Tradisi Ngoncang, Wujud Kebersamaan dan Keharmonisan (Tri Hita Karana)


Sejak dulu hingga kini, Tradisi ngoncang ini dikenal sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya, sesuai dengan yang tertuang dalam ajaran Agama Hindu yakni Tri Hita Karana. Seiring dengan berjalannya waktu, kini tradisi ini pun semakin jarang ditemui di Masyarakat.

Dalam pelaksanaan tradisi ngoncang dilaksanakan secara berkelompok dengan memukulkan elu ( batang kayu berbentuk bulat memanjang ) kedalam ketungan (alat penumbuk padi) yang dimainkan secara berirama, dimana dalam irama yang dimainkan mengandung arti yang sakral , menjadi salah satu tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Bali.
Ketungan adalah alat yang digunakan untuk menumbuk padi menjadi beras pada zaman dahulu. Tradisi ngoncang hanya dapat dalakukan oleh para kaum wanita saja, dimana hal ini karena pada zaman dahulu hanya kaum ibu-ibu yang menumbuk padi menjadi beras, sehingga tradisi ngoncang berawal dari fungsi ketungan pada zaman dahulu. Pada upacara ngaben (ngaben masal) dalaksanakannya tradisi ngoncang adalah karena dipercaya bahwa ngoncang itu sebagai sarana komunikasi kepada para roh-roh leluhur keluarga.

Dalam hal ini ngoncang diartikan bahwa kegiatan adat yang dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari lima sampai enam orang dalam satu kelompoknya, yang dilakukan dengan cara memukulkan elu ( batang kayu berbentuk bulat memanjang) kedalam ketungan. Dalam pelaksanaanya tradisi ini memiliki aturan dan harus dilaksanakan, meskipun aturan itu tidak tertulis, namun aturan tersebut dilaksanakan secara turun temurun sehingga wajib dilaksanakan.

Tradisi adat ngoncang merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan antara manuisa dengan Tuhan, manusia dengan sesaman manusia dan manusia dengan lingkungannya. Tradisi adat ngoncang dilaksanakan pada saat diadakannya upacara motonan (sapu legar) dan pada saat upacara ngaben (ngaben masal). Tradisi adat ngoncang akan dilaksanakan sebelum dimulainaya suatu upacara.

Dulu tradisi ngoncang ini dilaksanakan pada saat dilaksanakannya beberapa upacara adat keagamaan di Bali, mulai dari pelaksanaan Ngaben ataupun dengan upacara otonan. Biasanya, tradisi ngoncang dilaksanakan sebelum mulainya sebuah upacara yadnya. selain untuk upacara Yadnya, tradisi ngoncang juga kerap kali dilakukan saat munculnya peristiwa peristiwa yang berkaitan dengan alam, misalnya saat terjadinya peristiwa gempa bumi, dan juga peritiwa Gerhana Bulan.

Untuk peristiwa gerhana bulan ini, di Bali Gerhana Bulan memilki cerita tersendiri tentang bagaimana bisa terjadinya Gerhana Bulan. Cerita Gerhana Bulan tidak lepas dari cerita Raksasa Kalarau, cerita yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Bali. Dalam cerita itu, intinya adalah bagaimana Raksasa Kalarau itu berusaha untuk menelan Dewi Bulan. Makanya setiap Gerhana bulan itu, masyarakat mengistilahkan Bulane amah Kalarau, saat itulah masyarakat melakukan ngoncang, dengan harapan agar Raksasa Kalarau membatalkan niatnya untuk menelan Bulan. Itupun hanya sebatas cerita mitos.

Ngoncang memang sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat dibeberapa Banjar Adat Pakraman, khususnya dalam setiap satu hari menjelang hari Suci Nyepi atau pada saat Pengrupukan. Masyarakat setempat meyakini bahwa Ngoncang bisa menambah aura positif dan menetralisir aura negative yang ada di Pemukiman warga.

Dari hal tersebut di atas, maka akan muncul beberapa permasalahan yang layak untuk dikedepankan, yaitu :

  1. Apa yang menjadi landasan filosofis tradisi adat ngoncang
  2. Bagaimana rangkaian pelaksanaan tradisi adat ngoncang di beberapa banjar adat di Bali ?
  3. Nilai – nilai sosial budaya apa saja yang mendasari tradisi adat ngoncang ?

Eksistesi Ngoncang hingga kini masih lestari di Desa Pekraman Munduk Ulan, Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan. Di Desa Pakraman Munduk Ulan terdapat Sekaa Ngoncang yang bernama Sekar Wangi. Dibentuk sekitar dua tahun lalu, Sekaa Ngoncang yang beranggotakan 15 orang ibu-ibu, ini bisa digunakan jasanya ketika memiliki upacara Ngaben. Bendesa Pekraman Munduk Ulan, I Ketut Sandi menuturkan bahwa dibentuknya Sekaa Ngoncang tersebut tidak terlepas dari Tradisi Ngoncang yang wajib dilakukan ketika upacara Pengabenan. “Dulu setiap ada Pitra Yadnya (Ngaben), warga akan sibuk meminjam peralatan seperti kentongan dan elu untuk Ngoncang, belum lagi mencari tenaga (orang) untuk Ngoncang. Apalagi jika ada Pengabenan di beberapa tempat, sehingga akan sulit mencari orang untuk Ngoncang,” paparnya. Atas pertimbangan tersebut, maka sejumlah ibu di Desa Pekraman Munduk Ulan berinisiatif membentuk Sekaa Ngoncang, sehingga apabila ada upacara Ngaben tidak akan kewalahan lagi. Warga yang memiliki Upacara Ngaben juga tidak perlu repot-repot mengumpulkan orang-orang untuk Ngoncang, cukup memberitahu koordinator.

Ritual Ngoncang juga dilakukan untuk menyambut Tirta Penembak ketika sampai di rumah warga yang memiliki acara Ngaben atau rumah duka. Diawali dengan menghaturkan Banten Pejati dan segehan, ibu-ibu Sekaa Ngoncang kemudian diperciki tirta, kemudian ritual Ngoncang dimulai.
Dan tentunya Sekaa Ngoncang yang ada merupakan wujud Tri Hita Karana, dimana melalui pelestarian tradisi turun temurun ini dapat terjalin hubungan harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, hubungan harmonis dengan sesama manusia, dan hubungan harmonis dengan lingkungan. Disamping kita menjalin hubungan harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kita juga bisa menjalin rasa kekeluargaan dan gotong royong dengan antar warga, serta lingkungan.

Dalam kaitannya dengan parahyangan, tradisi ngoncang di konsepkan sebagai suatu persembahan yang kita tujukan kepada para leluhur dan para dewa-dewa, bawasannya kita sebagai generasi telah melakukan suatu ritual yang menghantarkan roh para leluhur untuk menuju suatu tempat yang damai di alam niskala. Kaitannya dengan pawongan.

Dalam kaitannya dengan palemahan, dalam prosesi ritual ngoncang akan dilaksanakan oleh orang ibu-ibu. Disaat ritual tersebut akan menghentakkan alu kedalam ketungan dengan irama yang serasi yang menandakan satu kesatuan, bawasannya dalam tradisi ngoncang ini dapat menumbuhkan rasa satu tahapan pelaksanaan, dalam tahapan persiapan, yang disiapkan adalah alu dan ketungan. Dan dalam tahapan pelaksanaan, tradisi ngoncang ini pada upacara ngaben akan dilaksanakan pada saat akan dilaksanakan proses pembersian (pemandian mayat) dan akan dilaksanakan pada saat akan dilaksanakannya prosesi mengantarkan mayat ke seme (kuburan).

Nilai-nilai yang mendasari tradisi ngoncang ini adalah :

  1. Nilai sosial, hubungan solidaritas di kalangan anggota masyarakat desa setempat untuk melakukan interaksi antar sesamanya guna menjaga hubungan harmonis merupakan suatu nilai sosial. Dimana dengan nilai sosial tersebut, anggota kelompok akan merasa sebagai satu kesatuan.
  2. Nilai budaya, apabila tradisi ngoncang ini tidak dilaksanakan pada saat upacara keagamaan yakni akan lunturnya atau hilangnya nilai budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang.

Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ke tiga aspek-aspek tersebut maka kesejahtraan akan terwujud.
Nilai-nilai religius pada tradisi ngoncang terdapat pada keyakinan masyarakat mempunyai persepsi nilai religius-magis yang digunakan sebagai sarana untuk memohon keselamatan dan kedamaian seluruh mahluk hidup di alam semesta ini.



Blog Terkait



Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT