Lontar Dewa Tattwa

Lontar Dewa Tattwa – Ritual Upakara dan Rekonstruksi Ekologi-Sosial


Lontar Dewa Tattwa memuat tentang tata cara melakukan ritual upakara yadnya seperti; melis (melasti/mekiis), upacara memungkah, mendirikan bangunan suci, mendirikan sanggar tawang dan upakaranya dan juga bermacam pedagingan dalam membangun tempat suci, seperti Meru, Gedong, Prasada, Padmasana, Ibu, semuanya hendak dilengkapi dengan Padagingan Nista, Madya, Utama.

Selain itu, dalam lontar ini juga diuraikan mengenai Upacara Ngusabha Desa Nini dengan segala upakaranya, tata cara membangun Palinggih Prajapati dan juga upacara di Kuburan, upacara Malabuh Gentuh di laut, Panjegjengan Hyang Narmada, Pancawalikrama, tentang jenis sesayut dan kepada siapa ditujukan, tentang ruwatan Sang Hyang Aghora untuk menghilangkan segala kekotoran dalam tubuh, dll.

Secara silsilah sastra, naskah Dewa Tattwa secara eksplisit merujuk pada teks-teks hukum adat dan teologi yang lebih tua, di antaranya Lontar Widhi Sastra dan Lontar Candi Narmada Tattwa.

Unifikasi teologis di dalam naskah ini juga sangat dipengaruhi oleh reformasi keagamaan yang dipelopori oleh Mpu Kuturan pada era pemerintahan Raja Udayana Warmadewa dan Anak Wungsu di Bali. Mpu Kuturan mengintegrasikan berbagai sekte keagamaan yang sebelumnya saling berselisih menjadi sebuah tatanan sosioreligius yang berpusat pada pemujaan Tri Murti di Kahyangan Tiga.

Parahyangan sebagai Proyeksi Tubuh Dewata

Salah satu ajaran teologis yang paling mendalam di dalam Lontar Dewa Tattwa adalah visualisasi parahyangan atau area ritual sebagai tubuh hidup dari manifestasi Tuhan (Ida Bhatara) yang sedang distanakan.

Konsep ini memandang bahwa keberhasilan suatu yadnya tidak hanya ditentukan oleh pelafalan mantra atau kuantitas sesajen, melainkan pada ketepatan arsitektural dan penataan ruang upacara yang mencerminkan keselarasan antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung). Setiap struktur fisik yang didirikan di dalam area upacara merupakan organ-organ tubuh dari Purusa Agung yang dihidupkan melalui sarana upakara.

Struktur Representasi Dewata Fungsi Spiritual dan Kosmologis
Sanggar Tawang Kepala (Ulu) dan Bahu (Bawu)

Sebagai pusat kesadaran spiritual tertinggi dan portal turunnya energi ilahi.

Sanggah Tutuwan Kedua Lengan (Asta Akaro)

Sebagai simbol kekuatan kreatif, perlindungan, dan penyaluran berkat.

Sesajen Arepan Widhi Badan / Torso (Anggan)

Sebagai wadah manifestasi utama dari ketuhanan yang dipuja.

Caru (Hewan Korban) Perut (Weteng) dan Punggung (Gigir)

Sebagai pengolah energi material dan penetralisir kekuatan destruktif Bhuta Kala.

Panggungan Kedua Kaki (Suku Karo)

Sebagai fondasi penegakan ritual dan penghubung energi kosmis ke bumi.

Paselang Telapak Kaki dan Tangan (Dalamakan Suku mwang Asta)

Sebagai portal transisi spiritual dan interaksi langsung antara manusia dan dewa.

Jajahitan Kulit (Carmman)

Sebagai pelindung luar area ritual dan pembungkus estetika sakral.

 

Proyeksi anatomis ini menjelaskan mengapa setiap bagian dari area upacara harus diperlakukan secara hati-hati dan tidak boleh mengalami cacat struktural. Kesalahan dalam menata posisi sesajen atau kerusakan pada salah satu bangunan upacara dianggap setara dengan mencederai tubuh kedewataan itu sendiri, yang pada gilirannya dapat memutuskan aliran energi positif dan mengundang kehadiran entitas destruktif seperti Bhuta Pisaca.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga