Perbedaan Tutur dan Tattwa dalam Tradisi Lontar Bali


Tutur dan Tattwa Menjadi Identik dan Membingungkan

Secara akademis dan teoretis, demarkasi definisi di antara Tattwa dan Tutur (sebagaimana dipaparkan di atas) tampak cukup jelas. Namun, kenyataan di lapangan — dalam katalogisasi pustaka lontar Bali dan pandangan umat Hindu awam—menunjukkan bahwa batas-batas kedua istilah ini sangat tipis, sering diposisikan hibrid, disinonimkan, dan ditumpangtindihkan satu sama lain. Terdapat tiga anomali utama yang menyebabkan kebingungan epistemologis ini, yakni: (1) hibridisasi isi teks, (2) fleksibilitas penamaan oleh para pengawi (pujangga) di masa lalu, serta yang paling sistemik, (3) intervensi kebijakan kategorisasi institusional di era kolonial yang menyatukan kedua istilah ke dalam satu kamar arsip yang sama.

1. Tattwa Berwujud Tutur

Gejala pertama yang menciptakan kebingungan filologis adalah munculnya banyak naskah yang pada kenyataannya memuat doktrin Tattwa tingkat tinggi, namun mengeksekusi penulisan teks tersebut menggunakan kaidah-kaidah gaya bertutur. Contoh paling menonjol dari anomali hibridisasi ini adalah Lontar Tattwa Jnana.

Naskah Tattwa Jnana memiliki reputasi sakral sebagai “bungkahing tattwa kabeh” (dasar atau fondasi dari seluruh kitab Tattwa dalam tradisi Siwa-Buddha/Tantrayana di Bali) yang di dalamnya membedah anatomi ketidaksadaran secara filosofis, menganalisis entitas dualitas absolut (Cetana dan Acetana), memaparkan perbandingan Siwa Tattwa lawan Maya Tattwa, serta menguraikan detail dari ketujuh anak tangga yoga kebebasan melalui Prayogasandhi. Berdasarkan substansi isinya, naskah ini mutlak seratus persen merupakan teks Teologi/Tattwa.

Akan tetapi, berbeda dengan “saudara-saudara ortodoksnya” (seperti Bhuwana Kosa atau Wrhaspati Tattwa), pengarang naskah Tattwa Jnana melakukan deviasi struktural dari konvensi standar. Naskah ini sangat meminimalkan (atau bahkan meniadakan) penggunaan sloka pengukuh dari bahasa Sanskerta. Seluruh argumentasi abstraknya ditulis langsung secara naratif, memanfaatkan kekayaan leksikon bahasa Kawi sebagai bahasa penceritaan utama dan menyajikan argumentasi kognitifnya dengan gaya katekismus (gaya bertutur/dialog) antara entitas spiritual. Karena struktur luarnya murni bersifat gaya bertutur dan komunikatif, sejumlah kritikus sastra secara longgar menempatkannya berdekatan dengan genre Tutur, yang pada gilirannya menyebabkan bias kategori.

2. Dualisme dalam Penamaan Naskah Lontar

Faktor historis berikutnya adalah kreativitas literatur para pujangga (Kawi) lokal Nusantara yang gemar menggabungkan kedua terma ini ke dalam satu judul karya monumental, yang secara empirik mengakui bahwa filsafat (Tattwa) tidak dapat dilepaskan dari metode penceritaannya (Tutur). Mahakarya yang memvalidasi percampuran leksikal ini adalah naskah Lontar Tutur Kumara Tattwa.

Dari judul naskah ini saja, para pengawi masa lampau secara terbuka mengamalgamasi istilah “Tutur” (metode) dan “Tattwa” (hakikat materi). Naskah ini menampilkan format naratif dialog (Tutur) dengan tokoh Bhatara Siwa dan putranya, Kumara (yang juga disangkutpautkan dengan tokoh mitologi Bhatara Kala yang ingin menelan Kumara). Akan tetapi, dalam cangkang mitologis tersebut, teks ini menghunjamkan ajaran Tattwa murni tentang rasionalisasi Catur Mukti (empat tahapan pembebasan atman), sifat ilusif penderitaan indrawi, serta dekonstruksi teologis terhadap janji-janji surga yang fana. Di mata para pengarang Nusantara, tidak ada kontradiksi sama sekali dalam menamai sebuah Tattwa tingkat dewa sebagai Tutur, sebab keduanya merupakan dua sisi mata uang yang membangun keadaban spiritual yang aplikatif.



Blog Terkait