Tatanan dan Kewajiban Pandita dalam Lontar Siwa Sasana


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Inilah sifat kata-kata yang patut disampaikan olehnya. Yaitu membicarakan tentang pemujaan para dewa dan pujian kepada Brahmana, lebih-lebih lagi pujian kepada pandita senior yang maha bijaksana, menghafalkan perihal ucap-ucap sastra agama, memberikan pelajaran, memperbincangkan segala macam ilmu pengetahuan dan mengkaji pengetahuan filsafat dan ajaran agama, selalu (?) mempelajari dan merapalkan mantra-mantra Weda. Dan ia berkata jujur, setia pada janji dan ia jangan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan telinga orang, jangan berkata-kata kasar, dan memfitnah, dan jangan berbohong kepada orang. Dan janganlah menghina orang, jangan mencerca kerja dan sifat brata sesama sadhaka. Hanya kata-kata yang benarlah dan kata-kata yang manis, lemah lembut, menarik hati dan bersahaja yang harus ia ucapkan. Demikianlah kata-kata yang sebarusnya disampaikan oleh dang upadhyaya.

Inilah sifat-sifat sang sadhaka yang telah menjadi dang upadhyaya yang harus ditegakkannya. Yaitu pikiran yang bersih, setya, budiman, tenang, tangguh, dan pengampun yang harus dipegangnya teguh dan kuat, beralaskan keteguhan hati, selalu lapang hati, mendasarkan mentri, karuna, mudita dan upeksa dan sayang kepada orang.

Janganlah ia curang, licik, sombong, mabuk, congkak, loba, binggung. Dan janganlah ia cepat naik darah, galak terhadap teman sadhakanya, janganlah ia keras kepala, iri, busuk hati, cemburu kepada temannya sesama sadhaka. Janganlah durhaka, menghina dan tekebur terhadap temannya sesama sadhaka dan sesama dang upadhyaya. Hanya keikhlasan yang  mendalam, budi baik, hormat, jujur saja yang menjadi budi sang sadhaka merasa pada seorang dan berlanjut pada yang lain-lain kepada temannya sesama sadhaka.

Demikianlah budi dang upadhyaya. Hanya yang demikian itu sajalah hendaknya dipegang teguh oleh sang sadhaka sebagai sarana diksa ? Barangkali demikian pertanyaanmu. Begini ! Jangan juga terburu-buru berbuat, tunggu pula sebentar walaupun perilaku dan disiplin sang sadhaka sudah meyakinkan dan kuat, lebih-lebih pula sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, namun walaupun demikian jangan juga terburu-buru berbuat.

Hendaknya usianya ditunggu, teliti muda umurnya sang sadhaka dan kematangan umurnya. Singkatnya, janganlah sang sadhaka buru-buru didiksa. Perkirakan muda umurnya dan muda umur isterinya. Berbahaya akan mendapatkan bahaya bila melaksanakan pemberian diksa, bila ia belum mengatasi hal-hal yang demikian itu.

Adapun tujuan menunggu itu ialah sempurnanya perkembangan jasmaninya untuk mulai bertindak. Adapun batas umurnya, bila ia sadhaka keturunan dari yang sudah didiksa. Bila ia tidak kekerasan dari yang sudah didiksa, maka batas umurnya ialah enam puluh tahun baru ia dapat melaksanakan diksa. Kesimpulannya janganlah sang sadhaka, menjalankan diksa, bila masih muda dan isterinya juga masih muda. Janganlah melaksanakan diksa bila isterinya belum berhenti datang bulan. Bila kedua-duanya sudah cukup tua umurnya, maka ia dapat melaksanakan diksa.

Demikianlah wala (=jaminan?)nya untuk melaksanakan diksa. Apabila telah tiba usia sang sadhaka dan cukup tua usianya maka pada waktu itulah ia melakukan diksa dan jangan ragu-ragu.

Hadapilah yang berpudgala dan alat-alat diksa itu, mengenakan pakaian upacara diksa, membuat Dewagrha, kundha, sthandila, menghadapi alat-alat Siwapakarana, seperti bhasma, ganitri, guduha, kundala, wulang hulu, brahma sutra, ambulungan, pawawahan, camara, argha, tripada, sangka, ghanta, dan jayaghanti.

Setelah lengkap semuanya itu, hadapkan sisia itu sebelum upacara. Kemudian tunggulah sebentar. Orang yang datang hendak mendiksa supaya dipilih terlebih dahulu. Jangan asal sisia, jangan tergesa-gesa menjadikannya wiku. Adapun sang sadhakadalam meneliti macam-macam sisia yang boleh didiksa adalah sebagai berikut, bersifat sosial, orang bijaksana, setia pada ucapannya, yang memiliki kesusilaan, teguh pendirian, setia bhakti terhadap suami, teguh pada dharma tanpa noda. Demikian macam orang yang dipilih menjadi sisia. Keturunan orang suci, sangat suci keturunannya, orang yang setia terhadap ucapannya, tidak berbohong, pandai dalam ilmu, orang yang benar-benar berjiwa besar, orang mulia, suci, berjiwa besar, orang yang susila, tegas dalam hal siasat, orang yang kuat menahan suka dan duka, orang yang setia terhadap atasan, apalagi terhadap orang tua, orang yang gemar melaksanakan ajaran dharma, orang yang teguh melaksanakan tapa, demikianlah macam orang yang dijadikan sisia yang patut didiksa.

Adapun macam orang yang tidak boleh didiksa adalah sebagai berikut. Meskipun brahmana keturunan bhasmangkara, orang itu jangan didiksa. Ingat tak boleh didiksa oleh nabe, seperti dibawah ini, yaitu : orang yang kapatita, orang yang jatuh sebagai walaka, orang cacat tubuh, orang yang sangat menderita.

Cuntaka janma berarti orang hina, seperti orang yang dijadikan kurban, orang yang dijadikan sesaji, orang yang diserahkan pada waktu melakukan upacara sawa widhana, asti widana, tukang pemikul mayat, pembawa pencuci muka mayat, penadah darah, penadah barang naziz, orang belian, dibeli hidupnya pada waktu dihukum, orang yang dihukum penjarakan, dirantai, digantung, dipasarkan, orang yang gagal dibela, batal ditusuk, telah dibawa kelapangan kuburan, catuspata, orang yang ditenggelamkan bersama pasir, dihukum pancung, ditenggelamkan ke  dalam air, dibakar, orang yang belum mati, seperti : tenggelam jatuh ke sumur, jatuh kekakus, orang yang disiram kepalanya dengan mutra dan kotoran manusia, orang yang disiram air jemuran perempuan, orang yang dibungkus cawat oleh orang hina, orang tembha diising disiram air kencing, juga yang dimelangan kotoran kencing, orang yang ditapak, ditempeleng kepala dan mukanya dengan cemeti, diikat dan dijambak rambutnya. Semuanya itu cuntaka janma namanya.

Orang yang menyembah terhadap orang yang hina, memakan makanannya, digunting rambutnya, (dan) juga yang diguyur (rambutnya) orang yang menyembah kepada oang cuntaka, menyembah kepada tapadhara, orang yang berlindung kepada orang yang nista, orang yang memikul bangku tempat duduk yang sedang ada yang menduduki, tukang pikul palana, padaraksa, jemuran, tikar, tikar permadani. Semua itu patita namanya dan segala orang sadigawe.

Sadigawe berarti turut dengan adhah kriya. Adhah kriya berarti segala yang sudra, candala dan mleca. Sudra berarti orang banija krama dan wulu-wulu. Banija krama berarti berdagang, alampuran, atasana, apalya, buncangaji.

Segala yang menjual belikan dagangannya, bajija namanya. Andhyun, angendhi, pan nya, banija namanya.

Andhyun, angendhi, pande segala macam pande, undagi, amaranggi, jalagraha, mengukir, melukis, mengapus, menjahit, membuat wayang, menmon, ijo-ijo, ang godha, amidhu, apacangah, araktan, semua itu wulu-wulu namanya.

Candhala berarti memahat, menjagal, melempar, memutar, mencungkil, mendulit, memukul, membudak, semua itu candhala namanya.

Mleca berarti paandai emas, dukun suratman, warung kedhi, juru rurih, semua itu mleca namanya. Demikian pula kalau ada keturunan brahmana ikut dengan pekerjaan orang sudra, candhala dan sebagainya, orang seperti itu, manusia sandigawe namanya, sebab salah hurara namanya.

Manusia kuci angga berarti orang cacat tubuhnya, seperti orang wwal, oarng bungkuk, kayang, kerdil, drmidari, lampang, bule, belang, lampir, wiwang, semua itu kuci angga namanya.Maha duhka berarti orang yang menderita tubuhnya oleh karena sengsara, seperti orang kusta, gila, ayan, menju, lajwa, wlu, dhusul, bwalen, busung, tahi panden, kesakitan, apalagi yang buta, tuli, bisu, cungik, umbung, tlihen, timpang, kejang, pingker, keteng. Demikianlah namanya cacat menderita. Itulah manusia maha duhka keadaannya. Segala orang seperti itu, manusia durlaksana namanya.Tidak patut dijadikan sisia dan dipodgala.

Kesimpulannya, jangan didiksa oarang-orang itu oleh dhang guru sebab jangankan mendapat pahala, bahkan mendapat dosa dan sengsaralah kita kalau disembah olehnya. Itulah sebabnya jangan sang sadhaka memberi diksa orang durlaksana.

Sebagai tambahan, janganlah sang sadhaka mendiksa orang yang telah didiksa oleh dhang guru yang lain, didiksa oleh sadhaka yang belum krrta diksita. Jangan mendiksa orang yang telah melakukan upacara suci, memohon restu kepada tapodhara. Tidak benar tingkah seperti itu, menumpuki upacara namanya. Lagipula janganlah dhang guru mendiksa orang keturunan biasa, bukan brahma wangsa dan bukan bhasmangkara.

Brahma wangsa berarti keturunan brahmana, putra putra pandita sejati, itulah brahma wangsa namanya. Bhasmangkara berarti memang keturunan sadhaka, berasal dari pandita Siwa Budha, apakah itu anak, cucu dan juga keponakan, itulah yang disebut bhasmangkara. Orang yang lain dari itu, orang biasa namanya, tidak boleh diupacarakan seperti yang berlaku bagi sadhaka. Namun jika keras keinginannya berguru, didiksa juga oleh sang guru namun jangan dipudgala. Upacara sederhana saja. Hanya mendapat restu saja. Kapunta caraka gelarnya. Tidak ikut disebut sadhaka, tidak memakai cikadhara dan tidak mengenakan upacara pandita Siwa. Apakah bahayanya mendiksa orang kebanyakan ?



Buku Siva Sutra
Meditasi-Yoga menuju Realisasi Diri

Śiva Sūtrā

Detail Buku

Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan