gama tiga

Lontar Tattwa Gama Tiga – Harmonisasi Tattwa, Susila dan Acara


Etika dan Laku Spiritual

Manusia yang ingin meraih kemuliaan diri sebagai manusia sejati (manusa jati nirmala) diwajibkan menjalankan sepuluh tindakan kebajikan (Dasa Karma Karta) yang dijaga oleh kekuatan Sang Hyang Dasa Ludra (Dasa Karma Karta) meliputi : dharma, tapa, brata, apakrethi, iyasa, apunia, asila, aguna, abutha, dan alaksana

Sebagai penuntun praktis dari kesepuluh laku kebajikan tersebut, umat manusia harus berpegang teguh pada empat pilar kebajikan utama (Catur Dharma) :

  • Dharma Kria : Mengetahui secara mendalam kewajiban dan tanggung jawab dalam setiap pekerjaan fisik yang dilakukan.
  • Dharma Santosa : Keteguhan hati untuk tetap berada di jalan kebajikan dalam menghadapi cobaan hidup.
  • Dharma Jati : Kesetiaan pada kebenaran yang bersumber dari ketulusan hati terdalam.
  • Dharma Putus : Kata-kata yang mendatangkan kedamaian, pikiran yang bahagia, serta hilangnya penderitaan batin (moksa).

Sebaliknya, naskah ini memperingatkan bahaya kehancuran moral yang dipicu oleh lima noda batin (Panca Mala atau Panca Wisaya) yang digerakkan oleh sifat kemarahan (rajah) dan kemalasan (tamah). Sifat buruk ini meliputi momo (loba), murka (kemarahan), angkara (keangkuhan ego), loda (nafsu liar), dan drawaka (kesenangan menguasai hak orang lain), serta diperparah oleh sifat lupa (lupa akan asal muasal penciptaan), cidra (suka memfitnah), dan moha (kebingungan batin).

Manusia yang dikuasai oleh sifat buruk ini digambarkan sebagai pencuri kesadaran (maling kalinganing samar). Jika seseorang mengaku diri suci atau menjadi pendeta namun batinnya masih dikuasai oleh kekotoran ini, mereka disebut sebagai pendeta palsu (wiku iweng-iwengan) yang batinnya dipenuhi oleh noda Panca Buta. Kehancuran batin ini akan mengundang masuknya kekuatan butha kala yang berujung pada penderitaan fisik dan kegelapan jiwa.

Siklus Ritus Keagamaan

Penyelarasan energi kosmik antara manusia dengan alam semesta diatur melalui sistem kalender ritual suci Aji Sundari Gama. Penanggalan ini disusun berdasarkan pergerakan yoga para dewata. Pelanggaran terhadap hari-hari suci ini dipercaya akan mendatangkan kutukan dari para dewa serta memicu kemarahan kekuatan butha kala.

Hari Suci Karakteristik Dewata Beryoga Upakara Utama Kewajiban Utama
Purnama Kapat (Kartika)

Puncak bulan purnama keempat

Bhatara Parameswara / Sang Hyang Purusangkara

Penek jenar, prayascita, ayam putih siungan, segehan agung di bawah

Pendeta melakukan meditasi Candra Sewana dan pemujaan leluhur (tarpana)

Tilem

Hari kegelapan bulan total

Dewata pelebur kekotoran duniawi

Canang harum di sanggah, sesaji wangi di hulu tempat tidur

Melaksanakan meditasi tengah malam guna melebur kekotoran tubuh

Tilem Kasanga

Sehari sebelum Nyepi

Sang Hyang Tiga Wisesa, Hyang Baruna

Tawur Agung di perempatan jalan, caru panca sata/panca sanak, sega warna sembilan tanding

Melakukan ritual Pengrupukan dengan obor, menyemburkan masui dari kiri ke kanan

Hari Raya Nyepi

Awal tahun baru Saka

Keheningan Kosmis

Keheningan batin tanpa sesajen fisik luar

Menjalankan Amati Geni (tanpa api/kerja), melakukan samadhi keheningan (sunyata)

Purnama Kadasa

Purnamaning Waisaka

Sang Hyang Sunya Mretha

Suci satu buah, daksina, pras, penyeneng, canang harum murni

Persembahyangan di mrajan Kemulan, desa, atau Sad Kahyangan

Sabuh Mas

Penyelarasan harta benda

Sang Hyang Mahadewa

Suci, daksina, sasayut mretasari, canang burat wangi, minyak wangi

Melakukan upakara keselamatan untuk mas, manik, perhiasan, dan busana agung

Pagerwesi

Budha Kliwon (Sinta)

Sang Hyang Pramesti Guru

Suci, daksina, sasayut panca lingga, penek ajuman, sesayut pageh urip untuk manusia

Melakukan yoga samadhi di tengah malam untuk memohon keteguhan jiwa

Tumpek Landep

Saniscara Kliwon Landep

Bhatara Shiwa / Sang Hyang Pasupati

Tumpeng putih kuning, sasayut pasupati, sasayut jayeng perang, sedah wah 28 tanding

Penyucian senjata tajam, peralatan perang, serta menajamkan pikiran murni manusia

Redite Umanis Ukir

Hari suci siklus wuku Ukir

Bhatara Guru

Pangambeyan satu buah, sedah ingapon 35 tanding, canang wangi-wangi

Melakukan pemujaan di mrajan Kemulan guna memohon bimbingan hidup

Anggara Kliwon Kulantir

Hari suci siklus wuku Kulantir

Bhatara Mahadewa

Nasi kuning pangkonan, ayam putih kuning betutu, sedah wah 22 tanding

Melakukan pemujaan di sanggar pemujaan dalam keheningan batin

Tumpek Uduh (Wariga)

Saniscara Kliwon Wariga

Sang Hyang Sangkara

Pras, tulung, tumpeng, bubur sumsum, tumpeng agung, babi guling/itik

Upakara keselamatan untuk semua jenis tumbuh-tumbuhan agar berbuah lebat

Soma Pahing Warigadean

Hari suci siklus wuku Warigadean

Bhatara Brahma

Sedah woh dan sesajen selengkapnya

Melakukan pemujaan di tempat suci keluarga (paibon) dengan canang bunga harum

Sugihan Bali

Sukra Kliwon Sungsang

Dewata pensuci diri

Percikan air suci murni (tirtha gocara)

Pembersihan noda-noda batiniah diri sendiri (pamrastita ning raga)

Penampahan Galungan

Anggara Wage Dunggulan

Ki Buta Galungan

Caru nasi warna tiga (putih 5, merah 9, hitam 4 tanding), segehan agung

Upacara Bhuta Yadnya di pekarangan rumah, penyucian senjata perang batin

Hari Raya Galungan

Budha Kliwon Dunggulan

Sang Hyang Dharma / Para Dewa

Jrimpen, tumpeng panyajan, wawakulan, canang maraka, penek ajuman

Perayaan kemenangan kebajikan atas keburukan pikiran, wajib bersemadi

Pamaridan Guru

Saniscara Pon Dunggulan

Para dewa kembali ke surga

Ketupat anaman, canang maraka, air suci murni

Memohon berkah panjang umur dan kesehatan batin dari para dewa

Hari Raya Kuningan

Saniscara Kliwon Kuningan

Para Dewata dan Leluhur

Nasi kuning di slanggi/tebog, bebek putih, penyeneng, gantungan hiasan

Persembahyangan wajib selesai sebelum tengah hari (sebelum dewa kembali ke surga)

Pegatwakan

Budha Kliwon Pahang

Sang Hyang Tunggal

Sesajen wangi, sasayut dirgayusa, penyeneng, tetebus

Berakhirnya masa pelaksanaan pantangan ritual Galungan-Kuningan

Rambut Sadana

Sukra Umanis

Sang Hyang Rambut Sadana (Kama Jaya)

Suci, daksina, pras, penek ajuman, soda putih

Melakukan upakara keselamatan pada emas, perak, dan tempat penyimpanan harta

Tumpek Kandang

Saniscara Kliwon Uye

Sang Hyang Rare Angon

Tumpeng tetebasan, penyeneng, jrimpen, ketupat blekok

Upakara keselamatan untuk semua jenis hewan ternak, peliharaan, dan burung

Tumpek Wayang

Saniscara Kliwon Wayang

Bhatara Iswara

Suci, pras ajengan, bebek putih, canang maraka, sasayut tumpeng guru

Upakara keselamatan untuk instrumen seni (gamelan, wayang), pantang bersih-bersih

Hari Raya Saraswati

Saniscara Umanis Watu Gunung

Sang Hyang Saraswati / Sang Hyang Bayu

Suci, pras, daksina palinggih, banten saraswati, rayunan putih kuning

Pemujaan pada pustaka suci aksara, pantang menulis, membaca, atau bersenang-senang

Banyu Pinaruh

Sehari setelah Saraswati

Sang Hyang Saraswati murni

Nasi kuning, telur, air kumkuman bunga

Mandi keramas di sumber mata air fajar hari, meminum tamba inum

Anggar Kasih

Hari Selasa Kliwon (semua wuku)

Bhatara Ludra

Wangi-wangi, dupa astanggi, air suci murni

Melakukan penglukatan raga demi melebur segala kekotoran duniawi

Budha Cemeng

Hari Rabu Wage (semua wuku)

Sang Hyang Manik Galih / Sri Nini

Wangi-wangi di sanggah, tempat tidur, dan tempat penyimpanan beras

Melaksanakan meditasi tengah malam guna meningkatkan ketajaman pikiran (budi suksma)

 

Naskah ini memberikan perhatian khusus pada peristiwa astronomis ekstrem seperti Gerhana Bulan (candhra grahana) dan Gerhana Matahari (surya graha) di mana matahari atau bulan ditelan oleh Kala Rawu. Saat terjadi gerhana bulan, para pendeta wajib menggelar ritual pemulihan kekuatan bulan melalui persembahan bubur biaung, penek putih kuning, serta melarang umat manusia melakukan upacara kebajikan fisik (karya hayu).

Jika terjadi gerhana matahari, pantangan melakukan upacara kebajikan berlangsung lebih ketat hingga satu tahun lamanya, karena peristiwa tersebut menandakan berhentinya pancaran energi pelindung dari Sang Hyang Paramawisesa di dunia fana.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga