Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

5. Fungsi Pura Peninjoan

Pura Peninjoan termasuk salah satu komplek Pura Besakih. Pura Peninjoan berada di barat laut, dan jarak Pura Peninjoan kurang lebih satu kilo meter dari Pura Penataran Agung. Pura Peninjoan berada di atas bukit, dan dari Pura Peninjoan, hampir wilayah pulau Bali akan dapat dilihat. Menurut Wiana (2009: 237), menyebutkan bahwa konon dari tempat tersebut Mpu Kuturan, yaitu tepatnya pada abad ke-11 Masehi meninjau keadaan pura Besakih. Peninjauan Mpu Kuturan tersebut untuk mendapatkan inspirasi dan data dalam rangka merencanakan penyempurnaan dan  perluasan kompleks pura Besakih. Kemudian, atas jasa Mpu Kuturan dalam hal memperluas dan menyempurnakan Pura Besakih, maka di tempat Mpu Kuturan mengamati Pura Besakih didirikan bangunan pura dengan nama Pura Peninjoan.

Berdasarkan pada hal itu, Pura Paninjoan secara fundamental difungsikan untuk memuja Mpu Kuturan sebagai guru suci yang telah memiliki jasa besar dalam menyempurnakan Pura Besakih dan tentunya memperbaiki sistem keberagamaan masyarakat Hindu di Bali. Di utama mandala Pura Peninjoan terdapat pelinggih utama berupa Meru yang difungsikan sebagai media untuk memuja roh suci Mpu Kuturan sebagai leluhur umat Hindu di Bali. Leluhur sangat penting dipuja oleh umat Hindu, sebab leluhur telah mewariskan berbagai macam mutiara kebijaksanaan untuk manusia dapat mencapai kebahagiaan.

Kekawin Ramayana memberikan gambaran, Raja Dasaratha mencapai kemulian dikarenakan Baginda Raja tidak melupakan pemujaan kepada leluhur, seperti dalam kutipan Kekawin berikut:

Gunamanta sang dasaratha, wruh sira ring weda, bhakti ring dewa,

Tar malupeng pitra puja, maasih ta sireng swagotra kabeh.

(Kekawin Ramayana. I.3)

Terjemahan:

Adalah kemuliaan Sang Prabu Dasaratha, tau isi Veda, bhakti kepada para dewa, tidak melupakan puja kepada leluhur, demikian pula mengasihi sesama (Dinas Kependidikan dan Kebudayaan, 2002: 1-2).

Kutipan kekawin Ramayana tersebut di atas mencerminkan kemuliaan Sang Prabu  Dasaratha sebagai raja yang memiliki pengetahuan Veda, hormat dan  bhakti  kepada  para  dewa  dan  tidak  melupakan pemujaan kepada leluhur. Demikian pula, umat Hindu hendakya jangan sampai lupa kepada leluhur, terlebih lupa kepada Mpu Kuturan yang telah mengembangkan agama Hindu dengan baik, dan mampu menelorkan konsep yang sampai dengan saat ini masih tetap dipedomani dalam berkehidupan. Keberadaan agama Hindu di Bali tidak bisa dilepaskan dari peran  penting Mpu Kuturan, dan Mpu Kuturan adalah sebagai seorang pandita yang sudah mampu berbuat niskaama, yaitu berbuat yang sudah tidak terikat lagi kepada hasil.

Selain sebagai pandita, Mpu Kuturan juga merupakan guru suci yang telah mengajarkan ilmu agama ketika itu kepada masayarakat Bali. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya seorang guru suci diberikan penghormatan. Memberikan penghormatan kepada guru suci ditekankan dalam Veda, yaitu tepatnya dalam kitab Taitriya Upanisad, dengan kutipan mantra sebagai berikut:

Matr devo bhava, pitr devo bhava, acarya devo bhavo, atithi devo bhava…,

(Taitriya Upanisad. I.11.2)

Terjemahan:

Jadilah seorang di mana ibu itu adalah dewata, jadilah seorang dimana ayah itu adalah dewata, jadilah orang di mana guru itu adalah dewata dan jadilah orang di mana tamu itu adalah dewata…, (Radhakrisnan, 2008: 417).

