Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak lereng Gunung Agung yaitu Gunung tertinggi di Bali, tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat yaitu Pura Penataran Agung Besakih dan 18 Pura pendamping yaitu 1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya. Besakih berasal dari zaman yang sangat tua, karena banyaknya peninggalan–peninggalan zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, struktur teras pyramid yang ditemukan di kompleks Pura Besakih.
Pura Besakih secara horizontal, berdasarkan arah mata angin, merupakan Sari Padma Bhuwana. Dari sudut pandang vertikal maka dunia ini terdiri dari tiga tingkatan. Ada alam bhurloka, bwahloka, dan swahloka. Alam bhur loka terdiri dari tujuh lapisan bawah atau sapta patala. Alam tengah juga terdiri dari tujuh pulau yang terkenal dengan nama sapta dwipa dan sapta sagara. Demikian juga alam atas terdiri dari tujuh lapisan yang di sebut dengan istilah sapta loka.  

Secara vertikal komplek Pura Besakih terdiri dari dua komplek ang disebut Soring Ambal-Ambal sebagai lapisan bawah dan Luhuring Ambal-Ambal sebagai lapisan atas. Adapun pura yang termasuk Soring Ambal-Ambal adalah Pura Pasimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Salonding, Pura Gua Raja, Pura Rambut Sadana, Pura Basukian, Pura Dalem Puri, Pura Janggala, Pura Banua dan Pura Mrajan Kanginan. Pura yang termasuk Luhurin Ambal-Ambal adalah Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Penataran Agung Besakih, Pura Pengubengan, Pura Peninjoan, dan Pura Tirtha.

Pura Luhuring Ambal-Ambal merupakan pura yang disimbolisasikan sebagai lapisan bagian atas alam atau sapta loka. Keseluruhan komplek Pura Luhuring Ambal-Ambal dapat dikatakan sebagai titik pusat pemujaan umat Hindu di Bali, terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang termanifetasi sebagai sarwa dewata sesuai dengan fungsinya masing-masing. Oleh sebab itu, dirasa penting dan perlu melakukan kajian terhadap bentuk, fungsi dan makna pura secara keseluruhan untuk tujuan fundamental, yaitu meningkatkan pemahaman terhadap ajaran agama Hindu, dan berimplikasi pada peningkatan sradha dan bhakti umat Hindu.
Akhir kata semoga amal bakti semua pihak yang ikut mendukung rancangan karya ini, mendapat limpahan karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tentu sebagai manusia biasa jelas karya ini tak luput dari segala keterbatasan.

Luhuring Ambal-Ambal secara etimologi berasal dari kata Luhurin dan Ambal-Ambal. Luhuring memiliki akar kata luhur yang berarti tinggi, mulia (Poerwadarminta,1984: 611). Dalam kamus sinonim Bahasa Bali oleh Sutjaja (2003: 226) kata luur berarti atas karena bersinonim dengan luhur, duur. Demikian juga luhur berarti tinggi (Mardiwasito,1986: 325). Secara umum luhur berarti tinggi atau mulia. Setelah kata luhur mendapat akhiran –in menjadilah kata baru yaitu luhurin yang bersifat aktif, karena adanya hukum gejala bahasa akhiran –in diucapkan –ing jadilah kata luhurin menjadi kata luhuring yang berarti tinggi dan dimuliakan.
Sedangkan kata ambal-ambal berasal dari kata ambal, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti, hamparan permadani. Berambal-ambal berarti berarak-arak, rombongan orang berarak; berarakan, berdefile, berkirab, berkonvoi, berparade, berpawai, membumbun (tanah); menambak, melihat dengan sudut mata; melirik; menjeling (Poerwadarminta,1984: 35). Ambal dalam kamus Sinonim Bahasa Bali berarti lapisan, ambal-ambal berarti berlapis-lapis (Sutjaja,2003: 54). Ambal juga berarti berulang-ulang kali (Mardiwasito,1986: 32). Konsep Luhuring Ambal-Ambal dalam penelitian ini adalah lapisan yang teratas yang terdiri dari beberapa lapisan atau tingkatan Pura sebagai satu kesatuan di komplek Pura Besakih yaitu di atas Pura Basukihan sampai dengan Pura Tirtha sebagai tingkatan teratas.

Komplek Pura di Besakih

Pendirian pura Besakih, menggunakan empat konsepsi sebagai landasan. Konsep. Menurut Wiana (2009), yaitu: (1) Konsepsi Rwa Bhineda, yaitu dua tempat pemujaan pada Tuhan sebagai pencipta unsur kejiwaan yang disebut purusa dari segala ciptaan-Nya. Kemudian, unsur kebendaan yang disebut pradana. Pura Besakih sebagai pura Purusa dan pura Batur sebagai pura Pradana. (2) Konsepsi Catur Loka Pala, yaitu pendirian empat pura di keempat penjuru pulau Bali. (3) Konsepsi Sad Winayaka, sebagai dasar untuk mendirikan Sad Kahyangan untuk memuja Tuhan di enam pura di Bali, yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyang, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batu Karu, Pura Goa Lawah dan Pura Pusering Jagat. (4) Konsepsi Padma Bhuwana, yaitu dasar pendirian pura yang ada disembilan penjuru  mata angin sebagai simbol bahwa Tuhan itu ada dimana- mana. Tidak ada alam semesta ini yang tidak diliputi oleh Tuhan.

Pura Besakih termasuk pura Jagat yang termasuk sebagai  pura klafikasi dual, yakni antara pura Besakih dengan Batur. Didasarkan pada mitos Sang Kulputih yang termuat dalam lontar Usana Bali. Dari mitos tersebut munculah polaritas antara beberapa rangkaian pasangan yang disebut dengan Rwa Bhineda atau bineri oposisi, yakni dualitas yang bertentangan. Polaritas yang diungkapkan disini tentunya adalah pura Besakih dan Pura Batur yang memiliki hubungan yang signifikan.

Komplek Pura Besakih terdiri dari satu pura pusat, yaitu Pura Penataran Agung Besakih, dan delapan belas pura pendamping yang terdiri dari satu Pura Basukian serta tujuh belas pura lainnya. Gambaran secara umum, Pura Besakih terdiri dari keseluruhan komplek pura yang memiliki kesatuan hubungan yang mencerminakn integrasi pemikiran atas pemikiran tunggal. Jika diamati secara keseluruhan pura Besakih, maka ditemukan sebuah konsep pura yang mengandung  beragam simbol. Stuart-Fox (2010: 86), menyebutkan bahwa secara tipografi tidak ada yang menyamai desain dari pendirian Pura Besakih. Desain mandala agung di Besakih memiliki keterkaitan antara kelompok tertentu disekitar Pura Besakih.

Komplek Pura Besakih secara umum terletak disepanjang punggung bukit yang sedikit menyatu, mayoritas pura berada dalam punggung bukit Besakih utama. Punggung bukit dan bukan puncak Gunung Agung yang menentukan keterkaitan masing-masing pura sekalipun pura yang terletak pada punggung bukit tersebut tidak memiliki keterkaitan yang betul-betul sama.

Sekalipun pura yang berada pada komplek Pura Besakih tidak memiliki keterkaitan, namun terdapat suatu kesatuan yang menyeluruh dari Pura Besakih sebagai komplek pura umum yang tentunya diungkap melalui berbagai cara. Sebagaimana menurut Stuart-Fox (2010), kesatuan yang terungkap melalui ritual dan khususnya melalui upacara tahunan yang disebut dengan upacara Bethara Turun Kabeh yang dipusatkan di pura Penataran Agung, sebagai tempat pemujaan para dewa dari semua pura umum. Kemudian, kesatuan tersebut diungkap kembali melalui serangkaian klafikasi berdasarkan bilangan yang masing-masing menghubungkan serangkaian kelompok pura tertentu, dan disatukan di Pura Penataran Agung.

Pura Besakih terdiri dari beberapa komplek pura yang didirikan dilereng gunung Agung. Hal tersebut sesugguhnya menyadarkan umat manusia, bahwa gunung merupakan sesuatu yang sangat sentral bagi kelangsungan hidup manusia. Gunung adalah penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan ekosisitem di dalamnya. Seperti yang diuraikan Wiana (2009: 27), arah pendirian pura Besakih di punggung gunung Agung sebagai sarana memuja Tuhan untuk membangun kesadaran umat agar tidak mencemari gunung dengan hutan, dan tidak menghalangi sinar matahari menyinari bumi secara alami.

Komplek Pura Besakih sendiri terdapat beragam simbol yang melukiskan tentang kehidupan sesuai dengan ajaran agama Hindu. Keberadaan komplek pura Besakih juga menyiratkan konsep tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam lingkungan. Konsep ini dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. Konsep ini pula, yang memunculkan sikap bhakti kepada Tuhan yang berimplikasi pada tumbuhnya sikap spiritualis pada umat Hindu. Kekuatan spiritual itu dapat menumbuhkan dorongan hati nurani untuk melakukan upaya pengabdian yang tulus ikhlas. Pengabdian tersebut akan memunculkan kepribadian yang berkualitas  dalam setiap individu. Kekuatan spiritual yang dimunculkan pura ini tidak terlepas pula dari latar belakang  historis pendirian pura Besakih. Nuansa spiritualitas yang dimunculkan oleh seorang Rsi yang telah mampu meletakkan konsep fundamental spirit Hindu yang tetap terpancar sampai dengan saat ini.

Mendeskripsikan tentang berdirinya pura Besakih, maka tidak terlepas dari narasi historis yang terdapat dalam teks berupa lontar dan Purana  yang menceritakan perjalan seorang Yogi dari India bernama Rsi Markendya. Dalam Markendya Purana menyebutkan bahwa Bali ketika itu tidak ada apa, dan hanya terdapat hutan  belantara, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali), pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa.

Resi Markandeya oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawung karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaan (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang yang konon gunung Hyang itu adalah Diyeng di Jawa Tengah yang berasal dan kata Di Hyang. Sekian lamanya Resi Markandeya bertapa di Gunung Rawung, pada akhirnya mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar Resi Markandeya dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa. Setelah selesai, agar tanah itu dibagikan kepada para pengikut Rsi Markendya.

Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah  itu dan segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 800 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya. Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yajña berupa bebanten atau sesaji.

Kemudian, perabasan hutan dihentikan dan Sang Rsi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaan,  yakni gunung Raung di Jawa Timur.  Selama beberapa waktu Rsi Markandeya tinggal di gunung Raung. Pada suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) Rsi Markandeya kembali ingin melanjutkan perabatan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para Resi dan pertapa lainnya yang akan diajak bersama guna memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi  Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4.000 orang yang berasal dan Desa Aga.

Desa Aga yang dihuni wang aga, yakni penduduk di kaki gunung Raung yang merupakan orang pilihan dari Sang Rsi yang sudah ahli berbagai ilmu agama, pertanian dan ilmu lainnya. Wang aga membawa alat pertanian lengkap, dan termasuk bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Rsi Markandeya segera melakukan tapa yoga samadi bersama para yogi lainnya, dan mempersembahkan upacara Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikut Sang Rsi disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon dan lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Rsi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan itu dihentikan dan Sang Rsi mulai mengadakan pembagian tanah untuk para pengikut Sang Rsi masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.

Di tempat perabasan hutan itu, Sang Rsi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu, yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara bebanten atau sesajen yang selengkapnya diperciki Tirtha pangentas (air suci). Tempat di mana sarana itu ditanam diberi nama Basuki.

Sejak saat itu para pengikut Sang Rsi Markandeya yang datang pada waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah dialami dahulu. Tempat ditanam Panca Datu tesebut didirikan pura Basukian yang kemudian disebut dengan pura Besakih.

Pura Besakih dari dulu langsung di bawah pengawasan penguasa daerah Bali. Disebutkan Sri Wira Dalem Kesari yang membuat Merajan Selonding sekitar tahun 250 Masehi, kemungkinan adalah Raja Kesari Warmadewa yang memerintah sekitar tahun 917. Prasastinya terdapat di Malet Gede, di Pura Puseh Panempahan dan di Belanjong. Pada zaman pemerintahan Sri Udayana Warmadewa, pura Besakih mendapat perhatian besar, seperti terdapat dalam prasasti Bradah, dan prasasti Gaduh Sakti. Dalam lontar Jaya Kesunu disebutkan Raja Sri Jaya Kesunu memerintahkan memasang penjor pada Hari Raya Galungan sebagai simbol Gunung Agung. Pada zaman Sri Kresna Kepakisan, seperti terdapat dalam lontar Raja Purana Besakih tentang upacara, nama pelinggih, tanah wakaf (pelaba), susunan pengurus, tingkatan upacara diatur dengan baik.

Berdasarkan pada cerita historis yang terdapat dalam Markendya Purana tersebut, maka dapat dikatakan bahwa awal berdirnya pura Besakih adalah berawal dari penanaman Panca Datu di gunung Tohlangkir yang kemudian tempat itu disebut dengan Basukihan. Kemudian, Basukihan menjadi pura Besakih sekarang, yakni komplek pura terbesar di Bali. Di areal inilah, pertama kalinya diterima wahyu Tuhan oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma sekarang di Bali, sebagai pusatnya. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan