Lontar Usada Bali, Sumber Ilmu Pengobatan Penyakit Oleh Para Balian


Pandangan umum tentang Usada yaitu pengetahuan akan penyembuhan terdapat di berbagai lontar Bali dengan literatur yang bersifat Kedokteran. Ilmu pengobatan yang terletak pada proses­-proses yang tak dapat diterangkan dimana yang terjadi secara gaib dalam tubuh manusia, para Balian Bali berusaha menggarap­nya dengan sarana penolak yang bersifat gaib. Walaupun ilmu pengetahuan sudah sangat maju namun nyatanya sampai kini unsur pengobatan gaib tetap bertahan.

Pengaruh ilmu kedokteran modern memberikan gambaran hasil pengaruh timbal-balik antara pengetahuan modern, penyembuhan cara tradisional dan kepercayaan, yang sudah berlangsung ribuan tahun, hasil per­campuran pengetahuan akan pengobatan yang ada di Bali dengan pengaruh Hindu digunakan oleh kalangan praktisi Balian usada Bali dan itu dapat dibaca dalam berbagai literatur lontar Usada yang ada di Bali.

Usada yang pertama tentang pengobatan dan jenis penyakit dinyatakan di lontar Budha Kecapi dan Lontar Kalimo Usada & Kalimo­ Usadi, yang memuat hal-hal dasar tentang asal mula ilmu balian, peraturan-peraturan mengenai tingkah laku seorang balian dan keterangan-keterangan tentang hakekat pe­nyakit-penyakit. Lontar yang sejenis yaitu Phari­bhasa dan yang dinilai tinggi ialah: Usada Sari dan Dharma Usada.

Usada awalnya dikatakan dari Karya Bhatara Brahma, Kalimo-Usada karya Bhatara Wisnu, Dharma Usada karya Bhatara Iswara.

Kalimo-Usada memberi gejala-gejala yang cermat tentang Mati dan Hidup (artinya: apakah seorang sakit dapat disembuhkan atau akan meninggal);

Buddha Kecapi sangat berhikmah dan memberi ­keterangan tentang kekuatan yang sakit dalam tubuh, tentang penyakit-penyakitnya sendiri dan tentang sajen yang akan diaturkan pada waktu penggarapan si sakit.

Usada Sari disebut juga Raja Usada, oleh karena di dalamnya terdapat sari dari obat-obatan.Dharma Usada dan Kalimo-Usada keduanya terdapat dalam Usada Sari.

Buddha Kecapi orang adalah seorang yang alim (pradnyan) dan suci. Sedangkan Kalimo-Usada dan Kalimo-Usadi adalah sebagai balian amat dihormati (berkedudukan tinggi).

Nama Kalimo-Usada dalam beberapa tu­tur dihubungkan dengan 5 Patah kata yang gaib: Ang Ung Mang Ang Ah, Usada Tuga (dulu disebut Dharma Usada) di­hubungkan dengan tiga serangkai: Ang-Ung-Mang.

Lebih jelas hubungan ini dapat dibaca dalam tutur Krakah sari, di mana kesepuluh kekuatan dalam tubuh diwakili oleh tanda-tanda (merek) dari abjad (hanacaraka) dan di bagi dijadikan 2 golongan masing-masing berisi 5, dan satu dari padanya sesuai dengan tanda-tanda sa – ba – ta – a – i disebut Kalim-Usada Lelaki, sedang yang satu lagi: na – ma – ci – wa – ya” sebagai Kalim-Usada Perempuan.

Haruslah ditekankan di sini semula tak ada hubungannya dengan kata “lima = 5″, tetapi itu terjadi dari Sangskerta ”Kali­ Maha-Usada”. Kesenangan orang Bali mempermainkan kata-kata dan memisahkannya berakibat keterangan yang ganjil-ganjil, beberapa di antaranya yang mengartikan dengan arti nama Buddha Kecapi:

  • Budha berarti budhi, (idep, bahasa Bali). Kecap artinya “rasa”, perasaan. pi sesuai dengan “pituwi” = benar; Jadi Budha Kecapi berarti, seorang manusia yang benar me­rasakan budhinya.
  • Budha ialah waktu, ketika kita tidur begitulah sesuai Budha waktu bermeditasi, tiap fingsi panca indra terdiam, ”Kaca” artinya perhatian”, pi (kependekan dari “pitara” berarti roh; dalam arti: dalam keadaan tidur kita sama se­bagai dalam keadaan matinya tubuh yang kasar dalam kedua peristiwa itu, atma atau roh harus dijaga.

Usaha-usaha memberi keterangan secara sophistis mencari cari tanpa alasan masuk akal mengenai judul-judul lontar dan istilah-istilah filsafat banyak terdapat di Bali.

Pada umumnya Usada memuat Tutur dan­ mentra-mantra pengobatan, terdapat pujian terhadap lontar itu de­ngan melihat mempergunakannya secara benar dan digandeng­ kan dengan peringatan, jangan mempergunakannya jika orang itu tidak dapat memahami isinya atau jika kepandaiannya belum cukup.

Dalam tutur usada sering kali dijumpai bacaannya merupakan pemberi­an pelajaran oleh seorang guru pada muridnya, seorang bapak pada anaknya atau seorang Dewa (Bhatara) memberi jawaban atas pertanyaan seorang resi.

Diagnose & Ramalan Penyakit Balian Bali

Diagnose balian-balian di Bali tidak terpisah dari prognerse (ramalan, bagaimana akan berakhirnya suatu penyakit), oleh karena penggarapannya harus diperhitungkan pada kemung­kinan-kemungkinan untuk dapat tidaknya disembuhkan. Tak ada se­orang balian yang pintar atau yang bisa menyembuhkan segala penyakit, baik yang melibatkan diri dengan suatu proses pengobatan yang menurut lontar-lontar dipandang sebagai penyakit yang tak dapat tersembuhkan atau tidak boleh disembuhkan.

Kemahiran dalam menetapkan diagnose nyatanya ada perbedaan antara Balian Usada dan Balian Ketakson. Balian Ketakson lebih pada hal-hal yang menyertai adanya penyakit-penyakit yang disebabkan unsur luar diri si pasien misalkan sakit datang dari Bhuta, Dengen, Leak atau ke­kuatan-kekuatan gaib, dan menyesuaikan cara penyembuhannya de­ngan hal-hal magis tersebut. Sementara balian Usada, sebagian be­sar akan hal penyakit-penyakit yang datangnya dari dalam diri si pasien, maka iapun harus secara serius memperhitungkan sesuai yang diajarkan oleh lontar-lontar pengobatan.

Dalam lontar-­lontar yang menyebutkan datangnya suatu penyakit berhubung­an dengan semua hari-hari dalam tahun baik mengenai hari munculnya penyakit itu, hari serta waktu kunjungan kedatangan pasien pada balian, hari lahir pasien, tingkah laku atau keadaan si pasien pada waktu ia memasuki rumah balian, memberi isyarat pada balian.

Misalkan seorang datang pada ba­lian dan bila ia pada waktu memasuki rumahnya sang balian :

  • Mengelus-elus, diagnosenya tanda ia sakit karena Dewa atau Bhuta;
  • Mengusap-usap hidungnya, maka yang menyebabkan ialah suatu kesalahan leluhurnya;
  • Memegang kedua teli­nganya, itu suatu tanda bahwa penyakit itu disebabkan oleh seorang leluhur,
  • Mengusap mulut, itu berarti bahwa suatu janji yang lama belum ditebus yang menyebabkan penyakit (hutang niskala)
  • Memegang dagu, itu adalah suatu tanda bahwa penyakitnya datang dari udara (oleh suatu sihir);
  • Mengusap pipinya, maka itu berarti disebabkan oleh seorang “guru”, yang mungkin berakhir dengan kematian;
  • Memegang punggungnya dengan kedua belah tangannya, ia akan mati,
  • Mengusap kepala, maka ia jatuh sakit disebabkan oleh suara seekor “anjin’g merah berisi noda-noda hitam”,
  • Mengusap lengan, itu berarti bahwa penyakit itu oleh Dewa-dewa dimana ada janji atau hutang yang belum ditepati.
  • Mengusap-usap tangan, itu berarti bahwa penyakitnya datang dari bagian perkarangan ru­mahnya, yaitu karena di sana ada sesuatu sihir di tanam orang;
  • Mengusap perut, penyakit disebabkan oleh seorang manu­sia lain;
  • Mengusap pantat, ia akan segera mati:

Balian itu sebaiknya harus teliti sekali memandang si sakit, dan teliti pula memeriksanya, dan lontar-lontar itu berisi petun­juk-petunjuk dan resep yang amat banyak ketentuannya, se­galanya harus diperhatikan dengan baik; Keadaan umum, usia pasien dan bagaimana si sakit datang ketempat balian, warna, taraf basahnya atau keringnya noda-noda pada kulit, keluarnya penyakit pada kulit, bengkak-bengkak, bisul-bisul dan sebagainya, kulit keluarnya keringat pada bagian yang tertentu sebagai dahi, tengkuk, licin berlengketnya atau belidi bulu tubuhnya. Harus diperhatikan juga : suara, perkata­an dan gersiknya usus.

Sangat penting ialah suhu, yang dilakukan dengan mena­ruh telapak tangan pada tubuh si sakit, perbedaan tentang suhu dari beberapa bagian tubuh, dianggap penting, hal kenaikan dan penurunan suhu. Harus diperhatikan pula laporan-laporan si sakit tentang perasaannya berasa dingin atau berasa panas. Pemeriksaan denyutan urat nadi, begitu pula denyutan pada tangan dan kaki harus dinilai secara cepat.

Penelitian akan kondisi mata si pasien dianggap sama penting dengan denyut darah dipergelangan dan suhu; alis dan bulu ma­ta biasa dalam keadaan berdiri tegak; arahnya simpangsiur, berlengket, pelupuk mata keriput, merah-merahan, bengkak; apakah putihnya mata berwarna pucat, kemerah-merahan, kuning, kebiru-biruan atau abu-abu kehitam-hitaman atau dalam keadaan kotor, mengeluarkan air, nanah dan kotoran (pecehan), atau apalah bagian hitam dari kedua matanya (kulit biang lalah) menjadi pucat (atau luntur), saluran saluran darah yang tampak menjadi kemerah-merahan, biji ma­tanya salah puteran. Warna mata keduanya memberikan pertan­da yang penting tentang suhu dalam tubuh, warna merah dan kuning menunjukkan panas dalam tubuh, warna biru dan abu­-abu dingin dalam tubuh, putih artinya kulit-kulit pada sendi ada yang pucat berhubungan dengan kekurangan panas didalamnya.

Warna dan keadaan kotoran, khusus pada diare, apakah cair sekali, berdarah, benanah atau berisi seperti dahak yang berlengket, sebagai halnya dengan air kencing dalam hal ini khusus diperhatikan seringnya, warnanya dan apakah ada campuran darah dan nanah; jadi tidak dilewatkan dari pe­nyelidikan keadaan-keadaan kotoran dan kencing, muntah-mun­tah, muntahnya keluarnya darah dari beberapa liang-liang tu­buh.

Oleh karena pada gejala-gejala itu sesuai dengan intensitas penyakit yang berbeda, maka nama-nama penyakit luar biasa banyaknya. Tetapi bagi seorang balian hal itu hanya berarti tanda-tanda untuk membeda-bedakan pada bidang diagnose, dan atas dasar tanda-tanda itu balian menetap­kan dengan cara mengkombinasikan suatu diagnose.

Ciri-ciri Datangnya Kematian

Pada permulaan telah tersebut, bahwa adalah penting bagi balian, mengetahui, bahwa penggarapan boleh atau tidak dilangsungkan pengobatan oleh karena sesuatu akan datangnya kematian (Kodrat).

Untuk mengetahui hal ini ada suatu pertanda besar, yang sebagain juga berdasarkan gejala-gejala klinis; sebagian lagi berdasarkan rekanan mystis, sebagian juga berdasarkan ramalan secara gaib.

  • Jika denyut darah si sakit lemah, pada hal penyakitnya ti­daklah berat (tidak parah)
  • Jika orang mendengar gersik dalam usus muda dan usus tua menjelang waktu tidur, terus-menerus kembali-kembali terdengar, sedangkan saluran-saluran darah mata lemak nampaknya dan si sakit berasa ada asap pada wunwunannya (pabahan atau Siwadwara), maka itulah pertanda bahwa menyeringai, maka 10 hari lagi sampai sudah ajalnya;
  • Jika si sakit berasa ada semut-semut ber­jalan dalam badannya. Lagi jika ada ujung lidah ada perasa­an manis yang beberapa kali hilang adanya rasa itu disertai keluamya “air putih” dari kerengkangan, itu berarti si sakit esok harinya akan mati.
  • Jika seorang sakit tiap benda nampak baginya sebagai kem­baran, 5 hari kemudian ia akan mati;
  • Gersik mengalun atau men­desing, dalam telinga sebagai lautan mendesah, tanda 6 hari lagi mati;
  • Jika ada perasaan seolah-olah tempurung kepala retak dua punggung terbelah, lagi 4 harinya ia akan mati,
  • Jika ada bunyi terdengar oleh si sakit seolah-olah ada anjing meng­gonggong dan meraung 3 hari kemudian ia akan mati.
  • Jika bulu-bulu mata dan pelupuk-pelupuk mata tengah tertutup, bulu-bulu alis berdiri rambutnya kele­mak-lemakan, orang demikian pun segera mati.
  • Jika kelihatan keringat bertetesan pada leher seorang sakit, jika berjalan telapak kakinya meninggalkan bekas yang mon­cong, maka perhatikanlah matanya, jika bengkok nampaknya, dan saluran-saluran darah kecil-kecil pada bagian putih mata nampak kekuning-kuningan maka orang yang bersangkutan akan mati sebelum akhir hari ke-10; andai kata ia masih dapat hidup sebulan lagi, setelah sebulan itu ia akan mati, Sanghyang Tunggal sudah tidak kerasan dalam tubuhnya.

Di lain pihak dalam praktik balian Usada le­bih banyak berpedoman pada pandangan sendiri mereka berdasarkan pengalaman-pengalaman. Ciri-ciri dari kematian yang segera akan tiba, dihubungkan secara mistis dengan ajaran Panca Mahabhuta. ”jika orang mengetahui asal mula tubuh itu adalah” pertiwi, air, api, udara, angkasa”, maka orang dapat mempergunakan pengetahuannya untuk meramalkan masih beberapa lama jarak kematian sipasien itu :

  • jika tubuh dicubit tidak terasa sakit maka Dewa (pelindung), daging sudah meninggalkan tubuh dan masuk kembali kepertiwi, lalu orang harus akan mati;
  • jika orang tak mendengar apapun waktu mera­ba dan mengusap-usap tubuh si sakit, maka Dewa, pelindung darah sudah pergi dan kembali ke air orang segera mati
  • jika pada waktu menekan mata si sakit yang tertutup, tidak ada dilihat kesan cahaya, mata Dewa pelindung mata telah pergi dan kem­bali kepada api – orang itu segera mati;
  • Jika orang tak merasa sakit waktu digigit lidahnya, maka Dewa pelindung lidah (suwara) sudah kembali ke udara dan orang itu segera mati;
  • Jika orang me­lihat bayangannya sendiri dalam air dan bila seluruh sosok tu­buhnya nampak berubah, maka itu berarti : Dewa tubuhnya sudah hilang dan kembali kepada angkasa, kematian segera akan datang;
  • Jika orang melihat bayangan dalam air tetap tak ber­ubah, maka orang tak usah takut, ciri-ciri itu disebut Sanghyang Panca Sarira, Si sakit sendiripun dapat pula mendapat tahu tentang keadaannya atau mengajar diri sendiri; Jika orang ingin mengetahui, apakah dekat hari matinya maka ia harus berada waktu tengah malam di pekarangannya; yang harus menutup kedua liang telinganya dan mendengarkan pada suara yang berbunyi dalam kepalanya jika ia mendengar suara “tog – tog – tog – gor – sok” maka artinya Dewa pelindung rambut me­nangis dan lagi 4 harinya ia akan mati, jika bunyi gersik gersik terdengar sebagai suara, maka Dewa wunwunan menangis, lagi 2 harinya mati, jika orang mendengar bunyi genta, itu berarti bahwa Dewa pelindung otak menangis, orang esok harinya akan mati, jika segala sesuatunya hening (sunyi) dan orang tak men­dengar suara apapun itu berarti Sang Hyang Pramana (hidup orang) sudah bersembunyi, dan pada tiap waktu orang bisa mati”.
  • Jika orang ingin tahu pada bulan mana orang akan mati, maka ia harus pada tengah hari berada di pekarangan rumahnya dan memandang langit selama 1/4 jam; jika orang melihat, sesuatu benda hitam yang besarnya sebagai roda kereta (dokar) yang seolah-olah bergantung di awang-awang pada jarak empat depa, itu berarti orang lagi 4 bulan akan mati, jika jaraknya tiga depa, lagi 3 bulan, jika dua depa Iagi 2 bulan, satu depa lagi 1 bulan, jika jaraknya lebih kecil maka orang hanya 5 hari tinggal hidup; jika benda yang nampak itu hampir menyentuh tubuh orang itu, maka ia tiap atau sewaktu-waktu akan mati. Jika ia tidak melihat apa-apa, maka orang tak usah takut akan kehilangan jiwa.

Cara Pengobatan Balian Usada di Bali

Orang Bali mempunyai dua istilah untuk kata obat, yaitu “Serana” dan “tamba“. Serana bukanlah obat, tetapi ia hanya merupakan suatu perantara untuk kekuatan yang menyembuhkan, suatu upaya untuk menghubungkan kekuatan penyembuhan dengan penyebab penyakit dalam tubuh atau merangsang masuknya kekuatan itu. Setelah sang balian menggunakan atau memasuk­kan serana itu pada kekuatan penyembuh, maka ia disebut “tamba” atau ubad.

Selanjutnya di bawah akan disebutkan segala obat dan me­tode penggarapan yang dapat dipakai sebagai serana, yang harus dipergunakan oleh seorang Balian, untuk memberi kekuatan gaib. Umpamanya seorang balian mengurut seorang sakit, sambil bermantra, maka per­buatan mengurut itu adalah Serana upaya menghubungkan si sakit dengan mantra itu. Jadi pasien dapat memahami, bahwa mantra itu bagi sang balian adalah sesuatu syarat mutlak, jika ia ingin mengandalkan suatu obat, sedangkan sesuai dengan tersebut di atas tadi, untuk se­gala penyakit ditunjukkan ada obatnya, malahan untuk penya­kit-penyakit yang dilarang pun ia menggarapnya.

Kebanyakan penyembuhan yang bersifat magis atau penyakit karena hal gaib, dalam penyembuhannya memerlukan sesajen atau bebantenan untuk mendapat restu dari pa­ra Dewa, mendapat bantuan dari Sesuhunan atau bantuan dari sosok gaib yang membantu si Balian, disamping penggunaan dari yang ber­bentuk mantra, jimat, rerajahan, pekakas yang berisi gambar gaib atau lukisan dari penyakit-penyakit yang diberi bentuk tertentu agar dapat menakut-nakuti penyakit itu untuk menghalau keluar.

Penggunaan api dalam tubuh dan air hidup ( Amerta Kundalini) selanjutnya me­mainkan peranan amat penting. Api yang berada dalam tubuh dapat membakar segala sesuatu yang negatif, yang kotor dan segala penyakit, jika orang dapat mempergunakan­nya dengan baik.

Orang yang mahir dalam hal itu dapat memper­tahankan tubuhnya agar tetap suci dan bebas dari penyakit-­penyakit, suatu pendapat yang menuju kesimpulan, bahwa se­orang pendeta, pedanda harus menolong diri sendiri dengan akal budinya sendiri, tak ada obat lain dari pada kekuatan yang dimiliki olehnya yaitu “bayu-wisesa,” dan disebut “manah-budi-Cit­ta”. Untuk mencapai kemahiran itu, orang harus mengenal betul ajaran-ajaran mencapai Sidhi yang merupakan salah satu hasil dari melaksanakan Tapa Yoga, pengetahuan inilah menye­babkan orang mengetahui atau mengalami tempat kedudukan api dalam tubuh itu. Api itu dapat juga dikeluarkan dari tubuhnya dan dimasuk­kannya ke dalam tubuh orang lain atau dapat juga dibangkitkan api dalam tubuh si pasien dimanfaatkan sebagai penyembuhan.

Dilain sisi pada waktu pemindahan api itu orang juga dapat mempergunakan air; dan dalam hal ini air dapat dianggap berfungsi sebagai serana. Jika orang bertujuan menghilangkan penyakit maka balian memantrai air agar dapat menjadi “penawar”. Sebelum membuat penawar itu, tak jarang seorang Balian memanfaatkan api dalam tubuh di pasien dan mengeluarkan api dari tubuhnya si sakit dengan membayangkan bahwa api itu keluar ( misalkan dari tulang, hati, pusar, kerongkongan , mata, kaki, tangan, dsb) kemudian masuk ke dalam air yang telah disediakan (toya penawar).

Balian juga sering memakai sarana tertulis di atas air yang telah lama tersimpan. Air demikian diandalkan lebih besar mempunyai kekuatan gaib dari pada air yang baru dibuat, sama halnya dengan obat dan garam, yang lama tersim­pan. Air itu sering kali dimantrai atau dalam air itu ditaruh benda-benda gaib: umpa­manya kertas kecil-kecil yang bergambar lukisan gaib, atau gambaran itu dilukiskan pada cangkir atau kendi untuk minum.

Berikut beberapa contoh penggunaan mantra dalam pengobatan:

  • Obat untuk menghilangkan “mala” air dengan aksara “ang
  • Obat untuk melawan batuk kering dan muntah darah dan keluar nanah; air dengan mentra: Aung taya iya, Augn taya a i, ya ta a i aung
  • Obat untuk memperkuat kekuatan si sakit (babayon) : Ong Ang Ah Ah Ang Ong
  • Obat untuk melawan panas dengan pilek: Ong Ah lh Ah Ong
  • Obat untuk kelemahan (di ucapkan seraya menahan nafas), ma: Ong Ang Ah
  • Obat untuk memperkuat darah-darah: Ong Ah Ang, Ang Ah Ung
  • Obat untuk melawan keracunan : ma : ah Ih, lh Ah
  • Dan sebagainya.

Seorang balian yang ahli harus mengetahui tentang ajaran tubuh manusia sebagai mikrokosmos (bhuwana alit) segala sesuatu yang berlangsung atau terjadi, di luar tubuh manusia, ada analogisnya yang tak terlihat di dalam bhuwana alit, di mana sang balian dan penye­bab penya­kit, bertempur satu sama lain; ia (sang balian) sebaiknya dapat membayangkan (melakukan) “bila obat dan penyakit bertemu dalam pertempuran, bahwa barang siapa, membuat obat itu ber­kedudukan pada ujung lidah, barang siapa membuat penyakit itu berkedudukan pada dasar lidah dan bahwa keduanya meme­gang dan meminum obat itu; ia harus membuat seolah-olah si sakit berkedudukan pada dasar lidah, sang balian pada ujung lidah, jika ia mengucapkan mentranya, maka ia mengeluarkan Mrta dan memasukkannya dalam obat, kemudian ia sebaliknya memberikannya pada si sakit untuk diminum”.

Jenis & Bahan Obat-obatan Bali

Penggolongan segala tumbuh-tumbuhan menjadi 3 golongan yaitu : panas, dingin, panas dingin atau suam-suam kuku. Penataan adalah menurut kegunaan atau sifat-sifat cairan yang ada dalam tumbuh-bumbuhan itu, yang melekat dan sekaligus berwarna bening, putih, wama sawo, merah, orangnya, kuning, hijau, biru a tau cair tip is dan kemudian tiap warn a dari pu tih sampai kehitam dan campuran dari tiap warna dengan warna yang lain.
Tentang penggolongan tumbuh-tumbuhan obat-obatan itu, soal biasa bagi kebanyakan balian-balian, mereka menggolongkan sesuai dengan ketiga golongan penyakit-penyakit: panas, dingin, panas-­dingin. Untuk dapat menimbang dalam golongan mana suatu tumbuh-tumbuhan harus dimasukkan, mereka memperhatikan bunganya;

  • jika tak ada bunga buahnya, lalu bau dan rasa kayu­nya (bukan kayunya). Jika bunga dari fumbuhan itu putih, kuning atau hijau, maka ia tergolong panas;
  • jika bunganya me­rah atau biru, dingin;
  • jika bayak Wamanya panas + dingin (dumalada).
  • Jika rasanya manis atau asam, tumbuh-tumbuhan itu adalah panas;
  • pahit atau tajam adalah dingin.

Oleh karena banyak ada penyakit yang menyebabkan keadaan suhu berbeda pada bebera­pa bagian badan sisakit, umpama pada bagian A panas dan pada bagian B dingin maka sesuai dengan keadaan dipergu­nakan obat-obat yang berlawanan dengan keadaan tiap bagian. Jadi orang berbuat demikian umpamanya jika ada “dingin di dalam” di samping panas di luar.

Pada waktu menilai bahan obat-obatan sesuai dengan rasa­ nya, orang memperhitungkan bahwa obat itu jika dipakai dalam perut, mungkin akan mempunyai rasa lain dari pada waktu di dalam mulut. Sesuatu yang pahit di mulut adalah manis di da­lam perut. Hampir segala obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan yang mempunyai rasa memualkan atau tak enak menimbulkan di dalam perut suatu akibat pendinginan, kadang-kadang panas dingin dan jarang panas; apa yang pahit rasanya kebanyakan mendinginkan, yang manis, asam atau tajam menimbulkan pa­nas di dalam perut (sama halnya dengan bahan-bahan makanan).

Banyak balian berpendapat, bahwa tiap tumbuh-tumbuh­an mempunyai ketiga sifat, panas, dingin, panas-dingin, dan bagian-bagian yang berlainnan dalam susunannya, ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa sifat-sifat itu hanya terdapat pada beberapa tumbuh-tumbuhan saja.

Di antara bahan-bahan obat dari mineral hanya besi dan baja disebutkan dalam literatur; tetapi besi dan baja itu tidak dipakai untuk diminum, jadi bukan obat dalam, tidak pula untuk obat luar, keduanya hanya dipakai dalam bentuk pot, tempat untuk membuat obat di dalamnya; mereka tidak ber­tujuan melarutkan suatu bagian dari besi itu, tetapi bermaksud agar kekuatan gaib dari besi atau baja itu dialihkan ke dalam obat yang dibuat di dalamnya. Begitu pula halnya dengan benda pipih dari perak dan kuningan yang ditaruh di dalam air yang akan diberi minum pada si sakit; dapat diduga bahwa benda-benda itu digambari dengan gambaran gaib.

Sebagai obat dalam dan obat luar dipakai air rasa atau air raksa. Welirang dan gabungan-gabungan berisi welirang, bubuk hitam, batu bata, kapur, arang, garam, jelaga, cuka, batu timbul (bahasa Bali = batu kembong) dan salpeter, kuprisulfat kedua­nya zat garam, dan zat besi.
Rasa (air raksa) yang berupa besi-besian digosok dengan minyak dan dipakai sebagai obat dalam belirang ditumbuk menjadi bubuk dipakai sebagai obat luar, juga dihirup sebagai asap, sedangkan mata air, yang airnya mengandung belirang sering didatangi orang sebagai pengobatan.

Di antara mineral-mineral lain, yang banyak resep-resep disebut untuk dipakai untuk menempur penyakit yang sangat berbeda-beda pantas istimewa disebut yaitu: “batu merah”, batu-bata, yang dianggap bemilai tinggi, jika ada seekor anjing sebelum membakarnya berjalan di atasnya pada waktu bahan obat itu masih lembut, dan masih bekas jejak kakinya terdapat padanya; dia juga dicampurkan berupa bubuk dengan obat­-obatan lain begitu pula orang memakai batu timbul, yang me­lainkan sebagai imbuhan pada obat-obatan lain kerap kali di­pakai sebagai bagian pada racun, agar akibatnya lebih hebat. Batu-batu yang lain, sepanjang pengetahuan tidaklah diperguna­kan.

Dalam soal garam ada dibuat perbedaan oleh orang Bali antara garam putih, garam hitam (dicampur dengan arang), garam yang lama telah disimpan (dari itu mempunyai kekuatan gaib), garam uku atau garam sinta itu adalah garam yang mele­kat pada batu-batu karang kecil atau batu-batu biasa yang di­hanyutkan ke pantai oleh laut; Juga disebut-sebut “garam Be­ngali” yaitu gurun datangnya dari Bengali.

Di antara bahan-bahan obat datangnya dari hewan disebut dalam lontar, daging dari beberapa hewan, kemudian lemak (sering sekali kaki), tulang dan kulit kerbau dan sapi, telur ayam, itik (bebek), gagak dan lipas kotoran anjing, babi, kambing dan kelelawar, kotoran kerbau dan babi, tai dan cacing (bahasa Bali Jelati), tanah liat dari sarang semut, tempat me­ngeram dari kerawi (kalisasoan) madu, darah badak (wadak) darah tenggiling (kelesih) tan­duk menjangan, lidah manusia, air mata, kotoran (tai) dan ken­cing.

Dari Tai manusia diambil ujungnya (muncuk­ne) dicampur dengan obat, lalu diberi pada si sakit tetapi si sakit tidak boleh mengetahui hal itu, Tai anjing dianggap sangat manjur, jika si anjing kebetulan berak di atas sebatang kayu, hal mana amat jarang terjadi, kayu bersama tai itu dibakar, lalu dipakai obat.

Susu seorang ibu dipakai mengobati penyakit mata anak, dan juga air kencing sendiri sering sebagai obat yang mudah dilakukan.

Bahan obat-obatan hewani, sering dipakai dalam bentuk ludah me­rah (bahasa Bali “duh bang”, duh = kuah, yoh, pohes, bang = merah; rakyat bilang.: “pehes gedubang” karena tak mengerti) artinya ludah yang berwarna merah karena ma­kan sirih, dipakai tanpa campuran atau sebagai imbuhan pada obat-obat yang bermacam-macam untuk diurapkan, mengurut dan menyemur.

Suatu bentuk tertentu dari air ludah biasa di­pergunakan dan diminum setelah sang balian memasukkannya dalam bentuk ”Mrta” ke dalam air, yang kemudian diminum oleh si sakit. Bahwa ludah dari orang baru bangun pada pagi hari, jadi sebelum makan atau minum. Memang sering dipergunakan ludah yang diambil dari ujung lidah sebelah bawah untuk mengurut bagian tubuh yang sakit atau pasien-pasien atau; arti perbuatan itu ialah pemindah­an kekuatan gaib dari pada ludah itu justru dari tempat itu, oleh karena tempat itu adalah kedudukan beberapa dewa-dewa di dalam tubuh manusia.

Ludah itu sering di oleskan (colekan) di dahi yaitu di antara kening-kening untuk me­nguarkan kekuatan dalam tubuh.
Beberapa balian melakukan suatu percobaan dengan ludah, sebelum menerima pengobatan seorang pasien. Mereka mulai mengunyah sirih dengan gabungannya tetapi tanpa tembakau yang umum disertakan, lalu diludahkan air ku­nyahan itu, untuk membuktikan bahwa ludah itu benar-benar merah lalu sirih kunyahan itu dikeluarkan dari mulutnya dan si sakit disuruh mengunyah dan pasien itu juga ha­rus meludah di atas tanah. Jika wama ludah si sakit itu tidak merah maka sang balian tidak mau mengobatinya.

Dalam lontar “Basma Tiga” (corak tiga), ada lebih lanjut diuraikan tentang penggunaan ludah merah itu. Menurut lontar maksud penggunaannya ialah sebagai perlindungan dan penyembuhan penyakit, oleh karena basma dari ludah merah ada dalam lambang Bhatara Brahma. Orang harus meyakini itu di dalam pikirannya”. Kemudian orang mengantarkan dia ke lekuk jantung, ke dahi, ke bahu kanan dan kiri. Syaratnya adalah orang harus percaya kepada pengobatannya atau peng­garapannya. Tempat-tempat pada tubuh, yang pertama-tama di­beri corak / basma, berganti-ganti dalam urutannya, sesuai dengan aksa­ra-aksara, yang dipergunakan dalam pikirannya agar dapat memasukkan kekuatannya ke dalam badan si sakit, jika tepat caranya menggunakan, maka kegunaannya adalah se­bagai berikut :

  • Basma pada dahi : Jika ada seorang-orang bertingkah-laku buruk pada waktu anak-anak tidak taat pada mertua lagi, pernah membunuh seorang Brahmana, seorang muda, se­orang sarjana, merusak sebuah pura, membunuh sapi, men­curi perhiasan di pura, makanan­ makanan yang terlarang, mengingkari adanya Dewa-dewa, maka kejahatan-kejahatan ini hilanglah.
  • Basma di atas jantung, jika seorang-orang dulu berharap agar memiliki kepunyaan orang lain tidak mempunyai ke­hidupan yang tak bemoda, telah menyebabkan sakitnya se­orang wanita akibat tindakan pemerkosaan (sex), telah membunuh bayi dalam kandungan, menggugurkan kandungan, memotong sebuah titi, telah membunuh se­orang hamil, seorang yang tak bersalah, telah merusak suatu bendungan, ini semua dapat dihilangkan oleh tetes pada jan­tung itu.
  • Basma pada kedua bahu: Jika orang dulu telah hidup secara temoda, mencuri milik Dewa, membakar rumah, telah mengganggu suatu pertapa, merusak sebuah meru, pada umumnya tingkah laku jahat, itu segalanya dapat dihilangkan dengan kekuatan tiga tetes itu.

Menurut interprestasi lain basma itu adalah suatu campuran dari : beberapa butir beras, larutan cendana dan ludah (setelah makan sirih; campuran ini dipakai sebagai sarana agar suatu mentra menjadi kuat).

Pengobatan secara psychis dilakukan secara mensugestikan kesembuhan, sebagai diuraikan dalam lontar “Sasirep atangi” mempembicaraan berdasarkan pandangan umum yang rapi, dihubungkan dengan bagian “microskosmos (Bhuwana Alit) halaman 240.

Lepas dari apa yang telah dilakukan oleh Balian lung (patah pada tulang) dan perbuatan mengurut dan memijat, orang Bali tidak kenal dengan metode pengobatan secara ahli bedah, orang Bali sangat takut mempergunakan pisau itu sebab instrumen-­instrumen demikian sampai waktu belakangan ini tidak diper­gunakan. Di beberapa tempat orang mempergunakan pecahan botol-botol jadi beling untuk membuka bengkak-bengkak bernanah, tetapi itupun tidak sering dilakukan. Kadang-kadang dipergunakan duri-duri besar atau orang melekatkan bubuk dari gelas atau tembikar, yang mengakibatkan cepat masaknya dan meletusnya bengkak­-bengkak bernanah.

Untuk menggores kulit pada infeksi atau bengkak bernanah yang letaknya agak dalam dipergunakan duri daun jenis pandan. Perbuatan itu kebanyakan dilakukan sebagai persiapan pada pembuangan darah atau penyedot dengan botol atau mangkuk. Untuk tujuan itu dipergunakan sebuah botol yang tadinya dipanasi dan mulut botol itu lalu ditekankan pada luka yang harus digarap, sehingga karena kembali dingin­nya botol itu menimbulkan vacum (hampa udara) dan itu lalu berfungsi sebagai penyedot darah; juga dipergunakan pipa dari bambu untuk menyedot darah.

Penggunaan tangkai bunga tun­jung yang kelompang, (bahasa Bali: bolong puyung ditengahne, tihing, buluh), Guga tangkai dari “jarak pageh” Jatropha Curcas dan Paderia Factida) sebagai perpanjangan dari pompa dan se­bagai pipa khusus (pipa khusus: pipa yang dipakai untuk mem­bersihkan usus pada manusia hidup ). Mungkin ini adalah (peng­ ganti) kateter (kateter = instrumen kedokteran berupa saluran dari karet atau baja, untuk dimasukkan, umpama, ke dalam sa­luran kemaluan orang laki jika ia tidak bisa kencing sendiri, karena suatu penyakit). Bahwa suatu saluran dari bambu yang kecil sebangsa dengan keteter, sebagai tersebut dalam literatur, tak dapat dibayangkan oleh orang sehat. Balian-Balian mem­pergunakan tangkai tersebut sebagai lazim pada pengkateteran, tetapi hanya untuk memasukkan obat ke dalam saluran ken­cing.

Selanjutnya dikenal juga adanya instrumen yang mirip de­ngan pompa dari bambu dibuat yang dipakai pompa pembersih­an usus. Tetapi pada umumnya penggunaan sepotong saluran dari bambu, yang dilengkapi dengan bagian pemanjang yang ditempatkan demikian rupa, sehingga saluran membentuk suatu sudut siku-siku; bagian pemanjang yang kecil dimasukkan ke dalam dubur, pada mana si sakit harus berada dalam air yang mengalir. Air yang mengalir melalui saluran air itu, yang sering dibantu dengan air pemom­pa ke dalam usus, masuk ke dalam usus bagian akhir, hal ini dikenal untuk pembersihan usus.

Bersambung ke : Bahan Obat-obatan untuk berbagai penyakit dalam Usada.



Sumber:
Terjemahan dan Kajian Usada
I. Gst. Bgs. Sudiasta & I Ketut Suwidja

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Tahun 1991/ 1992

Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT