Bahan Obat-Obatan Untuk Penyembuhan Dalam Usada Bali


Usaha menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya daerah Bali yang tertuang dalam naskah pustaka lontar, dalam mewujudkan pelestarian warisan leluhur mempunyai nilai pengobatan/kesehatan. Isi lontar tentang pengetahuan penyembuhan dibagi menjadi dua bagian yaitu “Usada” (peraturan-peraturan, resep-resep dan obat-obatan) dan “Tutur” (ajaran-ajaran dan tafsiran). Perhitungan waktu dalam peramalan suatu penyakit dan penyembuhan tidak didasarkan pada ilmu Falaq; para balian (dukun) menggunakan “oton” yakni suatu jangka waktu yang terdiri dari 210 hari. (Baca selengkapnya tentang cara pengobatan Balian Usada Bali).

Berikut dibawah ini adalah jenis obat-obatan untuk suatu penyakit :

Tidak mempunyai nafsu makan

Apabila seseorang tiada mempunyai nafsu makan, ada­pun cara pengobatannya, kunyit warangan satu takaran, dicam­pur dengan satu takaran daun sembung, adas padas, kemudian dadah secukupnya; lalu pergunakan mengobati.
Ada juga cara lain sarana pengobatannya, yaitu: akar pohon pulai dicampur dengan sulaket harurn, miana hitam, kelapa yang telah dibakar, kemudian bungkus dengan dalin pisang lalu panggang diatas api. Setelah masak selanjutnya diperas, dan air yang keluar dari hasil perasan tersebut berikan minum kepa­da si sakit.

Ada pula cara yang lain untuk pengobatan bagi · sese­orang yang tiada mempunyai nafsu makan, yaitu lempuyang yang telah ditumbuk dengan membuang semua bangketnya lalu dicampur denga!1 isin ireng kemudian peras dan air yang keluar lb dari hasil perasan iju diberikan minum kepada si pende­rita.

1. Penawar untuk kepala pusing

Untuk mengobati kepala pusing dengan mengucapkan mantramny.a sebagai berikut: “OM Ki Taruna Talu, teka campah, cabar 3, tawar 3 sing sarana wenang”. “OM Bakat pikat madi ya”, tawar 3. “OM kang anambanin laran ta waras 3“.
Obat untuk kepala pusing, sarana penyembuhannya, ialah : bunga kamboja campur dengan kemenyan, bawang, kerikan dari kayu candana, ketumbar, lalu pergunakan menyembur.

2. Obat Sakit Panas

A. Panas serta gelisah: puncak nasi aruan sebanyak sejumput, gula aren, air santan yang telah mendidih, mabejek, berikanlah kepada si akit untuk dimakannya. Sedangkan obat minumriya, segenggam. beras, diisi air lalu asabin sepotong kelapa, air dari campur􀀡 ketiganya itu berikan minum kepada si sakit. Untuk menutupi lobang pantatnya, yaitu l1mpoyang, jeruk,. diisi mi­nyak kelapa (Bali: lengis tanusan) kemudian dibungkus dengan daun pisang, lalu dibakar hingga betul-betul masak.

B. Obat untuk sakit panas : isin rong 7 macam ubi-ubian, kulit pohon jiwat, kulit pohon kusam­bi yang muda. Adapun perbandingan campurannya yaitu, kulit dari kedua kayu itu 2/5 dan isin rong 3/5. Obat itulah perguna­J5b kan mendedaki si sakit 3 kali pada waktu siang hari dan 3 kali pada waktu dimalam hari.

C. Obat untuk sakit panas-dingin : sarana pengobatan bagi orang menderita sakit panas􀀷ingin yaitu: lengkuawas, ketum­bar, empelas hari, lalu dadah, kemudian bedakkan kepada si sakit.

D. Panas, gelisah dan pakenyadnyed : Penyakit ini juga disebut penyakit tuju-gni. Adapun sarana pengobatannya bleng lada, air limau purut, datah dengan mempergunakan tempurung kelapa, kemudian urapi seluruh badan si sakit. Setelah diurapi, untuk membuat obat semburnya yaitu: kulit pohon limau, air tawar, lalu pergunakan penyembur si penderita.

E. Badan panas, gelisah dan ingin muntah : Daun ampelas-hari yang telah tua dicampur dengan garam. Apabila disertai mengigau, penyakit ini juga disebut Tiwang Grenang Adapun sarana pengobatannya ialah: akar pohon gelenggang besar, unteng bawang, adas-pedas dan air santan yang telah mendidih. Untuk bedaknya, temu-lawak, kumbek, empelas-hari ketumbar, musi, kelapa yang telah dibakar dan air anis.

F. Panas dingin disertai dengan perut bengkak. Penyakit ini disebut Tuju Emba-emba, untuk membuat obat minumnya, yaitu: kumbek, kelapa, lempoyang dan air pohon derdaru masab. Disamping itu perlu juga menyembur hulu hatinya de- ngan kulit pohon jeruk terong matambus lepah. air cuka yang telah bertahun-tahun disimpan. Sedangkan bedaknya kerikan kayu derdaru, tampar wantu, ketumbar dan musi.

G. Badan panas ngiyap dan maluwang. Apabila badan panas ngiyap disertai dengan mata molo­tot, penyakit ini juga disebut Tuju Sungsang Baru, adapun sarana pengobatannya, yaitu: temu-lawak, temu-tis, kulit kayu kenangci, lengkuas 7 iris, ketumbar, musi, st:pet-sepet, bebolong. Kesemuanya bahan􀀖bahan itu untuk membedaki si sakit. Kesemuanya bahan-bahan itu untuk membedaki si sakit.
Jika badannya panas mesawang enek maluwang dan le­su, penyakit ini juga disebut Tuju Gragrut. Adapun sarana pe­ngobatannya yaitu: pohon menumpang yang ada dipohon kapas akar pohon jambu putih,.bawang, adas-adas, garam uku, dicam­pur dengan jeruk, lalu pergunakan mengobatinya. Juga perutnya J 7b harus disembur dengan pempuyang, Jada 3 biji, cekur dan musi.

H. Badan panas gelisah dan mata melotot. Penyakit ini juga disebut Tiwang Sanganngan. Adapun sarana pengobatannya yaitu: kulit pohon kepuh (Latin: Bomba mabaricum (D.C.), ubi pohon paspasan (Latin; Cocinia cordi­polia Coga), dan air limau. Dan untuk membuat bedaknya, ialah: kulit pohon serai, kulit pohon timbul, daun nangka yang menghadap keatas pada waktu jatuh dari atas -pohonnya, ba­wang putih dibagian bawahnya, lengkuwas kapur, cekur, ketum­bar, musi medadah dicarnpur dengan beberapa tetes minyak kelapa (lengis tanusan).

I. Panas dingin, kepala sakit dan sering pingsan. Apabila menderita penyakit panas dingin, badan meng­gigil, kepala sakit dan sering tiada sadarkan diri, penyakit ini disebut Tiwang Limuh. Untuk membedaki orang yang men­derita penyakit sebagai tersebut diatas, yaitu rumput yang ber­wama biru, ketumbar, dagi.ng kumbek, adas pedas dan katan gajih. Sedangkan obat yang harus disimpannya yaitu daun sembung, ujung pohon pulai, bawang metambus, adas pedas dan beras. Berikanlah minum bangkat-nya kepada si penderi­ta. Kemudian ampas dari ramuan tersebut, pergunakanlah un­tuk menyembur pangkal paha dan tulang belakang si sakit. Kemudian kakinya, bedakilah dengan ramuan serba yang ha­ngat.
Jika tangan, pundak dan jari-hari merasa semutan melu­wang, dan pakadutdut, penyakit ini juga disebut Tiwang dangap, Adapun bahan-bahan bedak untuk menyembuhkan pe­nyakit tersebut, yaitu: jahe pahit, bakau tinggi, lada I biji. Sedangkan untuk dasamya, yaitu paci-paci (Latin: Leucas linife­lia Spr) yang tumbuh ditengah-tengah tanah tegalan dan dimya, ialah air limau.

J. Bayi sakit panas dan tunggah. Jika seorang bayi menderita sakit panas dan tunggah, penyakit ini disebut juga Sawan Terahos. Kalau penyakitnya itu disertai dengan perut omber untuk menyembuh­kannya iaiah : daun sirih yang masih muda, daun tenggulun, daging jambe, pala, Iada, sari lungid. Setelah menjadi hancur, ulet, campur dengan garam (sedikit saja), lalu sembur hulu-hati dan pusarnya, Lalu dilanjutkan dengan pengucapan mantram yang isinya sebagai berikut : “OM Sang Kebo Wora kita, Sang Kebo Lawang-kudong, metua kita mangke, aja sira mangiaranin di joro weteng,. manawa rauh Batara Brahma, Batara Wisnu, wastu pun kita pada rop sirop, muksah ilang manarawang, biar apadang, waras, sidi mantranku“.

Apabila bayi sakit panasnya mem­bara, penyakit ini disebut sawan Malik. Untuk menyembuhkan penyakit tersebut iaiah : daun mina sebanyak 2 helai, air bersih, air limau, pala, derdaru yang kesemuanya telah maasab dan miarna yang teiah mebojok. Kemudian setelah disaring berikanlah minum kepada si bayi disertai dengan mantram yang isinya sebagia berikut : “OM Iara ingisap ing buana’, buana angisap ing paring Iara, teka 49a waras. Om Sanghyang Ibu Pritiwi metu maha mrata ya riamah Siwaya, waras 3, singlor“.

3. Uluhati merasa sakit

Apabila di uluhati merasa sakit dan pusar merasa seperti terputus-putus, serta magilohan, penyakit ini juga disebut Ti­JBb wangyu/ung. Adapun sarana pengobatannya, yaitu : kotoran subatah, injin 21 biji, bawang putih, air idu yang ber­warna merah dan jeruk, kemudian tutup pusarnya.
Disamping itu harus sembur ulu-hatinya dengan kulit pohon sentul, daun awar-awar (Latin: Ficus leucantatoma Peir), sentok,. lempoyang, cekur, tampar wantu, ketumbar. krawat, jerangau dan lada 3 biji.

4. Seluruh tubuh merasa meluwang dan merasa tiada bertenaga.

Penyakit ini juga disebut Tiwang Jejaringan. Adapun sarana pengobatannya, yaitu: kulit pohon pulai, daun kangkang yuyu, dicampur daun batik adap, kulit pohon wangkal (Latin: Albia prozzia Bonth), ketumbar, muat dan ginten hitam. Itu kesemuanya adalah alat untuk membedaki si penderita. Sedangkan untuk obat minumnya ialah daun pohon miana (Latin: Celcus scutellarioi dos Bonth) kunyit warangan, ari pohon derdaru masab, dicampur dengan beberapa tetes air limau dan minyak kelapa (lengis tanusan).

5. Seluruh tubuh terasa kaku dan tidak dapat berbalik

Penyakit ini juga disebut Tiwang Garba. Sarana pengo­batannya, buatkanlah bedak dengan kayu menumpang, daun benanga, altar lempoyang, ubi pohon balcung padi pulut gajih, bawang putih. Sedangkan untuk obat minurrmya, ialah ujung daun tenggulun 3 helai, daun dari kapas tawun, bawang dan adas pedas.

6. Perut bengkak hingga tiada dapat digerakkan

Adapun serana pengobatan bagi orang yang menderita penyakit di perut hingga membengkak dan jangkeh yaitu: kunyit warangan bawang putih, jerangau, asam yang telah lama dalam penyimpanan,daun. sunti 1 helai, disertai dengan rajah Badawang, lalu sembur dengan daun sunti, kemudian tampel penyakit si penderita tersebut.

7. Perut kembung hingga tidak dapat ber­gerak, dan gelisah

Penyakit ini juga disebut Tuju Ubel-ubel. Serana pengobatannya, ialah: kapanggian guru, kerikan kelapa gading yang telah dibakar, bawang, adas pedas. Kesemuanya bahan-bahan tersebut dihancurkan (ulig) kemudian terapkan pengobatannya kepada si sakit. Ada pula cara yang lain yaitu: kulit pohon dapdap tis, (Latin: Erythrina eno diphyla Hasak), dan kotoran yang melekat pada cabang atau pohonnya (Lublub), bawang, adas pedas, garam yang telah ber­campur arang, lalu pergunakan untuk mengobatinya.

8. Babayon ( memulihkan tenaga)

Matram babayon: “Bayu teka prarnana manjing Sanghyang Ayu, angadog Sanghyang Taya, cog Hyang Dewa asih, manusa asih angulihaken atmane si anu, mulih amo­peking sarwa sandine si anu, rnulih sarwa buku, mulih pepek pagoh, langgeng tunggeng enjeg Hyang teka manusa sih, Dewa sih, rnalih urip waras 3x “.
Sedangkan serananya, mesui (Latin: Mawia orarnatica Becc), engkahin tiga kali ubun-ubun kepalanya.

9. Nafas Sesak dan Batuk Berkepanjangan

Penyakit yang disebut penyakit napas sesak (dekah) dan batuk yang berkepanjangan (ngelkel), berikanlah minum obat yang dibuat dari kulit akar kemuning, kulit akar basa-basa, kulit akar pohon tektek, kunyit warangan (Latin: Curcumalonga L) yang bagian paling di tengah sebanyak 6 iris, musi, babeleng masing-masing 11 biji, 3 helai kapkap buhung, garam, asam. Setelah ditumbuk, zat-zat airnya dipanaskan dengan sebuah celebingkah yang telah dimasukkan ke dalam bara.

Semburlah pangkal lehernya dan pertengahan dadanya dengan daun sirih yang telah tua, ketumbar, musi, babeleng, untong kunir, lampoyang dan krawas.
Juga pertengahan dari pundaknya semburlah dengan kulit pohon kelor mungi disertai cekur , lempoyang, kunir, banglai, babelong, tampar hantu, pala dan sintok.

Sedangkan hulu hatinya semburlah dengan kulit pohon kelor, pala, sintok, masuwi (Latin: Mawia oramatica Becc), tampar hantu, cekur, banglai, lempoyang, campur garam dan daun limau kasturi.

Apabila si sakit tiada sembuh penyakitnya, berikanlah minum obat yang dibuat dari bilak, belingbing besi, keduanya beserta kulit pohonnya, serta dicampur dengan pulai, bangiang, limau, ketiga-tiganya secukupnya, konci, kunir beserta induknya (Bali: Inania), keduanya masing-masing 5 iris, untong isen kapur 3 potong, musi, b􀀏bolong;, masing­masing 7 biji, bawang putih, jerangau yang diambil pertengah­an. Kemudian setelah dihancurkan (Bali: Mecakcak) bangketo diisi air limau yang diperas, .garam yang bercampur dengan arang (Bali: uyah areng) lalu dadah selama aluwaban. Disertai juga menyembur dadanya dengan daun jajar tanah, daun pohon jambu ayer hutan, bawang dan beras. Perlu juga sembur hulu hatinya dengan limau kasturi secukupnya, banglai, sintok, pala, ujung dari ·pohon tenggulun, musi dan babolong.

Matram obat untuk sakit napas sesak : “OM AM UM MAM OM OM MAM, getih putih mati, ajur dadi upas putih, lebur punah 3, OM AM getih abang mati, lebur ajur dadi getih abang, lebur punah 3, OM OM getih kuning mati, ajur dadi upas kuning, lebur punah, 3. OM. OM getih ireng mati, ajur dadi upas ireng, lebur punah, 3. OM. OM getih amanca warna mati, ajur dadi upas amanca warna, lebur punah, 3. OM getih putih mapupul urip warna 3, getih abang mapupul urip waras 3, getih kuning ma­pupul urip waras 3, getih ireng mapupul urip waras 3, getih amanca warna mapupul urip waras 3. OM getih rakta, getih jingga, getih ijo, getih dadu, getih biru, pada ajur, pada madadi luju, pada lebur, pada pugpug, pada punah, 3, aja kita mangan ring kulit ring daging, aja kita mangan ring otot ring balung, di sumsum, di jero wotonge si anu.., aja kita mangan ring jajeron kabeh, aku amugpug punah kita kabeh, punah kita campah lesu, 3, waras si anu.. waras 3, kedep sidi mandi mantran­ku”.

10. Napas sesak. batuk hingga mengeluarkan darah

Apabila menderita sakit asma batuk hingga mengeluar­kan darah serta dada dibagian dalam secara gatal, penyakit ini juga disebut Tiwang Banyu Kasilawo, bertikanlah obat minum yang dibuat dari lengkuas makihkih, garam manyahnyah masing masing satu jumput, cuka madadah, bejek dan disaring. Selan­jutnya berikanlah minum kepada si sakit dengan berdikit-dikit.

Untuk menyembur pertengahan pundak dibagian da­ging duminin yaitu, induk kunir dicampur dengan ina kunci, lempoyang, cekur, ketumbar, muat, sintok, masuwi, pala dan krawan. Sembur untuk dadanya ialah; kunir matambus, di­campur dengan ketumbar, musi, krawas dan kemenyan. Sedangkan sembar untuk hulu hatinya yaitu: kulit pohon limau kasturi, banglai, pala, sintok dan lada.

11. Sakit Cekehan

Adapun sarana untuk pengobatan sakit cekehan, yaitu: daun pohon kemuning, temu tis, sembung gantung. Cara pengo­batannya bertahap dan disertai mantram yang isinya sebagai berikut: “Akasa, meda Sanghyang Widiadari, kedep anjenengin sedahan tamba, Sanghyang Gana anambanin, lah waras, 3, waneh lengakena“.

Sarana obat sakit cekehan, yaitu, arak, darah ikan, akar pohon baru, akar kasinen (Latin: Ehrotia), ginten, klabet.
Serana obat sakit cekehan, yaitu miana, (Latin: scutal­larici des bonth) yang berwama hitam, adas pedas, ginthen, bawang merah.

12. Sakit pinggang dan sakit dipangkal paha

Apabila mentlerita sakit pinggang, sakit dibagian pangkal paha dan dirayapi rasa semutan, serta tiada lancar mengeluarkan air kencing dan merasa panas. Penyakit ini disebut Tiwang Ampiaean-Brahma. Adapun obat yang untuk diminum­nya, ialah: lidah kucing, ujung dengan tis (Latin: Erythrina hypaphorus Boorl), bawang tambus, adas pedas dan beras.

Sedangkan ampasnya pergunakanlah menyembur diba­gian yang dideritanya. Apabila tiada sembuh penyakitnya, beri­kanlah obat minum yang dibuat dari: daun kayu menumpang, bawang disertai garam, lalu ampasnya pergunakan untuk sembur.

13. Kaku dan panas di seluruh pinggang

Apabila menderita penyakit panas kaku diseluruh ping­gang, dan seperti disengat-sengat rasanya, penyakit ini disebut Tiwang Teledu. Adapun obat yang harus diminumnya yaitu: buah delima yang masih terdapat bunganya dibagian pangkal buahnya, bawang tembus. adas pedas, empalas hari, dan ketum­bar sebanyak 3 biji. Setelah mecekcak, peras untuk mendapat­kan bangkete. kemudian ditetesi dengan air yang telah men­didih, sedangkan ampasnya ulig, pergunakan untuk mengurangi si sakit.

14. Panas di bagian pinggang dan bengkak di pangkal paha

Jika merasa panas di bagian pinggang dan bengkak di pangkal paha, serta gaduh-gaduh, penyakit ini disebut atau di­namakan Tiwang Ketunggeng. Sem burlah di bagian yang beng­kak dengan lengkowas yang te]ah metambus dengan bawang, dicampur dengan beras. Sedangkan untuk urapnya yaitu: ubi pohon botor, bawang yang telah metambus, kemudian ulig dan harus dicampur dengan tanah yang diambil dari bawah kekocor.
Apabila pinggang merasa kaku, bengkak di pangkal paha, seperti ada sesuatu yang merayapidan babiunan, penyakit ini disebut Tiwang Empas. Adapun obat yang diminum ialah paya puh, secukupnya, kunyit warangan, ketumbar, musi, air limau, garam yang telah bercampur arang. Untuk obat menyembur di bagian yang membengkak yaitu: cekur, lempo­yang, ketumbar dicampur dengan garam.

15. Sakit kepala suling dan bingung

Jika menderita sakit kepala, pandangan mata sunglong­sunglong, bingung, serta tiada dapat makan minum dan tiada kuasa untuk berjalan, penyakit ini disebut Tiwang Bakuke. Untuk mengobati penyakit tersebut di atas, perlu hidungnya tutuh dengan air limau yang ditaburi lada lalu diperas dan di­saring. Kemudian, air yang dihasilkan dari pemerasan tersebut (setelah jemih) pergunakanlah menutuh hidung si sakit.
Tutuh untuk matanya, ialah: daun kelor, bawang, ga­ram akupak. Sedangkan kepalanya suksuk dengan asaban kayu derdaru, dicampur dengan air limau, kemudian pijat sehingga di bagian belakang telinga. Sedangkan untuk bedaknya dibuat dari serba bahan-bahan yang mempunyai kegunaan rasa hangat/ panas.

16. Sakit kepala, pusing dan sering mengeluarkan kata-kata di luar kesadaran

Apabila menderita sakit kepala, pusing, serta sering mengeluarkan kata-kata di luar kesadaran dan hidungnya selalu mengeluarkan air, penyakit ini disebut Tiwang Cracapan. Adapun untuk tutuh hidungnya, yaitu: lengkuwas, banglai, lempo­yang, isi dari sebutir pala, bunga lawang, lada, musi, bawang putih. Kesemuanya bahan-bahan tersebut ditumbuk dengan men­campuri cuka, kemudian diperas dan disaring. Air hasil perasan itu (bagian yang jernih) pergunakanlah untuk putuh hidung si penderita. Sedangkan ampasnya ulig, untuk bedak, dengan mencampuri air limau.

17. Pusing, bingung dan tiada tentu dapat berjalan

Jika badan lesu, kepala pusing, pandangan mata suling, bingung dan tiada kuasa untuk berjalan, penyakit ini disebut Tiwang Ulad-alid, kadang-kadang penyakit ini disebut juga penyakit kaki yang kedinginan terus. Adapun obat untuk mi­numnya dan tutuh untuk hidungnya, keduanya serana peng­obatannya sama, yaitu ,dengan: kepanggian tis, bawang, garam yang telah bercampur dengan arang. Sedangkan suksuk untuk kepalanya, yaitu: paya puh, lempoyang, banglai dan garam yang telah dibakar.

18. Badan kurus, perut begis, dengan rasa pagriyam dan sangat jauh pandangan matanya

Penyakit ini disebut Ti­wang Bangka Uleran. Adapun obat untuk diminumnya, yaitu: terasi yang telah dibakar, mabejek dengan bawang, jerangau · dan garam. Air untuk obat minum tersebut ialah: tuwak manis.
Obat untuk penglimpun perutnya, yaitu: asam yang di­campur dengan kapur, minyak kela,pa. Kemudian limpunang si sakit pada waktu bangun pagi.

19. Seluruh tubuh merasa gatal ngahngah

Jika menderita penyakit seluruh tubuh gatal dan ngah­ngah hingga menyebabkan tiada dapat tidur, penyakit ini di­sebut Tiwang Panjawuk. Adapun serana untuk pengobatan pe­nyakit tersebut yaitu: kulit kayu kenanga, daun pohon bengkel, tunas daun waru, lengkuwas, ketumbar, babolong dan sepet­sepet. Hancurkanlah kesemuanya dengan jalan dipotong-potong, kemudian nyahnyah lalu pergunakanlah menyembur semua yang dideritanya. Sedangkan obat untuk diminumnya, yaitu: paya puh, lempoyang, ketumbar, aruda, garam yang telah ber­campur arang, serta perasan air limau.

Apabila tiada sembuh penyakitnya, bukakan bedak dengan: kunir, ketumbar, paya puh, pamor bubuh dan dicampur dengan air limau kasturi.

20. Seluruh badan sebuh-sebuh

Apabila seluruh badan sebuh-sebuh pacebleng-bleng, hingga ke dalam daging, panas, gatal dan merasa sakit, penya­kit ini disebut Tiwang Embung. Serana pengobatannya yaitu: daun pohon peperon, daun kemuning, ketumbar, lengkuwas, bawang putih jerangau, kesemuanya aduk dan tektek, lalu dinyahnyah. selanjutnya semburlah ke seluruh badannya.

21. Sakit tiwang dan gatal

Serana untuk mengobati: daun delima, ambil bangketo dan air limau kasturi (cukup un­tuk sekali makan). Sedangkan mantramnya adalah sebagai berikut: “OM Ki Tiwang Lalipi, Ki Tiwang Tikus, lunga sira, mararasan katanggun jelit, katanggun batis paseleseh, 3

22. Bayi terkena sawan dan tunggah

Adapun obat untuk seorang bayi yang terkena sawan, tunggah, kelihatan seperti tertidur lena, kulit keiihatan putih tiada berdarah dan sering tidur lalap, penyakit ini disebut Sawan Bangle. Sarana untuk menyembuhkannya ialah : miana yang berwarna hitam, garam, air limau bercampur dengan mi­nyak kelapa, bejok, kemudian saring. Seianjutnya air yang telah disaring itu (bagian yang jernih) pergunakan untuk tutuh hidungnya, sedangkan ampasnya ulir disertai dengan paya puh, musi, pala, karawas, sintok, tampar hantu, air asaban kayu derdaru dan perasan air limau, lalu bedakan seluruh tubuh si bayi. Mantram pengantar tuhtuh dan bedaknya sebagai berikut : “OM Sanghyang Tiga-jati, Hyang Brahma Wisnu, Y Leteg menteg maring kuwunganira, ija sira metu mungah mangih, OM bayu, OM sabda, OM Batara-Batari, Widiadara-Widiadara, Hyang Kuwari, Guru Putra Ciri Putri, Hyang Kumaragama, Hyang Kumarasini, Hyang Kumara-hidep. Hyang Kumara-tuntun, Hyang Kumara tunggal, tuntunan tunggalang bayi sabda ideping Iara, pataka ulihakona bayi prasanan ipun waluya, pada mulih, 3, maring raya waluyane I Yabang Si Bahi, waras, 3″

23. Bayi mising dan sawan

Sarana yaitu : pariya, lempoyang, kunir, sepet-sepet. tempar hantu, dan mata uang, lalu obati dengan cara bertahap.
Sarana pengobatan untuk bayi mising. yaitu kulit pohon jiwat, sepet-sepet, kemudian obati dengan bertahap.
Sarana pengobatan untuk bayi sawan, yaitu : pariya, lempoyang, aruda, bawang, adas-padas, dan air limau, lalu obati dengan cara berangsur-angsur.
Sarana pengobatan untuk bayi sawan. yaitu : lengkuwas, daun sirih yang telah tua, daun bawang. Kesemuanya itu rebus dan pergunakanlah menyembur si bayi.

24. Bayi mising darah dan nanah

Adapun serana pengobatannya, yaitu: ujung daun bidari cina sebanyak 7 buah, empelas hari, bawang-adas. Setelah ber­campur, berikanlah ninum kepada si bayi. Apabila keadaannya tetap tiada sembuh, serana pengobatannya yaitu: daun pohon kapas tawun, bawang, adas pedas, setelah bercampur dengan perbandingan yang seimbang, berikanlah minum kepada si bayi. Sedangkan ampasnya, pergunakanlah untuk urap si bayi.

25. Mata bayi ke luar pecehan (Kotoran Mata) hingga tidak dapat membuka mata

Adapun serananya yaitu: tetesilah mata si bayi dengan air pohon sempol (ganda suli kuning).

26. Bayi yang sering menangis

Serana pengobatan untuk bayi yang sering menangis, yaitu: daun lontar yang bertuliskan mantram, kemudian dibungkus dengan kain lalu diikatkan pada perut si bayi, Mantranya : “OM tuju teluh, pot syah waras“.

Serana pengobatan untuk bayi yang sering menangis, yaitu: tulislah sebuah mantram, kemudian tarus di bawah tem­pat tidur si bayi. Adapun isi mantram: “OM Si Byam ula syah, AH, TELAS

Ada pula serana yang lainnya yaitu: sumanggi gunung (Latin: Hydrocotyle podantha Molk.), asem kawak, lalu bedakkan kepada si bayi, disertai dengan pengucapan mantram sebagai berikut: “OM Bapa menget, lbu menget, teka inget syah waras“.
Serana pengobatan untuk bayi sawan. yaitu: dapdap tis (Latin: Erythirina euodiphyla Hassk), unteng bawang. Bangkete berikanlah minum kepada si bayi, sedangkan ampasnya, per­gunakanlah membedaki si bayi, disertai dengan ucapan mantram sebagai berikut: “OM Guru Dewa mantra nama guru, anuju pa­hurung am urung akalaning janma manusa, iduh bang iduh putih tatambanmu sidi mandi mantranku“.

27. Bayi yang selalu menangis siang dan malam

Serana: tulislah bagian belakang si bayi, dengan tulisan sebagai berikut: “OM salimpah­ salimpuh ya nama swaha“.
Ada pula pengobatan yaitu: masuwi, bawang, gula, campur dengan beberapa tetes minyak kelapa, lalu tempelkan di ubun-ubun si bayi, diikuti dengan pengucapan mantram se­bagai berikut: “OM Durga swaha, Buta wisesa“.

28. Bayi Kurus karena Sering Sakit

Serana untuk penyembuhan bayi yang kurus karena penyakitan, buatkanlah ajimat dari timah yang berlukisan (Bali: marajah): “Biprayah bahrya“. Kemudian kalungkanlah di bagian lehemya, disertai dengan upacara; dua buah tumpeng, dagingnya, seekor ayam putih yang telah dipanggang, tuak, arak dan beberapa buah-buahan. Selanjutnya tatabin si bayi (setelah memakai ajimat) disertai dengan pasepan dan kemenyan.
Serana pengobatan untuk bayi kurus, yaitu kayu rekata, pangkal kayu api, bawang putih, jerangau, mata uang, lalu tem­pelkan di bagian perut si bayi,,disertai dengan pengucapan man­tram sebagai berikut: “OM idep aku Sanghyang Tunggal, angurip bayu lah waras“.

29. Bayi guwam

Adapun serana yaitu: bunga pohon paspasan, unteng hawang, air santan yang telah mendidih. Kesemuanya hahan-hahan itu ulig, kemudian hung­kus dengan daun pisang (Bali: tum) lalu direbus. Setelah masak, pergunakanlah mengohati si bayi.
Serana pengobatan untuk bayi guwam, yaitu: ubi dari pohon pas-pasan, akar pohon pandan, unteng bawang, ketan gajih, air santan yang telah mendidih, semua bahan-bahan itu dibungkus dengan daun pisang lalu dimasak, kemudian dioles­kan di mana guwam si bayi.
Ada lagi serana untuk mengobati bayi guwam, yaitu: daun pohon saga, bawang yang telah bercampur dengan adas pedas, kemudian ulig, lalu oleskan di bibir si bayi.
Sasuwuk guwam. Adapun serana pengobatannya, air yang masih bersih, lalu ditempatkan di dalam sibuh hitam, di­sertai dengan ucapan mantram yang isinya sebagai berikut: “lh maman, aku weruh ring kita, duk sira ring cangkem, guwam aran sira, duk sira ring gogorokan, wing aran sira, duk sira ring uwat, Sri Ahum aran sira, duk sira magenah ring silit, Buwang Ciha aranta, metu kitaring baga, ring silit, ring purus, sidimantranku“.

30. Bayi yang menderita sakit kaselag

Serananya yaitu: akar padang kawat, akar sem­bung ati, injin, bawang, adas pedas, lalu sembur dadanya.
Dan untuk upacaranya, yaitu tumpeng putih­ kuning, sedangkan dagingnya telur bagian kuningnya dan air arak.

Adalagi obat lainnya yang dapat digunakan yaitu: kunir masab dan asam yang telah dibakar. Untuk melakukan pengobatannya, telankanlah kepada si bayi. Semburlah dadanya dengan akar padang-kawat, ak,ar sembung ati, injin, bawang, adas-pedas. Sedangkan upacara; tumpeng putih kuning, telur bagian kuningnya dan arak.

31. Bayi Muntah-muntah seperti kepenuhan makanan ( Ngeluwah)

Sarana pengobatannya, berikanlah obat minum yang dibuat dari sepet-sepet dan injin, atau obat minumnya dibuat dari sembung ati, unteng bawang, garam yang telah bercampur arang (Bali: uyah areng).

32. Bayi yang mengeluarkan darah dari kemaluannya

Jika menderita penyakit yang mengeluarkan darah dari kemaluan, atau dari dalam pantat yang agak seret ke luarnya serta panas dan pedas rasanya, penyakit ini disebut lnja Sampu­an Brahma. Adapun obatnya berserana dengan obat minum yang dibuat dari akar pohon pisang gedang saba, akar pohon bayam, bawang yang telah bercampur dengan adas pedas, empelas hari, sepet-sepet disertai ketan gajih. Bangketo diisi dengan air bungsil macakcak, kemudian ,diperas· dan air yang ke luar dari hasil pemerasan itu ditelankan kepada si bayi, sedangkan ampasnya pergunakan urap.

Bayi yang mengeluarkan darah dan nanah pada waktu mengeluarkan kotoran, penyakit ini disebut lnja Wletih. Ada­pun obat untuk diminumnya dan serana pembuatannya dengan padang lepas, siliguwi, yang jantan dan betina, kutup buni, padang belulang. Kesemuanya bahan-bahan atau tum­buh-tum buhan tersebut diatas, pergunakanlah yang mempunyai akar masih muda, kemudian dicampur dengan bayam yang telah dibersihkan secukupnya, bawang yang telah bercampur dengan adas-pedas, sepet-sepet dan mincid deha. Setelah macakcak, tambus. Sebelum meminumkan kepada si bayi bangkete diisi dengan air bungsil (buah kelapa yang paling kecil). Sedangkan ampasnya, pergunakan mengurapi si bayi.

Apabila seorang bayi mengeluarkan darah dan nanah yang sangat deras dari pantat atau dari kemaluannya, penyakit ini disebut lnja Brahma Kreweng. Serana untuk obat minum­nya, ialah: kalimanja, bawang putih, adas pedas, sepet-sepet, bangkete untuk diminum, sedangkan ampasnya, pergunakan mengurapi si bayi.

33. Bayi menderita penyakit gatal

Serana untuk pengobatannya ialah: akar pohon nangka klepon, bawang dan adas-pedas, lalu semburlah perut si bayi.

34. Bayi yang menderita penyakit Bengkak-bengkak (pagentil dan pagentol)

Kalau seorang bayi menderita penyakit di seluruh badannya bengkak-bengkak seperti disengat binatang berbisa, (Bali: pagentil), penyakit ini disebut lnja Katub. Adapun serana untuk menyembuhkannya, rumah binatang Kalisasuan, kapang­gian-tis, bawang, jerangau, kesuna-babeleng, dan ujung pohon mengkudu. Setelah dihancurkan dengan jalan mau/ig lalu dadah, kemudian oleskanlah di mana penyakit si bayi.

Jika si bayi sakit koreng yang pagentol dan sangat gatal, penyakit ini disebut lnja Kratak. Serana untuk mengobatinya, yaitu: kawahwah secukupnya, lengkuwas, daun sirih yang telah tua, buhung ketumbar, babolong, disertai pula tampar hantu, dan kelapa yang telah kering. Setelah macakcak, nyahnyahin hingga tiada kelihatan mengandung air (Bali : iyas), lalu per­gunakanlah menyembur penyakit si bayi .

Apabila seorang bayi bengkak pada tubuhnya seperti bekas disengat binatang (Bali: pagontol), serta sangat sukar atau sangat lama untuk memecah (Bali: encah) penyakit ini disebut Jnja Kakul. Untuk membuat seheb-Nya, daun ujung jarak biasa, disertai dengan minyak kelapa (Bali: lengis tandusan), kemudian dipanggang bagian yang berisi minyak hingga daun jarak itu menjadi layu, lalu perguna­kanlah menekan-kenak bengkek-bengkak pada tubuh si bayi dengan berkali-kali, hingga bengkak-bengkak itu menjadi layu. Selanjutnya, apabila bengkak pada tubuh si bayi telah menjadi layu, buatkanlah obat dengan berserana wong kakul (cendana yang tumbuh di pangkal pohon asam/celagi), bawang, jerangau, bawang putih dan diisi dengan ludah yang ke luar dari orang yang mengunyah/makan sirih (Bali: poos gedubang).

Untuk mengobati lnja Kaku/ yang bengkak dengan ben­tuk bundar-bundar, serananya, yaitu wong Brahma (cendana yang tumbuh di pohon asam yang kemudian menjadi pembunuh pohon itu), babolong, bawang yang telah bercampur adas-pedas, kemudian setelah bercampur, oleskanlah pada tempat penyakit tersebut.

Obat untuk penyakit Inja bengkak serta pagontol, atau penyakit yang disebut lnja Parangan, adapun serananya, kulit labu putih, ubi pohon tabia-bun, bawang, jerangau, kesuna. Semua bahan-bahan itu dibakar dan arangnya uyeg, diisi dengan ludah orang yang sedang makan sirih dicampur kunir, kemu­dian oleskan pada bagian yang bengkak.

Jika bengkak-nya kelihatan sebuh, penyakit ini disebut Inja Manggis. Akan tetapi apabila bengkak itu kadang-kadang kelihatan putih dan sebuh, penyakit ini disebut lnja Wani. Kedua penyakit tersebut sama cara pengobatannya, yaitu dengan berserana, orang dari ujung sebuah kloping, orang bambu (Bali: buluh. Kedua orang itu ujar lalu campur dengan ludah orang makan sirih, dan kunir lalu urapkan di bagi­an bengkak itu.

Jika seorang bayi menderita penyakit bengkak yang pagintil serta kemerah-merahan seperti warna bawang kelihatan­nya, penyakit ini disebut Inja Bawang. Serana untuk mengobati penyakit tersebut di atas, bunga kecubung yang masih dalam keadaan bertangkai, bawang yang bagian tengahnya, adas-pedas dan empelas hari. Setelah dicampurkan lalu oleskan pada bengkak si bayi.

Apabila bengkak yang tumbuh di badan si bayi tiada hilang dan menjadi Iuka, maka buatkanlah obat sembur berserana dengan satu potong kelapa yang kering. Sedangkan perut si penderita dengan tipis. Selanjutnya gula dan kelapanya sisir dan pergunakan menyembur si sakit.
Diisi sebuah tangkai agar jangan gulanya berjatuhan, lalu urapi perut si penderita dengan tipis. Selanjutnya gula dan kelapanya sisir dan pergunakan menyembur si sakit.

Jika penyakit itu tiada sembuh semburlah dengan kulit pohon nangka yang belum pernah berbuah (Bali: doha) campur dengan ketumbar, babolong, empelas hari, sepet-sepet. adas pedas, kelapa yang telah kering, kemudian cak-cak diisi dengan lengkowas yang mekihkih, ulet, lalu nyahnyah. Dan itulah obat yang mempunyai kegunaan/sifat tiada terlalu panas atau dingin (Bali: dumalada).

35. Bayi yang menderita napas sesak

Serana : dusakeling dan empelas hari. Setelah diiris, lalu ditelankan kepada si bayi.
Adapun obat untuk diminum, serananya santan yang telah mendidih dan kutun gumi. Sedangkan bedaknya, buah sirih dan lempoyang.

36. Obat Penenang untuk Bayi

Serananya, air yang masih bersih lalu dimasukkan ke sebuah sibuh hitam, dan sebatang bunga ganja hutan disertai dengan pengucapan mantram yang bunyinya sebagai berikut: “Sang Toya kalaput ban Sang Bumi, Sang Bumi kalaput ban Sang Toya teka patuh ingkup, 3“.

37. Penyakit Tenggorokan

Apabila menderita penyakit di kerongkongan dan me­rasa panas, penyakit ini ditimbulkan oleh Tiwang Upas-geni. Adapun serana untuk mengobatinya, ialah: daun pohon saga, daun sunti bawang, gula, santan yang telah me􀀲didih. Setelah kesemuanya itu sesuai ukurannya, lalu diperas kemudian per­gunakan mengobati tiga colekan, setiap hari, dan buatlah obat sebanyak tiga kali.

Begitu pula kalau di bagian leher hingga tiada dapat menelan makanan, adapun serananya, yaitu: daun pohon dusakeling, sejumput bijan. Setelah sesuai ukurannya, pergunakanlah mengobati penyakit tersebut di atas.

Obat sakit leher hingga tiada dapat menelan sesuatu, dan kerongkongan kering. Adapun serana pengobatan untuk penyakit tersebut di atas, yaitu: tebu cemong, usahakan mencari bagian tengahnya, lalu campur dengan gula pasir, kemudian berikanlah minum kepada si sakit dengan disertai ucapan ·mantram yang isinya sebagai berikut: “OM Sang Kuli-kuli, aja sira manglaranin teka seger, 3 “.

38. Bedak untuk penyakit inja, gatal dan berbintik-bintik warna merah

lnilah bedak untuk penyakit inja, gatal-gatal dan ber­bintik-bintik wama merah yang ditimbulkan atau disebabkan oleh pengaruh nyem, adapun serananya, kusambi, wangkal, kepayang, ketumbar, musi, babolong, tampar hantu, pala, sintok, masui, banglai, lempoyang, cekur, kunir, bukau tinggi, serta campur dengan batu merah Ialu u/ig diisi air tawar, air kapur dan air limau kasturi.

Untuk bedak penyakit inja yang ditimbulkan oleh pengaruh panes, gatal serta yang merasa panas, serananya, kulit .pohon jiwat, kulit pohon jambu bol, kulit pohon nangka yang masih kecil, kulit pohon kundal, ampelas hari, daun limau kas­turi, daun pohon sirih yang telah tua, banglai dan lengkuwas. Setelah maulig, kemudian bungkus d􀀘ngan daun pisang lalu masukkan di dalam hara selama daun bungkusnya menjadi layu.

39. Penyembuhan sakit inja

lnilah serana untuk menyembuhkan sakit inja, air yang masih bersih yang ditempatkan/ditaruh pada sebuah sebuh dan sebatang bunga, kemudian setelah diisi atau disertai dengan pengucapan mantram, percikkan tiga kali, berikan minum tiga kali dan untuk membersihkan muka tiga kali. Sedang.kan sisanya pergunakanlah menyembuhkan segala penyakit inja.

Adapun isi mantramnya, sebagai berikut: OM Paduka Batara Guru, tumurun saking Swargan Suralaya, anunggang Lembu­putih, angadeg ring Pretiwi, tan sah sira anggen puja-japa man­tra-sakti, anambanana sakwehning irtja kabeh, anyuhuk amunah anglebur sawamane injane Si Jabang, Si Bayi, ane mangringin rarene si anu…, I Kaki Pekas, ingsun amunah anyuhuk kita inja kabeh pada suhuk pada campah punah lebur, 3. OM Inja Papecak, lnja Grogot, Inja Jangat, Inja Rambut, Inja Balulang, Inja Tujus, lnja Lilit, Inja Kangkung, Inja Ban­tang, lnja Danu, lnja Bungker, lnja Gantung, Inja Ngreges, Inja Bancaren, Inja Amplus, lnja Mangsulen, lnja Riyak, Inja Angin, Inja Aking, Inja Amplus, Inja Amprus, Inja Mahonon, lnja Pispis, Inja Curek, Inja Gauhukan, lnja Gadak, lnja Tangis, wastu kita sakwehing injane Si Jabang Si Bayi, pada campah punah lebur, 3, apan pasasuhukane sidi mandi waras, 3. OM angadag Batara Guru, mara mapasang sarwa wastu ring sakwehing inja kabeh, manawa kita inja buatan, Inja Naga, Inja Pamali, Inja Kahapes-kalingkuh, Inja Kamang.kang-kuming­king, Inja Janma-Manusa sakit. Injan Pitran, Injan Leyak, Injan Desti, Injan Teluh-teranjana, Injan Sasawangan, aji-ajian, injan acep-acepan, injan papandeman, injan papasangan, injan rara­jahan, injan umik-umikan, injan pamokpokan, satus akutus kadangan kita kabeh, sawarnan kita inja kabeh, wastu kita pada 7 la sapuh, pasuhuk pada campah, punah, le bur 3, tan ka􀀂 wasa kita amangan ring kulit, ring daging, tan kawasa kita amangan ring otot ring balung ring sumsum ring jajeren kabeh, pada mijila kita · saking jero weteng, pada manuhut kita dalam agung, pamijil kita kabeh, yen kita mijiling cangkem, punah kita manadi widuh, yen kita mijil ring irung, kita manadi dalan, yan kita mijil ring netra, punah kita manadi tamba ringet, yen 71 b kita mijil ring karna, punah kita manadi suda ringet, yen kita mijil ring baga purus, punah kita manadi uyuh, yen kita mijil ring silit, punah kita mana.di purisia, apan aku Batara Guru, anyuhuk amunah anglebur kita, sakwehing injane Si Jabang Bayi, wastu kita pada campah pada punah, pada lebur, 3, wastu, 3, sidi mandi mantranku.

40. Mempercepat Ibu Melahirkan / lahirnya si bayi

Serana untuk memperingan/mempercepat bagi ibu yang mau melahirkan, Sarana : ambilkan air dan janganlah bernapas pada waktu mengambilnya, lalu berikan minum si ibu, kemudian percikkan, disertai dengan mengucapkan mantram yang isinya sebagai berikut “Siar-siar bancar sirna, tutup susu coning alah, puter nungsang, den agelis sira medal‘.

Inilah suatu cara untuk mempercepat lahimya si bayi, yaitu: berseranakan tempurung kelapa yang dibagia·n atas, diisi dengan pepohonan yang merambat, disertai dengan membacakan mantram yang isinya sebagai berikut: “Siar-siar bancar sirna, tutup susu cening, alah putra nungsang; ‘den agelis sira medal, alama kadat medal benyam “.

41. Salah urat

Obat salah urat: sirih tiga lembar, ditulisi nama si sakit. Dengan mantra: OM Ida ta Kit Otot, sasah ilu. Kemudian disembar

42. Setiap bangun berdiri terasa pusing

Namanya Tiwang Contang, bahan obatnya: daun kesimbukan, air kelapa muda yang belum ada dagingnya, hidungnya ditutuh.

42. Keseleo

obatnya : kuli kayu ancak, menyan digiling halus. mantra: OM Kaki Kiseng, Kaki Kalolo, Nini Kasilako, daging terjepit, diperbaiki letaknya oleh otot, jadi sembuh .. 3.
Diurap dengan bulu ayam.



Sumber:
Terjemahan dan Kajian Usada
I. Gst. Bgs. Sudiasta & I Ketut Suwidja

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Tahun 1991/ 1992

Baca Juga

Bhagavad Gita

"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"

Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT