Halusinasi AI pada Teks Suci Hindu Bali

Halusinasi Kecerdasan Buatan (AI) pada Teks Suci Hindu Bali


Implikasi AI Terhadap Sosiologis dan Tradisi Keagamaan

Halusinasi tekstual dan konseptual AI memunculkan dampak yang melampaui kesalahan akademis, menyentuh pada tatanan sosiologis, hukum adat, dan kesehatan komunitas Hindu Bali.

Erosi Otoritas Transmisi Pengetahuan (Sulinggih)

Dalam tradisi transmisi pengetahuan Hindu, validitas teks dan pengajarannya sangat bergantung pada rantai transmisi yang diotorisasi (Guru-Sisya Parampara). Seorang penafsir atau Sulinggih harus memenuhi kualifikasi kepresisian memori (dhabt) serta integritas moral (muru’ah).

Penggunaan AI secara langsung oleh masyarakat sebagai pengganti rujukan otoritas menggantikan posisi Sulinggih dengan algoritma kotak hitam (black box). Mengacu pada keputusan lembaga keagamaan, bertanya pada AI diizinkan sebagai sekadar pencarian informasi, namun menjadi tidak sah jika dijadikan rujukan hukum final yang dipraktikkan tanpa verifikasi ahli (pandita). Penggeseran ini melemahkan struktur pembinaan keagamaan tradisional.

Standardisasi Hegemonik atas Kebinekaan Dresta Lokal

Lontar-lontar Bali seperti awig-awig dan tutur sering kali bervariasi bergantung pada Dresta (kebiasaan adat) di masing-masing desa. Model AI yang mengagregasi data global cenderung memberikan satu luaran statistik yang paling umum, yang berpotensi menghilangkan nuansa dan pengecualian lokal. Keseragaman yang dipaksakan oleh algoritma ini dapat menghapus pluralitas ekosistem beragama di Bali, menyebabkan apa yang disebut sebagai standardization bias atau kolonialisasi digital atas kearifan lokal.

Risiko Medikalisasi Sembrono pada Praktik Usada

Lontar Taru Pramana memuat pengetahuan ekologis, taksonomi botani tradisional, dan prinsip-prinsip Usada (pengobatan) yang menempatkan manusia sebagai mikrokosmos dari alam semesta. Dalam praktiknya, peracikan obat tradisional melibatkan tahapan spesifik dan interkonektivitas spiritual yang tidak sekadar bergantung pada unsur kimia daun atau kulit kayu.

Apabila algoritma mengalami halusinasi dalam penerjemahan teks medis kuno — misalnya, keliru mengenali metrik ukuran tradisional Bali (seperti sacengkang, kilan, sagêgêm yang sarat makna kontekstual) atau salah mengidentifikasi bahan herbal — maka informasi tersebut berubah menjadi instruksi pseudo-sains yang menimbulkan risiko fatalitas medis secara langsung.

AI tidak memperhitungkan intervensi spiritual atau dosis partikular, melainkan hanya merakit kata berdasarkan kedekatan probabilitas statistik.



Blog Terkait