Pitra Yadnya dan Peta Perjalanan Atma
Salah satu kontribusi doktrinal terpenting dari Lontar Tattwa Agama Tiga adalah pemetaan jalur eskatologis perjalanan jiwa (atma) setelah kematian. Naskah ini menegaskan bahwa kesalahan dalam menyelenggarakan ritual kematian (pretekaning sawa) akibat ketidaktahuan pendeta akan mendatangkan kutukan berat bagi keluarga, serta menjatuhkan jiwa leluhur (pitara) ke dalam siksaan abadi di sepuluh jurang neraka (Dasa Kawah) yang dipimpin oleh kawah mengerikan bernama Buda Buk dan Panca Weci.
Untuk menghindari bencana spiritual tersebut, penyelenggaraan upakara kematian harus disesuaikan secara presisi dengan tingkat kesadaran raga (Tri Sarira) serta jalur kegaiban arah mata angin :
| Kategori Ritus Kematian | Arah Sorga / Tempat Tujuan | Rintangan Kosmik / Bala Tentara | Tokoh Suci / Bidadari Pembimbing | Dewata Pelindung / Air Suci | Sarana Pengiring / Seni Wewalen |
|
Sawa Preteka |
Selatan / Buda Laya |
Api berkobar (gni murub), Sang Dora Kala / Buta Kingkara |
Bidadari Gagar Mayang / Wiku Rama Parasu |
Bhatara Brahma / Mreta Kamandalu |
Banten teben, damar kurung, patulangan / Gambang |
|
Nyawa Wedana |
Barat / Wilayah kelembutan air hangat |
Hakim Sang Suratma / Tentara Pisaca |
Bidadari Sang Sulasih / Bhagawan Kakwa |
Bhatara Mahadewa / Mreta Kundalini |
Simbol kayu cendana atau majegau / Gong Trompong |
|
Pranawa |
Utara / Wilayah bersenjata gada besi |
Raksasa Sang Adi Kala / Tentara Kingkara |
Bidadari Sang Tunjung Biru / Bhagawan Wanaka |
Penguasa Utara / Mreta Maha Utama |
Tanpa patulangan, menggunakan wadah air suci / Saron |
|
Nyawasta |
Timur / Wilayah kepulan asap (duma ketu) |
Penjaga pintu Sang Jogor Manik / Raksasa Wil |
Bidadari Supraba / Bhagawan Bregu |
Bhatara Iswara / Mreta Sanjiwani |
11 batang alang-alang, saji satangkep / Turas |
|
Pitra Yadnya |
Pusat / Kawah keheningan Weci Desa |
Raksasa Sang Buta Angga Sakti / Tentara Danuja |
Bidadari Sang Rupini / Bhagawan Wraspati |
Sang Hyang Shiwa / Tirtha Pawitra |
Tubuh daksina, selesai di sanggah / Gending Luwang |
Arsitektur Parahyangan dan Kosmologi Devolusi Kesadaran
Pembangunan tempat pemujaan keluarga (Sanggah Pamrajan) dalam Lontar Tattwa Agama Tiga diatur melalui korespondensi spasial yang menghubungkan struktur fisik bangunan dengan wilayah gunung suci di Bali sebagai stana para dewa :
| Struktur Fisik Bangunan Suci | Manifestasi Dewata yang Berstana | Hubungan Kosmik / Asal Gunung Suci |
| Gedong poles beratap ijuk |
Bhatara Gni Jaya |
Gunung Lempuyang |
| Sanggah maprucut |
Bhatara Limas Sari |
Gunung Uluwatu |
| Sanggah matudung pane |
Bhatara Limas Catur |
Gunung Batukaru di Tabanan |
| Sanggah Madaging Manjangan |
Bhatara Mas Pait |
Penghormatan sejarah kedatangan mengendarai menjangan |
| Saka Ulu Gempel |
Dewa Ayu Pasaren Sari |
Penjaga keheningan tidur keluarga |
| Taksu |
Taksu Nganten |
Gunung Agung |
| Samuan Mrepat |
Bhatara Putra Jaya Gni |
Pemerajan Sokawana / Panarajan |
| Tugu Klabang Apit |
Pangapit Lawang / Sedahan |
Penjaga batas pintu gerbang |
| Meru tumpang lima |
Bhatara Jaya |
Gunung Agung |
| Meru tumpang tiga |
Bhatara Gunung Lebah |
Gunung Batur |
| Meru tumpang dua |
Penghubung energi spiritual |
Gunung Agung dan Gelgel |
| Gedong Sari tumpang dua |
Ida I Ratu Masari |
Gunung Sari Gulian |
| Sanggar Tiga (Kemulan) |
Brahma, Wisnu, Iswara |
Pusat pemujaan roh leluhur keluarga |
| Gedong Saka Pat |
Bhatara Hyang / Bhatari Uma |
Pelindung keturunan keluarga |
Teologi arsitektur ini merumuskan jumlah keseluruhan pelinggih utama sebanyak 19 struktur pemujaan. Angka suci ini merepresentasikan peta kosmologi yang menggambarkan proses penciptaan serta penurunan kesadaran dari realitas tertinggi hingga terbentuknya alam material kasar.
Naskah ini menjelaskan sebuah doktrin kebalikan tentang penurunan kelas makhluk (devolusi) akibat hilangnya kemampuan melakukan konsentrasi spiritual (kurang yoga) di bawah kendali Sang Hyang Parama Wisesa atau Sang Hyang Suksma Licin :
- Tritunggal Agung (kurang yoga) ⇒ Panca Rsi (kurang yoga) ⇒ Sapta Rsi (kurang yoga) ⇒ Dewa Rsi (kurang yoga) ⇒ Dewata
- Dewata (kurang yoga) ⇒ Widyadara (kurang yoga) ⇒ Gandharwa (kurang yoga) ⇒ Danawa (kurang yoga) ⇒ Detya (kurang yoga) ⇒ Raksasa
- Raksasa (kurang yoga) ⇒ Buta Yaksa (kurang yoga) ⇒ Buta Dengen (kurang yoga) ⇒ Buta Kala (kurang yoga) ⇒ Buta Pisaca (kurang yoga) ⇒ Manusa
- Manusa (kurang yoga) ⇒ Triyaka (Hewan Ternak, Hewan Liar, Burung Udara, Ikan Air)
Peta kosmologis ini melahirkan kisah penciptaan patung Catur Muka (Arca Gopala) di Gunung Jambu Dwipa yang dipimpin oleh Bhatara Catur di wilayah kekuasaan Bhatara Waras. Pembangunan arca tersebut memanfaatkan serat pohon emas (wraksa kancana) dan perak (wraksa rajata) yang tumbuh di puncak gunung menyentuh langit.
Dalam pembuatannya, kekuatan alam bekerja sebagai kesatuan sistem : Hyang Agni bertindak sebagai pelebur (panglibur), Sang Hyang Bayu sebagai peniup bora (pangububan), dan Sang Hyang Parwata menyediakan bahan dasar pembentuk tubuh fisik (lakarya).
Proses peniruan rupa terjadi secara timbal balik : Bhatara Brahma meniru rupa Wisnu, Wisnu meniru rupa Brahma, Sang Hyang Iswara meniru Mahadewa, dan Mahadewa meniru rupa Iswara.
Penyatuan keempat wajah tersebut melahirkan manifestasi agung bernama Bhatara Brahma Murthi Ning Rat, yang kemudian disucikan oleh Ida Sang Hyang Shiwa Pramesthi Guru dan diterbangkan oleh angin hingga jatuh di tanah Bali sebagai Sang Catur Dewata.
Keempat wajah Catur Muka tersebut memancarkan kekuatan penyelamat kosmis ke empat arah mata angin :
- Wajah Timur : Membuka gerbang pembebasan akhir (kamoksahan) serta melebur segala penderitaan fisik.
- Wajah Selatan : Menghilangkan dosa batiniah serta melumpuhkan segala gangguan musuh duniawi (satru mancana).
- Wajah Barat : Mendatangkan rasa welas asih para dewa serta memberikan berkah kejayaan bagi para raja.
- Wajah Utara : Melenyapkan seluruh kekotoran batin dan penyakit yang melanda dunia.




