Jenis dan Fungsi Pura di Komplek Besakih (Luhuring Ambal-Ambal)


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

3. Makna Pura Gelap

Pura Gelap salah satu Pura Catur Lawa adalah salah satu tempat suci yang difungsikan sebagai tempat pemujaan Dewa Iswara. Uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kata Gelap sendiri berasal dari bahasa Bali Kuna yang berarti petir atau kilat yang sinarnya putih menyilaukan. Kata Gelap tersebut memiliki korelasi dengan apsek dewa yang dipuja di Pura Gelap, yaitu Dewa Iswara sebagai dewanya sinar atau cahaya. Makna teologis pura Gelap berkaitan erat dengan dewa yang dipuja, yakni Dewa Iswara sebagai salah satu aspek Tuhan sebagai dewa yang berfungsi untuk memberikan sinar kepada semua makhluk hidup. dalam teologis Siwa Sidhanta, Iswara adalah dewa penguasa arah  timur yang memiliki simbol berwarna putih. Putih  identik dengan cahaya, dan cahaya dapat menerangi kegelapan, baik kegelapan alam semesta (makrocosmos), maupun kegelapan diri (mikrocosmos).

Banyak dalam pustaka Suci Veda yang menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta dengan isinya adalah muncul dari pijar tapa Tuhan. Pijar daya tapa dari Tuhan ini berwujud sinar cahaya yang menimbulkan zat cair, sehingga pada akhirnya berkondensasi dan memadat terjadilah alam semesta, seperti disebutkan dalam Brahadaranyaka Upanisad sebagai berikut:

….,Sa prthivy abhavat, tasyam asramyat,

Tasya srantasya taptasya tejo raso nivartatagnih.

(Brahadaranyaka Upanisad.I.2.2)

Terjemahan:

Dari Dia yang beristirahat dan dipanaskan (melalui latihan tapa) ini kilaunnya keluar segala  penjuru sebagai cahaya (sinar) atau api (Radhakrisnan, 2008: 109).

Menyimak mantram dalam Brahadaranyaka Upanisad, sudah sangat jelas bahwasanya Tuhan melalui tapa mengeluarkan sinar cahaya kesegala arah, sehingga terciptanya alam berserta isinya. Berdasarkan pada hal itu, sinar atau cahaya adalah pusat dari alam semesta atau Bhuwana Agung (makrocosmos), sehingga pura Gelap dapat dikatakan sebagai pusatnya alam makrocosmos. Senada dengan itu Wiana (2009: 127), menyebutkan bahwa Pura Gelap adalah lambang dari pusat sinar Bhauwana Agung. Dengan sinar ciptaan Tuhan ini semua kekuatan unsur alam ini menjadi berfungsi sebagai sumber kehidupan semua makhluk hidup penghuni alam ini.

Pura Gelap sebagai pusat atau sumber sinar cahaya semesta sebagai sumber kehidupan, demikian pula sebagai sumber cahaya dalam diri (antaryamin). Cahaya dalam diri atau cahaya ketuhanan (divinity) dalam diri akan dapat  muncul  dalam diri, jika cahaya semesta selalu memancarkan sinarnya dengan terang, dan Pura Gelap adalah sumber dari cahaya tersebut. Makna ini hendaknya dapat dipahami oleh umat Hindu, sehingga umat Hindu mendapatkan kesan penyadaran diri pada saat melakukan persembahyangan di Pura Gelap. Jero Mangku Suyasa (Wawancara, 9 Oktober 2012), menuturkan bahwa cahaya di dalam diri akan tetap menyala, jika umat Hindu menyadari makna yang terkandung di balik keberadaan Pura Gelap ini. Konon, di tempat ini difungsikan sebagai tenpat para Rsi untuk melakukan kontemplasi diri, sehingga cahaya ketuhanan dalam diri bisa muncul. Oleh sebab itu,  makna kosmologis teologis Pura Gelap hendaknya dipahami. Demikian pula keberadaan Pura Gelap mengandung makna sosial, estetika dan makna lainnya. Makna tersebut sama seperti yang terkandung pada pura lainnya, yakni sebagai pusat bertemunya masyarakat sosial, sehingga tumbuhnya solidaritas sosial, makna estetikanya dapat memunculkan keindahan yang tidak terlepas dari nilai kebenaran atau satyam, kesucian atau siwam.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan