Purwa Karma oleh Mpu Kanwa, Jalan Yoga Untuk Mencapai Guna Widya


Istilah purwa karma yang ditulis oleh Mpu Kanwa merupakan istilah lain dari karma yoga. Bahwa ajaran karma ini telah diajarkan oleh orang-orang arif Hindu dari sejak purwa kala jaman purwa. Premis utama ajaran ini adalah “ulah apageh magêgwana rasàgama buddhi têpêt” perilaku yang berpegang teguh tepat pada rasa, agama, dan buddhi.

Ulah apagêh dimaksud adalah ” amutêr tutur pinahayu ” memutar kesadaran atau membalik kesadaran dengan cara yang baik dan untuk kebaikan (Arjuna Wiwàha, X:1); atau lebih tepat memutar balik kesadaran, yaitu dari berkesadaran umum duniawi yang melanglang buana menjadi kembali berkesadaran spiritual untuk menemukan jati diri.

Caranya adalah kembali ke dalam diri dengan melakukan tapa. Tapa adalah salah satu unsur ajaran kriya yoga (Yogasùtra Patanjali, II:1). Dua unsur penting lainnya adalah swadyaya (kemadirian) dan Iswara pranidana (selalu ingat dan menghubungkan diri dengan Tuhan).

Untuk dapat lebih memahami purwa karma ‘prinsip kerja’ ini, maka Mpu Kanwa menarasikan laku tapa Arjuna di Gunung Indrakila. Sumber kisahnya diambil dari Kitab Wanaparwa. Penggalan cerita Kakawin Arjuna Wiwàha yang kita butuhkan untuk memahami jabaran ajaran dimaksud sebagai berikut.

Dewa Indra tertimpa bencana. Indraloka hendak dijajah oleh Niwatakawaca, raja raksasa yang sakti itu. Oleh karena itu, Indra berusaha mencari bantuan. Diketahui bahwa Arjuna sedang membangun tapa di sebuah gua di lereng Gunung Indrakila. Indra menginginkan bantuan Arjuna, tetapi ia sedikit ragu akan keteguhan dan tujuan tapa-nya.

Untuk menghapus keraguan itu, Indra pertama-tama mengutus tujuh bidadari untuk menguji keteguhan hati Arjuna dalam mengendalikan nafsu asmara. Alhasil, Arjuna tidak tergiur oleh kemolekan dan rayuan para bidadari itu.
Mendengar laporan para bidadari bahwa mereka gagal menggoda Arjuna, Dewa Indra senang. Kini ia ingin menjajagi kecerdasan dan tujuan tapa Arjuna. Dalam wujud seorang pertapa tua Indra berkunjung ke pertapaan Arjuna. Kedatangannya diterima dengan penuh hormat. Dengan tujuan menguji, Indra memuji dan sekaligus mencela laku tapa Arjuna, katanya: “Yoga yang Ananda lakukan itu sungguh menakjubkan. Tetapi aku heran, mengapa tapamu kau campur dengan perbuatan kasar? Di sampingmu ada baju perang, busur, dan pedang. Itu membuktikan bahwa engkau masih mengharapkan kesenangan dan kewibawaan. Aduh sayang tapamu itu, jika engkau tidak berkeputusan mencapai kelepasan”.

Arjuna menjawab: “Benar kata Sang Pertapa. Tetapi saya terikat bakti dan kasih pada kakak, Sang Dharmaputra namanya. Untuk Beliaulah saya bertapa dengan cita-cita jaya dan berkuasa di dunia. Hendak berbuat jasa, yaitu memelihara dunia dan membahagiakan masyarakat. Itulah tujuan tapa yang saya lalukan ini”.

Mendengar jawaban itu, Indra pun puas. Ia kembali ke wujud aslinya dan memberi restu. Atas restu itu bertambah mantaplah tapa Arjuna.
Niwatakawaca mengetahui bahwa Dewa Indra hendak minta bantuan Arjuna untuk mengalahkannya. Ia tahu pula bahwa kini Arjuna sedang betapa. Maka, untuk menggagalkan tapa Arjuna, Niwatakawaca mengutus patihnya, Si Muka untuk menghancurkan pertapaan.

Dalam wujud seekor babi, Si Muka mengobrak-abrik Gunung Indrakila. Arjuna merasa terganggu. Ia pun bangkit dari tapa-nya lalu memanah si pengganggu. Sementara dari sisi lain, Dewa Siwa dalam wujud Kirata ‘pemburu’, juga memanah babi itu. Panah Arjuna dan Kirata mengenai titik sasar yang sama dan ajaib, panah itu menyatu.

Arjuna hendak mencabut panahnya, tetapi ditegur oleh Si Pemburu. Katanya menghardik: “Hai pertapa, mengapa kau ambil panahku. Ini binatang buruanku. Penampilanmu saja pertapa, hatimu busuk. Tak tahu malu”.
Dihardik begitu, Arjuna tersinggung. Perkelahian pun terjadi dengan sengitnya. Keberanian Arjuna teruji. Maka menjelmalah Sanghyang Siwa di hadapannya. Arjuna lalu memuja-Nya. Siwa menganugerahinya panah Cadusakti, Pasupati namanya.

Dari narasi singkat itu dapat kita ketahui bahwa tapa itu adalah wujud pelatihan karma yoga. Diketahui bahwa dasar tapa Arjuna adalah bhakti lawan asih ‘bakti dan kasih’. Bhakti itu mengisyaratkan kesediaan untuk berkurban, yaitu mengurbankan kepentingan diri dengan tujuan mahaywang ràt lawan kaparahitan yaitu memelihara dunia dan mensejahterakan masyarakat (Arjuna Wiwàha, VI:4-5).

Untuk mencapai keberhasilan seperti itu Mpu Kanwa mengisyaratkan bahwa orang harus memiliki kualitas berupa :

  1. Kemampuan mengendalikan emosi, seperti Arjuna yang tidak tergoda oleh kemolekan dan rayuan para bidadari;
  2. Wawasan spiritual dan duniawi yang memadai, seperti tercermin dalam dialog Arjuna dengan Indra;
  3. Keteguhan pendirian dan keberanian untuk berjuang menghadapi segala bentuk rintangan yang menghalangi perjalanan hidup, seperti ketangguhan dan keberanian Arjuna dalam perang tanding dengan Kirata (Siwa).

Dalam rangka mengembangkan kualitas diri itulah kita perlu amutêr tutur pinahayu, memutar balik kesadaran dengan benar dan baik, yaitu melalui olah rasa, agama, dan buddhi. Rasa dalam konteks seni Hindu, tidak tepat sama artinya dengan kata rasa dalam bahasa Indonesia, yaitu perasaan atau emosi.

Emosi dalam bahasa Sansekerta adalah bhàwa. Menurut Bharata dalam kitab Natyasastra emosi itu ada delapan: (1) Rati / cinta; (2) Hasa / humor; (3) Soka / sedih; (4) Krodha / marah’; (5) Utsaha / teguh; (6) Bhaya / takut’; (7) Jugupsa / muak; dan (8) Wismaya /heran. Kemudian Abhinawagupta menambah satu emosi lagi, yaitu Sama / tenang.

1. Rasa

Rasa adalah pengalaman estetik atau emosi yang dibangkitkan secara estetik oleh lingkungan dan situasi artistik. Rasa merupakan revelasi atau pewahyuan makna esensial dari berbagai hal. Dalam revelasi atau ilham atau penerangan itulah terletak keindahan. Dikatakan bahwa, dalam rasa terjadi sublimasi emosi dari tataran psikologis ke tataran estetik.

Dalam proses sublimasi itu emosi individual ditransformasikan menjadi rasa ‘pengalaman estetik’: Individu lupa akan dirinya dan mencapai titik pandang universal yang membawa kebahagiaan tertinggi. Lewat pengalaman estetik horison seseorang diperluas. Rasa bukanlah persepsi akal budi, melainkan suatu pengalaman yang penuh kebahagiaan, sehingga pengalaman pribadi pun lenyap. Maka dikatakan bahwa pada titik itu, pengalaman estetik menjadi identik dengan pengalaman religius, yaitu bila perasaan manusia terbenam di dalam Brahman ‘Tuhan’

Rasa dialami jika orang dapat mengadakan identifikasi diri dengan barang atau peristiwa yang diamatinya. Ketika itu ia merasa takjub atau kagum. Jadi, hanya orang yang dapat merasa takjub, dapat mengalami kebahagiaan estetik. Dan kebahagian estetik itu mengandaikan tentang batin yang murni dan jernih.

Maka, ketika Mpu Kanwa melihat bayangan bulan di dalam tempayan yang berisi air jernih lalu bersyair penuh kearifan:

Sasiwimba haneng ghaþa mesi banyu,
Ndan asing suci nirmala mesi wulan,
Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin,
Ring angambeki yoga kiteng sakala

Bayangan bulan pada tempayan berisi air.
Tetapi, hanya pada tempayan yang berisi air jernih menapakkan bulan.
Seperti itulah Engkau pada setiap ciptaan.
Pada ia yang menekuni yoga Engkau nyata hadir’.

Katemunta mareka si tan katemu,
Kahidepta mareka si tan kahidep,
Kawenangta mareka si tan kawenang
Paramartha siwatwa nirawarana

Maka dijumpailah Itu yang sebelumnya tidak pernah ditemui.
Dipahamilah Itu yang sebelumnya tidak pernah dipahami.
Dialamilah Itu yang sebelumnya tidak pernah dialami.
Yaitu tujuan utama, Sang Hakikat, siwa itu tidak terhalang lagi
(Arjuna Wiwaha, XI:1)

Syair itu menunjukkan bahwa seorang mpu adalah orang yang dapat melihat; ia melihat ke dalam hakikat barang-barang dengan aneka sifatnya. “Melihat” itu semacam intuisi. Intuisi itu dilahirkan karena kontak dengan hakikat barang-barang.

Batin sang mpu terbenam seluruhnya di dalam gambar puitik lalu dilahirkan ke luar dan dipersepsi oleh pembaca. Artinya, rasa itu pertama-tama terdapat di dalam batin sang mpu, lalu ketika rasa itu telah diekspresikan dalam bentuk karya seni dan jika dinikmati oleh pembaca, maka rasa itu pun muncul pada dirinya.
Jika bhàwa ada sembilan, maka rasa pun ada sembilan. Bhàwa dan juga rasa tidak selalu tampak dalam keadaan yang murni, tetapi sering tercampur, saling berhubungan, dan bersifat sementara.

2. Agama

Dalam Kakawin Arjuna Wiwàha ditemukan kata rasàgama. Dalam tradisi mabebasan kata itu diterjemahkan dengan arti ‘intisari ajaran agama atau hakikat ajaran agama’. Akan tetapi, dalam konteks teks itu saya lebih memahaminya sebagai dua istilah yang berbeda, yaitu rasa dan àgama. Istilah àgama dimaksud lebih saya maknai sebagai tradisi suci, yaitu perilaku bajik ‘baik dan bijaksana’ seperti yang diisyaratkan oleh Mpu Kanwa dalam manggala kakawinnya (I:1):

Ambek sang paramartha pandita huwus limpad sakeng sunyata,
Tan sangkeng wisaya prayojana nira lwir sanggraheng lokika,
Siddhaning yasa wiryya donira sukaning rat kininkin nira,
Santosa helatan kelir sira sakeng sang hyang jagatkarana.

Batin orang arif yang telah mencapai tujuan tertinggi telah mengatasi segalanya, karena menghayati Kesuungan.
Bukan karena terdorong oleh nafsu duniawi Beliau mencapai tujuan. (Kehadirannya) seolah-olah saja menyambut yang duniawi.
Sempurnanya jasa dan kebajikan itulah tujuan Beliau, maka kebahagiaan masyarakat itulah yang diusahakannya.
(Perbawanya) tenang sentosa, (Beliau) hanya sebatas tabir dengan Sang Pencipta Alam Semesta

Jadi, agama itu tidak semata-mata berarti teks atau doktrin suci, tetapi yang tidak kalah pentingnya justru adalah sikap dan perilaku beradab; bermoral. Apalah artinya agama tanpa tindakan bermoral.

Oleh karena itu, tradisi Bali mengatakan: “pamatin agamane tuah solah luih” ‘tanda utama seorang beragama adalah perilaku yang berperikemanusiaan’. Dan dalam konteks Hindu, perilaku bermoral itu disebut Susila. Mpu Kanwa mendefinisikan tindakan bermoral itu dengan kalimat: ” Siddhaning yasa wiryya donira sukaning rat kininkin nira ” keberhasilan dalam berbuat jasa dan kebajikan, yaitu mengusahakan kebahagian masyarakat, itulah tujuan hidup orang arif.

Keberatan saya menerima rasàgama sebagai satu istilah, karena maknanya akan berimpit dengan makna istilah yang mengikutinya yaitu buddhi têpêt. Arti istilah buddhi têpêt adalah mengacu kepada tattwa ‘ajaran hakikat; filsafat’. Tattwa inilah inti sari ajaran agama Hindu. Jadi, sama artinya dengan arti rasàgama yang dipahami dalam tradisi mabebasan selama ini.

Agama dalam arti susila memiliki sepuluh unsur, dikenal dengan istilah dasasila. Dalam kitab Saracamuscaya rinciannya: (1) Ahimsa /tidak membunuh; (2) Brahmacarya
mengendalikan nafsu /seks; (3) Satya /jujur; (4) Awyawaharika /tidak bersengketa; (5) Astenya /tidak mencuri; (6) Akrodha /tidak marah; (7) Gurususrusa /bakti kepada guru; (8) Sauca /hidup suci; (9) Aharalaghawa /mengendalikan nafsu makan; dan (10) Apramada /tidak suka mencela atau mencemooh
.

Susila dalam konteks yoga, Maharsi Patanjali menyebutnya dengan istilah yama-niyama brata ‘sepuluh janji atau perilaku bajik’. Sepuluh perilaku bajik ini adalah dasar angambêki yoga ‘pelatihan yoga’.

Rinciannya sedikit berbeda dengan dasasila di atas. Yama-niyama brata sebagai berikut. (1) Ahimsa /tidak membunuh; (2) Satya /jujur; (3) Asteya /tidak mencuri; (4) Brahmacarya /mengendalikan nafsu seks; (5) Aparigraha /hidup sederhana; (6) Sauca /hidup suci; (7) Santosa /sentosa; puas; penuh rasa syukur; (8) Tapa /tahan uji; (9) Swadyaya /mempelajari kitab suci; dan (10) Iswarapranidhana /memusatkan pikiran dan bakti kepada Tuhan.

Dengan demikian, agama dimaksud dalam hubungannya dengan teks yang dibahas dapat dipahami maknanya sebagai daya karsa manusia.

3. Buddhi

Kata buddhi memiliki banyak arti. Arti leksikal yang lebih dekat hubungannya dengan pembicaraan ini, antara lain, adalah kekuatan pembentuk dan penyimpan buah pikiran, kecerdasan, akal, budi, semangat, hati, ingatan.

Buddhi adalah Tattwa, kategori kedua dari 25 unsur ajaran filsafat Samkhya, yaitu unsur psikologis yang disebut intelegensi. Fungsi buddhi adalah untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan segala apa yang datang dari alat persepsi yang lebih rendah yang disebut manas (pikiran) dan indriya (indera).

Dalam keadaan yang murni buddhi memancarkan sifat Dharma (kebajikan), Jnana (kearifan), Wairagya (ketidak-terikatan), dan Luwarya (ketuhanan).

Mpu Kanwa mengistilahkan buddhi yang murni dengan istilah buddhi têpêt ‘budi yang tepat’. Sedangkan Ida Ketoet Djelantik (1905-1961), pengarang Geguritan Sucita Subudi, menyatakannya dengan istilah subudi. Lalu budi murni itu dipersonifikasikannya dengan nama Sang Subudi, yakni tokoh pembimbing sahabatnya yang bernama Sang Sucita, personifikasi ahamkara satwika (perasaan yang baik) dua tokoh utama Geguritan Sucita Subudi. Dikatakan pula bahwa buddhi yang murni itu berada amat dekat dengan purusa (roh). Oleh karena itu, buddhi mencerminkan kesadaran roh.

Untuk memperoleh empat sifat buddhi (Dharma, Jnana, Wairagya, dan Luwarya) itu, Mahàrsi Patanjali menawarkan tiga cara melatih pikiran:

  • Anumana pramana : berpikir berdasarkan penalaran empirik
  • Pratyaksa pramana : berpikir berdasarkan penalaran logis
  • Uabda pramana : berpikir berdasarkan teks wahyu

Berpikir dengan tiga penalaran itulah yang dimaksud dengan Buddhi tepet (berpikir benar). Sebaliknya, berpikir tanpa atas dasar bukti-bukti empirik disebut Wikalpa (menghayal); berpikir tanpa penalaran logis disebut Nidra (alpa); dan berpikir tanpa didasarkan pada teks wahyu disebut Smrti (suka mengingat yang bukan-bukan) (Yogasùtra,I:6-11).

Oleh karena itu, Mpu Kanwa menegaskan pendiriannya sekaligus menggugah kita dengan bersyair (Arjuna Wiwàha, XII:7):

Syapa kari tan temung hayu masadhana sarwa hayu,
Niyata katemwaning hala masadhana sarwa hala,
Tewas alisuh manangsaya purakreta tapa tinu,
Sakaharepan kasiddha maka darsana Pandusuta.

Siapakah ia yang tidak memperoleh kerahayuan jika telah bersaranakan segala yang rahayu?
Pastilah ia memberoleh yang tidak rahayu karena bersaranakan segala yang tidak rahayu.
Memprihatinkan sekali orang yang menyangsikan purwa karma, lalu apakah yang dijadikannya pegangan hidup?
Segala cita-cita diperoleh jika mencontoh laku hidup Arjuna

Dalam syair terkutif di atas Mpu Kanwa tegas dengan keyakinannya, bahwa purwa karma atau pura kreta adalah sadhana (sarana yang baik) untuk memperoleh sarwa hayu (segala yang baik). Segala yang baik itu, dalam konteks Hindu disebut catur purusa artha (empat tujuan hidup): Dharma / Kebaikan, Artha /kekayaan, Kama /kenikmatan, dan Moksa /kebahagiaan.

Amuter Tutur Pinahayu
(Mengolah Kesadaran dengan Cara Yang Baik)

Seperti telah disebutkan, bahwa ajaran purwa karma Mpu Kanwa ini memiliki tiga unsur utama, yaitu (1) rasa, (2) agama, dan (3) buddhi. Ketiga unsur itulah yang mesti diberdayakan dengan tepat, yaitu dengan cara amutêr tutur pinahayu (mengolah kesadaran dengan cara yang baik).

Olah kesadaran itu adalah usaha keras dan fokus, yaitu usaha mensinergikan rasa, agama, buddhi sehingga menjadi daya rasa, daya budi, dan daya karsa. Rasa berurusan dengan keindahan indah-jeleknya sesuatu; agama berurusan dengan moral atau baik-buruknya tingkah-laku; buddhi berurusan dengan kebenaran atau benar-salahnya sesuatu.

Kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah Tri-Tunggal yang menjadi nilai dasar kemanusiaan. Sifatnya universal dan satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Dalam terminologi Hindu ketiga nilai hakiki itu dikukuhkan sebagai subhasita (motto ungkapan bijak): satyam-siwam-sundaram. Ketiganya adalah ekspresi yang menyatakan kehadiran Tuhan. Dalam wujud daya budi Tuhan itu adalah Satyam (Kebenaran); dalam wujud moral Tuhan itu adalah Siwam (kebajikan); dan dalam wujud rasa Tuhan itu adalah Sundaram (Keindahan).

Ketiga daya itu, seperti yang diisyaratkan oleh Mpu Kanwa, akan memberi manfaat jika telah berhasil disinergikan. Katanya tandas: Yan katêmu (jika berhasil disinergikan atau ditunggalkan), maka sakaharêpan kasiddha (segala yang dicita-citakan pasti diperoleh). Dalam kalimat lain, Mpu Kanwa berkata:

Sakatilanganing ambêk tan wyarthàn dadi kapitùt

segala yang dihasrati dengan pikiran terfokus tidak bisa tidak jadi diperoleh
(Arjuna Wiwàha, VI:2)

Maka, untuk lebih menegaskan pandangannya, sekali lagi Mpu Kanwa mengimbau: “Satiru-tirun kretàrtha sira deni kadhàra nira” ‘Tirulah laku hidup Arjuna dalam meraih cita-cita. Ia berhasil karena keteguhan usaha tapa-nya’. Mengapa?
Bukankah jawabannya telah dinarasikan oleh Mpu kanwa, bahwa tapa yang ‘teguh’ telah terbukti lewat berbagai tahapan ujian: kerelaan berkurban, mental, kecerdasan, keberanian, dan kebaktian. Bukankah hal itu yang menyebabkan Arjuna berhasil memperoleh anugerah yang durlabha ‘sulit diperoleh orang umumnya’. Betapa bahagianya Arjuna mendapatkan penampakan Bhatara Siwa dan panah Pasupati.

Pasupati itu adalah cadusakti: (1) Jnana Sakti (daya intelektual); (2) Kriya Sakti (daya kerja); (3) Wibhu Sakti (daya material); dan (4) Prabhu Sakti (daya kuasa). Keempat daya itulah keesaan Siwa.

Ia yang berhasil mendapat anugerah Siwa, seperti Arjuna itu, disebut oleh Mpu Kanwa sebagai sang paramàrtha pandita (orang bijak yang telah mencapai tujuan utama), yaitu sang… huwus limpad sakeng sunyata (orang yang telah mengalami pengalaman spiritual). Dan kepada ia yang demikianlah sang mpu bersedia mengabdikan diri. Katanya: “Usnìsangkwi lebùni pàduka nira sang mangkana lwir nira, manggeh manggalaning mekêt….” ‘Aku persembahkan sanggul rambutku untuk membasuh debu ceripu Beliau, orang yang seperti itu perilakunya. Beliaulah yang aku tetapkan sebagai pembimbing (hidupku) sebagai seniman’.

Mpu ‘pujangga, seniman’ itu bukanlah orang yang dilayani, tetapi orang yang bersedia dengan tulus melayani. Mpu itu menjadi mulia karena ketulusannya melayani. Selain mpu ada juga kelompok orang yang mendapat kehormatan karena melayani, mereka disebut jurudyah seperti yang diterangkan oleh teks syair Kakawin Sumanasàntaka (147:160), bahwa jurudyah ‘pemimpin abdi setia raja; abdi dharma’ itu adalah orang-orang terpilih karena memiliki kemampuan profesional dan berkarakter luhur: prajñà ‘bijakasana’, wìra ‘pemberani’, dan gandharwa ‘seni, terampil’.

Untuk mendapat kedudukan sebagai mpu dan jurudiyah itu, hal yang pertama-tama harus diusahakan adalah belajar untuk mendapatkan guna-widya. Guna adalah karakter mulia dan widya adalah ilmu pengetahuan. Setelah memiliki guna-widya orang baru dimungkinkan memiliki guna-karma ‘kemampuan kerja profesional’. Guna-karma inilah yang menjadi faktor penentu utama warna ‘status dan sumber hidup seseorang’. Dalam Kakawin Nitiúastra (V:1) dijelaskan:

Tati-takining sewaka guna-widya,
Smara-wisaya rwangpuluh ing ayusya,
Tengahing tuwuh sanwacana ya gêgön,
Patilareng àtmeng tanu pagurokên

kewajiban pertama seorang abdi dharma adalah berusaha keras untuk mendapatkan karakter mulia dan ilmu pengetahuan;
Kewajiban kedua setelah dua puluh tahun (masa belajar) adalah berusaha keras untuk mendapatkan arta dan kama;
Kewajiban ketiga, setelah tengah umur (masa pensiun) seorang abdi dharma hendaknya tekun mendalami ajaran hakikat dengan mempelajari wacana-wacana suci;
Dan yang keempat, abdi dharma hendaknya berguru kamoksan unuk dapat ilmu mati benar, yaitu ilmu agar dapat melepas roh dari tubuh

Belajar untuk mendapatkan guna-widya ‘karakter mulia dan ilmu pengetahuan profesional’ adalah salah satu unsur dasar terpenting ajaran purwa karma. Guna-widya itu tiada lain adalah daya sakti pertama dan utama. Dengan itu, purwa karma ‘yoga adalah kerja keluhuran’ dapat menjadi kokoh sebagai pandangan dunia. Daya sakti utama itu, dalam aspeknya yang tiga adalah daya rasa, daya budi, dan daya karsa. Kesatuan sistemik tiga daya itulah sebab yang dapat menjadikan guna-karma itu menjelma menjadi taksu ‘kharisma’.

Kanwa menyimpulkan, hidup adalah kerja. Kerja profesional berketuhanan adalah yoga. Dengan memahami dan sekaligus memperaktekkan pandangan dunia dan prinsip kerja kreatif itu pembaca diyakinkan dapat menjadi pusat wibawa bagi masyarakat sekitar.



Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT