Konsep Kepercayaan Agama Hindu Bali


Download Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Info Akun

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini


Seperti telah diketahui bahwa masyarakat Bali secara mayoritas memeluk agama Hindu, tidak jelas sejak kapan agama Hindu mulai masuk ke Bali. Beberapa sumber mengatakan bahwa yang datang ke Bali pertama adalah Rsi Markadeya, karena dianggap sebagai penyebar Agama Hindu yang datang pertama kali ke daerah Bali sekitar abad keVIII. Sebelum Agama Hindu diperkenalkan, masyarakat Bali telah memiliki kepercayaan yang pada prinsipnya percaya pada tiga hal yakni (1) adanya kepercayaan alam sekala (nyata) dan alam niskala (tidak nyata), (2) adanya reinkarnasi, dan (3) kehidupan setelah mati, serta adanya roh nenek moyang (leluhur) bersemayam di gunung-gunung. Manusia yang masih hidup bisa memohon perlindungan kepada roh-roh leluhur tersebut, dan dengan kekuatan niskala roh-roh leluhur itu juga bisa memberikan keselamatan kepada keturunannya. Jadi pemujaan roh leluhur seperti yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali sekarang ini, sudah ada dan dikenal jauh sebelum kedatangan Hindu.

Dengan kepercayaan yang telah dimiliki masyarakat itu, agama Hindu tidak mengalami hambatan masuk dan berkembang di Bali. Ajaran Hindu, agama tertua yang diwahyukan tersebut, telah tercermin dalam unsur-unsur kepercayaan masyarakat Bali sejak zaman prasejarah. Termasuk pula konsep penciptaan makrokosmos maupun mikrokosmos yang percaya dengan adanya unsur positif (bapak) dan unsur negatif (ibu), yang dalam kepercayaan Hindu di lambangkan dengan lingga dan yoni, langit dan bumi, Dewa dan Dewi. Dalam kepercayaan masyarakat Bali prasejarah, hal itu dilambangkan dengan gunung sebagai laki-laki dan laut sebagai perempuan, (lihat Raka Santri dalam Setia Putu (ed), 1992:100).

Ciri khas perkembangan agama Hindu diterimanya budaya lokal untuk memperkuat tumbuhnya inti ajaran Weda. Hal ini pula yang terjadi di Nusantara khususnya di Bali. Menurut informan mengumpamakan ajaran-ajaran Weda seperti air yang mengalir terus sepanjang abad berliku-liku melalui daerah yang amat luas.

Karena panjangnya masa dan luasnya daerah yang dilewati, wajahnya dapat berubah- ubah, namun isinya tetap sama. Ajaran Hindu disebut pula Sanata Dharma, artinya Dharma (kebenaran) yang abadi. Peredaran zaman tidak menjadikannya tua, karena kebenaran yang diturunkan Hyang Widhi (wahyu) memang tidak akan pernah menjadi tua. Tetapi luluhnya agama Hindu ke dalam konsep-konsep budaya lokal, sering menyebabkan orang salah mengerti, mana agama mana pula budaya atau adat.

Para Rsi dan Empu yang datang ke Bali, baik ketika zaman jayanya kerajaan Singhasari di Jawa maupun ketika Bali dikuasai Majapahit lewat perang besar itu, di bawah komando Patih Mangku Bumi Gajah Mada, ibarat membawa air Weda yang menggenamgi danau seni budaya lokal. Rsi Markandeya memperkenalkan panca datu, yang dipakai dasar setiap bangunan pemujaan di Bali sampai sekarang ini. Di samping itu beliau juga merintis adanya subak bagi masyarakat Bali yang bersifat sosial religius, bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat Bali, tetapi juga dikagumi oleh masyarakat dunia. Setelah itu datanglah Empu Kuturan ke Bali, lebih memperkuat ikatan budaya lokal, dengan menyempurnakan sistem desa adat, yang juga bersifat sosial religius.

Kedatangan Empu Kuturan dinilai telah membawa perubahan  besar  dalam  tata  keagamaan.  Dalam  prasasti  dan  juga  dalam lontar Rajapurana, dijelaskan bahwa Empu Kuturanlah yang membuat tata tertib desa, membangun tempat-tempat persembahyangan seperti Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan, Catur Loka Pala, dan Kahyangan Rwa Bhineda. Sudah barang tentu lengkap beserta aturan-aturan upacaranya, sebagai mana tertulis dalam lontar Usana Bali.

Demikian para Rsi dan Empu yang datang ke Bali tidak pernah memaksakan kehendak menerapkan mentah-mentah apa-apa yang berlaku di Jawa diterapkan di Bali. Mereka memang berpatokan pada beberapa prinsip di Jawa, namun setelah penerapannya di Bali tetap memadukannya dengan budaya lokal. Demikian pula apa yang telah ada di Bali, ditingkatkannya dengan mengambil unsur-unsur yang baik dari luar. Sebagai contoh dalam hal ini yang paling jelas, adalah bangunan tempat persembahyangan, yaitu berupa Padmasana yang diciptakan oleh Rsi Danghyang Nirartha, merupakan penyesuaian dari candi Ampel dari Jawa Timur. Candi-candi ini juga berubah menjadi Meru di Bali, meskipun pembagian bentuk strukturnya tetap berdasarkan pola triloka.

Demikian pula dalam bidang kesenian, yang pada awalnya berbentuk sederhana dan simbolis dan ini sudah berkembang pada zaman prasejarah. Ketika agama Hindu masuk yang ditandai dengan datangnya para Rsi dan para Empu ke Bali, kesenian menjadi lebih berkembang dan kaya, dinamis dan rumit, dengan nilai- nilai idealisme yang juga lebih tinggi dari pada sebelumnya. Bandingkan misalnya arca Datonda dari zaman Megalitikum dari Trunyan, dengan patung setelah pengaruh Hindu seperti arca Durga Kutri, yang merupakan perwujudan personifikasi dalam bentuk yang indah, Gunapriya Dharmapatni, ibunda raja Airlangga. Hal yang sama juga terjadi pada wewantenan (sajen), juga terjadi pula pada seni tari, seni bangunan, seni olah vokal, dan seni rupa. Tradisi kreatif tinggi yang menyebabkan kemudian masyarakat Bali sulit untuk menerima begitu saja segala pengaruh dari luar. Pengaruh dari luar itu terlebih dahulu diolah sedemikian rupa, sehingga muncul suatu karya yang baru bernilai tinggi, setidak-tidaknya lebih cocok dan sesuai dengan alam pikir, gaya, yang bercirikan nuansa Bali.

Keterbukaan dan kreativitas masyarakat Bali, jelas merupakan sumber kekuatan utama masyarakat dalam menggali, mencari, mengembangkan budaya, sehingga muncul konsep-konsep baru yang secara keseluruhan merupakan gabungan kekuatan yang mampu melestarikan agama Hindu di Bali. Berkat adanya desa-desa adat yang berfungsi memelihara kehidupan agama, maka dalam hal ini adat itulah yang dapat diwariskan kepada generasi penerus, seperti apa yang dapat kita lihat sekarang ini, sebagai suatu nilai budaya yang dikagumi seluruh dunia. Bagi masyarakat Bali kesejahteraan lahir dan batin dapat diraih, apabila masyarakat itu dengan konsekuen melaksanakan konsep-konsep utama agama Hindu yang berorientasi kepada sikap batin, perilaku, sikap pikir dalam pergaulan sehari-hari dalam bermasyarakat. Adapun konsep-konsep utama agama Hindu tersebut seperti :

(1) Sekala dan Niskala, (2) Tri Hita Karana, (3) Desa Kala Patra, (4) Karmaphala, dan (5) Taksu dan Jengah.

Konsep Sekala-Niskala

Tujuan akhir Agama Hindu seperti apa yang dituturkan oleh informan di lapangan, adalah “Moksartham Jagadhita ya Caithi Dharma” , terjemahannya kurang lebih kesejahteraan lahir dan kesempurnaan batin, kemudian oleh masyarakat Bali dikembangkan menjadi konsep sekala-niskala. Konsep ini kemudian  menjadi populer karena diterjemahkan pula dalam konsep “pembangunan manusia seutuhnya”.

Dalam konsep ini, segala tingkah laku manusia Bali diukur bukan hanya menurut kepatutan secara spiritual. Sebagai contoh sebuah ember yang biasa dipakai mencuci pakaian dalam, secara sekala ember itu bersih, tetapi secara niskala ember itu tidak baik untuk tempat tirta atau air suci. Konsep ini bagi orang Bali menjadi lebih seimbang, tidak cepat menjatuhkan sangsi segala sesuatu sebagai hal yang “salah” atau “benar”, selalu ada sesuatu yang patut dipertimbangkan, di balik kenyataan yang sedang dihadapi.

Konsep Tri Hita Karana

Dasar moral orang Bali adalah harmoni-keselarasan. Kesadaran moralnya terutama ditujukan untuk kesejahteraan batin, lebih bersifat ke dalam diri, dengan terbuka ia akan menerima, mendengar, menunggu, dan berusaha memahami. Tidak berusaha memaksakan kehendak, tidak berusaha untuk mengubah realitas. Kehidupan dijalani untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan-Nya yang terangkum dalam etika Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana tersebut adalah tiga hal yang menyebabkan bahagia dan ketiga hubungan itu hendaknya dapat berjalan harmonis. Hubungan manusia yang penuh bhakti kepada Hyang Widhi, menyebabkan umat Hindu memandang kerja dan pelaksanaan tugas sebagai persembahan (korban suci). Dapat dilakukan melalui Karma Marga untuk mencapai Hyang Widhi. Itulah yang menyebabkan orang Bali membuat tempat atau upacara khusus sebelum memulai suatu kegiatan. Hendak membangun rumah tempat tinggal, ada sanggah cucuk yang ditancapkan di sebuah sudut, dengan harapan agar supaya Hyang Widhi senantiasa menyaksikan dan merestui atau memberi perlindungan dalam proses pekerjaan selanjutnya.

Mau menari, mematung, maupun melakukan pekerjaan lainnya, senantiasa ada upacara kecil untuk memohon, semoga Hyang Widhi menyaksikan dalam pelaksanaan kerja dan memberikan keselamatan pada seluruh pertunjukan maupun dalam melakukan pekerjaan lain. Hubungan manusia dengan sesamanya (manusia) sangat demokratis, hal ini dirumuskan dalam istilah Tat Twam Asi”, yang artinya aku adalah kau, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia dapat diartikan “dia sama dengan diriku”, inilah azas kebersamaan dalam masyarakat Bali, yang telah dikukuhkan dalam lembaga adat.

Tat Twam Asi ini mencerminkan unsur kebersamaan atau kesatuan. Konsep ini mengandung makna, bahwa menolong orang lain, maupun makhluk lainnya, tidak lain juga sama artinya menolong diri sendiri. Sebaliknya merusak makhluk lain dan lingkungannya itu, berarti pula merusak diri sendiri. Karena itu dalam pelaksanaan adat di Bali, seluruh anggota dianggap memiliki hak dan tugas yang sama. Ketika misalnya ada kematian salah satu anggota banjar adat, maka anggota lainnya wajib datang membantu, tidak peduli apakah ia seorang kaya atau seorang miskin. Seberapa besar kesungguhan yang ditunjukkan oleh seorang anggota banjar adat kepada sesamanya, akan berakibat sebesar itu pula kesungguhan yang akan diberikan kepadanya, apabila kemudian dia memerlukan bantuan.

Persoalan hubungan manusia dengan lingkungannya, masyarakat Hindu di Bali memiliki praktik-praktik yang menarik dalam merealisasikannya. Oleh sebab itu terdapat hari-hari khusus untuk dapat melaksanakan upacara kecil seperti tumpek landep (upacara diperuntukkan alat-alat untuk produksi), tumpek uduh (upacara bagi tanam-tanaman), dan tumpek kandang (upacara diperuntukkan bagi binatang ternak).

Menurut catatan dan hasil wawancara terhadap informan di lapangan pandangan hidup orang Bali bersifat holistik (menyeluruh) tidak memisahkan individu dengan lingkungan. Manusia dianggap merupakan kesatuan eksistensi yang mencakup segalanya. Gejala di dalamnya merupakan sebuah perencanaan besar yang teratur dan saling berhubungan. Manusia dianggap bagian dari makrokosmos yang disebut mikrokosmos. Tiada garis pemisah yang jelas antara manusia dan dunia. Manusia selalu dilihat sebagai bagian integral dari keseluruhan alam semesta, di situ manusia mempunyai tugas dan tempat. Kehidupan di dunia hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupan abadi dalam alam kosmik. Tugas kehidupan manusia adalah berusaha mencegah samsara atau reinkernasi, suatu kelahiran kembali secara berulang-ulang setelah kematian, sebagai pertanda samsara yang tiada akhir. Reinkarnasi menghambat sang Atman untuk kembali ke asalnya, menghambat penyatuan Brahman-Atman. Oleh karena itu dapat dipahami mengapa perhatian orang Bali tertuju pada masyarakat dan alam. Orientasi kehidupannya tatkala ia melukiskan pergaulan dan ide-idenya adalah keselarasan dan ketenteraman

Dengan latar belakang ini orang Bali yang mayoritas menganut agama Hindu dilatih dan dididik untuk menjadi manusia bijaksana, mengetahui proporsi yang tepat dalam berpikir, merasa, bersikap dan tingkah laku, tidak pernah membiarkan pikiran menjadi dominan sampai menguasai seluruh kesadaran dan merusakkan keseimbangan psikologis, menghindari disharmoni dan pemborosan. Tidak berusaha untuk menguasai alam. Masyarakat Bali mempunyai banyak simbol-simbol dalam kehidupan bermasyarakat terutama terkait dengan adat-istiadat dan dalam tingkah laku pelaksanaan keagamaan sehari-hari, sekaligus orang Hindu dididik untuk selalu toleran dengan perbedaan pendapat dan menghormati pendapat orang lain, demikian menurut keterangan imforman pemuka agama maupun pemuka masyarakat.

Konsep Desa Kala Patra

Konsep Desa Kala Patra ini merupakan konsepsi utama bagi kebudayaan Bali. Konsep ini pula yang menyebabkan bentuk luar agama Hindu yang dalam pelaksanan kegiatan agama tidaklah sama di setiap daerah. Meskipun ajarannya tetap sama, tetapi cara pengamalan dalam budaya pendukungnya selalu berubah dan berbeda antara satu desa dengan desa yang lainnya, sesuai dengan desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan). Konsep ini merupakan kesadaran untuk sama (dalam ajaran), tetapi berbeda (dalam cara pengamalan), yang kemudian dikenal dengan istilah bhinneka tunggal ika.

Di mana pun masyarakat Bali berada, mereka tidak harus menerapkan seperti adat daerahnya, namun mereka dapat menyesuaikan dengan kebiasaan adat di mana mereka berada. Seperti adat di Kota Karangasem dalam melaksanakan upacara maupun upakara yadnya maupun kegiatann upacara lainnya, sangat berbeda dengan adat yang dianut oleh masyarakat Denpasar misalnya. Demikian pula antar daerah-daerah atau kabupaten di Bali mempunyai adat kebiasaan yang berbeda dalam melakukan upacara maupun upacara keagamaan.

Konsep Karmaphala

Konsep Karmaphala, merupakan hukum sebab akibat. Dengan kesadaran akan”waktu”, masyarakat Bali dibimbing untuk berpikir lurus, karena apa yang mereka  alami  sekarang,  sesungguhnya  tidak  terlepas  dari  apa  yang   diperbuat sebelumnya, sedang apa yang mereka akan alami kelak sangat tergantung dari apa yang mereka kerjakan sekarang.

Menurut catatan keterangan yang diperoleh dari informan tentang karma pahala dinyatakan bahwa seseorang yang berbuat baik pasti baik akan diterimanya, demikian juga sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Tetapi dalam kehidupan di alam ini terkadang ada seseorang yang selalu berbuat baik, namun ia tetap hidupnya tetap serba kekurangan alias menderita dan sebaliknya ada seseorang yang selalu berlaku curang atau jahat, tetapi nampak hidupnya malah bahagia dan sangat berlebihan. Berkaitan dengan itu sebetulnya karmaphala itu jenisnya ada tiga macam, yaitu

  1. Karmaphala Sancita adalah phala dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang akan datang,
  2. Karmaphala Prarabda adalah phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya, dan
  3. Karmaphala Kriyamana adalah pahala yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Jadi adanya orang menderita dalam hidup ini walaupun ia selalu berbuat baik, karena disebabkan oleh sancita karma (karma terdahulu) yang buruk yang mau tidak mau ia harus merasakan buahnya sekarang karena kelahirannya terdahulu belum habis dinikmatinya. Sebaliknya orang yang berbuat curang atau berbuat jahat dalam kesehariannya, nampaknya dalam kehidupan sekarang bahagia, karena sancita karmanya yang terdahulu baik, tetapi nantinya akan menerima pula hasil perbuatannya sekarang yang tidak baik itu. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa cepat atau lambat dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum alam.

Hukum karmaphala itu tidak menyebabkan putus asa dan menyerah pada nasib tetapi positif dan dinamis, serta hal ini harus disadari. Kita harus sadar bahwa penderitaan kita di saat ini adalah akibat dari perbuatan masa lampau. Perlu disadari bahwa suatu saat penderitaan itu pasti akan berakhir dan diganti dengan kebahagiaan, asal kita berbuat baik selalu walaupun pada saat kita menderita. Perbuatan kita yang baik sekarang ini akan mengakibatkan kebahagiaan nanti. Dengan kesadaran ini masyarakat Bali tidak perlu sedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan dan tidak perlu sombong ketika mengalami kebahagiaan.

Itu semua adalah hasil perbuatan kita sendiri. Walaupun hukum karmaphala itu seolah-olah berdiri sendiri di dalam lingkaran sebab-akibat, tetapi hal itu tidak terlepas kekuatan Hyang Widhi. Perbuatan itu akan menentukan pahalanya, tetapi mengenai macamnya buah dan waktu memetiknya itu tergantung kepada keadilan Hyang Widhi. Jadi kelahiran kita ke dunia walaupun dalam penderitaan, ini tetap merupakan suatu keuntungan, karena kita atau manusia masih mendapatkan kesempatan untuk berbuat baik, meningkatkan kebenaran jiwa kita untuk menentukan hidup yang akan datang, demikian yang dikatakan oleh informan Bpk.Made Sudira.

Konsepsi Karmaphala menyebabkan pula masyarakat Hindu di Bali memandang keluarga secara lebih luas. Keluarga (meskipun yang inti), dalam pandangan mereka tidak saja terdiri dari bapak, ibu, serta anak-anak, tetapi juga mereka yang telah meninggal (leluhur) dan yang hidup akan datang (numadi). Kepercayaan ini yang kemudian disertai dengan sistem penghormatan kepada leluhur, seperti telah dikemukakan, bahwa kepercayaan ini sudah berkembang di daerah Bali sebelum masuknya agama Hindu. Karena itu tidak mengherankan kalau hubungan antara anak dengan orang tua di Bali, sangat erat. Juga adanya hubungan

kekerabatan. Sistem penghormatan kepada leluhur dalam bentuk bangunan Merajan, Dadia, Pedarman, dan Kawitan lebih mempererat hubungan kekerabatan, khususnya di antara mereka yang satu warga (satu ikatan keturunan).

Demikian orang Bali pada umumnya percaya akan hukum karmaphala, setiap perbuatan akan mendatangkan akibat, baik berupa hadiah atau hukuman. Karmaphala dipahami sebagai buah perbuatan, kadang-kadang dihubungkan dengan keinginan leluhur atau buah perbuatan sendiri di waktu lampau, sewaktu eksistensi kehidupan dahulu. Hukum karmaphala begitu melekat sebagai hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat. Kekuasaan manusia terhadap hukum karma sangat terbatas, hanya dapat diperbaiki dalam eksitensi berikutnya.

Konsep Taksu dan Jengah

Konsep Taksu dan jengah ini, bertalian engan kenyataan setiap bangunan suci atau pemujaan keluarga di Bali terdapat salah satu bangunan di antaranya ada yang disebut “taksu”. Ini adalah semacam kharisma kekuatan dalam yang memancarkan keindahan dan kecerdasan. Para penari yang dapat mempesona penontonnya disebut metaksu. Demikian pula Topeng yang angker, dapat pula dikatakan metaksu. Masyarakat Bali telah mengenal dan memahami pentingnya taksu tersebut dalam bangunan suci, keluarga, maupun dalam berkesenian. Tetapi masyarakat Bali menyadari pula bahwa taksu itu baru bisa muncul, dari hasil kerja keras, di samping faktor-faktor yang bersifat niskala (spiritual), karena itu rasa jengah, dalam konteks budaya memiliki konotasi sebagai hal yang bersemangat. Taksu dan jengah harus saling mengisi, sehingga arahnya menjadi positif dalam menuju perubahan nilai-nilai budaya. 

Konsep  taksu  dan  jengah  ini  diiringi  pula  dengan  konsep  “Tri  Kaya Parisuda”, sebagai pelengkap dalam bertindak maupun dalam pergaulan sehari-hari bagi masyarakat Bali. Setiap orang Bali dikehendaki ber-manacika (berpikir yang baik), ber-wacika (berkata yang baik), dan ber-kayika (berbuat yang baik). Untuk dapat berpikir yang baik, sebagai pendorong perkataan yang baik dan perbuatan yang baik, melalui penyeimbangan ajaran-ajaran agama dalam etika pergaulan. Pelaksanaan ritual harus diseimbangkan dengan pemahaman dan pengamalan etika dan tatwa (filsafat).

Sistem Penanggalan

Dalam melakukan kegiatan upacara ritual keagamaan selalu mencari hari yang baik, bagi masyarakat Bali dikenal dengan sebutan pedewasaan. Pedewasaan adalah hari yang dianggap baik untuk melaksanakan upacara keagamaan, sedangkan pedewasaan dasarnya adalah dari wariga. Wariga berarti jalan menuju yang mulia atau kesempurnaan. Peristiwa-peristiwa penting seperti memulai pembuatan topeng atau barang kesenian lainnya yang akan disakralkan, pembuatan bangunan suci, rumah pawongan dan pertunjukan-pertunjukan tradisional yang terkait dengan agama dan adat selalu berpedoman pada dua sistem kalender yang sangat khas dan hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali.

Kedua sistem penanggalan itu adalah sistem Pawukon atau Saka dan penanggalan sistem Masehi. Sistem kalender Pawukon yang dalam satu siklus Pawukon ada 210 hari, terbagi menjadi 30 Wuku dan setiap Wuku berlangsung selama tujuh hari. Ketigapuluh Pawukon itu adalah ; Sintha, (2)Landep, (3) Ukir, (4)Kulantir, (5) Taulu, (6) Gumbreg, (7)Wariga, (8)Warigadean, (9)Julungwangi, (10)Sungsang, (11)Dungulan, (12)Kuningan, (13)Langkir, (14)Medangsia, (15)Pujut, (16)Pahang, (17)Krulut, (18)Merakih, (19)Tambir, (20)Medangkungan, (21)Matal, (22)Uye, (23)Menail, (24)Perangbakat, (25)Bala, (26)Ugu, (27)Wayang, (28)Kelawu, (29)Dukut, dan (30)

Pawukon ini berjumlah 30 dan setiap wuku berlaku selama 7 hari. Sistem penanggalan Pawukon tersebut jelas berasal dari masa Jawa Kuno di Jawa Timur, yang justru di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah sendiri dewasa ini sudah tidak dikenal secara meluas, terutama oleh generasi muda. Menurut legenda Jawa, nama- nama dari wuku itu mengambil nama-nama dari raja Jawa yang bernama Prabu Watugunung dengan istrinya yang bernama Dewi Sinta yang sebenarnya adalah ibunya sendiri beserta 28 putra mereka.

Dalam Babad Tanah Jawi tentang wuku disebutkan riwayatnya demikian; konon ada seorang raja dari Kerajaan Gilingwesi bernama Prabu Watugunung yang jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah ibunya sendiri. Kedua pasangan yang tidak mengetahui asal-usul mereka itu hidup bahagia sampai mempunyai anak 28 orang, yang diberi nama wuku nomor 2 sampai nomor 29 di atas.

Sedangkan Pewaran terdiri dari 10 (sepuluh) wara adalah sebagai berikut ;

  • Eka-wara adalah Luang
  • Dwi-wara adalah menga dan pepet
  • Tri-wara adalah Pasah, Beteng, Kajeng.
  • Catur-wara adalah Sri, Laba, Jaya, Menala.
  • Panca-wara adalah Umanis, Pahing, Pon, wage, Kliwon.
  • Sad-wara adalah Tungleh, Ariang, Urukung, Paniron,  Was, Mawulu.
  • Sapta-wara adalah Redite, Soma, Anggara, Budha, Waraspati, Sukra, Sanescara.
  • Astha-wara adalah Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma.
  • Sanga-wara adalah Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, (Erangan, Urungan, Tulus, Dadi.
  • Dasa-wara adalah Pandita, Pati, Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, (Eraja, Dewa, Raksasa.

Sistem kalender Bali merupakan perpaduan antara perhitungan musim yang menggunakan gabungan antara perhitungan bulan (lunar system) dan perhitungan matahari (sonar system). Satu tahun Saka terdiri dari 12 bulan yaitu; (1) Kasa, (2)Karo, (3) Katiga, (4)Kapat, (5)Kalima, (6)Kaenam, (7)Kapitu, (8)Kawulu, (9)Kasanga, (10)Kadasa, (11)Jistha, (12)Sadha. Siklus bulan kalender Saka yang disebut Sasih itu sebenarnya berlangsung selama 29,5 hari, lebih sedikit dan tidak 30 hari. Maka setiap sembilan minggu, dua hari dijadikan satu hari yang dalam Sansekerta disebut ngunalatri yang berarti kekurangan satu malam, oleh karena itu menurut perhitungan kalender Saka satu tahunnya berlangsung selama 354 atau 355 hari. Maka upacara Nyepi untuk memperingati tahun Baru Saka, dalam perhitungan kalender Masehi atau tahun Gregorian selalu selisih 10-12 hari.

Perhitungan dalam menentukan rerahinan atau hari raya umat Hindu Dharma sangat rumit. Di samping satu minggu yang berlangsung selama tujuh hari yaitu; Radite, Soma, Budha, Waraspati, dan Saniscara. Mingguan yang berlangsung selama tujuh hari itu disebut sapta wara.

Di antara ke sepuluh mingguan yang penting selain Sapta-wara adalah Panca- wara, Tri-wara, dan bagi masyarakat Bali dianggap sakral. Pertemuan dua hari dari dua sistem mingguan di mana apabila saniscara (sapta-wara) bertemu dengan kliwon (panca-wara) disebut “Tumpek”.

Pertemuan hari-hari penting menjadi sangat sakral bila bertemu dengan wuku yang memiliki makna tersendiri. Misalnya “Tumpek Landep” yang jatuh pada wuku Landep, hari Saniscara kliwon. Pada hari tersebut masyarakat Hindu Dharma memberikan sesaji kepada senjata-senjata tajam seperti keris, pisau, dan alat-alat tajam lainnya. Hari tumpek ini selalu datangnya setiap enam kali selama satu siklus pawukon. Selanjutnya Tumpek yang kedua adalah Tumpek Uduh yang jatuh pada hari Sanescara Kliwon wuku Wariga.

Tumpek yang ketiga adalah Tumpek Kerulut yang merupakan hari penting untuk memberi sesaji kepada alat-alat instrumen musik, topeng-topeng, maupun pakaian atau busana tari. Tumpek keempat adalah Tumpek Kandang, pada hari itu masyarakat Hindu Dharma

di Bali memberikan sesaji kepada semua binatang ternak mereka. Tumpek kelima adalah Tumpek Wayang. Tumpek ini jatuh pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang. Pada hari ini masyarakat yang punya wayang memberikan sesaji kepada wayangnya masing-masing. Bagi anak yang lahir pada hari tumpek wayang, anak tersebut dianggap tidak beruntung oleh masyarakat. Untuk itu anak tersebut perlu diruwat dengan memberikan sesaji dan melukat, serta dimohonkan air tirta dari wayang agar semua letah dan mala yang dibawa dari lahir, juga menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit.

Purnama dan Tilem juga merupakan hari-hari penting dalam melakukan upacara keagamaan, karena hari Purnama dan Tilem itu bagi masyarakat penganut Hindu Dharma diyakini hari yang penuh berkah dan kesucian karena pada saat itu para Dewata turun ke bumi. Dalam Purnama dan Tilem ada yang bernama penanggal, prawani, dan panglong. Purnama –tilem berganti selama 15 hari sekali. Penanggalan adalah sehari setelah tilem sampai 12 hari, 13-14 (tiga welas-empat welas). Panglong adalah waktunya dari sehari sesudah purnama sampai dua belas hari. Prawani adalah sehari sebelum purnama dan tilem.

Untuk menentukan hari raya, terutama tahun baru Saka atau yang dikenal dengan hari Raya Nyepi, dipakai perhitungan sistem gabungan antara matahari dan bulan, sehingga harinya tetap jatuh pada sasih kasanga atau di sekitar bulan Maret setiap tahun pada saat bulan tilem.

Dalam wariga ada lima bagian waktu yang dipakai menentukan rerahinan atau hari-hari penting untuk dapat melakukan yadnya seperti Dewa yadnya,Resi yadnya, Pitra yadnya, Manusa yadnya, dan Bhuta yadnya. Adapun macam rerahinan tersebut adalah sebagai berikut (1) Rerahinan yang dilakukan setiap hari, (2) Rerahinan yang berdasarkan Tri-wara dengan Panca-wara, (3) Rerahinan yang berdasarkan Sapta-wara dengan Panca-wara, (4) Rerahinan yang berdasarkan Pawukon dan, (5) Rerahinan yang berdasarkan Pesasihan.

Sistem Ritual Masyarakat Bali

 Keindahan pulau Bali menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali pada umumnya. Bali dapat menarik wisatawan mancanegara, karena adanya perpaduan yang harmonis antara keindahan alam, upacara, dan masyarakatnya. Kebudayaannya didasari oleh adat-istiadat yang bernafaskan agama Hindu. Keindahan alam, kekayaan alam yang masih asli, seperti hutan- hutan yang tetap berfungsi sebagai hutan lindung, susunan persawahan yang teratur dan terpelihara rapi, merupakan sajian panorama yang sungguh-sungguh mempesona.

Dalam kitab Wrehaspati Tattwa, badan manusia disebut sebagai Tri Sarira, hanya dapat digunakan untuk mendapatkan dharma, artha, kama dan moksha. Untuk mendapatkan bhutahita (alam sejahtera) haruslah manusia beryajna kepada alam atau bhuwana agung. Tanpa beryajna kepada alam, alam pun tidak akan beryajna kepada manusia. Bila kita beryajna kepada tumbuh-tumbuhan, maka tumbuh- tumbuhan pun akan beryajna kepada kita, menjadi bahan makanan pokok manusia. Untuk menyejahterakan alam ini, persembahan diwujudkan dengan Bhuta Yajna yang memiliki wujud ritual, bersifat faktual kontekstual.

Persembahan ini di luar diri manusia secara individu yaitu lingkungan alam dan lingkungan manusia. Ini harus diwujudkan dalam bentuk Bhutahita dan Jagathita. Bhutahita yang menyejahterakan Panca Maha Bhuta, tumbuh-tumbuhan, dan binatang (sarwa prani). Sedangkan untuk mewujudkan Jagathita (kehidupan bersama yang harmonis) diwujudkan dengan Jagat Kerti, jagat yang benar-benar tertib dan sejahtera. Hal ini merupakan upaya untuk menyiapkan Bhuwana Agung sebagai wadah kehidupan makhluk hidup, terutama manusia yang mempunyai tujuan hidup mewujudkan catur purusaartha.

Sebagai individu, setiap orang harus menyiapkan dirinya lahir batin, Pengendalian jasmani dengan makanan dan yoga asana yang teratur dan berkesinambungan.

Melakukan pengendalian alam pikiran dilakukan dengan pujanam (berdoa), dhyanam (bermeditasi) dan, sewanam (melakukan pelayanan dengan sesama secara tulus dan ikhlas). Dalam upacara keagamaan Hindu, penyiapan lahir batin ini dilakukan dengan upacara byakala dan prayascita. Upacara byakala bermakna menyiapkan fisik yang sehat dan bersih secara sekala dan upacara prayascita bertujuan untuk menyiapkan rohani atau citta secara niskala. Kalau persiapan itu sudah dapat dilakukan dengan baik barulah badan yang berupa Tri Sarira ini dapat digunakan untuk mencari atau mencapai dharma, artha, kama, dan moksha serta hanya boleh digunakan untuk mencari tujuan hidup secara bertahap dan seimbang.

Masyarakat Bali pemeluk agama Hindu, sangat menaati dan menjunjung tinggi agama tatwa (filsafat), adat istiadat susila (etika) dan upacara (ritual). Bagi umat Hindu di Bali menjalankan susila (etika) dituangkan di dalam sesana-sesana dan awig-awig (peraturan-peraturan) Desa Adat. Para Sulinggih atau Pedanda, dan Pemangku, serta warga masyarakat desa akan berusaha untuk menaati sesana maupun awig-awig Desa Adat tersebut, yang telah ditentukan sebagai hak dan kewajiban baginya. Hal-hal yang berkaitan dengan upacara, tiap-tiap rumah tangga berusaha menyelenggarakan upacara-upacara baik yang sehari-hari maupun pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Demikian pula dalam hal pemahaman tentang filsafat agama yang dituangkan dalam konsep-konsep agama dalam implementasinya dapat kita lihat pada prilaku , sopan-santun maupun dalam bertutur kata.

Bagi masyarakat Bali tentang upacara dan upakara mempunyai pengertian yang berlainan. Upacara yang berkaitan dengan agama sering disebut yadnya. Yadnya pada hakekatnya adalah persembahan atau puja spiritual yang diatur menurut ketentuan-ketentuan ritual dan seremoni yang dipelajari dari kitab suci Weda.

Fungsi dan posisi yadnya adalah sebagai ungkapan terima kasih kepada Hyang Widhi yang telah memberikan limpahan waranugraha kepada makhluk hidup termasuk pula umat manusia baik berupa kesehatan maupun kehidupan yang tentrem, sejahtera dan damai. Yadnya berasal dari kata “yaj” yang artinya korban, sehingga yadnya adalah suatu upacara korban suci, artinya korban yang dimaksud adalah korban yang berdasarkan pengabdian dan cinta kasih.

Sesungguhnya pengorbanan yang dilaksanakan berdasarkan pengabdian dan rasa cinta kasih, tidak memerlukan balasan. Walaupun menjalankan yadnya berdasarkan tidak terikat pada hasilnya, tetapi tetap mempunyai tujuan spritual, yaitu (1) untuk menghubungkan diri atau mendekatkan diri di hadapan Hyang Widhi, (2) sebagai tanda terima kasih atas segala waranugraha yang telah dilimpahkan-Nya, (3) untuk mencapai kesucian, membebaskan diri segala dosa demi tercapainya kesempurnaan lahir dan batin baik dalam makrokosmos maupun dalam mikrokosmos.

Menurut ajaran agama Hindu ada beberapa jalan yang ditempuh untuk pendekatan dengan Hyang Widhi adalah melalui catur-marga (empat jalan/cara) yaitu (1)Bhakti marga, ialah dengan jalan penyerahan diri serta mencurahkan rasa cinta- kasih yang setulus-tulusnya, (2)Karma-marga, ialah dengan jalan berbuat dan bekerja secara sungguh-sungguh dan tidak mengharapkan balasan atau imbalan, (3)Jnana-marga, ialah dengan jalan belajar serta mengamalkan ilmu pengetahuan secara bersungguh-sungguh dan tidak mengharapkan imbalan, (4)Raja-marga, ialah dengan jalan melakukan tapa-brata yang tekun dan disiplin.

Pada umumnya keempat marga itu diwujudkan dengan penyelenggaraan upacara, jakni pelaksanaan atau perwujudan dari pada catur marga atau yadnya. Dalam pelaksanaan upacara yadnya ini dibutuhkan perlengkapan-perlengkapan yang disebut upakara.

Dalam penyelenggaraan upacara yadnya dilengkapi pula dengan “banten” atau sesaji merupakan susunan dari berbagai media seperti janur, buah, bunga, air, dan sebagainya, ditata sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk yang indah dan artistik mempunyai arti simbolis keagamaan sesuai dengan fungsinya.

Sesungguhnya di samping sebagai persembahan atau tanda terima kasih, maka banten mempunyai fungsi seperti (1) sebagai alat atau sarana konsentrasi untuk memuja Hyang Widhi, (2) sebagai perwujudan dari pada Hyang Widhi atau orang yang diupacarai, misalnya  kuwangen, daksina pelinggih, lingga, puspasarira,  dan (3) Sebagai alat penyucian, misalnya prayascita, durmengala, byakala, dan lain sebagainya.

Upacara yadnya perwujudannya ada lima macam yaitu pertama Dewa yadnya adalah upacara persembahan ditujukan kepada Ida Hyang Widhi, karena kita hutang hurip atau jiwa pada Hyang Widhi yang telah menciptakan kehidupan  serta segala yang menunjang kehidupan di alam semesta ini. Orang Bali percaya dengan adanya dewa-dewa. Dewa-dewa tersebut merupakan sinar suci dari Hyang Widhi (Brahman). Tetapi orang Bali juga yakin bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini bersumber dari satu azas, suatu realitas yang tertinggi.

Realitas tersebut tidak kelihatan, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, tidak terbagi-bagi, tidak dapat tembus oleh akal manusia, dapat menyelami segala sesuatu, realitas ini disebut Brahman. Brahman di sini bukan dipandang sebagai tokoh dewa, melainkan sebagai azas pertama, sebagai yang meliputi segala sesuatu. Brahman itu tiada lain adalah Tuhan itu sendiri. Dengan demikian yadnya yang ditujukan kepada para Dewa sesungguhnya ke hadapan Hyang Widhi, sedangkan para Dewa hanya sebagai perantara antara manusia dengan penciptaNya.

Kedua Rsi yadnya, Resi adalah orang-orang suci yang telah menerima wahyu serta ajaran-ajaran atau ilmu pengetahuan yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia, terutama ajaran-ajaran tentang kerokhanian. Rsi Yadnya adalah pemujaan kepada para pendeta dan orang-orang suci yang memahami makna hakekat hidup. Atas jasa dan kemurahan para Maha Rsi yang menuntun dan membebaskan kita dari kebodohan dengan pengetahuan suci yang mengantarkan pada kesejahteraan dan kebahagiaan jasmani dan rohani, untuk itu umat Hindu merasa memiliki hutang yang dikenal dengan Rsi Rna. Dalam hubungan ini Rsi yajna dilaksanakan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas jasa tersebut.

Ketiga Pitra yadnya adalah pemujaan kepada roh suci leluhur, merupakan ungkapan terima kasih kepada leluhur yang telah melahirkan, memelihara, membesarkan kita. Ungkapan terima kasih kepada para leluhur dilakukan dengan melaksanakan upacara Pelebon bagi orang bangsawan dan ngaben bagi orang kebanyakan. Setelah upacara ngaben atau palebon dilakukan upacara nyekah atau upacara ngerorasin, di sini arwah para leluhur dipersonifikasikan dengan boneka yang disebut puspasarira, karena memang terbuat dari rangkaian beberapa macam kembang. Setelah mendapatkan puja weda dari Pedanda, di mana roh leluhur dituntun masuk ke Puspasarira, lalu diberikan tirta atau air suci dan selanjutnya baru dibakar hingga menjadi abu. Abu tersebut oleh sanak keluarga dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam cengkir gading, lalu dibentuk atau dirangkai lagi menjadi bentuk Puspasarira lagi. Sebagai rangkaian acara terakhir Puspasarira  ini dinaikkan ketempat madiya atau semacam bangunan yang menjulang tinggi hampir menyerupai seperti meru dengan warna kuning dan putih, diarak oleh para keluarga dekat dan para hadirin beramai-ramai dengan iringan gamelan baleganjur, menuju laut untuk dilarung, dengan maksud agar supaya semua elemen-elemen jasad manusia kembali menyatu dengan alam semesta.

Keempat Manusa yadnya, adalah upacara yang dilaksanakan kepada sesama manusia seperti upacara magedong-gedongan, yaitu upacara umur tujuh bulan kandungan, upacara kelahiran bayi, upacara kepus punsed, upacara ngelepas hawon, upacara tutug kambuhan, upacara telu bulan atau umur bayi 105 hari setelah kelahiran, upacara otonan atau bayi setelah berumur enam bulan, atau 210 hari setelah kelahiran, upacara ngempugin setelah anak sebelum mencapai dewasa, upacara maketus, yaitu upacara setelah giginya tanggal, upacara munggah daha/taruna, adalah upacara setelah anak mengalami datang bulan pertama, upacara mapandes yaitu upacara potong gigi dan upacara pawiwahan (perkawinan) serta upacara pawintenan yaitu upacara pembersihan lahir dan batin dalam rangka belajar atau menuntut ilmu. Pengalaman masa kanak-kanak sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian selanjutnya, oleh sebab itu sejak masih ada dalam kandungan orang Bali telah berusaha mendidik si jabang bayi lewat upacara-upacara. Setelah bayi lahir, orang tua si bayi akan memberikan syukuran dalam bentuk upacara yadnya. Setelah bayi berumur 3 hari, ketika tali ari-ari (placenta) putus, orang tua anak juga mengadakan upacara putus punser.

Umur tiga bulan diadakan upacara potong rambut yang pertama dan pemberian nama. Dimulai dari dalam kandungan, lahir, sampai dewasa, orang Bali selalu sibuk dengan upacara-upacara, sehingga dapat dikatakan kepribadian orang Bali bersifat serimonial, segala keadaan diresmikan melalui upacara.

Kelima Bhuta yadnya adalah upacara yang ditujukan kepada Bhuta Kala, untuk memohon keseimbangan maupun keharmonisan alam semesta bhuwana alit dan bhuwana agung.

Upacara diwujudkan secara bergairah dengan simbol-simbol kreatif, arca-arca mempunyai arti khusus, jajanan, buah-buahan, daun, bunga, air dan api, semua mempunyai makna secara simbolis, hal ini telah tampak nyata berupa kreasi dari perwujudan simbol-simbol tersebut berbentuk aneka upacara seremonial dalam kebudayaan masyarakat Bali. Semua upacara tersebut dilakukan dengan sungguh- sungguh dan tulus ikhlas. Bermacam-macam upacara tersebut dilakukan secara berulang-ulang, pada setiap hari, bulan, tahun bahkan ada pula yang seratus tahun sekali. Upacara yang pelaksanaannya di Pura, terutama berkaitan dengan pelaksanaan upacara “dewa yadnya” atau upacara yadnya lainnya tidak lepas dari kesenian, karena merupakan suatu rangkaian, baik seni lukis, seni kriya, seni tari, seni vokal dan seni-seni lainnya digunakan sebagai seni wali, dalam melaksanakan upacara tersebut.

Pelestarian terhadap beraneka upacara dan nilai-nilai budaya khususnya kesenian bagi masyarakat Bali adalah suatu tanggung jawab terhadap agama yang mereka yakini, sebaliknya semua kegiatan upacara keagamaan senantiasa melibatkan kesenian. Oleh sebab itu maka kehidupan berkesenian subur dan berkembang di Bali. Lebih-lebih dengan adanya pariwisata budaya, justru berkesenian semakin dapat lebih berkembang.



Blog Terkait



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

FACEBOOK COMMENT