Lontar Siwa Sasana

Lontar Siwa Sasana – Aguron-Guron dan Etika Kependetaan Saiwa Paksa


Lontar Siwa Sesana merupakan sebuah lontar yang diperuntukan kepada para sadhaka yang menganut aliran Siwa Sidhanta dimana, dalam lontar ini berisikan tata cara seorang sisya yang akan menjadi pandita. Dalam lontar ini dijelaskan secara detail mengenai tata cara berguru, hal yang patut diperhatikan sebagai seorang pandita, sampai kepada hukuman-hukuman yang akan diterima jika seorang pandita menyimpang dari ajarannya.

Lontar Siwa Sesana menyajikan potret sejarah teokrasi Hindu yang sangat mapan di Jawa dan Bali pada masa lampau. Naskah ini membuktikan bahwa pada masanya, etika keagamaan tidak dipisahkan dari tata hukum pidana negara sekuler. Melalui jalinan erat antara pendeta agung dengan raja, kesucian spiritual dipelihara menggunakan instrumen kekuasaan hukum yang kejam guna mencegah terjadinya pencampuran kasta, fitnah terhadap kaum sulinggih, serta penyalahgunaan otoritas diksa keagamaan.

Meskipun sanksi-sanksi fisik yang sadis seperti hukuman mati dipancung, penenggelaman ke laut dengan duri kaktus, maupun pemotongan lidah dan pembakaran mulut telah ditinggalkan dan bertentangan dengan hukum pidana modern di Indonesia , esensi etika batiniah dalam Siwa Sesana tetap mempertahankan relevansinya secara mutlak. Di era modern yang sarat dengan gempuran materialisme, konsumerisme, dan hedonisme, ajaran penaklukan hawa nafsu (jitendriya), ketahanan dalam tapa brata, serta penerapan Tri Kaya Parisudha (keselarasan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang suci) menjadi benteng pertahanan moral yang sangat kokoh bagi para pemimpin spiritual Hindu kontemporer.

Aturan-aturan rigid mengenai kualifikasi calon pendeta dalam naskah ini bertransformasi menjadi kode etik kepanditaan modern (Sesana Sulinggih dan Sesana Pinandita) yang dirumuskan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pengawasan terhadap integritas moral, kemampuan membaca susastra suci Weda, serta kematangan emosional calon pendeta sebelum melangsungkan upacara Diksa tetap dijalankan dengan ketat. Hal ini membuktikan bahwa Lontar Siwa Sesana terus berfungsi sebagai pedoman spiritual yang abadi (sanatana dharma) dalam menjaga ketertiban, kesucian batin, serta keharmonisan kehidupan umat Hindu lintas generasi.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga