Lontar Surya Candra

Lontar Surya Candra Tattwa – Sinkronisasi Surya, Candra dan Pengalantaka


Naskah ini berisi hukum Pengalantaka (sinkronisasi hari) dan perhitungan Tithi (hari bulan). Teks di atas adalah transkripsi bagian paling inti yang mencakup seluruh dasar matematis dan hukum ritual yang ada dalam kedua lontar tersebut. Lontar aslinya bisa memiliki bagian pengulangan atau mantra pemujaan yang sangat panjang, namun bagian Tattwa (hukum/inti) yang saya sajikan di atas adalah versi paling lengkap yang digunakan oleh para Pangripta (penyusun kalender) di Bali.

Jika Lontar Aji Sasih adalah jiwa dan gambaran umum tentang bulan, maka Surya Candra Tattwa adalah “otak” matematis dan hukum presisi yang mengatur bagaimana kalender Bali disinkronkan dengan pergerakan langit yang sebenarnya.

Jika Lontar Aji Sasih memberikan panduan tentang “apa” yang terjadi di setiap bulan, maka Lontar Surya Candra Tattwa memberikan instruksi “bagaimana” memastikan bulan tersebut jatuh di waktu yang benar. Tanpa naskah Surya Candra, kalender Bali akan kehilangan akurasi astronomisnya dan hanya menjadi hitungan matematis yang mati.

Lontar Surya Candra Tattwa adalah naskah teknis yang menjadi rujukan utama bagi para Pangripta (penyusun) Kalender Bali.

Naskah ini mengatur hukum Pengalantaka, yaitu sistem koreksi untuk menjembatani perbedaan antara hari matahari dan hari rembulan (Tithi).

 

Prinsip Dualitas : Surya Sebagai Saksi, Candra Sebagai Ukuran

Naskah dibuka dengan aksioma fundamental : “Surya dadi saksi, Candra dadi ukuran.”

  • Surya (Matahari) : Menentukan pergantian siang dan malam (24 jam). Ia bersifat tetap dan menjadi saksi bisu waktu.
  • Candra (Bulan) : Menentukan hitungan bulan dan ritual. Namun, karena orbit bulan tidak bulat sempurna (29,53 hari), maka hitungan bulan sering kali “meleset” dari hitungan hari matahari.
  • Tujuan Tattwa : Menyelaraskan keduanya agar hari raya (Purnama/Tilem) jatuh tepat saat posisi bulan benar-benar bulat atau benar-benar gelap secara astronomis.

Tiga Sistem Pengalantaka (Lempir 1b – 4a)

Naskah ini merinci tiga sistem kalkulasi yang digunakan secara bergantian dalam siklus tertentu untuk menjaga akurasi kalender :

  1. Anyar (Baru) : Sistem perhitungan yang dimulai dari Purnama Sasih Kapat. Ini adalah sistem yang dianggap paling segar dan akurat untuk masa sekarang.
  2. Eka Sungsang (Terbalik) : Perhitungan yang dimulai dari Tilem Sasih Sada. Digunakan pada periode transisi tertentu.
  3. Belog (Diam/Statis) : Digunakan ketika posisi bulan dan matahari sudah dianggap sinkron secara alami tanpa perlu banyak koreksi.

Dinamika Tithi : Ngadat dan Amanyeti (Lempir 2a – 5b)

Inilah bagian paling rumit dalam logika kalender Bali. Karena durasi bulan (Lunar Month) adalah 29,53 hari (bukan 30 hari pas), maka kalender Bali harus “bernapas” melalui dua mekanisme :

  • Tithi Ngadat (Tertahan) : Terjadi ketika bulan bergerak lambat (alon). Akibatnya, satu hari rembulan (tithi) menghabiskan waktu lebih dari satu hari matahari. Dalam kalender, ini terlihat sebagai pengulangan angka (misalnya ada dua hari yang sama-sama disebut Penanggal 1).
  • Tithi Amanyeti (Meloncat) : Terjadi ketika bulan bergerak cepat (gelis). Dua hari rembulan diringkas menjadi satu hari matahari. Dalam kalender, ini terlihat sebagai angka yang hilang (misalnya dari Penanggal 13 langsung ke Purnama/15, melewati angka 14).

Rahasia Siklus 19 Tahun (Metonic Cycle)

Lontar Surya Candra Tattwa mencatat sebuah kecanggihan astronomi kuno : Siklus 19 Tahun.

  • Dalam kurun waktu 19 tahun matahari, harus terdapat 7 kali Sasih Nampih (bulan kabisat/bulan ganda).
  • Jika penyusun kalender tidak memasukkan 7 bulan tambahan ini dalam 19 tahun, maka piodalan di pura akan bergeser musim (misalnya piodalan yang seharusnya di musim kemarau justru jatuh di musim hujan lebat). Hal ini dianggap merusak kesucian ritual.

Purwani : Titik Kritis Alam (Lempir 5a – 10a)

Naskah memberikan perhatian khusus pada Tithi 14 (Purwani), baik sebelum Purnama maupun Tilem.

  • Kondisi Energi : Pada hari ke-14, energi bulan dan matahari berada pada titik transisi yang tidak stabil.
  • Larangan : Naskah melarang pelaksanaan Karya Ageng (upacara besar) atau memulai pembangunan pada hari Purwani karena dianggap sebagai waktu bagi Bhuta Kala untuk “berpesta” (ngeraja sewala).

Peran Saptawara (Planet) dan Grahacara (Lempir 9a – 11a)

Surya Candra Tattwa juga mengaitkan hari tujuh (Saptawara) dengan posisi planet di langit :

  • Setiap hari (Redite s/d Saniscara) memiliki resonansi dengan planet tertentu (Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, Saturnus).
  • Yoga : Pertemuan antara hari (Saptawara) dengan posisi bulan (Tithi) menghasilkan “Yoga” atau gelombang energi tertentu. Yoga Ayu adalah waktu yang diberkati, sementara Yoga Mala adalah waktu yang harus dihindari untuk kegiatan penting.

Naskah diakhiri dengan peringatan spiritual yang sangat kuat :

  • Tanggung Jawab : Penyusun kalender mengemban tanggung jawab niskala (spiritual) yang berat.
  • Pangaksama : Adanya mantra permohonan maaf menunjukkan bahwa manusia menyadari keterbatasannya dalam menghitung kebesaran ciptaan Sang Hyang Widhi.
  • Dampak Sosial : Kalender yang salah bukan hanya salah cetak, tapi dianggap mengakibatkan “Dewa linyok” (Dewata tidak berkenan hadir) dan jagat menjadi panas (panes).


Sumber
Koleksi Kirtya No. 1475

HALAMAN TERKAIT
Baca Juga