seperti di atas, Raja Candra Bhairawa menyatakan mengubah pendirianya dan tunduk kepada ajaran dharma yang dianggap sebagai hukum krodat Tuhan Yang Maha Esa.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan