- 1Parahyangan sebagai Proyeksi Tubuh Dewata
- 2Upakara Sthapani Widhi dan Padudusan Agung
- 3Pedagingan Pelinggih dan Aksara Sakral
- 4Caru Manca Walikrama - Harmonisasi Energi
- 5Ritual Transisi Kematian dan Rekonstruksi Sawa
- 6Mitigasi Cemer, Durmanggala dan Prosedur Pemugaran Parahyangan
- 7Dimensi Sosial, Etika Pemimpin dan Tanggung Jawab Ritual
- 8Terjemahan Lontar Dewa tattwa
Upakara Sthapani Widhi dan Padudusan Agung
Naskah Lontar Dewa Tattwa menguraikan secara rinci mengenai tata cara pelaksanaan upacara mlaspas, Makiis (Melasti), dan Mamunggah di berbagai tempat pemujaan, mulai dari lingkup keluarga hingga tingkat publik seperti Meru, Paryangan, Dalem, Puseh, Lumbung, Bale Agung, dan Kabhuyutan. Upakara diatur ke dalam tiga tingkatan utama, yaitu nista, madya, dan utama.
Pada tingkatan utama, diwajibkan mendirikan Sanggar Tawang yang memiliki tiga ruang (rong telu). Di atas Sanggar Tawang diisi dengan sesajen Suci Laksana, Tigaro, dan malada utuh.
Pada bagian tengah diletakkan lima jenis sesajen utama, yaitu Catur Wedya, Ghana, Yama Raja, tepung lima warna, Pisang Leger, serta daun uduh dan peji. Selain itu, upakara ini dilengkapi dengan dua Bebangkit Agung, Selam Kapir, sebelas Dangsil Tumpeng, satu Bebangkit Putih, dan satu Bebangkit Ireng yang dipersembahkan kepada penguasa langit, serta seekor anak babi hitam mulus yang dipersembahkan kepada ibu bumi (Prathiwi).
Pada bagian Sanggar Tawang, diletakkan pula Kebo Yosbrana yang disimbolkan dengan kepala kambing dan kepala penyu yang diguling dengan bumbu bawang putih dan kencur tanpa terasi, serta dilengkapi sesajen sasantun utama.
Sesajen Sthapani Widhi yang ditempatkan di laapan berupa lima buah Babangkit Manca Warna, sepuluh suguhan Suci Laksana yang masing-masing berisi lima buah karas, bagya agung, Pula Kretti, dua guling gayah, sembilan Dangsil, serta perlengkapan Padudusan Agung.
Perlengkapan Padudusan Agung ini terdiri dari sembilan periuk tanah liat, sembilan kekelentingan, sembilan cekimadan, kulit babi hitam mulus, itik putih jambul, ayam sudamala, dan kumba carak yang jumlahnya disesuaikan dengan perhitungan neptu hari (sapta wara).
Sebagai bagian dari prosesi penyucian tingkat utama, diwajibkan untuk memohon air suci (wasuh pada atau tirtha) dari sebelas sumber air yang dianggap paling utama di seluruh wilayah Bali. Aliran tirtha ini merepresentasikan energi pembersih dari berbagai penjuru mata angin kosmis Bali.
| Nomor | Sumber Tirtha | Relevansi dan Makna Spiritual |
| 1 | Besakih |
Pusat orientasi spiritual makrokosmos Bali di kaki Gunung Agung. |
| 2 | Telaga Waja |
Aliran air suci pembersih kekotoran duniawi dan sisa ritual. |
| 3 | Ulun Danu |
Pusat pemujaan Dewi Danu, penguasa kelimpahan air dan pertanian. |
| 4 | Tungga |
Sumber air suci untuk kestabilan energi bumi. |
| 5 | Saganing |
Aliran air penyembuh dan penenang jiwa. |
| 6 | Dadari |
Air suci yang melambangkan keindahan dan kesucian batin. |
| 7 | Tirtha Empul |
Pusat penyucian fisik dan mental (melukat) yang legendaris. |
| 8 | Manganing |
Tirtha hening untuk memurnikan pikiran dari panca klesa. |
| 9 | Tamblingan |
Penjaga keseimbangan ekologi air di wilayah pegunungan tengah. |
| 10 | Danu Beratan |
Sumber kesuburan agraris bagi subak di Bali utara dan tengah. |
| 11 | Salukat |
Air suci utama untuk melebur segala bentuk dosa dan kutukan. |
Pada tingkatan menengah dan kecil, jumlah persembahan dikurangi secara sistematis tanpa menghilangkan struktur dasar upakara. Untuk tingkatan di bawah utama, jumlah dangsil dan tumpeng disesuaikan menjadi 133 suguhan, sedangkan untuk tingkatan yang paling bawah berjumlah 66 suguhan, dengan variasi jumlah tumpeng dangsil sebanyak 11, 9, 7, 5, atau 3 buah. Penyederhanaan ini menunjukkan elastisitas sistem teologi Hindu Bali yang tetap memprioritaskan esensi spiritual di atas kemampuan material umatnya.




