Lontar Tattwa Agama Tiga menyajikan sebuah risalah teologis komprehensif yang mengintegrasikan aspek esoteris (tattwa), sosial kemasyarakatan (susila), dan ritual praktis (acara) ke dalam satu kesatuan sistemis yang harmonis, melalui perpaduan pilar Igama, Ugama, dan Agama.
Keseimbangan hidup hanya dapat dicapai ketika manusia mengasah kecerdasan batiniahnya (Igama), mematuhi hukum adat kemasyarakatan (Ugama), serta melaksanakan perbuatan nyata dan ritual suci (Agama) untuk memelihara alam semesta. Pada akhirnya, ajaran suci ini memberikan penuntun bagi jiwa manusia agar terhindar dari penurunan kualitas kesadaran pada reinkarnasi berikutnya, serta membukakan jalan benderang menuju penyatuan abadi dengan Sang Hyang Parama Wisesa (moksa).
Ajaran Agama Tiga diturunkan ketika Paramashiwa berubah wujud melalui meditasi mendalam (yoga) Bhatara Mahadewa atas perintah Sang Hyang Purusangkara. Penyelamatan dunia ini kemudian diuraikan lebih rinci oleh Siwa Bhagawan Wrashpati melalui penyusunan kitab Purwadigama yang berpusat di Gunung Kawi (Ukir Kawi) di tanah Jambudwipa. Pada masa awal penciptaan tersebut, jagat raya berada dalam kondisi keselarasan murni. Manusia purba bertindak sepenuhnya sesuai dengan hakikat kemanusiaannya sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan binatang, burung, dan ikan tanpa memerlukan hukum tertulis yang rumit.
Untuk mempertahankan keselarasan kosmis tersebut dari degradasi moral, Sang Hyang Parameswara menurunkan konsep Gama Tiga, sebuah pembagian tripartit ontologis yang mengintegrasikan seluruh dimensi eksistensi manusia : Igama, Ugama, dan Agama. Ketiganya merupakan kebenaran mutlak yang bersumber dari Sang Hyang Dharma.
Kehilangan kesadaran terhadap salah satu dari ketiga pilar ini akan merosotkan derajat manusia hingga setara dengan hewan yang bertindak tanpa kecerdasan spiritual.
- Igama berhubungan dengan Pikiran dan Kecerdasan Spiritual (Kasukman)
- Agama berhubungan dengan Pelaksanaan Ritual dan Tindakan Fisik Nyata (Pakreti)
- Ugama berhubungan dengan Hukum Adat dan Tata Cara Kehidupan (Desa, Kala, Patra)
Secara linguistik dan esoteris, naskah ini melakukan dekonstruksi mistis terhadap nama ketiga pilar tersebut untuk menyatukan elemen-elemen mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung) ke dalam diri manusia suci :
| Pilar | Aksara Mistis | Esensi Kosmik | Output Spiritual |
| Igama |
I (Shiwa) + Ga (Angga/Tubuh) + Ma (Mretha/Kehidupan) |
Kesadaran Shiwa yang menjiwai raga fisik |
Melahirkan kesadaran batin (eling) |
| Ugama |
U (Udaka/Air) + Ga (Gni/Api) + Ma (Maruta/Angin) |
Harmonisasi unsur elemen pembentuk alam |
Melahirkan kesucian diri (nirmala) |
| Agama |
A (Awang-awang) + Ga (Gnah) + Ma (Terang Benderang) |
Ruang tanpa batas yang menyinari tempat nyata |
Melahirkan perilaku benar (kasusilan) |
Transmisi Pengetahuan Peradaban
Penyelamatan manusia dari kegelapan ketidaktahuan (avidya) dilakukan melalui proses teofani dinamis, di mana Sang Hyang Parameswara mengutus para dewa pembawa pengetahuan untuk turun ke dunia fana (Martya Loka). Para dewa ini bertindak sebagai guru pertama (guru loka) yang mentransmisikan seluruh keterampilan dasar pembentuk peradaban manusia.
Sang Hyang Iswara mengajarkan cara bertingkah laku sosial sebagai warga masyarakat yang baik (polah krama desa). Beliau juga menurunkan rahasia aksara suci, yang meliputi aksara swalita, modre, dan wrehasta, serta dasar-dasar seni suara (sastra swara wijnana), peribahasa (basa basita), hukum berat-ringan suara (guru lagu), dan seni bercerita (satwa karania).
Melalui kaki kiri-Nya, Sang Hyang Brahma turun untuk menjadi guru bagi para pande besi (pande wesi) guna menciptakan senjata tajam berkilauan serta segala peralatan fisik penopang hidup manusia.
Sang Hyang Wisnu mengajari manusia rahasia tata kelola pemerintahan, kepemimpinan berdaulat (nyakrawati), serta ilmu memanah (danur dara krama).
Sang Hyang Mahadewa mengajari Mpu Galuh seni kriya mulia, pembuatan busana kebesaran raja, serta pengolahan emas (kanaka) dan perak (pirak).
Sang Hyang Shiwa mengajarkan filsafat keagamaan (basma ungkara), tata cara memimpin doa suci, pelaksanaan puasa (yoga brata samadhi), serta mengajarkan kemampuan membedakan yang nyata dan tidak nyata (wahya dyatmika).
Penyusunan fisik dan tata ruang diserahkan kepada Bhagawan Wiswakarma yang mengajarkan pedoman tata letak bangunan (kosala-kosali) untuk mendirikan tempat suci (parhyangan) dan perumahan (pomahan).
Bhatari Sri, diiringi oleh para bidadara dan bidadari, turun untuk mengajari kaum perempuan seni menenun, berhias, memintal benang, menyucikan raga, serta menentukan hari baik (dewasa parikrama).
Terakhir, Sang Hyang Smara Ratih menyusup ke dalam jiwa manusia, binatang, burung, dan ikan guna menghidupkan sepuluh indria (dasendriya) yang melahirkan daya asmara dan kelangsungan regenerasi makhluk hidup di bumi.













