Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Makna Pura Yang Berada Di Luhuring Ambal-Ambal Pada Komplek Pura Besakih

Pura Luhuring Ambal-Ambal merupakan kompleks pura yang terdiri dari tujuh pura yang keberadaan pura tersebut secara implisit memiliki makna yang dalam. Makna tersebut hendaknya digali untuk menemukan makna yang terkandung dibalik dari keberadaan pura tersebut, sehingga berimplikasi pada meningkatnya pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agama Hindu itu sendiri.

Opini yang berkembang, selama ini umat Hindu didalam memaknai ajaran agama sangat kurang. Hal ini dipengaruhi oleh sistem keberagamaan yang masih cendrung pada ritual, tanpa diimbangi dengan pemaknaan dari segala aktifitas keagamaan tersebut. Berdasarkan pada hal tersebut, sangat penting memaknai kembali keberadaan dari Pura Luhuring Ambal-Ambal, baik dari makna religius teologi, filsafat, estetika, sosial dan makna lainnya. Berikut akan diuraikan makna yang terkandung pada masing-masing pura yang termasuk Pura Luhuring Ambal-Ambal pada kompleks Pura Besakih.

1. Makna Pura Kiduling Kreteg

Uraian sebelumnya menyebutkan bahwa Pura Kiduling  Kreteg  merupakan  pura  sebagai  linggih   atau sthana dari Dewa Brahma. Makna teologis dari keberadaan Pura Kiduling Kreteg dapat dibedah dari dewa yang bersthana di Pura Kiduling Kreteg. Dewa Brahma dalam teologi Hindu atau Brahmavidya merupakan manifestasi Tuhan sebagai pencipta alam semesta berserta dengan isinya. Tuhan dalam teologi Hindu dapat dilihat dari dua sudut pandang, sebagaimana menurut Donder (2006: 113), yaitu Tuhan yang berada dalam tatanan Nirgunam dan  Tuhan dalam tatanan Sagunam Brahman.

Tuhan dalam tatanan Nirgunam Brahman, dapat diartikan Tuhan yang tidak dapat dipikirkan, tidak beratribut, dan Pudja (1999: 16), menyebutkan Tuhan yang Nirgunam atau Tuhan dalam bentuk Tranceden, yaitu Tuhan yang tanpa sifat. Sedangkan Tuhan dalam tatanan Sagunam Brahman atau Tuhan dalam aspek Imanensi adalah Tuhan yang sudah mengambil wujud tertentu, dengan kata lain Tuhan yang sudah memiliki atribut, simbol dan dapat dibayangkan dalam pikiran. Tuhan dapat dilihat dari dua aspek, bukan berarti Tuhan itu dua. Menurut pandangan Sankaracarya, sebagaimana dikutip oleh Maswinara (1999: 182), menguraikan bahwa Nirgunam Brahman menjadi Sagunam Brahman akibat dari penyatuan  dengan maya. Nirgunam Brahman dan Sagunam Brahman bukanlah dua Brahman atau Tuhan.

Uraian dari Sankaracarya tersebut, mencirikan bahwa teologi Hindu tidak apologis atau kaku, akan tetapi teologi Hindu adalah selalu  menunjukkan elastisitas. Tuhan dalam aspek Sagunam dan atau Tuhan yang sudah mengambil wujud berupa citra dewa sesuai dengan fungsinya, dapat dipuja melalui simbol suci, dan dapat dibuatkan arca atau pratima sebagai media untuk memuja. Dari Tuhan Sagunam inilah  lahirnya bentuk pemujaan kepada para dewa. Dalam hal  ini, pura Kiduling Kreteg dapat dikatakan sebagai tempat suci untuk memuja dewa Brahma sebagai Tuhan dalam aspek Sagunam sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Esa untuk menciptakan alam semesta dan isinya.  Jadi, makna teologis dari Pura Kiduling Kreteg dapat dimaknai dari pemujaan dewa Brahma sebagai Tuhan yang sudah berada dalam aspek Sagunam yang memiliki fungsi sebagai pencipta. Pada dasarnya Tuhan yang Sagunam lebih mudah dipuja daripada Tuhan yang Nirgunam, seperti dalam petikan sloka berikut:

Kleso dhikataras tesam avyaktasaktacetatasam, Avyakta hi gatir dukham dehavadhir avapyate.

(Bhagavadgita. XII.5)

Terjemahan:

Kesulitan dari mereka yang pikirannya terpusat pada Yang Tidak berwujud lebih besar, karena tujuan dari Yang Tidak Berwujud itu sulit dicapai oleh makhluk yang berwujud (Maswinara, 1999: 402).

Sloka dalam Bhagavadgita tersebut memberikan pemahaman bahwasanya Tuhan Yang tidak berwujud tersebut sangat sulit untuk dicapai, demikian pula pikiran ini terpusat. Untuk itu, pikiran akan mudah terpusat pada Tuhan yang sudah mengambil aspek Sagunam, sehingga teologi Hindu memberikan kesempatan manusia untuk memuja Tuhan yang berwujud. Pemujaan kepada Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg dapat dikatakan sebagai bentuk pemujaan Tuhan yang berwujud dan bercitra, sehingga umat Hindu lebih mudah memusatkan pikiran untuk memohon karunia.

Konsep teologi Hindu juga mengenal konsep Tri Murti, seperti dalam uraian Maswinara (2007: 16), bahwa konsep Tri Murti adalah konsep teologi Hindu yang sangat pepuler yang berakar dari kitab Purana, yaitu Dewa Brahma sebagai pencipta dengan simbol api, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dengan simbol air, dan Dewa Siwa sebagai pelebur dengan simbol angin. Bertitik tolak pada konsep tersebut, Dewa Brahma dalam hal ini yang dipuja di Pura Kiduling Kreteg adalah dewa yang bertugas mencipta yang disimbolkan dengan simbol api. Api memiliki makna filsafati yang dalam. Api, menurut Wiana (2009: 132) merupakan simbol dari semangat yang menyala dan berkobar ke atas sesuai dengan sifat alamiah  api  yang  bergerak  ke  atas.  Dibalik  api    ada

kekuatan pendorong untuk manusia dapat berkreasi dan inovatif. Kekuatan ini disebut dengan aiswarya, yakni kekuatan yang terus menerus mendorong manusia untuk dapat meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik. Aiswarya juga dapat mengatasi klesa atau kegelapan, sehingga manusia dapat diterangi oleh sinar jnana atau pengetahuan. Bertendensi pada hal tersebut, maka pemujaan kepada Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg merupakan wujud bhakti agar Dewa Brahma berkenan memberikan kekuatan api sebagai aiswarya agar diri dapat bertransformasi menjadi lebih baik.

Teologi Siwaistik di Bali menempatkan Dewa Brahma sebagai salah satu dewa yang menguasai arah selatan dengan senjata Gada. Konsep tersebut diejawantahkan sebagai Pengidering Bhuwana atau Dewata Nawa Sanga, yaitu konsep dewa yang menguasai segala penjuru mata angin, dan Dewa Siwa sebagai poros atau berada ditengah. Semua dewa penguasa arah mata angin tersebut adalah Dewa Siwa sendiri yang termanifestasi sesuai dengan fungsinya.

Selain makna tersebut di atas, Pura Kiduling Kreteg memiliki pula makna sosial. Makna sosial dapat diambil dari aktifitas keumatan saat pujawali berlangsung atau saat umat melakukan persembahyangan bersama. Umat Hindu banyak berdatangan dari berbagai kalangan untuk ngaturang bhakti kepada Ida Bethara yang bersthana di Pura ini. Sesudah umat Hindu sampai di Pura ini, umat lebur menjadi satu kesatuan dan nampak tidak ada perbedaan, terlebih saat umat ramai datang menghaturkan persembahayangan saat pujawali, nampak semuanya dalam persaudaraan,  seperti amanat dalam Veda, Vasudaiva Kutumbhakam (Wawancara: Jero Mangku Suyasa, 6 September 2012).

Makna lainnya dapat diambil dari keberadaan Pura Kiduling Kreteg, yaitu makna estetika atau keindahan. Hal itu tertuang dari beragam aktifitas kesenian yang di tunjukan saat pujawali berlangsung. Disamping itu, wjud fisik pura berupa benda dan yang lainya mewujudkan makna seni yang dalam. Itu sejalan dengan Djelantik (1999: 17-18), menyebutkan bahwa semua benda atau peristiwa seni atau kesenian pada hakikatnya mengandung tiga aspek yang mendasar yakni: (1) Wujud atau rupa (appearance), (2) Bobot atau isi (content, substance), (3) Penampilan atau penyajian (presentation), dan semuanya itu menginspirasi untuk mengembangkan spirit dalam diri.

Daya kratifitas seni yang diwujudkan dalam seni pertunjukan maupun fisik sesugguhnya akan dapat mempertajam intuisi spiritual seseorang. Sebab semua wujud seni yang berwujud pada keindahan tersebut muncul dari rasa (rasasvada), kemudian akan menuju pada Tuhan (Brahmasvada). Sejalan dengan itu Donder (2005: 33), menyatakan estetika yang selama ini cenderung untuk diartikan dengan pengertian seni yang sempit, dapat dimaknai sebagai keindahan yang merangsang dan mendorong manusia untuk berkreasi dan bersikap dinamis untuk mencapai kepuasan batin dan mempertajam intuisinya untuk mencapai Tuhan. jadi, dengan demikian makna estetika dari keberadaan Pura Kiduling Kreteg adalah mengembangkan keindahan untuk memunculkan spiritual dalam diri.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan