Perbedaan Tutur dan Tattwa dalam Tradisi Lontar Bali


Di antara ribuan naskah lontar yang diwariskan dari generasi ke generasi, sistem klasifikasi genre sering kali menjadi arena perdebatan akademis yang kompleks di kalangan filolog, sejarawan, dan akademisi agama. Dua entitas klasifikasi yang paling sering mengalami tumpang tindih, memunculkan ambiguitas, dan membingungkan pembaca serta peneliti awal adalah kategori naskah “Tutur” dan “Tattwa”.

Tumpang tindih pemahaman ini bermula dari fakta bahwa masyarakat umum, dan bahkan sistem pengarsipan institusional yang diwariskan sejak era kolonial, acap kali menyamakan kedua istilah tersebut. Keduanya dipahami sebagai kelompok teks yang sama-sama memuat ajaran kerohanian tingkat tinggi, ekskavasi hakikat realitas, eskatologi, serta metodologi pencapaian kebebasan spiritual tertinggi atau kelepasan (moksa). Teks-teks bercorak teologis yang berakar pada paham Śaiwa Siddhānta (Siwaisme) yang berkembang pesat di Nusantara, seperti Bhuwana Kosa, Wrhaspati Tattwa, Tattwa Jnana, hingga Tutur Kumara Tattwa, Tutur Medang Kemulan, dan Tutur Gong Besi, secara kolektif sering disebut sebagai teks Tattwa atau Tutur tanpa garis demarkasi.

Budaya lontar Bali mengenal dua istilah utama untuk naskah sakral: tutur dan tatwa (tattwa). Tutur pada dasarnya bermakna “ingatan, kenangan, kesadaran” (Sanskrit smṛti), dan dalam bahasa Bali berarti nasihat atau cerita. Sementara tatwa (tattwa) berarti “ilmu kebenaran, hakikat” berdasar ajaran Weda. Keduanya sering tumpang tindih: banyak lontar agama Bali disebut tutur atau tatwa secara bergantian. Secara historis, lontar-lontar ini dibawa dari Jawa pasca-Majapahit (abad XV) dan diteruskan oleh para pedanda atau guru agama di Bali. Dalam penulisan lontar, kadang judul di sampul (penanda pustaka) berbeda dengan kata pembuka dalam kolofon. Panduan pembacaan praktis merekomendasikan memeriksa kata pertama (misalnya “Iti Tutur…” vs “Iti Tatwa…”) dan gaya isi.

Apa itu Tutur?

Tutur adalah istilah Bali untuk jenis teks lontar yang berisi ajaran agama Hindu dalam bentuk narasi atau dialog. Istilah ini diserap dari konsep Sanskrit smṛti (artinya “ingatan, memori”). Dalam praktik Bali, tutur sering diartikan luas sebagai cerita atau nasihat. Misalnya, Asal Mula Tutur Barong Swari diawali dengan frase “Iti Tutur Barong Swari”. Zoetmulder mencatat tutur berarti “daya, ingatan, kenangan-kenangan, kesadaran”, sementara kamus Bali–Indonesia menjelaskan tutur berarti “nasihat atau cerita”.

Secara bentuk, lontar tutur biasanya disusun sebagai dialog dewa-manusia atau dialog guru-siswa, berisi mitologi, legenda, atau petuah spiritual. Contohnya Tutur AnacarakaTutur Barong Swari, atau Tutur Aji SaraswatiTutur umumnya dibaca oleh pendeta atau pemuka agama Bali sebagai bagian dari pendidikan pasraman. Arti praktisnya: tutur menyampaikan ajaran melalui kisah atau petuah, bukan hanya himpunan teoretis.

Menurut Andrea Acri (2006), banyak manuskrip Bali disebut Tutur atau Tattwa sebagai modul agama yang diwariskan lewat garis pendeta. Di sampul lontar sering tertera kata “Tutur” sebagai genre naskah (misalnya Tutur Anacaraka 01). Namun, gelar ini bersifat longgar – beberapa lontar yang lebih filosofis tetap disebut tutur karena formatnya dialog. Sebaliknya, ada lontar berlabel tutur yang berisi ajaran mendalam. Hal ini menandakan istilah tutur tidak kaku dan meluas pemakaiannya dalam tradisi lontar Bali.

Apa itu Tattwa?

Tattwa (kadang ditulis tatwa) adalah istilah Sanskrit yang berarti “keadaan itu sendiri” atau “hakikat”. Dalam konteks lontar Bali, tatwa dipahami sebagai ajaran kebenaran tertinggi atau inti ajaran filsafat Hindu. Dinas Kebudayaan Buleleng menjelaskan misalnya Wrhaspati Tattwa berisi “ajaran tentang kebenaran tertinggi yang bersifat Siwastik”. Demikian pula Sura dkk. mencatat tattwa sebagai “ilmu kebenaran berdasar Weda”.

Lontar ber-judul Tattwa biasanya berisi teks-titik sloka berbahasa Sansekerta, kadang dengan padanan bahasa Jawa Kuno (kawi) sebagai terjemahan. Isi tipikal meliputi ajaran Samkya, Siwaite, Yoga, atau aspek kosmologis. Contohnya Bhuwana KosaWrhaspati TattwaGanapati TattwaSiwa Tattwa Purana. Beberapa lontar tattwa diformat sebagai dialog dewa-sage (misalnya Wrhaspati Tattwa mengisahkan dialog Sang Hyang Iswara dengan Resi Wrhaspati), tetapi tema utamanya adalah filosofis dan dogmatis. Oleh karena itu, tatwa lebih terfokus pada kebenaran mutlak dan kosmik dibanding narasi biografis atau cerita.

Dalam praktik Bali, tatwa muncul sebagai bagian tradisi Siwa-Siddhanta yang masuk dari India Selatan. Masyarakat sering memandang lontar tattwa sebagai sumber pengetahuan formal. Misalnya dalam penelusuran naskah Siwa Siddhanta di Indonesia, disebut sejumlah lontar (naskah) sebagai “sumber tattwa” seperti Bhuwana KosaWrhaspati TattwaGanapati Tattwa dan Siwa Tattwa Purana. Hal ini menegaskan bahwa tatwa menjadi label bagi lontar yang mengejawantahkan ajaran keagamaan “berdasaarkan Weda”.

Perkembangan Historis di Bali

Sebagian besar lontar tutur dan tattwa berasal dari Jawa pada akhir periode Majapahit dan dibawa ke Bali (abad ke-15/16 M). Banyak naskah Jawa Kuno ini disalin kembali oleh kaum Brahmana dan Pendeta Bali. Sejarah penyampaian dilakukan melalui tradisi guru-murid dalam pura (contoh: keluarga pedanda Ida Pedanda Gede Made Gunung dan lain-lain yang mewariskan lontar sakral). Awalnya, membaca lontar bersifat tertutup (hanya oleh pedanda/sulinggih), tetapi sejak dekade terakhir ada gerakan pelestarian yang membuka akses pendidikan lontar kepada umum.

Lontar-lontar penting (misalnya koleksi Gedong Kirtya Klungkung, perpustakaan istana Bali, Perpustakaan Nasional RI) kini disimpan dan banyak telah dialihaksarakan. Banyak naskah diterbitkan ulang dalam bentuk buku dan digital. Meskipun demikian, banyak naskah kuno tetap pada format lontar daun. Misalnya Tutur Anacaraka 01 yang tercatat dalam Pustaka Dinas Kebudayaan Bali, atau Bhuana Kosa yang juga tersedia digital. Perpustakaan modern berupaya mendigitalisasi koleksi lontar ini agar terjaga keutuhannya.

Kenapa Tutur dan Tattwa Sering Tertukar

Secara operasional, istilah tutur dan tatwa kadang tumpang tindih karena keduanya dikelompokkan sebagai literatur suci agama. Acri mencatat bahwa banyak lontar disebut Tutur atau Tattwa tanpa aturan tetap. Misalnya Bhuana Sangkṣepa disebut tutur dalam kajian Adnyana (2021), padahal dalam daftar naskah sumber tattwa Sura (2019) tercantum sebagai sumber tattwa. Demikian juga, Wrhaspati Tattwa berformat dialog (mirip tutur) tapi berjudul tatwa. Sebaliknya, beberapa tutur misalnya Tutur Kumara Tattwa memakai kata tatwa dalam judul, mencerminkan isi yang filosofis.

Faktor lain: Para penjaga lontar sering menamai naskah berdasarkan tradisi guru atau tujuan pemakaian. Dalam katalog atau sampul lontar baru-baru ini, petugas menambahkan label “Tutur” atau “Tattwa” sesuai interpretasi mereka. Akibatnya, judul di sampul terkadang tidak konsisten dengan isi asli. Hal ini memperumit pembaca non-spesialis. Untuk itu, panduan perbandingan dalam tabel di bawah dapat membantu: umumnya tutur lebih bersifat naratif-nasihat, sedangkan tattwa lebih bersifat filsafat-dogmatis, meski di lapangan ada banyak tumpang tindih.

Tabel berikut merangkum perbandingan atribut keduanya:

Kategori Tutur Tattwa
Bentuk & format Lontar dialog bebas atau berbernyala; sering narasi (stroytelling) dengan wacana pertanyaan-jawab. Isi campuran bahasa Kawi/Sanskerta dan Bali. Lontar berisi sloka Sansekerta dengan terjemahan Kawi bebas, bentuk sistematis (misal Yajur/Rig-Weda style). Dialog filosofis juga muncul.
Fungsi Media petuah religius dalam bentuk cerita atau nasihat, untuk pendidikan keagamaan praktis. Manual ajaran teologis/filsafat, mengajarkan inti-dasar ajaran Siwa/Samkya/Yoga berdasarkan Weda.
Isi tipikal Cerita mitologis atau legenda dewa-manusia (mis. dialog Siwa–Uma). Sering menyisipkan aturan moral atau upacara. Penjelasan konsep tattwa (kebenaran mutlak, alam semesta, jiwa, moksa). Bisa berupa penafsiran Upanisad, filosi, atau mantra sakral.
Audiens Priyayi pemangku, siswa pasraman : yang memerlukan ajaran berbentuk cerita agar mudah difahami. Umumnya didongengkan dalam kelas agama. Pendeta tingkat lanjut, sarjana filsafat Hindu: yang mencari ajaran teoretis. Digunakan sebagai sumber rujukan rohani/resmi.
Contoh Tutur Barong SwariTutur Aji Saraswati. Wrhaspati TattwaBhuwana KosaGanapati TattwaSiwa Tattwa Purana.

Berikut contoh konkret beberapa lontar (dengan metadata bila diketahui):

Judul (sampul) Tajuk pembuka (kolofon) Repositori Perkiraan Tahun Aksara/Bahasa Link Contoh
Tutur Anacaraka 01 Iti Tutur Anacaraka Dinas Budaya Prov. Bali (BDL) ~abad 18? Bali (aksara Bali)  
Bhuana Sangkṣepa Iti Tutur Bhuana Sangkṣepa Gedong Kirtya Klungkung ~abad 18 Sansekerta–Kawi
Wrhaspati Tattwa Iti Tatwa Wrhaspati Gedong Kirtya Buleleng? ~abad 17 Sansekerta–Kawi
Bhuwana Kosa Iti Tatwa Bhuwana Kosa KITLV Leiden (digital) ~abad 17 Sansekerta–Kawi  
Ganapati Tattwa Iti Tatwa Ganapati Pustaka Dig. Lontar Bali ~abad 17 Sansekerta–Kawi
Siwa Tattwa Purana Iti Tatwa Śiwa-Purāṇa Disbud Prov. Bali (edisi 2004) 2004 (ed.) Kawi/Indonesia  
Judul Sampul vs Kolofon

Judul di sampul lontar sering ditambahkan belakangan oleh pustakawan dan dapat berbeda dengan kolofon asli. Misalnya pada Tutur Anacaraka 01, label sampul menulis “Tutur Anacaraka” sesuai kolofon. Namun ada kasus lain di mana sampul naskah ditandai “Tutur X” tetapi kolofon menggunakan “Tattwa” (atau sebaliknya). Perbedaan ini bisa menyesatkan katalogis. Ahli filologi menyarankan mencatat keduanya: judul sampul (terkadang mengikuti penamaan umum koleksi) dan judul kolofon (judul naskah asli dalam teks). Pencatatan dual ini penting dalam katalog perpustakaan agar naskah mudah ditemukan baik lewat genre maupun isi.



Blog Terkait