Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

5. Makna Pura Peninjoan

Uraian sebelumnya telah menjelaskan latar belakang historis dari kberadaan Pura Peninjoan. Pura ini dahulunya adalah dijadikan tempat meninjau pura Besakih oleh Mpu Kuturan guna memperluas bangunan pura, dan menatanya kembali. Berdasarkan pada dimensi historical tersebut, Pura Peninjoan difungsikan sebagai tempat memuja roh suci leluhur, yaitu Mpu Kuturan yang telah berjasa mengembangkan agama dan budaya Hindu di Bali.

Mendeskripsikan tentang makna pura Peninjoan, ada beberapa hal yang perlu dimaknai. Salah satunya adalah makna pemujaan leluhur atau guru suci yang telah memiliki jasa yang besar terhadap eksistensi umat Hindu di Bali. Leluhur terlebih roh guru suci yang mengajarkan agama adalah wajib dipuja, sebab guru suci, Rsi dan orang suci setelah kematian akan meninggalkan banyak kebaikan yang selayaknya umat Hindu memberikan penghormatan. Para guru suci dalam Veda sangat dimuliakan. Sebagaimna Sivananda (2007: 3), menguraikan bahwa Guru suci adalah wakil Tuhan di bumi, dan guru dapat mengusir ketidatahuan dan menuntun untuk menjadi bijaksana, sehingga dalam Guru Gita dijelaskan sebagai berikut:

Brahmanandam paramasukhadam kevalam jnanamurthim,

Dvandvatitam gaganasadrsam tattvamasyadikalaksyam,

Ekamnityam vimalamacalam sarvadhiksaksibhutam, Bahvatitam trigunarahitam sad gurum tam namami.

(Guru Gita. 23)

Terjemahann:

Aku merendahkan diri di depan guru, yang adalah suatu keberadaan tanpa ketiga guna, di luar pengertian, saksi dari semua fungsi jiwa, tanpa perubahan murni, esa dan abadi, melebihi dualisme. Luas bagai langit, dan yang dapat dicapai melaui kalimat seperti engakau adalah itu (tat tvam asi). Kebahagiaan dari Brahman, pemberi kebahagiaan tertinggi, dan kaya kebijaksanaan mutlak (Sivananda, 2007:9).

Menyimak dari sloka dalam Guru Gita tersebut, memberikan pemahaman bahwa guru suci sangat dimuliakan dalam Veda. Oleh karena itu, penghormtan sekaligus pemujaan terhadap guru suci sangat penting dilakukan. Demikian juga dalam hal ini, pendirian dari Pura Peninjoan adalah wujud dari bhakti umat terhadap roh leluhur atau guru suci sebagai perwujudan Tuhan di bumi. Makna tersebut penting dipahami umat Hindu pada umumnya, agar tidak melupakan leluhur dan guru, sebab ada guru dan dharma kebahagiaan bersama (lokasamgraha) akan terwujud.

Dan hal itu berkenaan dengan dewa yang dipuja. Di pura Paninjoan disthanakan Dewa Sangkara sebagai aspek Siwa yang memiliki fungsi  sebagai pemberi kehidupan bagai semua makhluk atau sering dikenal sebagai dewa sagala tumbuhan.  Dewa Sangkara adalah salah satu seribu nama Dewa Siwa. Dalam mitologi Purana, Dewa Siwa memiliki nama seribu nama diksa atau sering disebut degan Siwa Sahasranama.

Seribu nama Siwa mencirikan bahwa Dewa Siwa adalah aspek Tuhan yang Maha Segalanya. Seribu nama tersebut sesuai dengan fungsinya masing- masing, sehingga dalam Wrhaspati Tattwa, Siwa disebutkan sebagai maha sakti. Maha sakti dalam pengertian sebagai maha jnana dan maha kriya (Suhardana, 2010: 23). Maha jnana dapat dimaknai sebagai maha berpengetahuan, sedangkan maha karya dapat dimaknai sebagai maha segalanya  yang berwujud pada fungsi Dewa Siwa sebagai wibhu sakati, parabu sakti, dan kriya sakti. Dengan kata lain, Dewa Siwa sebagai aspek Tuhan Yang Maha Segalanya.

Selain makna tersebut di atas, Pura Peninjoan memiliki pula makna sosial, estetika dan makna lainnya. Makna sosial hampir sama maknanya dengan pura lainnya yang termasuk Pura Luhuring Ambal-Ambal di Besakih, yaitu sebagai wahana penyadaran diri  akan nilai Veda yang menyebutkan bahwa Tat Tvam Asi engakau adalah itu, dan semua adalah Tuhan. Demikian pula, makna sosial dapat diambil dari pemaknaan bahwa leluhur umat Hindu di Bali satu leluhur, yaitu Mpu Kuturan (Jero Mangku Pejengan: Wawancara, 9 Oktober 2012). Makna estetika atau keindahan sudah tentu dapat ditemukan dalam setiap aktifitas keagamaan di Bali, terlebih di Pura Peninjoan.

Makna kosmologis Pura Pengubengan tersirat dalam pemaknaan yang dapat direferesentasikan angkasa dan bumi adalah satu kesatuan. Bumi ini ada api magma yang disimbolkan dibelit oleh tiga lapisan besar alam berupa tanah, air dan angkasa. Lapisan bumi digerakan oleh Naga Anantaboga, lapisan air digerakan oleh Naga Basuki dan lapisan angkasa digerakan oleh Naga Takasaka yang dipuja di Pura  Pengubengan. Ketiga alam tersebut bergerak secara teratur mengikuti ritme kosmik. Hindu meyakini bahwa ke tiga lapisan tersebut digerakan oleh Tuhan dalam manifestasinya sebagai Naga Ananataboga, Basuki dan Taksaka, agar umat Hindu menjaga ketiga lapisan tersebut, dan berupaya untuk tidak mengotori, mengeksploitasi dan mencemari dengan zat yang beracun. Ketiga lapisan tersebut sangat penting bagi kelangsungan ekosisitem semua makhluk hidup.

Selain makna tersebut di atas, Pura Pengubengan memiliki pula makna sosial, estetika dan makna lainnya.

Makna sosial hampir sama maknanya dengan pura lainnya yang termasuk Pura Luhuring Ambal-Ambal Besakih, yaitu sebagai wahana penyadaran diri  akan nilai Veda. Demikian pula makna estetika, semua pura tersebut hendaknya dapat membangkitkan kesadaran umat akan nilai (value) yang terdapat dalam ajaran agama Hindu atau Veda, sehingga kualitas diri menjadi lebih baik. Pura Pengubengan adalah memiliki beragam makna yang seyogyanya dapat dipahamai dan diaplikasikan dalam berkehidupan.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan