Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

4. Fungsi Pura Penataran Agung Besakih

Pura Penataran Agung Besakih merupakan kompleks Pura Besakih yang paling central dan utama di Pura Besakih. Pura Penataran Agung juga termasuk Pura Luhuring Ambal-Ambal yang terdiri dari tujuh mandala sebagai lambang dari Sapta Loka. Fox (2010: 88), menyatakan bahwa Pura Penataran Agung Besakih merupaka pura yang paling besar di Bali, dan Pura Penataran Agung Besakih berwujud bangunan suci berteras dengan struktur yang berdiri di atas enam teras. Demikian pula, Wiana (2009: 36) menyebutkan bahwa Pura Penataran Agung Besakih merupakan pura yang paling utama dan terpenting diantara kompleks pura.

Dilihat dari struktur pura, Pura Penataran Agung Besakih terdapat banyak pelinggih, akan tetapi pelinggih utama dari komplek Pura Penataran Agung, yaitu pelinggih Padma Tiga. Sebagaimana menurut Wiana (2009), bangunan suci yang paling utama di Pura Penataran Agung Besakih adalah bangunan Padmasana, dan Fox (2010: 94), dalam urainnya menyebutkan bahwa Padmasana Tiga merupakan pelinggih paling penting dari semua pelinggih yang berada di areal Pura Penataran Agung. Berdasarkan pada hal tersebut, pelinggih Padmasana  Tiga merupakan pelinggih yang terpenting yang difungsikan sebagai memuja Sang Hyang Tri Purusaa. Wrhaspati Tattwa sebagai salah satu lontar yang berisikan ajaran Siwa Sidhanta di Bali menyebutkan bahwa pelinggih Padmasana merupakan sthana dari dewa Sada Siwa (Sadia,1998: 10-11). Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi,  Padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai (Dwijendra, 2010: 7). Oleh karena itu, secara umum keberadaan pura Penataran Agung difungsikan sebagai tempat, sthana atau linggih dari Hyang Siwa.

Dalam lontar Wrhaspati Tattwa menguraikan tentang konsep tattwa yang terdiri dari unsur cetana dan acetana. Dari unsur cetana muncul Paramasiwa Tattwa, Sada Siwa Tattwa dan Siwa Tattwa. Paramasiwa adalah Iswara atau Tuhan yang nirgunam atau Tuhan  yang serba tidak. Kemudian Sada Siwa adalah Iswara atau Tuhan yang sudah sedikit terkena pengaruh maya. Tuhan yang sudah aktif dan memenuhi segala, dan sudah memiliki sifat. Sedangkan Siwa adalah  sepenuhnya Iswara sudah terkena pengaruh maya, seperti dalam Jnana Tattwa dinyatakan; bagaikan permata sphatika yang dilekati dengan warna (Sadia, 1998: 10-15).Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa  atau Iswara, sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sada Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara. Kemudian, konsep teologi tersebut disimbolisasikan dengan pendirian Padma Tiga.

Pelinggih Padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam, sebab alam yang tertinggi  (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sada Siwa. Busana yang dikenakan pada Padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa. Sedangkan, bangunan Padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka, dan busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka Tuhan meletakkan ciptaan-Nya berupa stavira (tumbuh- tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia. Jadi, pelinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu dalam konsepsi rwa bhineda, pura Besakih merupakan Pura Purusa, sedangkan pura Batur sebagai Pura Predana (Jero Mangku Pura Penataran Agung: Wawancara, 8 September 2012). Oleh karena itu, Pura Penataran Agung dapat dinyatakan sebagai pura yang difungsikan sebagai media pendidikan teologi dan filsafat Hindu.

Pura Penataran Agung selain memiliki fungsi seperti yang sudah diuraikan di atas, Pura Penataran  Agung juga memiliki fungsi sosial dan estetika. Fungsi sosial Pura Penataran Agung Besakih, terlihat saat umat Hindu dari seluruh Bali dan Indonesia menghaturkan persembahyangan. Khusus di Padma Tiga sebagai pelinggih utama, menurut Jero Mangku Penataran Agung, pujawali dilakukan setiap Purnamaning Sasih Kapat, dan upacara ini sering disebut dengan Ngusaba Kapat. Umat Hindu dari berbagai daerah dan kalangan datang ke Pura Penataran Agung untuk menghaturkan bhakti kepada Tuhan dengan aspeknya sebagai Sang Hyang Tri Purusa. Pura Penataran Agung Besakih, tidak akan dapat dipisahkan dari aktifitas sosial, sebab Pura Penataran  Agung  merupakan  pusat  pura  di  Bali yang wajib umat Hindu untuk datang menghaturkan persembahyangan (Wawancara, 8 Sptember 2012). Estetika atau keindahan dari Pura Penataran Agung Besakih dapat dilihat dari wujud fisik pura, demikian juga dari aktifitas seni dan budaya yang diperagakan pada saat puja wali atau piodalan.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan