Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


7. Bentuk Pura Tirtha

Pura Tirtha termasuk bagian dari kompleks pura Luhuring Ambal-Ambal pura Besakih. Pura Tirtha berada pada lokasi yang sedikit sulit dijangkau, karena pura ini tepat berada di bibir jurang sungai yang dulunya dilalui oleh lahar panas dari letusan gunung Agung. Pura Tirtha tepatnya berada di bawah pura Pengubengan, dan di dalam Pura Tirtha terdapat mata air atau sumber air. Untuk menuju Pura Tirtha, umat Hindu mesti menuruni jurang yang sedikit terjal, akan tetapi sudah dibuatkan jalan, sehingga medan tidak begitu sulit dilalui.

Pemadangan pura sangat indah dengan panorama hutan yang masih asri, dan disekitar pura masih dapat dijumpai tumbuh-tumbuhan yang menghijau, sehingga semakin menambah kesan keindahan pura. Seperti pura pada umumnya, pura Tirtha dikelilingi tembok penyengker yang tidak begitu tinggi. Secara keseluruhan bentuk pura berbentuk persegi panjang, dan pura mmenghadap ke selatan dengan posisi semua pelinggih berada di utara. Pura Tirtha terbagai menjadi tiga mandala, yaitu utama mandala atau halaman utama pura, madya mandala atau halaman tengah pura dan nista mandala atau halaman sisi luar pura. Batas untuk membedakan antara mandala dibatasi oleh tembok penyengker seperti  pada umumnya kompleks pura di Besakih.

Untuk memasuki madya mandala pura, hendaknya melalui candi bentar dengan ukuran kecil dan sederhana. Candi bentar pada pintu masuk sangat sederhana, dan terdiri dari dua pepalihan tumpang. Ornamen candi juga sangat sederhana. Di madya mandala atau halaman tengah pura terdapat bangunan bale pesandekan atau juga dapat dikatakan sebagai bale gong. Bentuk bangunan tersebut, persegi memanjang dari utara keselatan, lengkap dengan  tiang saka berjumlah enam tiang saka. Bangunan tersebut beratapkan dengan genteng, dan tentunya menggunakan arsitektur khas Bali. Bangunan bale tersebut sangat sederhana, akan tetapi tidak mengurangi nilai estetisnya.

Memasuki halaman utama atau utama mandala, hendaknya melalui tangga, dan posisi utama mandala berada lebih tinggi dari halaman tengah pura. Pelinggih yang terdapat di utama mandala berada di teras atas berjumlah empat pelinggih yang secara keseluruhan memiliki bentuk yang sama. Pelinggih utamanya adalah pelinggih tempat Tirtha itu keluar. Bentuk pelinggih Tirtha tersebut berbentuk sederhana menggunakan batu alam, dan bentuk menyerupai bentuk pelinggih pada umumnya di Bali, yakni berbentuk lingga. Di depan pelinggih Tirtha terdapat lubang untuk mengambil Tirtha tersebut. Terdapat dua pelinggih paTirthan  yang terdapat di utama mandala.

Keterangan Denah Pura Tirtha:

  1. Candi Bentar
  2. Bale Gong/ Pesandekan
  3. Bale Pawedan
  4. Pelinggih Genah Tirtha
  5. Pelinggih Tirtha
  6. Penyawanagan Gunung Batur
  7. Penyawangan Gunung Agung
  8. Pelinggih Gedong Sari
  9. Pelinggih Gedong

Selain bangunan suci berupa pelinggih, di utama mandala terdapat pula bangunan bale Pawedan. Bale Pawedan ini memiliki bentuk yang sama dengan bale Pawedan di pura sebelumnya, yaitu memiliki bentuk persegi panjang dari timur memanjang ke barat. Bangunan tersebut menggunakan arsitektur khas  Bali, dan menggunakan tiang saka sebanyak enam tiang saka. Di sisi kanan pura Tirtha terdapat sungai dan di sisi luar Pura Tirtha terdapat tempat melukat atau melakukan pembersihan diri.


Sumber

Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M. Si

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Katalog Dalam Terbitan (KDT)



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait