Lontar Pangujanan, untuk menurunkan Hujan

Lontar Pangujanan, untuk menurunkan Hujan

1b]. nyan pangujanan, mwang pangundang toya, śa, wingkaḥ hañar ring marggah agung, rajaḥ bwaya, sa, pisang běmbang, sdhaḥ ho pane hañar misi we, goning kayu tinumpang, panu tiga, wingkaḥ lĕbok ring pane, hinindiḥ pngasĕpan, ma, Oṅg, sang ngasih ing prana, pang hingsun sihan dewaya, tumus mumar ing sapta patala, Oṅg, cur, hamga bayu. Terjemahan :… Detail



gama tiga

Lontar Tattwa Gama Tiga – Harmonisasi Tattwa, Susila dan Acara

Lontar Tattwa Agama Tiga menyajikan sebuah risalah teologis komprehensif yang mengintegrasikan aspek esoteris (tattwa), sosial kemasyarakatan (susila), dan ritual praktis (acara) ke dalam satu kesatuan sistemis yang harmonis, melalui perpaduan pilar Igama, Ugama, dan Agama. Keseimbangan hidup hanya dapat dicapai ketika manusia mengasah kecerdasan batiniahnya (Igama), mematuhi hukum adat kemasyarakatan (Ugama), serta melaksanakan perbuatan nyata… Detail



Gelaran balian

Gagelaran Japa Mantra Balian Bali

Balian usada Bali adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati atau menyembuhkan orang yang sakit dengan ilmu pengobatan atau sastra usada yang dipelajarinya yang dipadukan dengan kekuatan gaib atau magis dari japa mantra. Balian usada biasanya menggunakan sarana dari tumbuh-tumbuhan usada (tanaman obat) bahkan hewan tertentu,untuk mengobati pasiennya dengan diiringi atau diantar oleh doa-doa atau… Detail



Sangkul Putih Kusuma Dewa

Sangkul Putih dan Kusumdewa untuk Pemangku

Seorang Pemangku atau Pinandhita dalam melaksanakan tugas dan swadharmanya sebagai orang suci dalam hal melayani umat dan memiliki kawenangan untuk nganteb upacara yadnya harus mengetahui gagelarannya sebagai Pemangku seperti yang tersurat dalam Lontar Sangkul putih maupun Lingganing Kusumdewa.Dalam lontar ini sangat jelas sekali mengenai gagelaran Pemangku itu. Urutan atau eedan yang lumbrah disebut dudonan karya… Detail



Lontar Ageman Pemangku

Lontar Ageman Pemangku (Tata Cara Kepemangkuan)

Dalam melaksanakan sebuah yadnya maka akan ada yang disebut tri manggalaning yadnya yaitu, yajamana karya atau orang yang melakukan yadnya/ upacara, sang pancagra/tukang banten, dan sang sadhaka (sulinggih dan pemangku) yang akan muput upakara atau nganteb banten upacara. Keberadaan Pemangku sangatlah penting dalam upacara yadnya. Pemangku dalam melaksanakan swadharmanya harus berlandaskan akan sastra yang menjadi acuan dalam menjalankan sasananya sebagai Pemangku. Dalam menjalankan swadharmaning Jro Mangku, seorang Pemangku harus mengetahui tatacara… Detail



pancha siwa

Upanishad Pañcha Brahmā & Lima Aspek Śiva

Upanishad Pañcha brahmā (पञ्छब्रह्मा) membahas lima aspek aspek Pañchabrahmā dari Śiva, yaitu Sathyojatha, Aghora, Vāmadeva, Thathpurusha dan Īśāna, atribut, fungsi dan warna masing-masing. Aspek lima kali lipat dari Brahman atau Śiva diwakili oleh lima suku kata yang tersembunyi dalam mantra Panchaksari, “Na-Ma-Si-Va-Ya.” Upanishad juga mengungkapkan fakta bahwa setiap bentuk di alam semesta mengandung lima aspek… Detail



Krama Pura

Prilaku menjaga Kesucian Pura sesuai Lontar Krama Pura

Pura adalah tempat suci umat Hindu. Dalam lontar Krama Pura tersurat mengenai tata cara dalam hal berperilaku agar tidak sembarangan di Pura. Hal itu bertujuan untuk menjaga kesucian Pura itu sendiri. Tata cara dalam berperilaku yang tersurat dalam lontar Krama Pura ini merupakan norma kesusilaan yang berlaku bagi setiap umat Hindu khususnya ketika berada di… Detail



Chanakya Niti Sastra

Chanakya Niti Sastra – Ilmu Politik, Kepemimpinan dan Moralitas

Chanakya Niti Sastra secara umum dikenal sebagai ilmu politik dan kepemimpinan. Akan tetapi sesungguhnya ajaran Niti Sastra tidak hanya mengajarkan ilmu politik dan kepemimpinan, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara membangun masyarakat yang sejahtera. Kata Niti Sastra memang sudah tidak asing lagi di kalangan tokoh terpelajar, akan tetapi bagi masyarakat yang awam masih terasa asing dengan… Detail



Lontar Wariga Dewa

Ala Ayuning Dewasa Menurut Lontar Wariga Dewa

Sebagai sistem pengetahuan transendental, Wariga Dewa tidak hanya berfungsi sebagai panduan praktis penentuan hari baik dan buruk (ala ayuning dewasa), melainkan sebagai model matematika suci yang mengintegrasikan gerak siklis makrokosmos (bhuana agung) dengan aktivitas mikrokosmos (bhuana alit) manusia. Melalui kajian ini, karakter teologis, struktur aritmetika modular, taksonomi ritual, serta dimensi transmisi pengetahuan esoterik yang terkandung… Detail



Lontar Pawangunan Kahyangan

Lontar Pawangunan Kahyangan – Drestha Upacara dan Membangun Pura

Naskah ini diklasifikasikan sebagai bagian dari kodifikasi teologis, sastra tuntunan kepemangkuan dan pembangunan tempat suci (pawangunan kahyangan). Teks ini menjembatani hukum normatif agama (sastra drêstha) dengan kebiasaan adat kuno (kuna drêstha) untuk memberikan legitimasi teologis terhadap pendirian pura (kahyangan) serta menetapkan sanksi hukum atas pelanggaran wilayah suci tersebut. Melalui transmisi teks ini, tatanan masyarakat Bali… Detail