Hakikat Siwa Sebagai Guru Tertinggi ( Adi Guru dan Adi Yogi )


Dalam perhitungan hari-hari menurut kalender Jawa Bali yang berumur 210 hari ada disebutkan Asta wara. Salah satunya adalah guru. Asta wara: Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, Kala, Uma.

Maka apabila ada wuku (pekan) yang tanpa guru, hari tersebut tidak baik untuk memluai suatu pelajaran, untuk mendalami ajaran-ajaran kerokhanian atau hal-hal yang bersifat sekuler. Guru yang dijadikan nama hari ini sesungguhnya adalah nama Bhatara Guru yang merupakan nama lain dari Hyang Siwa.

Di Bali pemujaan kepada guru dilakukan pada hari Pagerwesi yang jatuh pada Buddha Keliwon Sinta. Hari ini disebut sebagai pemujaan kepada Siwa sebagai Sanghyang Paramesti Guru.

Wuku pertama dalam sistem kalender Jawa Bali ini ternyata diawali dengan pemujaan kepada Siwa sebagai guru. Hal ini menandakan bahwa setiap memulai suatu pekerjaan atau apa saja memerlukan eksistensi guru atau anugrah atau restu guru.

Guru spiritual atau acharya mempunyai kedudukan tinggi atau penghormatan di dalam Siwaisme (juga dalam Waisnawa). Sastra mengatakan bahwa Siwa sendiri muncul sebagai acharya pada momen-momen yang tepat dan mengarahan para pemuja (bhakta) menuju, mendekati Tuhan. Dakshinamurti di dalam kuil-kuil Siwa di India merupakan perwujudan visual guru tertinggi. Pose tangan kanan Dakshinamurti dikenal dengan Chinmudra, mudra pengetahuan tertinggi.
Dari Siwa segala bentuk kesenian di dunia berkembang. Oleh karena itu Siwa dipuja oleh seniman, karena Siwa untuk pertama kalinya kesenian lahir. Dalam wujudnya sebagai pencipta tari, Siwa berwujud Nrtyamurti. Siwa juga yang mengajarkan kesenian kepada dewa-dewa dan kepada umat manusia. Siwa disebut adi guru (guru pertama) kesenian.

Siwa diasosiasikan dengan musik baik vokal maupun instrumental. Kitab Vayu Purana memberikan sebuah daftar yang meyebutkan sembian instrumen musik seperti bheri (genderang perang), dindima, jharjhara, dundubhi, instrumen-instrumen tiup, seperti venu (flut), gomukha. Instrumen-instrumen bersenar, seperti tumbevina (misalnya tanpura) .

Siwa sebagai guru yoga, musik dan ilmu-ilmu lain dikenal dengan nama Daksina-murti. Dikatakan bahwa Siwa duduk menghadap ke arah Selatan ketika ia mengajarkan para rsi yoga dan jnana dan oleh karena itu disebut sebagai Daksina-murti.

Daksina-murti lebih lanjut dipandang dari empat aspek berbeda, yaitu sebagai guru yoga disebut Yoga-daksina-murti, sebagai guru vina disebut Vinadhara-daksina-murti, sebagai guru jnana disebut Jnana-daksina-murti dan sebagai pencipta sastra-sastra (ilmu) lainnya disebut sebagai Vakhyana-daksina-murti.

Siwa Nataraja artinya Siwa sebagai penguasa penari kosmis di dalam fungsi menciptakan dunia dengan segala isinya dan memberikan kesempatan kepada jiwa-jiwa untuk bersatu dengan Siwa.

Sivananda mengatakan bahwa di dalam aktivitas ketuhanannya, Siwa dilukiskan sebagai penari kosmis Nretya dengan gerakan ritmik yang sangat indah dan menakjubkan.

Nretya atau Tandawa merupakan gerakan sakral dan tak terpisahkan dari anggota-anggota tubuh sesuai dengan bhawa yang ada di dalam diri. Di dalam Nretya, enam bhava, yaitu srishti, samhara, Widya, Awidya, Gati dan Agati didemonstrasikan .

Pancha Aksara (Na Ma Si Wa Ya) juga menyimbulkan Siwa Nataraja. Ya mencerminkan jiwa atau roh individu. Pancha Aksara membentuk tubuh Siwa. Tangan yang memegang api adalah Na. Kaki yang menindih raksasa Muyalaka adalah Ma. Tangan yang memegang kendang (damaru) adalah Si. Tangan kanan dan kiri yang bergerak adalah Wa. Tangan yang memperlihatkan abhaya mudra adalah Ya.

Kavi Yogi Maharsi Shuddhananda Bharati mengatakan mantra Panca Aksara adalah sebuah remidi kuat yang dapat menghilangkan noda dan dosa dan menyucikan jiwa.

Sivaprakasam mengatakan, “Sivayanama adalah mantra: Si mencerminkan Tuhan, Va anygraha, Ya jiwa, Na kekuatan-kekuatan yang menutupi kecerdasan dan Ma mamata, egoisme yang membelenggu jiwa-jiwa.

Siwayanama adalah suksma Panchaksari dimana Tuhan dan anugrah mendahului jiwa yang terbelenggu oleh anawa atau egoisme. Namasiwaya adalah stula Panchaksari dimana jiwa yang terbelenggu oleh ego-kesadaran menyerahkan sepenuhnya kepada anugrah Tuhan.

Mantra ini mengandung makna yang dalam; ia berisi benih-benih sadhana dan siddhi. Dalam kesusastraan Weda, Panca Aksara didentik dengan Gayatri Mantra”.

Dalam Gayatri, jiwa bermeditasi atas sinar Tuhan dengan upaya sendiri. Sementara Panchaksari melangkah lebih jauh dan mempertahankan bahwa jiwa yang terikat oleh egoisme tidak pernah melakukan lompatan yang tiba-tiba lalu menuju meditasi; bhakti, penyerahan diri total merupakan langkah pertama dimana jiwa terbelenggu menyerahkan diri secara penuh kepada Siwa dan anugrah Siwa menyucikan jiwa dan mengantarkan bersatu dengan Siwa. Upaya ini memerlukan konsentrasi dan latihan yang tak putus-putusnya.

Diksa ( Inisiasi Spiritual )

Diksa artinya inisiasi spiritual bagi jiwa agar siap menerima anugrah Siwa. Proses diksa sangat menentukan kemajuan mental maupun spiritual seorang pemuja Siwa.

Inisiasi merupakan persiapan menerima atau menyambut anugrah Tuhan (Siwa). Inisiasi dilakukan sebelum memasuki jalan chariya disebut samaya-diksa. Melalui pandangan cerah Tuhan (nayana), sentuhan spiritual (sparsa) dan melalui pengaruh pikiran (manasa) Tuhan mencari untuk mempengaruhi jiwa dan membangkitkan dari cengkraman masing-masing anawa, maya, dan karma.

Melalui pemberian pewarah-warah (vacaka) ke dalam hakikat kategori-kategori, Tuhan mencoba memperbaiki pengetahuna siswa. Untuk memperbaiki tingkah lakunya di masyarakat, Tuhan mengajarkan mantra-mantra mistis yang mengandung kebenaran-kebenaram eternal. Inisiasi berikutnya adalah ketika penyembah telah secara penuh berhasil menyelesaikan chariya, tetapi belum memasuki kriya-marga. Ini dikenal dengan visesa-diksa, karena ia memberikan siswa peluang memiliki energi spiritual yang diperlukan bagi kewajiban-kewajiban di dalam kriya.

Setelah jiwa mendapatkan ketiga tahapan tersebut dan sedikit mempunyai anawa, Tuhan menganugrahkan nirwana-diksa, yang memungkinkan seseorang memasuki jnana-marga. Di sini jiwa menganggap dirinya sebagai pasangan Tuhan (Siwa). Hal ini merupakan latihan mendengarkan (srawana), kontemplasi ( manana), dan nididhyasana.

Cara Siwa menganugrahi sesuatu kepada jiwa-jiwa

Secara sekala, Siwa berwujud guru, namun hal ini tidak dipandang sebagai awatara karena Siwa tidak pernah lahir atau dilahirkan, tidak pula pernah mati. Ia adalah kematian dari kematian.

Ia tidak terperangkap di dalam lingkaran waktu karena ia adalah waktu dari waktu. Apa yang menyebabkan sesuatu lahir adalah karma.

Bagi Siwa tidak ada karma. Tidak ada keinginan Siwa untuk lahir sebagai makhluk berwujud dan tidak ada keingin untuk hidup sebagai manusia. Tuhan tidak pernah mengalami degradasi menjadi bentuk material seperti dalam teologi-teologi lain. Tuhan tidak pernah masuk ke dalam bentuk apapun kecuali sebagai sebuah bentuk anugrah . Sesuatu yang lahir pasit mengalami kematian.

Walaupun demikian ia mengambil bentuk ketika Ia disembah, dipuja oleh penyembah-Nya. Ia mengambil berbagai bentuk untuk melindungi, menyelamatkan penyembah-Nya.

Ia datang sebagi guru untuk mengajarkan pengetahuan kepada umat manusia. Semua bentuk itu bukan terbuat dari benda-benda material, tetapi konkritisasi dari anugrah Siwa. Anugraha adalah hakikatnya.

Bisa dibayangkan jika tidak ada guru di dunia ini. Siapakah guru pertama sebelum adanya-guru sekarang ini. Di atas dijelaskan bahwa Siwa disebut sebagai Adi Guru, guru pertama kesenian. Siwalah untuk pertama kalinya mengajarkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Beliaulah guru pertama umat manusia. Oleh karena itu Siwa disebut juga sebagai Bhatara guru. Siwa akan mengajarkan pengetahuan kepada umat manusia melalui guru.

Oleh karena itu menghormati guru pada hakikatnya adalah menyembah Siwa. Menilik betapa pentingnya seorang guru, para sisya-nya sering kali menganggap sebagai Hyang Siwa, dipuja dan disembah. Mereka pun menyembah guru spiritulanya sebagai Siwa. Maka timbulah ikatan antara guru dengan murid, antara Siwa dengan sisya. Dengan cara ini pengetahuan dapat diteruskan dari satu generasi ke genarasi lainnya.

Melalui Siwaratri diharapkan kita memahmi arti, fungsi dan peranan guru di dalam mencerdaskan kehidupan umat manusia. Guru mengajarkan pengetahuan dan mengentaskan manusia dari kenestapaan. Guru memberikan sinar, cahaya, widya untuk dijadikan obor menyenyahkan kebodohan, kegelapan (awidya). Dengan selalu meghormati guru berarti memuja Siwa. Di dalam Siwaratri kita memuja Tuhan, Guru Dunia (sang Jagat Guru) yang memberikan janji kepada umat manusia yang berhasil lulus dalam melaksanakan tapa brata pada hari ini—anugrah berupa Siwa Loka.



Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT