Terjemahan Naskah Lontar Kala Purana
Om Awighnamastu (Semoga tiada rintangan). Inilah Kala Purana, kisah mula Sang Hyang Çiwa di surga Çiwaloka. Dikisahkan Bhatara Çiwa memiliki dua orang putra laki-laki. Yang sulung bernama Sang Hyang Kala, wujudnya seperti raksasa. Yang bungsu bernama Sang Hyang Pancakumara, masih anak-anak dan berwajah sangat tampan. Bhatara Kala lahir pada saat waktu sandyawela (senja hari), pada hari Kamis Pon, wuku Wayang. Sedangkan Sang Hyang Pancakumara lahir saat waktu prabata (fajar menyingsing), pada hari Sabtu Kliwon, wuku Wayang.
Sang Hyang Kala bertapa di kuburan (sema) yang menjadi tempat stananya. Sementara anak itu, Sang Hyang Pancakumara, tetap tinggal di surga, diasuh oleh ayahnya, Bhatara Çiwa.
Sekarang diceritakan Sang Hyang Kala sudah tumbuh besar dan diberi anugerah oleh Hyang Kasuhun Kidul. Ia Diizinkan untuk menyantap (memangsa) manusia; yaitu siapa saja yang lahir pada wuku Wayang, setiap orang yang berjalan di tengah hari tepat saat matahari tegak lurus, dan orang yang berjalan di kala senja (sandyawela). Demikianlah anugerah dari Sang Hyang Kasuhun Kidul.
Maka teringatlah Bhatara Kala akan haknya, karena ia memiliki adik yang sama-sama lahir pada wuku Wayang yang sepatutnya menjadi santapannya, sebab Sang Hyang Pancakumara lahir pada wuku Wayang, tepatnya pada hari Sabtu Kliwon. Oleh karena itu, Sang Hyang Kala menghadap ayahnya, Bhatara Guru. Setibanya di surga, ia menghaturkan sembah sujud di kaki Bhatara Çiwa. Bhatara Çiwa pun berkata kepada putranya: “Wahai anakku Hyang Kala, sungguh berbahagia kedatanganmu menemui ayahmu. Apakah maksud dan tujuanmu? Katakan pada ayahmu, barangkali ada permohonanmu kepada kami.”
Sang Hyang Kala berkata: “Daulat Tuanku, adapun tujuan anakda datang menghadap adalah untuk meminta santapan ke hadapan Bhatara, sebagaimana anugerah yang diberikan oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul kepada hamba. Jika Bhatara berkenan, hamba meminta anak bernama Pancakumara, adik hamba itu, untuk hamba santap. Sebab ia lahir pada hari Tumpek Wayang (Sabtu Kliwon Wayang), dan orang yang lahir pada wuku Wayang adalah jatah santapan hamba.” Demikianlah kata Sang Hyang Kala.
Bhatara Çiwa menjawab: “Baiklah kalau begitu anakku Hyang Kala, seperti apa yang kamu katakan kepada kami, aku mengabulkannya. Namun sekarang ada perjanjianku denganmu, anakku, agar kamu mendapatkan keselamatan di kemudian hari. Kamu tidak boleh menyantap manusia yang belum tanggal giginya (akupak); jangan kau santap dulu, tunggulah ia sampai tanggal giginya.” Demikianlah sabda Bhatara Çiwa. Hyang Kala menyanggupinya, lalu menyembah dan memohon izin pamit dari hadapan Bhatara Çiwa. Bhatara bersabda: “Selamat jalan anakku, jika demikian.”
Kisah dihentikan sejenak. Setelah kira-kira lima tahun berlalu, Bhatara Kala teringat akan janji tersebut. Ia kembali menghadap ke hadapan Bhatara Guru dan kembali meminta adiknya, Sang Pancakumara. Bhatara bersabda: “Aku punya satu penundaan lagi untukmu anakku, tunggu sampai ia akajeng (mengalami masa pubertas/dewasa), tunggulah olehmu.” Sang Hyang Kala berkata: “Anakda paduka Bhatara menjunjung titah,” lalu Sang Hyang Kala kembali memohon izin pamit menuju tempat tinggalnya yang dulu.
Diceritakan Bhatara Çiwa menyelamatkan putranya, Sang Hyang Pancakumara. Beliau dikutuk/diberkati oleh Bhatara Guru agar tidak bisa tumbuh dewasa, melainkan tetap menjadi anak-anak saja.
Diceritakan setelah waktu penundaan (akajeng) itu lewat, Bhatara Kala datang lagi menghadap Bhatara Guru untuk meminta Sang Hyang Pancakumara. Demikianlah Bhatara Çiwa bersabda kepada putranya: “Wahai anakku Sang Pancakumara, tidak boleh tidak, sekarang ini kamu akan disantap oleh kakakmu, Sang Hyang Kala, pada saat tibanya hari Sabtu Kliwon Wayang. Namun sekarang aku punya upaya untuk menyelamatkan dirimu, yang patut ditiru oleh manusia di dunia (mrecapada) hingga masa depan.
Sekarang aku mendengar kabar yang nyata bahwa ada seorang raja agung di dunia, bernama Prabhu Mayasura yang bertakhta di Kretanagara. Pergilah ke sana anakku, mengabdilah dan mintalah perlindungan kepadanya sebagai penyambung hidupmu. Sebab kakakmu Hyang Kala, tiga hari lagi dari sekarang, pada hari Sabtu Kliwon Wayang, hendak menyantap dirimu. Oleh karena itu, segeralah kamu turun ke dunia mencari raja di Kretanagara.” Seketika itu juga Sang Pancakumara diberkati: “Semoga [16] kamu anakku, berumur panjang dan selamat sentosa.” Demikianlah sabda Bhatara Çiwa.
Sang Pancakumara menyembah dan memohon izin pamit, lalu pergi turun ke dunia (madyapada) menuju wilayah Kretanagara. Beliau langsung menuju istana Prabhu Mayasura yang saat itu sedang dihadap oleh seluruh menteri dan pasukannya. Tidak lama kemudian, datanglah Sang Hyang Pancakumara, langsung bersujud dan memeluk lutut Sang Prabhu. Terkejutlah Sang Nata Mayasura dan segera bertanya kepada yang baru datang itu, katanya: “Siapakah kamu, seorang anak kecil yang tiba-tiba datang memeluk lututku sambil menangis tersedu-sedu? Ayo katakan!”
Beratalah anak kecil yang bernama Pancakumara itu: “Tidak ada tujuan lain hamba datang kemari melainkan untuk memohon bantuan dan perlindungan di hadapan Maharaja. Dikarenakan hamba memiliki seorang kakak kandung yang sulung, yang diberi anugerah oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul untuk memakan manusia. Siapa saja yang lahir pada wuku Wayang sah untuk disantap oleh Sang Hyang Kala. Hamba sendiri lahir pada hari Sabtu Kliwon Wayang. Itulah alasan anakda datang kemari, memohon bantuan dan berlindung di hadapan Sri Naranatha agar hamba tetap hidup.” Demikianlah kata Sang Pancakumara.
Sang Prabhu berkata: “Wahai anakku Sang Pancakumara, jika demikian halnya, aku akan melindungimu.” Saat itu para menteri semuanya menyambut kedatangan Sang Pancakumara dan merasa iba kepadanya. Prabhu Mayasura berkata: “Wahai anakku Sang Pancakumara, janganlah khawatir. Berlindunglah di sini di istanaku. Selama si Mayasura ini masih hidup, sekarang aku memerintahkan kepada seluruh tanda menteri untuk mengumpulkan pasukan perwira. Siapkan senjata kalian dan berjaga-jagalah di dalam istana, sedangkan pasukan perwiraku akan menjagamu di luar istana. Begitu Sang Hyang Kala datang, aku sendiri yang akan menghadapi keperkasaan Sang Hyang Kala yang bagai singa itu.” Demikianlah kata Sang Prabhu, seketika itu juga Sang Pancakumara dituntun ke dalam istana. Kisah dihentikan.
Tidak lama kemudian, Sang Prabhu memerintahkan untuk memukul kulkul/bisa besar (teteg agung) serta menyiapkan senjata, memerintahkan pasukannya mengelilingi istana Sang Prabhu untuk menghadang kedatangan Sang Hyang Kala. Demikianlah Sang Pancakumara telah berlindung di istana Prabhu Mayasura.
Sekarang diceritakan kembali tentang Bhatara Kala. Karena telah tiba waktu perjanjian yang dulu, yaitu pada hari Sabtu Kliwon Wayang, Sang Hyang Kala segera berangkat menghadap Bhatara Guru untuk menagih janji yang dulu. Bhatara Çiwa bersabda: “Baiklah, aku ingat perjanjianku denganmu, anakku. Sekarang aku mengabulkan permohonanmu kepadaku untuk menyantap Sang Pancakumara. Carilah dia, sebab ia telah melarikan diri dari surga, barangkali ia turun ke dunia (mrecapada); di sanalah kamu boleh memangsanya. Sebab akan menjadi gempar di surga jika kamu memakan manusia di sini.” Demikianlah sabda Bhatara Guru. Maka Sang Hyang Kala menyanggupinya, menyembah, dan memohon izin pamit dari hadapan Bhatara Guru.
Diceritakan dalam perjalanan Sang Hyang Kala turun ke dunia, Bhatara Guru merenungkan keselamatan putranya dan memberkatinya agar berumur panjang. Diceritakan tibanya Sang Hyang Kala di dunia (madyaloka), ia mencium bau Sang Pancakumara karena adanya Wijayamala (tanda kedewataan) menuju ke wilayah Kretanagara. Ia langsung menuju ke sana. Ditemuinya orang-orang sedang bersiap siaga memegang senjata. Seketika itu juga Hyang Kala bertanya kepada orang-orang yang berbaris tersebut: “Hei kalian semua manusia, mengapa kalian membentuk barisan tentara, lengkap dengan senjata perang serta pakaian perang? Siapakah musuh kalian? Katakan padaku agar aku tahu!” Demikianlah tanya Sang Hyang Kala.
Berkatalah orang yang ditanya: “Kami diperintah oleh Sri Maharaja untuk memerangi kamu, Kala! Diperintahkan untuk membunuhmu karena dosamu yang suka memakan manusia.”
Sang Hyang Kala menjawab: “Lancang sekali ucapanmu, hai manusia! Serahkan Sang Pancakumara, karena dia adalah santapanku yang sebenarnya. Apa gunanya kalian menyembunyikan Sang Pancakumara? Dia adalah makananku. Jika kalian tidak menyerahkannya, jangan harap kalian akan hidup!” Sahut para perwira serentak: “Ah, kami tidak akan menyerahkannya!”
Maka marahlah Sang Hyang Kala. Seluruh perwira dipukul dan diserang oleh Sang Hyang Kala. Ia dikeroyok oleh prajurit Kretanagara, namun Sang Hyang Kala tidak merasakan sakit meskipun dihujani senjata utama. Semua pasukan melarikan diri; sisanya yang tidak mati, banyak yang terluka dan menderita dihajar oleh Sang Hyang Kala. Tidak ada yang berani menghadapinya. Ada yang melaporkan kepada Sang Prabhu mengenai kekalahan pasukan perwira yang berperang melawan Sang Hyang Kala. Mendengar hal itu, Prabhu Mayasura segera kembali dari balairung menuju ke dalam istana. Beliau berkata kepada Sang Pancakumara, menyuruhnya bersembunyi sesuka hatinya, dan mengabarkan bahwa pasukannya telah kalah. Sang Prabhu kembali berkata kepada Sang Pancakumara: “Nah, sekarang aku yang akan mempertaruhkan nyawa demi melindungimu, menghadapi amukan Sang Hyang Kala, dan kembali ke dunia para pahlawan (wiraloka).”
Demikianlah pesan terakhir Prabhu Mayasura. Diceritakan Sang Prabhu bertanding mengadu kesaktian melawan Sang Hyang Kala, saling tikam memegang senjata. Entah berapa lama mereka bertempur, akhirnya gugurlah Sang Prabhu tanpa daya.
Kemudian Sang Hyang Kala masuk ke dalam istana mencari Sang Pancakumara. Lama mencari namun tidak membuahkan hasil. Lalu Bhatara Kala mencium bau Wijayamala-nya, pertanda kedewataan, bekas jejak Sang Pancakumara yang baru saja keluar. Ia pun mengejarnya kembali. Maka ditemuinya Sang Pancakumara di jalan besar sedang menangis tersedu-sedu memanggil Bhatara. Tanpa membuang waktu, ia langsung ditangkap oleh Bhatara Kala lalu ditelan seketika, tidak diceritakan lagi.
Diceritakan Bhatara Çiwa mendengar jeritan tangis putranya. Beliau segera turun bersama dengan Bhatari Sri, mengendarai seekor Lembu jantan berwarna putih (sweta warna), muncul dari angkasa. Di sana Bhatara Guru mengutuk Sang Hyang Kala agar muntah. Beliau bersabda: “Semoga Sang Hyang Kala muntah!” Sang Hyang Kala pun tersedak dan muntah. Maka keluarlah Sang Hyang Pancakumara, lalu melarikan diri tunggang-langgang, menghilang entah ke mana.
Bhatara Kala mendapati Bhatara Çiwa berdua dengan Bhatari Sri sedang mengendarai lembu jantan putih berjalan tepat di tengah hari saat matahari tegak lurus. Seketika itu juga marahlah Sang Hyang Kala. Ia hendak menyantap ayah dan ibunya sendiri. Ia membuka mulutnya lebar-lebar bagai singa yang murka (singha rodra). Maka berkatalah Bhatara Çiwa, sabda-Nya: “Hei, jangan kamu menyantap ayah dan ibumu!”
Sang Hyang Kala berkata: “Sangat salah tindakan ayah dan ibuku. Siapa saja orang yang berjalan-jalan tepat di tengah hari saat matahari tegak lurus, sah untuk hamba santap!” Demikian kata Sang Hyang Kala.
Bhatara Çiwa berkata: “Nah, memang sah seperti katamu itu. Tetapi, asalkan kamu bisa menjawab teka-teki (cacangkriman) dariku. Sekarang ayahmu akan menyampaikannya. Jika kamu berhasil menjawabnya, santaplah ayah dan ibumu ini, termasuk lembu tungganganku!”
Sang Hyang Kala menyetujuinya. Bhatara Çiwa bersabda:
Astapada sasti karno, Dwi srennggi sapta locanam
Catur buja trinabinca, Eka baga dwi purusah.
(Artinya: Berkaki delapan, bertelinga enam puluh, bertanduk dua, bermata tujuh, bertangan empat, berpusat tiga, berbadan satu, berkelamin dua).
Lama Bhatara Kala merenungkan makna dari “bermata tujuh” (sapta locana). Ia tidak tahu bahwa itu merujuk pada mata perhiasan cincin (kalpika) yang dipakai. Selain itu, ia berhasil menjawabnya. Tidak lama kemudian terjadilah perdebatan antara Sang Hyang Kala dan Bhatara Çiwa mengenai tebakan teka-teki sang ayah. Bhatara-Bhatari tersenyum di dalam hati melihat kebingungan Sang Hyang Kala.
Tanpa terasa, sang surya semakin bergeser turun. Batallah Bhatara Kala menyantap Bhatara-Bhatari karena ia kalah beradu teka-teki dengan Bhatara Çiwa. Bhatara-Bhatari pun seketika menghilang kembali ke Çiwapada.
Diceritakan Sang Bhatara Kala kembali mencium bau wangi Wijayamala milik Sang Pancakumara. Ia mengejarnya kembali. Kebetulan ada orang yang sedang mengikat alang-alang di sungai dengan dua buah ikatan. Terlihat Sang Pancakumara menyusup ke tengah-tengah alang-alang tersebut. Tanpa membuang waktu, alang-alang itu ditangkap dan dibongkar olehnya, namun Sang Pancakumara telah melesat lari ke tempat yang jauh.
Marahlah Bhatara Kala, lalu mengutuk orang yang mengikat alang-alang dengan dua tali itu. Ujarnya: “Siapa saja yang mengikat alang-alang dengan dua tali tanpa melepaskan tali yang satunya lagi sehingga menyatu, aku kutuk orang yang demikian sekarang hingga masa depan, agar tidak bisa menjelma kembali menjadi manusia!”
Setelah demikian, Sang Pancakumara dikejar lagi. Terlihat ia bersembunyi di bawah lumbung padi (kalumpu). Di bawahnya ada kayu bakar kering (sahang aking) yang diikat erat tanpa dilepas talinya. Di sanalah Sang Pancakumara menyusup. Kemudian tempat itu diraba-raba oleh Bhatara Kala, namun Sang Pancakumara melompat dan melarikan diri ke tempat jauh. Marahlah Sang Hyang Kala lalu mengutuk: “Siapa saja yang menaruh kayu bakar di bawah lumbung padi tanpa melepas talinya, dikutuk agar tidak bisa menjelma menjadi manusia kembali!”
Sang Pancakumara dikejar lagi, terlihat ia menyusup ke dalam lubang tungku (cangkeming standila). Kembali diraba-raba oleh Bhatara Kala, namun ia melompat kabur karena lubang tungku itu tidak ditutup. Marahlah Bhatara Kala lalu mengutuk: “Siapa saja yang menyalakan api di tungku tanpa menutup lubang abu (rirun)-nya, dikutuk agar tidak menjelma menjadi manusia kembali!”
Sekarang diceritakan hari sudah berganti senja (sandékala). Sang Pancakumara tidak berhasil ditemukan dalam pengejarannya. Tiba-tiba ia mendapati ada orang yang sedang bertengkar dengan saudaranya, seketika itu juga dimangsa oleh Sang Hyang Kala. Ia lalu mengutuk dunia: “Siapa saja manusia yang bertengkar pada saat hari senja (sandékala), sah untuk aku santap!” Demikianlah ketetapan Bhatara Kala.
Kemudian ia mencari Sang Pancakumara hingga malam tiba saat tengah malam tepat. Kebetulan ada seorang dalang sedang memainkan wayang bertepatan dengan hari Tumpek Wayang. Dalang tersebut bernama Empu Légér. Ia sudah berada di hadapan wayangnya beserta para pemain rebab/gender (juru redep) yang sudah ditabuh. Suara sang dalang sangat manis dan merdu.
Tiba-tiba datanglah Bhatara Kala yang sedang mengejar Sang Pancakumara. Sang Pancakumara menangis memelas, memohon perlindungan agar tetap hidup, lalu menyusup bersujud di pangkuan sang dalang. Terkejutlah Empu Légér lalu berkata: “Aduh, siapakah anak yang bersujud di pangkuanku ini?” Berkata yang ditanya: “Hamba bernama Sang Pancakumara, putra dari Bhatara Guru. Hamba memohon perlindungan hidup kepada sang pengasuh (dalang). Hamba hendak disantap oleh kakak hamba, Bhatara Kala, karena ia diberi anugerah oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul bahwa semua orang yang lahir pada wuku Wayang adalah miliknya. Hamba sendiri lahir pada hari Sabtu Kliwon wuku Wayang. Itulah sebabnya hamba memohon perlindungan kepada sang pengasuh.”
Berkatalah Empu Légér: “Aduh anakku, aku merasa iba kepadamu. Aku akan melindungimu.” Sang Pancakumara dipanggil lalu disembunyikan di dalam lubang bambu wadah gender (pring palawah ing redep). Redep artinya gender.
Tidak diceritakan lebih lanjut, Empu Légér kembali memainkan wayang, melanjutkan jalannya cerita kuno tersebut. Di tengah ramainya pertunjukan wayang, tiba-tiba datanglah Sang Hyang Kala. Ia langsung menuju ke tempat sesajen (banten). Karena merasa sangat lapar dan dahaga, tanpa membuang waktu ia langsung melahap seluruh sesajen babangkit yang ada di sana, dihabiskan tanpa sisa. Segala perlengkapan sarana wayang habis dilahapnya.
Maka berhamburanlah para penabuh, pemain mradangga (kendang), serta para penonton. Semuanya melihat wujud Sang Hyang Kala yang bagaikan raksasa mengerikan; kulitnya hitam, rambutnya merah berdiri bergumpal-gumpal, matanya bersinar bagai bintang tembaga, tubuhnya besar dan tinggi tegap, wujudnya sungguh nyata mengerikan.
Berkata Empu Légér: “Apakah yang Paduka lakukan, Bhatara Kala? Tiba-tiba datang dan memakan sesajen hamba, padahal hamba belum selesai memainkan wayang. Di mana lagi hamba harus mencari sarana sesajen yang baru?”
Berkata Bhatara Kala: “Serahkan santapanku, Sang Pancakumara! Karena kamu menyembunyikannya di sini, itulah sebabnya aku memakan sesajenmu. Kamu sebagai dalang adalah pihak yang salah!”
Sahut Empu Légér: “Mana ada orang yang memberi jika belum ada permintaan? Musuhmu Sang Pancakumara memohon perlindungan hidup kepadaku. Jika ada permintaanmu sebelumnya, tentu aku bisa mempertimbangkan untuk memberi atau tidak memberi. Karena belum ada permintaanmu kepadaku tetapi kamu langsung melahap sesajenku, maka Bhatara Kala yang salah. Jika ditinjau dari kitab Dharmasastra, ini adalah keputusan Bhatara yang menjadi penengah. Sebagai ganti dari sesajen hamba sekarang, Bhatara Kala kalah oleh hamba.
Yang baik sekarang, Paduka Bhatara memberikan anugerah kepada hamba, sebagai ketetapan bagi seluruh dunia agar diketahui oleh orang banyak mengenai perjanjian antara hamba dan Anda. Mulai sekarang, bagi orang yang membayar utang kepada Anda berupa sesajen babangkit yang lengkap, yaitu bagi setiap orang yang lahir pada wuku Wayang, Anda harus berhenti memangsanya. Jika mereka tidak membayar utang kepada Anda, barulah terserah kehendak Bhatara Kala. Sebagai awalnya, adikmu Sang Pancakumara dibebaskan oleh Bhatara Kala. Biarlah hal ini diketahui oleh seluruh manusia dan dicantumkan dalam piagam (rerepi) anugerah Anda kepada hamba, agar diketahui oleh manusia hingga masa depan. Sekarang keluarkanlah adikmu Sang Pancakumara, jangan ragu!” Maka dikeluarkanlah Sang Pancakumara oleh Empu Légér.
Maka melunaklah amarah Bhatara Kala. Ia senang karena tidak jadi menyantap Sang Pancakumara setelah mendengar perkataan Empu Légér dari dalam wadah gender tersebut. Hal ini patut dijadikan sarana upacara (kretining jagat) oleh dunia untuk menyelamatkan diri. Maka Sang Pancakumara pun kembali ke surgaloka.
Tinggallah Empu Légér bercakap-cakap dengan Bhatara Kala. “Wahai ayahanda Empu, orang yang menjadi pemangku dalang, engkau juga disebut dengan nama lain. Biarlah manusia tahu bahwa sebutanmu adalah Amangku Dalang. Engkau membawa keselamatan dan cinta kasih di dunia (kreta nuraga ring rat), berjiwa agung, penuh persahabatan, dan belas kasih (budi metri karuna) kepada seluruh isi dunia. Dimulai dari diriku, inilah perjanjianmu denganku. Aku menyetujui seluruh ucapanmu. Teguhkanlah dirimu mengemban kewajiban dharma pewayangan (amangku dharma pawayangan).
Sentiasalah engkau ingat kepadaku. Engkau berhak menjatuhkan tirta pembersihan (panglukatan) Empu Légér hingga masa depan, melalui sarana upacara sesajen seperti yang dulu.”
Inilah rincian sesajen Panglukatan Mpu Légér, antara lain:
- Mendirikan sanggar tutuan.
- Di atasnya diisi suci 2 soroh, lengkap dengan perlengkapan sesajen suci seperti sediakala.
- Di bagian bawahnya, pabangkit 1 soroh, lengkap dengan seluruh rangkaian pabangkit seperti sediakala, beserta uang sejumlah 4500.
- Serta caru di bawah sanggar tutuan berupa ayam lima warna (sata manca warna) yang diolah sesuai dengan urip (neptu) seperti sediakala. Kulitnya dijadikan layang-layang (bentuk lambang), serta nasi (sega) sesuai urip di lima penjuru angin.
Selanjutnya sesajen penebasan bagi orang yang lahir pada wuku tersebut:
- Mendirikan tempat sesajen berbentuk segi tiga (lahapan mabucu tiga).
- Di atasnya diisi suci 1 soroh lengkap, menggunakan lauk bebek yang dimasak tutu lengkap dengan sarana suci seperti sediakala, beserta uang sejumlah 1700.
- Serta sesajen di bagian bawahnya berupa penek putih 5 buah, lauknya ayam putih yang diolah utuh (winangun urip).
Serta sanggah cukcuk 2 buah, ditempatkan di ujung kanan dan kiri kelir wayang, diberi hiasan daun (malamak) dan gantungan. Di atasnya diisi sesajen tumpeng yang dinamai, bunga hiasan, minyak wangi, dan bedak wangi (burat wangi), jenisnya sesuai kebutuhan. Serta sesajen untuk sang dalang yang memainkan wayang: Suci 1 soroh beserta kelengkapannya yang utuh seperti sediakala, lauknya bebek dimasak tutu, serta pula gembal, menggunakan bunga taman, pajegan 1, canang pangkon, daksina dengan isi serba 4, uang sejumlah 500, peras panjeneng, dan segehan agung.
Wadah air suci pembersihan (tirta panglukatan) sang Empu Légér berupa cangkir/mangkok sudamala, dialasi dengan beras, benang, uang sejumlah 225, serta bunga berwarna-warni sebanyak 11 warna, beserta duri-duran, daun samsam, dan beras kuning (bija kuning). Selesai.
Sekarang diceritakan Bhatara Kala bercakap-cakap akrab dengan Empu Légér. Berkata Empu Légér: “Daulat Paduka Bhatara Kala, sekarang sesajen inilah yang hamba gunakan sebagai penyempurna (pelebur) kemarahan Bhatara kepada adik Anda yang bernama Sang Hyang Pancakumara, sebagai pemunah petaka (panyuda mala) atas kemarahan Bhatara. Dan untuk masa depan, jika ada anak yang lahir pada wuku Wayang, jika tidak ada upacara penebusannya (wali), sesajen ini berfungsi sebagai penebus jiwa kepada Bhatara melalui panglukatan Empu Légér.
Jika tidak dilakukan demikian, maka sah bagi Bhatara untuk menjatuhkan hukuman, memberikan penyakit, ataupun menyantapnya. Jika Bhatara menghendaki, Anda boleh menghalang-halanginya dan mengutuknya agar tidak menjelma menjadi manusia lagi, melainkan jiwanya (atman) menjadi pisang sungsang (byu kahikik) yang tumbuh di tengah hutan.”
“Namun bagi manusia yang sudah melakukan pembersihan (malukat) melalui wayang dengan panglukatan Empu Légér, jangan lagi Bhatara menghalang-halanginya ataupun menyantapnya.” Demikianlah janji/bisama Empu Légér ke hadapan Bhatara Kala.
Bhatara Kala menyetujuinya, lalu Bhatara Kala berkata lagi: “Baiklah wahai Empu Dalang, ketahuilah olehmu. Jika ada manusia yang berjalan di tengah hari tepat saat matahari tegak lurus, berjalan di kala senja (sandékala), atau pergi di waktu tengah malam, mereka sah untuk aku santap sebagai korban/bela bagiku, sesuai anugerah dari Hyang Kasuhun Kidul.” Demikian kata Bhatara Kala.
Berkata Empu Dalang: “Sesuai kehendak Bhatara, Tuanku.”
Setelah selesainya perjanjian yang membawa kebaikan bagi kedua belah pihak tersebut, Bhatara Kala kembali menuju stananya yang dulu. Empu Légér pun selesai mementaskan wayangnya. Orang-orang semuanya kembali ke rumah mereka masing-masing.
Selesai. Inilah Kala Purana.





