Lontar Udayati

Lontar Udayati – Ilmu Perbintangan (Wariga) dan Pengobatan (Usada)


Naskah Lontar Udayati merupakan dokumen spiritual, astrologis, dan teo-medis tradisional Bali yang menguraikan secara rinci keterikatan takdir, watak, patologi (penyakit), jenis kematian, hingga liturgi penyucian (penglukatan) dan upakara penebusan (pamahayun) manusia berdasarkan kalkulasi waktu kelahirannya.

Lontar Udayati  sebuah kodifikasi ilmu pengetahuan tradisional Bali yang sangat terstruktur dan integratif. Lontar ini menyatukan dimensi teologis (pemujaan dewa-dewa), dimensi astrologis (kalkulasi waktu Saptawara dan Wuku), dimensi medis (patologi penyakit mwah pengobatan lewat air suci), serta dimensi ekologis (sistem caru mwah pelestarian pertanian) ke dalam satu kesatuan sistem kepercayaan yang utuh dan fungsional bagi kelangsungan hidup masyarakat Hindu Bali.

Taksonomi Kepribadian, Patologi dan Penglukatan Saptawara

Siklus tujuh hari (Saptawara) dikendalikan oleh kekuatan dewa-dewa penjuru angin, yang termaterialisasi dalam totem flora (kakayonan), fauna (mamanukan / sasaton), visualisasi bayangan (wayang / maya), serta nilai angka kehidupan (urip dan pati).

1. Redite (Ahad/Minggu)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Hyang Iswara (Purwa/Timur) dengan Bhatara Indra sebagai dewata utama. Totem ekologis meliputi pohon kayu putih, burung syung, rasi matahari (sungenge), tokoh wayang Panji, hewan kerbau (mesa), serta visualisasi bhuta berwajah anjing (maulu asu). Siklus vitalitasnya memiliki nilai kehidupan (urip) pada dawuh 5 dan nilai kematian (pati) pada dawuh 2.
  • Watak & Karakteristik :
    Suka memberi/dermawan (weh-wehan), memiliki keterampilan fungsional pada organ telinga dan tangan, sangat rajin bekerja (sebet maring gawenya). Tajam dalam mendengar petunjuk kebenaran (prajnya mangrenga pawarah yukti), fasih dalam berucap (wicaksana maring ucap), serta berbakat menjadi prajurit utama (pratameng prajurit). Bertubuh proporsional (paja-paja pangadeganya), berkulit kuning langsat (alit akuning pamulunya), namun memiliki kecenderungan keras kepala/membangkang kepada orang tua (duka ageng maring rama ibunya) dan banyak berbicara. Bila marah, wataknya keras bagai gunung (kelar acala-acala).
  • Patologi Medis (Lara) :
    Rentan menderita gangguan kesehatan pada kepala (ulu), infeksi telinga (karna), penyakit mata (netra), seriawan/gangguan mulut (cangkem), nyeri persendian tangan dan kaki, kurap, koreng, parang berung, serta pendarahan saat tidur (metu rah ring paturonya).
  • Liturgi Penglukatan :
    Menggunakan air penyucian yang dimohonkan dari pedagang (wong manyagal), ditampung dalam 5 buah wadah tempurung susu (kumba susu). Upakara penebusan menggunakan caru sarwa kuning, bunga serba putih, suci genep, gula, bebek, dan 5 ekor ayam panggang. Uang penebusan senilai 555 keping (artha).
  • Mantra Utama :
    Om Adipati ya namah Iswara, sang Redite, ping lima anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Dihaturkan di depan Kamulan berupa sasayut kasuma jati di atas dulang, ayam putih panggang dengan bumbu bawang jahe, katipat syung sebanyak 7 buah, porosan 11 buah, dan kembang warna-warni sebanyak 11 katih.

2. Soma (Senin)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah perlindungan Bhatara Wisnu (Utara) dengan Bhatari Uma sebagai dewata pendamping. Totem ekologis meliputi pohon pule, burung jajangkung, rasi bulan (candra), tokoh wayang Togog, hewan sapi (wresaba), serta bhuta berwajah kuda (mahulu kuda).
  • Watak & Karakteristik :
    Berperawakan persegi (apasagi pangadeganya), berwajah bulat, berleher tegap, berambut ikal. Memiliki sifat plin-plan (ulad-alid), perkataannya tidak jujur/suka berbohong (corah budinya, linyok, kudu ulahnya), sensual, namun di sisi lain patuh pada perintah orang tua (teguh maring ujar rama ibunya). Gemar berdagang benang (lawe) atau sayuran.
  • Patologi Medis (Lara) :
    Sakit kepala berat (puruh), pusing berputar (langu linyun), infeksi telinga bernanah (curek), kebutaan senja (buta siap), perut kembung (embet), lumpuh, asma kronis, penyakit kulit gatal (pakableg-bleg), serta pembengkakan leher (gondong). Jenis kematian potensialnya adalah tenggelam di air (tiba bwing toya).
  • Liturgi Penglukatan :
    Air suci dimohonkan dari guru spiritual penengah (sang ngayudelina), ditampung dalam 4 kumba susu. Upakara pendamping berupa banten suci genep, guling bebek, dan uang penebusan senilai 444 keping.
  • Mantra Utama :
    Om timbu dipati ya nama swaha, sang Soma, ping empat anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut catur srengga dengan nasi bercampur ketan hitam (injin) dan taburan lada (mica) serta daun ginten, ayam hitam panggang, tumpeng agung 1 bungkul, penek 11 buah, sagi genep, dan beras 4 catu.

3. Anggara (Selasa)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Bhatara Ludra (Barat Daya) dengan Bhatara Brahma sebagai dewata utama. Totem ekologis berupa pohon bunut banggang, burung dangdang, rasi matahari (surya), wayang pak, hewan anjing (asu), dan bhuta berwajah kuda (mahulu kuda) serta api berkobar (geni saranjah). Memiliki nilai kehidupan (urip) 3 dan kematian (pati) pada dawuh 4.
  • Watak & Karakteristik :
    Gemar bersastra (kawi), pandai bicara, lekas paham, berwajah runcing (lancub mukanya), bermata merah, berambut kaku. Wataknya emosional/pemarah (brangti satuwuk), sombong, suka berbohong, gemar bersenang-senang dengan wanita, bertindak keras terhadap orang tua, serta suka merampas hak milik rekan kerja (ngwisesa gelah rowang).
  • Patologi Medis (Lara) :
    Sakit kepala sebelah (sungleng), pusing gelisah (uyang blasak), penyakit mata, infeksi telinga, sesak napas (dekah), perut busung (abuh busung), kencing tidak lancar (anyang-anyangan), infeksi kulit bernanah, luka kronis (berung suwe), serta gangguan jiwa mengamuk (edan mangamuk).
  • Liturgi Penglukatan :
    Memohon air suci kepada pandai besi (pande wesi) atau petugas irigasi (sedahan agung) yang ditampung dalam 3 buah kumba susu. Menggunakan caru rumbah gile, kacang hijau, bunga merah dan kuning, serta 3 ekor ayam panggang. Nilai penebusan senilai 333 keping.
  • Mantra Utama :
    Om ludra dipatya ya namah swaha, sang Anggara, ping tiga anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut kusuma andajingga dengan nasi beras merah dan kuning yang disatukan di atas dulang, ayam biing kuning panggang, tumpeng kelengan tebu, kembang rampe, pras tataban, sagi genep, dan beras 3 catu.

4. Buda (Rabu)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Dewi Laksmi (Barat) dengan Bhatara Mahadewa sebagai dewata utama. Totem ekologis berupa pohon bunut, burung dara, wayang babaret, saton ular mwah ikan (ula mwang mina), serta bhuta berwajah lembu (mahulu lembu) dengan senjata astra darung sari. Nilai urip 7 dan pati pada dawuh 8.
  • Watak & Karakteristik :
    Berambut bengah, berbadan tegap lemes, berleher kokoh (pukel gulunya), berwajah runcing. Pandai menulis sastra (kawi), berwibawa, mencintai sesama. Namun, ia enggan melakukan pekerjaan kasar/berat (wedi ring abot), perkataannya tidak jujur (linyok ring ujar), suka bersenda gurau (agagonjakan), serta gemar berdagang bunga, emas, atau kain.
  • Patologi Medis (Lara) :
    Pusing berputar (manglempuyeng), tubuh kurus kering (kuru manglayang layung), penyakit mata (katarak/lamur), infeksi telinga, sesak napas (dekah watuk), perut bengkak/busung, nyeri pinggang (kekah kaku), gatal-gatal, serta kelumpuhan.
  • Liturgi Penglukatan :
    Memohon air suci kepada arsitek tradisional (sang wundagi), menggunakan wadah 7 buah kumba susu. Caru serba kuning, 7 ekor ayam panggang, guling bebek 1 ekor, sagi-sagi genep, dan beras 7 catu. Tebusan senilai 777 keping.
  • Mantra Utama :
    Om Hyang Mahadewa, dipatya ya namah swaha, sang Buda, ping pitu anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut purna suka dengan nasi kuning sawur, ayam putih syungan panggang yang disajikan tegak (bangun uripang), tumpeng dengan puncak berupa hati babi, olahan babi (jajatah lembat asem) sebanyak 7 katih, bantal galahan, pisang, pras tatataban, dan sagi genep.

5. Wrespati (Kamis)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Bhatara Kundangsih (Tenggara) dengan Bhatara Guru sebagai dewa utama. Totem ekologis meliputi pohon beringin, burung merak, rasi bintang sura kanya, wayang wangkawa, saton macan (mong), serta bhuta pengantin mwah burung dadali. Nilai urip 8 dan pati 9.
  • Watak & Karakteristik :
    Memiliki kemampuan tajam pada organ mata dan hidung, berpikiran mendalam (teleb budinya), bijaksana, pandai bersastra, mulia hati (paramarta), sakti spiritual. Berwajah manis, bertubuh lemas, berambut halus, berani di medan perang. Namun, ia memiliki nafsu sensual yang tinggi (karepnya wawadonan), gemar musik, bersolek, sangat dikasihi keluarga, namun enggan dikalahkan oleh orang lain.
  • Patologi Medis (Lara) :
    Sakit kepala berat, telinga berdenging (macengung), seriawan parah (mokan), batuk kronis, nyeri seluruh persendian, perut kembung (embet), disentri (mising rah nanah), serta kelumpuhan kaki.
  • Liturgi Penglukatan :
    Memohon air suci kepada penengah kembar (sang ngamadwang) atau air yang memancar murni (yeh anakan). Wadah kumba susu sebanyak 8 buah beralaskan cubek anyar berisi beras dan benang 4 warna. Caru sarwa wija sukla, 8 ekor ayam panggang, guling bebek 1 ekor, sagi genep, dan uang tebusan senilai 888 keping.
  • Mantra Utama :
    Om isore dipatya nama siwa ya dipatya nama swaha, sang Wrespati, ping kutus anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut kusuma gandawati dengan nasi berwarna dadu, ayam wangkas panggang yang disajikan tegak, tulung urip 8 buah, daksina jangkep, tebu 3 potong, peras tataban, beras 8 catu, dan artha 888.

6. Sukra (Jumat)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Bhatara Sambu (Timur Laut) dengan Bhatari Sri Dewi sebagai dewata utama. Totem ekologis meliputi pohon ancak, burung titiran, rasi air (toya), wayang Delem, serta bhuta berwajah lembu (maulu lembu). Urip 6 dan pati 7.
  • Watak & Karakteristik :
    Berperawakan bulat tegap (apasagi pukel), berwajah bundar, bermata bulat, berambut jarang, berwatak angkuh. Memiliki kecakapan bersastra, fasih bicara namun suka bertengkar (canggih buwat tukar), tidak betah bekerja di satu tempat (tan jenek ring pagawéyan), gemar berdagang keliling (ngalayar) barang-barang mewah, sayur, atau kue.
  • Patologi Medis (Lara) :
    Pusing melilit, seriawan mulut, penyakit mata, infeksi telinga, sakit pinggang, anyang-anyangan, perut bengkak, lumpuh sebelah badan (sasigar), depresi mental, serta tiwang hantu. Potensi kematian adalah tenggelam di air (pejah klabu ring toya).
  • Liturgi Penglukatan :
    Memohon air suci kepada kaum asketis suci (wong kdi), wadah kumba susu 6 buah. Caru sarwa sukla, buah-buahan, kembang sulasih merik, 6 ekor ayam panggang, guling bebek, sagi genep, dan uang tebusan senilai 666 keping.
  • Mantra Utama :
    Om sanghyang sri sambu dipatya nama swaha, sang Sukra, ping enem anjanma.
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut dwi sekarnya, nasi beras bercampur ketan hitam (injin), ayam kelawu panggang yang disajikan tegak, jajatu kasili, tumpeng 1 bungkul, telur rebus, sambal isen tanpa garam, daksina jangkep, beras 6 catu, dan artha 600.

7. Saniscara (Sabtu)

  • Struktur Kosmis :
    Berada di bawah pengaruh Bhatara Yama (Selatan) dengan Bhatari Durga sebagai dewi utama. Totem ekologis meliputi pohon kepuh, burung baka, wayang Yanglalah, hewan lembu, bhuta berwajah burung, serta dupa harum. Urip 8 dan pati pada dawuh tertentu.
  • Watak & Karakteristik :
    Bertubuh tinggi tirus (apasagi lanjar), dagu tirus, bermata tajam, alis lebat, bibir tipis. Tutur katanya manis namun memiliki kecenderungan berbohong (kudu recap), tangguh, mandiri, pandai bersastra, gemar bermusik, gemar berdagang kain atau bunga, serta sangat menyayangi sanak keluarganya.
  • Patologi Medis (Lara) :
    Cedera fisik akibat kecelakaan di jalan (kasandung ring ngawan, kasuleg), sakit kepala pusing, mata merah berair, seriawan tenggorokan, perut busung/kembung, batuk sesak (tunggah makelkelan), rematik kaki, lumpuh, serta anyang-anyangan.
  • Liturgi Penglukatan :
    Memohon air suci kepada penjual jamu tradisional (dagang craki di pasar) atau orang yang difitnah (kedalih nengenin), serta air laut. Wadah kumba susu sebanyak 9 buah. Caru berupa sega sawakul, daging bebek, 3 ekor olahan babi goreng, rumbah gile, saksak mencak, sayuran, ayam panggang, bunga serba merah, sagi genep, dan tebusan 999 keping.
  • Mantra Utama :
    Om Adipati ya namah….
  • Banten Pamahayun :
    Sasayut kusuma yudha di pintu keluar menuju jalan raya (pamesunya ka marga agunge), nasi beras merah dicampur sedikit beras putih, ayam biing panggang utuh, nasi sekul gurih bercampur kacang dan teri goreng, dupa candana, tulung urip 9 buah, ayam biing panggang belah punggung, daksina jangkep, beras 9 catu, dan artha 900.



Buku Terkait
Baca Juga