Pernyataan yang diungkap dalam kitab Taitriya Upanisad tersebut di atas merupakan  sebuah penekanan betapa guru selayaknya dihormati, sebab guru atau acarya adalah wujud dewata sendiri. Penghormatan kepada guru suci dalam hal ini adalah Mpu Kuturan merupakan suatu hal yang elemeter

hendaknya umat Hindu aplikasikan dalam tindakan, dan berdirinya Pura Peninjoan adalah salah satu  wujud bentuk bhakti umat kepada roh guru suci. Berdasarkan pada hal tersebut, Pura Paninjoan merupakan salah satu pura yang difungsikan untuk memuja roh suci Mpu Kuturan sebagai leluhur umat Hindu.

Menurut penuturan Jero Mangku Pejengan (Wawancara, 6 Oktober 2012), menyebutkan bahwa Pura Peninjoan selain difungsikan sebagai tempat suci pemujaan Mpu Kuturan, Pura Peninjoan juga difungsikan sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Sangkara. Dewa Sangkara dalam konsep Dewata Nawa Sanga adalah dewa penguasa arah barat laut dengan senjata Angkusa. Konsep Siwa Sidhanta menyebutkan bahwa Dewa Sangkara adalah manifes dari Dewa Siwa sebagai penguasa Bhuwana Agung pada bagian barat daya. Dalam kitab Purana, Dewa Sangkara adalah nama abhiseka dari Dewa Siwa sendiri (Titib, 2003: 291). Dijelaskan pula dalam kitab Purana, Dewa Sangkara adalah dewa segala tumbuh-tumbuhan. Dewa Sangkara diyakini sebagai dewa yang memberikan kehidupan pada tumbuh-tumbuhan, sehingga semua makhluk dapat hidup. Dapat dibayangkan, jika di dunia ini tidak ada pepohonan atau tumbuh-tumbuhan, maka kehidupan tidak akan berjalan sesuai dengan keteraturan hukum alam (rtam).

Selain Pura Peninjoan difungsikan sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Sangkara, pura ini pula dapat difungsikan sebagai media pendidikan teologi dan filsafat. Teologi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya adalah ilmu tentang Tuhan, dan eksisitensi Pura Peninjoan secara tidak langsung mengenalkan kepada umat Hindu tentang ilmu ketuhanan dalam agama Hindu. Secara implisit proksi (penjelasan) teologi Siwaistik  adalah  menempatkan  Dewa Siwa sebagai titik central pemujaan, dan Dewa Siwa  termanifestasi sebagai Dewa Sangkara sesuai dengan fungsi Siwa pemberi kehidupan. Pembelajaran teologi melalui media pura sangat penting diterapkan, sehingga keyakinan atau sradha umat Hindu terhadap ide  ketuhanan semakin meningkat.

Wujud fisik pura dan sarana ritual juga dapat dijadikan sebagai media pendidikan teologi dan filsafat. Dalam sarana upakara terdapat beragam simbol yang tentunya memiliki nilai filsafati yang dalam. Dilihat pula wujud fisik pura, terdapat beragam nyasa atau simbol suci yang dapat dimaknai dan ditelusuri arti serta nilai yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, Pura Peninjoan dapat pula difungsikan sebagai media untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan antar sesama umat. Di samping itu, Pura Peninjoan memiliki fungsi estetika. Jero Mangku Pejengan (Wawancara, 6 Oktober 2012), menguraikan bahwa setiap piodalan banyak umat datang menghaturkan persembahyangan kepada roh suci Mpu Kuturan dan Dewa Sangkara. Banyaknya umat yang datang, berimplikasi pada tumbuhnya semangat kekeluargaan, dan umat dapat saling berintraksi satu dengan yang lain serta memiliki tujuan sama untuk memohon waranugraha (anugrah). Pada saat puja wali, berbagai kesenian terutama seni sakral juga dipentaskan sebagai pengiring upacara, sehingga konsep satyam, sivam dan sundaram ini dapat terwujud dengan baik. Jadi, keberadaan Pura Peninjoan sebagai bagian dari pura Luhuring Ambal-Ambal memiliki fungsi yang beragam.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan