Mengenal Cara Perhitungan Kalender Saka Bali


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Aktivasi akun : Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway di iPaymu. Max. 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Email Aktivasi : akan dikirimkan ke email. Periksa inbox atau spambox / junkmail folder anda untuk petunjuk Login.
  • Jika ada masalah login silahkan menghubungi disini.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Kalender Bali atau Kalender Saka disusun berdasarkan revolusi Bumi terhadap Matahari dan juga revolusi Bulan terhadap Bumi. Sistem penanggalan yang digunakan pada kalender bali yaitu Era Saka yang berawal pada tahun 78 Masehi dan disebut juga penanggalan Saliwahana.

Berbagai modifikasi unsur lokal telah dilakukan dalam penyusunan kalender saka agar sesuai dengan kultur budaya, adat dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat lokal di bali.  Unsur-unsur lokal yang disusun pada kalender Saka menjadi patokan ritual keagamaan, hari baik dalam melakukan pekerjaan, menanam padi (agraria), membangun rumah (arsitektur), meramal watak seseorang (psikologi), meramal finansial seseorang, hingga detail-detail segala kegiatan masyarakat penggunanya. selanjutnya di Bali, sistem ini dituangkan dalam lontar-lontar Wariga.

Kalender Saka dapat dikatakan sebagai sistem penanggalan Lunisolar (kalender Suryachandra). Kalender Lunisolar yang dimaksud adalah kalender yang menggunakan fase bulan sebagai acuan utama, dan juga menambahkan pergantian musim di dalam perhitungan tiap tahunnya. Kalender Saka ini ditandai dengan adanya bulan-bulan kabisat.

Sistem Perhitungan dalam Kalender

Sistem penanggalan ini mengacu pada perjalanan Bulan mengeliling Bumi, atau berevolusi terhadap Bumi. Pada prinsipnya apapun kriteria yang digunakan, Konjungsi merupakan dasar awal pertanda adanya pergantian Bulan. Sehingga, sistem penanggalan yang menggunakan peredaran Bulan tidak terpengaruh dengan kedudukan. Sistem penanggalan ini perhitungannya mendasarkan pada siklus sinodik bulan, yaitu siklus fase bulan yang sama secara berurutan. Ratarata siklus sinodik bulan adalah 29,550589 hari, berarti dalam satu tahun umurnya penanggalan ini adalah 29,550589 x 12 = 354,60707 hari. Kalender bulan yang menggunakan lunar system mengikuti siklus fase Bulan. Kalender Bulan juga bertaut erat dengan siklus pasang surut air laut. Selain Matahari, Bulan pun memiliki pergerakan yang biasa disebut dengan peredaran Bulan. Ada dua macam gerakan yang dikenal dalam peredaran Bulan, yaitu : gerakan hakiki dan gerakan semu. Bulan adalah benda angkasa yang bergerak secara relatif.

Secara umum bulan bergerak relatif dalam tiga macam:

  1. Rotasi adalah perputaran satelit Bumi terhadap porosnya seperti Bumi berputar pada porosnya setiap hari. Bulan berotasi setiap 27,3 hari sekali.
  2. Revolusi terhadap planet Bumi. Bulan sebagai satelit alami Bumi juga berputar mengelilingi Bumi. Gerakan revolusi bulan memakan waktu 29,5305882 hari, yang disebut dengan istilah synodis . Sedangkan apabila dijadikan ukuran adalah konjungsi Bulan dengan Bintang tertentu, maka hanya memakan waktu 27,321661 hari, dan disebut dengan gerakan sideris . Dan gerakan bulan sideris inilah yang dijadikan perbandingan antara gerakan semu harian Matahari yang diakibatkan oleh revolusi Bumi dengan gerakan hakiki harian Bulan.
  3. Revolusi terhadap Matahari dan Bumi. Karena Bulan bersama-sama dengan Bumi beredar mengelilingi Matahari. Dengan kata lain, Bulan mengikuti revolusi Bumi. Bulan dalam mengeliling Bumi tidak beredar dalam satu lingkaran penuh, tetapi lebih menyerupai lingkaran berpilin. Artinya, titik awal bulan saat bergerak mengitari Bumi tidak bertemu dengan titik akhir. Dalam satu lingkaran ditempuh bulan dalam waktu 29,5 hari, dan ketika Bumi telah mengelilingi Matahari dalam satu lingkaran dengan waktu 365,5 hari maka bulan pun telah melakukan 12 kali lingkaran/putaran

Ada beberapa fase bulan yang terjadi dalam satu bulan, diantaranya :

  • Bulan Baru, disebut juga dengan bulan mati. Dimana pada saat itu bulan persis berada diantara Bumi dan Matahari, maka seluruh bagian Bulan yang tidak menerima sinar Matahari persis menghadap ke Bumi. Akibatnya saat itu Bulan tidak tampak dari Bumi.
  • Kuartal Pertama. Sekitar tujuh hari kemudian sesudah Bulan mati, Bulan akan tampak dari Bumi dengan bentuk setengah lingkaran.
  • Bulan Purnama atau Bulan purnama adalah keadaan ketika Bulan tampak bulat sempurna saat dilihat dari Bumi. Pada saat itu, Bumi terletak hampir segaris antara Matahari dan Bulan. Sehingga, seluruh permukaan Bulan diterangi Matahari tampak jelas dari arah Bumi. Bulan purnama adalah Bulan yang sedang menghadap Bumi dan mendapat pancaran sinar Matahari penuh sehingga terlihat bundar. Keadaan ini terjadi jika Bulan dalam posisi konjungsi superior, Bulan – Bumi – Matahari berada dalam satu garis Astronomi.
  • Kuartal Ketiga dan Terakhir. Bulan terus bergerak dan bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi semakin mengecil. Sekitar tujuh hari kemudian setelah purnama, Bulan akan tampak dari Bumi dalam bentuk setengah lingkaran lagi.

Kalender yang merupakan gabungan antara solar dan lunar, yaitu pergantian bulan berdasarkan siklus sinodis bulan dan beberapa tahun sekali disisipi tambahan bulan supaya kalender tersebut sama kembali dengan panjang siklus tropis Matahari, contohnya yaitu kalender Cina, Buddha dan lain-lain.

Kalender suryacandra atau kalender lunisolar adalah sebuah kalender yang menggunakan fase bulan sebagai acuan utama namun juga menambahkan pergantian musim di dalam perhitungan tiap tahunnya. Kalender ini biasanya ditandai dengan adanya bulan-bulan Kabisat beberapa tahun sekali ataupun berturut-turut. Dengan demikian jumlah bulan dalam satu tahun dapat mencapai 12 sampai 13 bulan. Kalender lunisolar yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan Matahari. Pada kalender lunar dan lunisolar, pergantian hari terjadi ketika Matahari terbenam dan awal setiap bulan adalah saat konjungsi.
Sistem perhitungannya adalah pergantian bulan dalam penanggalan didasarkan pada siklus sinodik Bulan, dan untuk menyingkronkannya dengan penyesuaian musim, maka akan ada sisipan hari dalan setiap bulan tertentu, atau penambahan bulan dalam rentang tahun tertentu. Pada awalnya, baik sistem lunar maupun solar merupakan gabungan. Namun, belakangan sistem kalender lunar dan solar menjadi berdiri sendiri. Pada perayaan-perayaan agama, sistem lunar umumnya dijadikan sebagai petunjuk. Jadi pada perayaan-perayaan agama banyak mengambil sistem lunar, sedangkan untuk sistem bisnis dan catatan administrasi banyak menggunakan sistem solar.

Tentang Kalender Caka

Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan surya atau kalender lunar sistem, namun untuk penyesuaian dengan musim dilakukan penambahan satu Bulan atau beberapa hari (interkalasi), setiap beberapa Tahun. Berhubung Bulan-Bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun baru harus disesuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran Matahari.

Permulaan tahun Saka ini ialah hari Sabtu, 14 maret 78 M, yaitu 1 tahun setelah penobatan Aji Saka sebagai raja di India. Dewasa Ayu atau hari baik merupakan pandangan kewaktuan yang kini disebut dengan Wariga. Terdapat ratusan lontar di Bali yang memuat ulasan mengenai wariga. Lontar tersebut di antaranya Sundari Gading, Sundari Cemeng, Panglantaka, Pengalihan Purnama Tilem, dan Perhitungan Nampi Sasih.

Semua lontar tersebut dirancang dengan perhitungan matematis, rasional, empirik. Bukti-bukti prasasti yang ditemukan sebelum abad ke-10 memang belum didapatkan nama wewaran, namun telah disebutkan mengenai Penanggal Panglong dan Sasih yang disajikan dalam Bahasa Sansekerta dan Bahasa Bali Kuno. Ketika Ratu Gunapriya Dharmapatni (Mahendradata) dan suaminya Darma Udayana Warmadewa, memerintah di Bali tahun 989-1001 M, nama wewaran dan wuku disebut dalam Prasati Berbahasa Jawa Kuna.
Saat ini kalender Caka mengalami modifikasi dengan penambahan beberapa muatan lokal. Adapun Kalender Caka yang berlaku di Indonesia saat ini adalah kalender Caka versi Bali. Nama-nama bulan dalam kalender ini antara lain: Kadasa, Jiyestha, Sadha, Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, dan Kasanga.

Kalender Caka Bali adalah kalender yang dibuat atau diciptakan di Bali secara khusus dengan penggabungan dari semua sistim. Dengan mengacu pada pengguna kalender tersebut bagi pemakainya, dalam hal merencanakan suatu hal hari baik atau dewasa-ayu untuk suatu pelaksanaan kegiatan yang menyangkut tentang upacara keagamaan, seperti odalan di suatu pura akan selalu berpedoman pada kalender Caka Bali.

Dalam kalender Saka yang berlaku di Bali, jatuhnya bulan-bulan kabisat, tidak sama diantara para pengamat wariga. banyak varian dalam penggunaan sistem kabisat ini.

Dalam sejarah perkembangan kalender Caka Bali, diketahui kalender Caka Bali dibuat di dua bagian daerah, pertama dibagian Bali Utara yang dibuat oleh I Gusti Bagus Sugrawa, dan dibagian Selatan dibuat oleh I Ketut Bambang Gede Rawi, dan beliau-beliau itu berada pada masa tahun 1959. Karena pada tahun 1959 pertama kali terbentuk lembaga keagamaan Hindu di Bali. Karena pada masa itulah kajian-kajian kemasyarakatan dibidang astronomi dan kebudayaan dimulai. Dan pada masa itulah awal persatuan antara 2 pemahaman tentang kalender Caka Bali. Karena masa sebelum disatukan antara dua pemahaman tersebut memiliki perbedaan dalam penentuan hari raya besar umat Hindu di Bali, mereka memiliki ketentuan dalam penentuan-penentuan tersebut, contohnya dalam penentuan purnama dan tilem. Maka dari itu para pencetus Kalender Caka Bali tersebut akhirnya menyatukan ilmu tentang kalender Caka Bali agar menjadi 1.

Disaat tahun 1948-1949, diadakan paruman /rapat yang dilakukan oleh para Sulinggih ( Pandita)  di Bali dan Lombok. Hasil paruman tersebut memberi kepercayaan kepada alm. Ketut Bangbang Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang disusun berdasarkan perhitungan Bulan sekaligus matahari.

Dan kepercayaan didalam keagaamaan Hindu bahwa awal tahun atau Hari Nyepi tersebut bermula dari awal terciptanya dunia ini, atau yang biasa kita sebut dengan BigBang, itulah kepercayaan umat yang awal mula dari Nyepi itu dirayakan, dan juga dikatakan karena angka sembilan menjadi bilangan terbesar dalam hitungan matematis jadi Bulan ke-10 menjadi awal tahun barunya.

Unsur-unsur yang ada dalam Kalender Caka Bali

Masing-masing kalender memiliki pola atau sistematikanya tersendiri disamping juga memiliki keistimewaan-keistimewaan dalam penerapannya. Dan apabila diperhatikan secara cermat, pola atau sistimatikanya sebuah kalender secara garis besar mengandung unsur pokok tolak ukur kalender yaitu:

  1. Unsur matematis
    Dari unsur matematis akan dapat ditelusuri bagaimana perhitungan secara matematis yang merangkum seluruh pola dasar kalender, yang terdiri dari tahun-surya + tahun-candra + tahun wuku, sudah tentu dasar perhitungannya juga merangkum kesemuanya itu.Perhitungan umur bulan/sasih secara komulatif umur Bulannya adalah 29 atau 30 hari karena terkait dengan kalender wuku, dalam penetapan awal Bulan berpedoman dengan Bulan terbit (penanggal/suklapaksa) purnama adalah pertengahan Bulan, setelah purnama dinamakan panglong/kresnapaksa dan akhir Bulan adalah tilem, penetapan purnama dan tilem terpolakan pada rumusan pengalihan purnama-tilem yang disebut pengalantaka.
  2. Unsur sistematis
    Unsur Sistematika kalender Caka Bali, memadukan seluruh sistematika kalender. Karena itulah umur tahunnya ada dua macam, tahun panjang dengan 13 bulan, dan tahun pendek dengan 12 bulan. Ini bisa terjadi karena penggabungan tahun surya-candra. Pada saat tahun panjang akan ditemukan suatu permasalahan, yaitu dalam menetapkan sisipan 1 bulan yang dikenal dengan istilah pengerepeting sasih. Kalender Caka Bali menempatkan bulan yang ke-13 dengan nama mala-masa, hanya pada dua jenis sasih, yaitu pada sasih-jhista dengan nama mala-jhista dan pada sasih-sadha dengan nama mala-sadha, yaitu sistimatika yang sangat praktis diantara penampih sasih.
  3. Unsur Geografis
    Unsur geografis secara nyata adalah keterkaitan posisi keadaan alam pada saat-saat tertentu seperti: tilem kapitu, tilem kasanga dan tilem katiga dengan posisi tilem kapitu yang selalu ada pada bulan januari amat sangatlah mudah untuk menentukan Siwaratri, dan secara alami situasi cuaca pada saat ini gelap gulita, apalagi saat musim hujan. Begitu pula dengan tilem kesanga, serta hari nyepi sebagai tahun baru. Secara alami pada Bulan ini posisi Matahari tepat berada diatas Bumi, yang secara umum dikenal dengan istilah Bajeging surya. lamanya antara waktu siang dan malam sama atau dalam keadaan seimbang, tetaplah pelaksanaan tawur kesanga ini dilaksanakan pada tilem kesanga yang dominan ada pada bulan desember posisi bajeging surya.
  4. Unsur Religius
    a.) Tilem kesanga selalu berada pada bulan maret. Secara geografis wilayah nusantara indonesia berada pada daerah khatulistiwa, berada pada posisi yang seimbang antara kutub utara dengan kutub selatan, dan pada saat bulan maret, posisi matahari berada tepat pada garis khatulistiwa merupakan puncak dari keseimbangan. Seimbang dalam posisi utara selatan, seimbang antara siang dan malam dengan waktu yang relatif sama yaitu dengan panjang 12 jam.
    b.) Pengerepeting sasih / malamasa tepat menurut padewasan. Termuat didalam wariga dewasa dijelaskan dinyatakan keberadaan atau sifat sasih jhista dan sasih sadha ini dikategorikan sebagai sasih sabel, yaitu sasih yang tidak baik untuk segala macam padewasan. Segala sesuatu kegiatan tidak baik dilaksanakan pada sasih jhista dan sadha. Jadi penenpatan pada sasih jhista dan sasih sadha merupakan sasih sabel sangatlah tepat. Sedangkan sasih lainnya tidak ada penampih sasih, sehingga tidak membingungkan dalam penerapan padewasan menurut sasih terutama dalam penyelenggaraan upacara odalan atau musaba pada sasih kapat atau kadasa.

Percetakan MahaMeru Bali

Kalender Bambang Gde Rawi

Bagi anda yang berminat mencetak Kalender dinding Bali sebagai media promosi dan kepedulian anda pada konsumen dan masyarakat dapat menghubungi Kami di website :
Pre-Order Disini



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga